
“Ngomong-ngomong, apa yang akan anda lakukan setelah ini, Tuan Yulius?” tanya Nadya, dalam wujud naganya saat dia terbang dan membawa Yulius di atas punggungnya.
Yulius duduk bersila sambil menatap ke depan, dan memikirkan dengan serius pertanyaan Nadya, karena dia sendiri juga bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
“Hmm… kurasa tidak ada yang spesial. Setelah pulang ke wilayahku, aku cuma akan fokus untuk mengembangkan wilayahku, dan melunasi utang-utang yang kumiliki.”
(Jujur aja, aku gak terlalu suka melakukan tugas yang merepotkan seperti itu. Tapi, di sisi lain aku juga rindu dengan Lin, jadi aku ingin cepat-cepat pulang.)
“Gimana denganmu, Nadya? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Aku bermaksud untuk membantu-bantu pekerjaan di kota.”
“Eh, kenapa?” Alis mata Yulius terangkat, ini membuatnya heran.
(Mengingat bagaimana Nadya begitu terobsesi denganku. Aku pikir dia akan mengikutiku ke wilayahku. Ini cukup mengejutkan.)
“Yah, sebenarnya aku sangat ingin ikut dengan anda. Tapi, mengingat pembangunan kota yang belum selesai, mustahil untuk meninggalkannya begitu saja. Karena setelah pertempuran itu banyak prajurit yang terluka dan gugur, jadi saya bermaksud untuk membantu mengamankan kota.”
“Aaahh.” Suara Yulius keluar, hampir seperti hembusan nafas, “Sekarang aku mengerti. Memang benar, karena temboknya hancur, tidak heran jika kota akan lebih rawan untuk diserang monster. Terutama saat malam hari.”
“Anda benar. Juga, karena Nia sedang fokus untuk belajar cara mengelola kota, aku tidak ingin merepotkannya dengan tugas yang berlebihan. Jadi, saya bermaksud untuk mengambil penjagaan kota dari siang sampai malam.”
“Jika Naga Merah yang menjaganya, aku yakin meskipun seluruh pasukan kerajaan datang menyerang, kota ini tidak akan tersentuh.”
“Fufu~ kamu terlalu melebihkanku, Tuan Yulius.”
(Tidak, aku serius.)
Pandangan Yulius menoleh, dan dia menyipitkan matanya saat melihat isi status yang dimiliki oleh Nadya saat ini, sebagai salah satu dari [Dragon Lord].
[Nama: Netherlium Rose]
[Level: 1124 (Rank S)]
[Kekuatan: 11.239]
[Kepintaran: 9.411]
[Kecepatan: 9.853]
[Ketahanan: 12.734]
[Pesona: 6.242]
[Keahlian: Terkunci!! Pihak lain menggunakan keahlian tertentu yang menghalangi seseorang untuk mengintip keahliannya!!]
[Title: Sang Naga Merah, Naga Legenda, Pelindung Dunia, Malapetaka Alami, Sang Api Penghancur.]
Melihat isi statusnya, Yulius tertawa kosong.
(Haha, mau berapa kali pun aku melihatnya, ini benar-benar luar biasa. Meskipun sangat disayangkan karena aku tidak dapat melihat apa saja [Keahlian] yang dia miliki. Aku baru tau juga ada skill yang seperti ini. Tapi, yah, melihat title yang dia miliki saja sudah membuatku merinding. Apa-apaan itu?Bukankah itu terlalu mengerikan untuk memiliki title [Malapetaka Alami]?)
Mungkin, kau berpikir kalau title hanyalah sebuah hiasan saja, untuk melengkapi isi status seseorang. Tapi, bagi Yulius, justru mendapatkan title lebih baik daripada mendapatkan sebuah skill baru.
Karena title memiliki pengaruh terhadap skill yang seseorang pakai.
Contohnya, sekalipun Yulius memiliki sihir cahaya yang terkhusus untuk sihir penyembuhan. Efek yang akan diberikan akan jauh berbeda jika yang memakai sihir tersebut memiliki title seorang [Pendeta] atau [Gadis Suci].
Bahkan meskipun sihir yang dia miliki level 10, jika Yulius bertanding sihir cahaya dengan orang lain yang memiliki title-title tersebut. Dia sudah pasti akan kalah.
Inilah kenapa title memiliki efek yang lebih baik daripada sebuah skill dengan level yang tinggi.
Dengan kata lain, Nadya yang saat ini memiliki title [Malapetaka Alami] bersamanya, adalah sesuatu yang tidak boleh sampai menjadi musuh Yulius. Karena dia tidak tau efek seperti apa yang akan diberikan title tersebut.
(Dengan kekuatanku saat ini, aku tidak yakin bisa mengalahkannya.)
“Tuan Yulius, kita sudah sampai di tempat tujuan.”
Selagi Yulius tenggelam di dalam pikirannya, Nadya mengatakan hal itu, dan menyadarkannya kembali ke dunia nyata.
Yulius mengalihkan perhatiannya, dan dia segera turun dari punggung Nadya.
Nadya juga mengubah wujud naganya, dan mengambil bentuk seorang wanita cantik. Meskipun tanduk dan ekornya masih belum bisa dia sembunyikan.
Mereka berjalan bersama, dan di depan mereka saat ini adalah sebuah gua, yang terdapat di tengah-tengah hutan lebat antah berantah.
Melihat gua itu, alis mata Nadya terangkat, dia terkejut.
“Tuan Yulius, ini?!”
“Yah, ini Dungeon.”
Yulius berkata dengan santai, dan kemudian dia tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam gua tersebut, yang sebenarnya adalah sebuah Dungeon.
Nadya masih terkejut, tetapi melihat Yulius yang sudah masuk duluan, dia buru-buru mengejar anak itu.
“Tuan Yulius, tunggu aku! Tolong jangan pergi begitu saja! Apa sebenarnya niat anda pergi ke sini? Dan bagaimana anda tau kalau ada Dungeon di sekitar sini?”
“Aah, yah, aku belum memberitahumu ya. Ini mungkin akan sedikit sulit untuk di katakan. Pertama, apa kau tau siapa Baren sebenarnya?”
“Eh, dia…” Nadya memikirkannya dengan keras, tapi, sebelum dia sempat untuk menjawabnya, Yulius terlebih dahulu memberitahunya.
“Dia raja bandit.”
“Eh? Raja… Bandit?”
“Umm, benar. Tapi apa hubungannya dia dengan Dungeon ini?”
Nadya bertanya, sembari memiringkan kepalanya dengan bingung.
Melihat itu Yulius menghela nafasnya, dan bertanya.
“Apa kau tidak pernah curiga darimana dia mendapatkan monster-monster itu?”
“Eh, jangan-jangan?!”
“Itu benar, dia mengambil monster-monster itu dari Dungeon ini.”
Jika dipikirkan dengan normal, mustahil untuk mengumpulkan 50.000 monster hanya dalam waktu singkat. Jika mereka mencarinya secara manual dengan pergi ke habitat asli monster itu, pasti akan sangat merepotkan.
Jadi, satu-satunya cara tercepat adalah dengan mengumpulkan monster dari Dungeon, yang bisa melahirkan seekor monster secara alami dan cepat.
Itulah kenapa dia bisa memiliki variasi monster yang berbeda-beda, dengan level dari rendah hingga yang tinggi. Karena jika dia mencari monster secara manual, Yulius yakin orang itu tidak akan mengincar monster dengan level yang rendah.
Tapi, ada satu hal saja yang membuat Yulius terus bertanya-tanya.
Diam-diam, sambil memikirkannya, dia melirik ke arah Nadya.
(Aku bingung, bagaimana orang itu bisa mendapatkan Naga Merah? Dan kenapa dia perlu memindahkan jiwa Nadya ke dalam tubuh Naga Merah? Hanya pertanyaan itu yang terus menempel di benakku.)
“Umm…”
“Apa, apa kau masih tidak mengerti?”
Melihat Nadya yang berpikir dengan serius, Yulius mengerut.
“Ah, tidak. Aku paham apa yang Tuan Yulius katakan. Hanya saja, aku masih tidak mengerti kenapa kita harus datang ke tempat ini?”
(Oh, tentang itu.)
“Tentu saja, jika kita membicarakan tentang bandit…” Yulius berjalan ke depan, dia masuk ke dalam sebuah ruangan dan kemudian dia berteriak keras sambil tersenyum lebar. “… Itu pasti adalah harta karun!!” Matanya berbinar-binar, saat melihat tumpukan emas dan emas yang bagaikan gunung di depannya.
Kilauan yang menggiurkan menumpuk di mana, ini membuat hati Yulius seakan ingin terbang dan terjatuh di atas tumpukan harta karun tersebut.
“Ahahahaha!! Lihatlah semua emas ini! Sungguh sangat cantik! Kau lebih cantik dari semua jenis kecantikan yang ada di dunia ini!!”
Yulius berlari kencang, dan dia bersenang-senang dengan emas-emas itu.
(Tidak sia-sia aku menyuruh Emi untuk menyelidiki lokasi markas pria itu. Aku sudah menduga dia menyimpan harta karun. Lagipula, bandit tetaplah bandit. Apa lagi dia adalah raja bandit, jadi aku akan marah jika dia tidak memiliki harta karun sedikitpun!)
“He-Hei, Tu-Tuan Yulius… I-Ini…”
(Lihatlah, bahkan Nadya tampak gemetar melihat tumpukan emas ini. Seperti yang kuduga, bahkan wanita ini akan takluk dihadapan emas-emas yang cantik.)
“Jangan menahan dirimu, Nadya. Hanyutkan saja hasratmu, dan mari kita nikmati semua harta ini bersama-sama.” Yulius berkata, sambil berbaring di atas emas-emas itu dengan wajah yang berbunga-bunga.
Melihat tingkah lakunya yang ceria, Nadya mendengus pasrah, pipinya melembut, dan dia tersenyum tipis saat melihat Yulius yang tertawa keras sambil berenang di atas tumpukan emas.
“Anda benar-benar sangat bahagia. Apa yang akan anda lakukan dengan uang sebanyak ini? Apa anda berniat untuk membeli wilayah baru?”
“Huh? Tentu saja tidak. Mereka akan kugunakan untuk pembangunan kota, dan juga sebagian untuk melunasi beberapa utang milik keluargaku. Jika ada sisa, aku akan menggunakannya untuk berinvestasi di wilayahku”
“Eh?”
Nadya melebarkan matanya, dia terkejut.
Bagimana tidak?
Yulius berniat untuk menggunakan semua uang yang dia dapatkan ini untuk membangun kota, dan mengembangkan wilayahnya.
Itu mungkin terdengar normal.
Tapi, bagi orang yang tinggal di dunia ini, pemikiran itu sulit untuk dibayangkan. Karena kebanyakan bangsawan, ketika mereka mendapatkan uang secara pribadi, mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri daripada rakyatnya.
Jika itu uang pajak, mungkin wajar untuk menggunakannya dalam pengembangan wilayah. Namun, tidak ada bangsawan yang suka menghambur-hamburkan uang mereka.
Jadi, terkadang mereka tidak terlalu peduli terhadap rakyatnya.
Karena itulah, di mata Nadya, Yulius adalah sebuah pengecualin yang aneh.
Anak itu lebih mementingkan rakyatnya daripada dirinya sendiri. Bahkan dia sampai menggunakan uang yang seharusnya menjadi miliknya secara resmi hanya untuk kepentingan rakyatnya.
Itu sangat jarang terjadi dikalangan bangsawan, bahkan orang tua Nadya, dulunya yang merupakan semi-baron, juga jarang menggunakan uang pribadi mereka untuk kepentingan rakyat.
Entah kenapa, memikirkan hal itu. Ini membuat dadanya penuh akan kebahagiaan, perasaan yang hangat terus mengalir di dalam tubuhnya tanpa henti.
Meskipun dia tau itu tidak perlu lagi untuk dipertanyakan.
Tapi, dari lubuk hatinya yang terdalam.
Dia tidak menyesal karena telah mencintai Yulius.
“Anda benar-benar sangat dermawan.”
“Eh, ah, yah?” Yulius memiringkan kepalanya, dia bingung ketika mendengar Nadya yang tiba-tiba memujinya dengan senyuman yang manis dan tatapan mata yang penuh arti.
(Ada apa? Kenapa dia tiba-tiba tersenyum? Hentikan, itu menyeramkan!)