
Kekuatan Sistem.
Begitu Yulius sadar bahwa dirinya adalah seseorang yang bereinkarnasi dari bumi ke dunia game simulasi kencan ini sebagai Last Boss.
Hal-hal menjadi semakin rumit dan merepotkan. Dimana di awal-awal dia harus mati-matian mempertahankan kehidupannya sendiri.
Yang awalnya dia pikir dirinya bisa hidup dengan kaya dan royal, dia malah harus menanggung tumpukan hutang-hutang milik orang tuanya, dan menghadapi krisis ekonomi yang hampir saja membuatnya jatuh ke dalam kehancuran.
Tidak hanya itu, banyak lagi masalah-masalah merepotkan yang benar-benar membuatnya ingin segera melarikan diri.
Orang-orang yang tidak kompeten, pejabat yang korup, dan lain-lain.
Masalah terus berdatangan seperti magnet.
Namun, di samping itu semua. Dia juga diberkahi oleh kekuatan sistem, yang kemungkinan akan menjadi kartu terkuatnya untuk memutar balikkan keadaan ini.
Sama seperti yang dia tunjukan sebelumnya, Yulius dapat mengintip status milik orang lain. Jadi, dia berniat menggunakan kekuatan itu untuk menilai siapa saja yang pantas untuk berdiri di sampingnya dan siapa saja yang harus dia buang.
Saat ini, anak berumur 11 tahun itu berdiri tegak di atas podium yang telah di siapkan sebagai panggung untuk melakukan eksekusi mati secara publik.
“Dengar, mulai dari sekarang! Aku akan mengawasi semua orang-orangku apakah mereka bekerja atau tidak!! Dan bagi mereka yang mencoba menentangku, seperti mereka yang ada didepan ini! Dengan tanganku sendiri akan kubunuh!!” Teriak Yulius dengan suara yang keras dan tegas sambil mengarahkan pedangnya ke dekat leher seorang pejabat korupsi yang ada di sebelahnya.
Matanya yang dingin membias ke seluruh penonton yang gelisah dan takut. Mereka tercengang melihat tindakan Yulius yang bersikap berbeda dari biasanya.
Di sini, di tempat ini, dia mengumpulkan semua bawahan dan para penduduknya, untuk menyaksikan langsung eksekusi yang akan dia lakukan kepada para pejabat yang telah terbukti melakukan korupsi.
Dia berniat untuk menjadikan ini contoh bagi semua orang yang berani menentangnya, dan juga orang-orang yang tidak kompeten dalam pekerjaannya.
“Tunggu, Tuan Yulius!! Apa maksudnya semua ini?! Kenapa kami harus dieksekusi?! Ini tidak benar!! Apa yang sudah kami lakukan?!!”
“Itu benar!! Bukankah selama ini kami melakukan pekerjaan kami dengan baik!!”
“Tolong pertimbangkan kembali keputusan anda, Tuan Yulius! Kami sama sekali tidak melakukan sesuatu yang menentang anda!”
Para pejabat yang tangan dan kakinya di-ikat mulai protes. Sedangkan semua orang yang melihat itu hanya terdiam dan terlihat cemas. Khususnya untuk para pelayan dan prajurit, yang selama ini diberi kebebasan untuk melakukan apapun.
Mata mereka tenggelam dalam kesuraman saat melihat tuan mereka yang telah berubah drastis.
Mereka mulai ketakutan.
“Kau bilang kau melakukan pekerjaan dengan baik? Apa kau serius mengatakan hal itu?” Ujar Yulius yang menyipitkan matanya tajam ke arah para pejabat tersebut, membuat mereka gemetar ketakutan melihat ekspresi Yulius yang sudah berada di batas kesabarannya.
Itu membungkam mulut mereka semua.
Namun, Yulius masih belum cukup dengan semua yang ingin dia katakan.
“Apa kalian pikir aku bodoh? Apa kalian pikir aku tidak akan tau jika selama ini kalian selalu menggunakan uang anggaran hanya untuk pergi ke bar atau lapak Iacur? Apa kalian benar-benar berpikir aku tidak akan tau ketika kalian membeli hasil panen dari penduduk dengan harga murah dan menjualnya lagi? Apa kalian pikir aku tidak tau jika semua dokumen yang kalian kirim tentang pemungutan pajak itu adalah palsu? Apa kalian benar-benar berpikir aku tidak memperhatikan semua tindakan kalian selama ini? Ini sudah cukup. Aku muak dengan kalian.”
Yulius mengakhirinya.
Kemudian, melanjutkan, dia merendahkan suaranya. Namun, aura yang mengintimidasi dari setiap kata yang dia ucapkan adalah sinyal kematian.
“Bunuh mereka.”
“Tuan Yulius tung—“
‘Srak! Srak! Srak!’
Satu per satu, kepala mereka terpotong oleh tebasan pedang yang dilakukan oleh prajuritnya, dan mendiamkan mulut mereka semua dengan gumpalan darah.
Setelah itu, dia kembali beralih menatap ke arah para penonton, yang memiliki reaksi mereka masing-masing. Tapi, Yulius mengabaikan hal itu, dan dia berteriak keras dengan suara yang tegas.
Membuat pandangan mereka berpaling kembali ke arahnya.
“Mulai dari sekarang!! Aku, Yulius vera Luciffer akan menjadi penguasa baru dari wilayah ini!! Dan siapapun yang berani melawan perintahku atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebijakanku! Tidak akan kubiarkan mereka bernafas!!”
“……”
Semua orang terdiam.
Tapi, itu tidak masalah. Karena sekarang hanyalah awal dari semuanya. Dia tidak perlu membuat mereka mendukung Yulius yang sekarang.
Dia ingin mereka berpikir dan berpikir, sembari mengawasi apakah Yulius adalah seseorang yang pantas untuk mereka jadikan pemimpin.
Setelah itu, dia ingin mereka melihatnya.
… Bahwa dia, adalah seseorang yang pantas untuk mereka ikuti.
—Penjara Bawah Tanah.
Saat ini, bersama dengan Lin di sebelahnya dan para prajurit yang mengawalnya. Mereka pergi memasuki penjara bawah tanah yang ada di wilayahnya.
Di sana, tujuan Yulius adalah untuk membebaskan para pejabat dan prajurit yang sebelumnya pernah di kurung oleh para pejabat korup dalam tuduhan palsu.
Sesampainya di sana, anak itu berdiri di depan penjara yang berisi seorang pria tua berambut merah dengan tubuh yang kekar dan wajah yang maskulin.
Menyipitkan matanya, Yulius melihat statusnya.
[Nama: Robert Abstain]
[Level: 78]
[Kekuatan: 129]
[Kepintaran: 43]
[Kecepatan: 102]
[Ketahanan: 147]
[Pesona: 98]
[Keahlian: Bela Diri (Lv.7), Sihir Tanah (Lv.4), Mahir Tombak (Lv.7), Ahli Strategi (Lv.6)]
[Title: Mantan Komandan pasukan keluarga Luciffer]
Melihat isi statusnya, Yulius mengerut. Dia tidak percaya orang seperti ini harus dikurung di dalam penjara dan digantikan oleh para sampah itu.
Ini benar-benar membuatnya jengkel tentang betapa buruknya mereka selama ini. Untung saja Robert masih belum mendapatkan hukuman mati seperti yang bernasib pada prajurit lainnya.
Karena mulai dari sekarang, Yulius membutuhkan orang yang kompeten seperti dia untuk bekerja di sisinya.
“Robert, mulai hari ini aku akan mencabut tuduhanmu, dan membebaskanmu dari penjara. Sebagai gantinya, aku ingin kau kembali lagi menjadi Komandan dan bekerja di bawahku.” Ujar Yulius menatap pria tua itu dengan tegas.
Mendengar itu, pandangan Robert langsung terangkat menatap Yulius. Matanya terbuka lebar, dia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Tuan Yulius?! Bagaimana anda—“
“Jangan khawatir, aku sudah membunuh semua pejabat yang memberikan tuduhan palsu kepadamu. Aku juga telah melihat riwayat hidupmu. Jadi aku yakin kaulah yang paling cocok untuk menjadi Komandan pasukanku.” Ujar Yulius memotongnya, kemudian dia melirik ke arah prajurit di belakangnya.
“Lepaskan dia.” Pintanya.
“Baik.”
Prajurit itu segera berjalan mendekati penjara Robert, dan dia mulai melepaskan gembok penjaranya sekaligus rantai yang mengunci pergelangan kaki pria tua itu.
Jujur saja, bagi para prajurit. Ini adalah kabar yang menggembirakan, karena mereka akhirnya dapat bekerja kembali di bawah pimpinan Robert sekali lagi.
Selama ini, mereka hanya diberi perintah yang tidak jelas dari komandan mereka yang sebelumnya, tanpa bisa melawan balik. Bahkan karena itu juga, banyak prajurit yang mati sia-sia atau meninggalkan tugas mereka.
Kembalinya Komandan Robert adalah sebuah keberuntungan.
“Selamat datang kembali, Komandan Robert.” Ujar Yulius tersenyum.
“Tuan Yulius… Apa maksudnya ini?” Tanya Robert yang masih terlihat bingung dengan situasi yang menimpanya.
Menanggapi hal itu, Yulius menjawab dengan penuh rasa bersalah.
“Aku minta maaf karena telah mengabaikan kalian semua selama ini. Mulai dari sekarang, aku berjanji akan menjadi seorang penguasa yang layak untuk diterima oleh semuanya. Jadi, aku ingin kalian yang dulunya bekerja dengan keluargaku. Sekali lagi meminjamkan kekuatan kalian untukku… Apa kau bersedia, Robert?”
“Tuan Yulius…”
Robert terdiam, ekspresinya terkesiap. Dia seakan tidak percaya bahwa Yulius yang berada di depannya adalah Yulius yang dia kenal sebelumnya.
Perbedaan di antara mereka benar-benar sangat jauh, dan perubahan itu membuatnya terkejut. Pikirannya masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Ini seperti mimpi.
Tapi, tersenyum tipis, Robert berlutut di hadapan anak kecil itu, dan mengucapkan sumpah setianya sekali lagi.
“Saya, Robert Abstain. Akan berada di bawah perintah anda, Tuan Yulius.”