Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.5 - Keturunan iblis



Dia adalah seorang gadis cantik, penampilannya terlihat seperti anak SMP. Memiliki rambut putih panjang dan halus seperti sutra, dengan iris mata berwarna violet yang cembung, kecantikannya bagaikan peri di negeri dongeng.


Selain itu, dia juga memiliki kuping runcing dari ciri khas seorang Elf sejati, dan kulit putih bersih yang seindah salju.


Melihatnya, mata Yulius terpana. Hatinya berdegup kencang saat disuguhi oleh keindahan sesungguhnya dari dunia fantasi ini.


Tapi, ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu.


Memperhatikan kondisi tubuh dan pakaian dari gadis Elf itu yang kotor dan dipenuhi oleh luka lebam dan sayatan, Yulius buru-buru mengeluarkannya dari kurungan tersebut.


“Jangan khawatir, aku akan menyelamatkanmu.” Dia memotong jeruji dari kurungan itu dengan mudah menggunakan pedangnya, dan segera mengeluarkan gadis Elf tersebut dari sana.


“Uurrh…” erang gadis itu yang kesakitan.


Saat itu, Yulius mengernyit dan mengigit bibirnya sampai berdarah. Melihat kondisi tubuh gadis itu yang dipenuhi oleh luka-luka yang mengerikan, sudah bisa dibayangkan perlakuan seperti apa yang selama ini dia terima.


“Kau baik-baik saja? Maaf jika itu terlalu kasar.” Yulius membaringkan tubuh gadis itu secara perlahan-lahan di atas tanah, dan kemudian dia mulai menggunakan sihir penyembuhan untuk memulihkan semua luka-luka yang gadis itu miliki.


[Heal]


Seketika, cahaya hijau yang lembut mengulurkan tangannya kepada semua luka yang diderita oleh gadis malang tersebut dan menghilangkan semua luka-lukanya seolah-olah mereka tidak pernah ada.


Yulius bersyukur, karena tidak ada bekas luka yang tertinggal.


Dia menghela nafasnya dengan lega begitu melihat gadis tersebut yang telah tertidur dengan wajah yang nyaman, ini membuat Yulius sedikit senang karena dia masih sempat untuk menyelamatkannya.


“Benar-benar, untung semuanya baik-baik saja. Tapi, sekarang yang menjadi masalah adalah…” Melihat ke arah wajah gadis Elf itu, Yulius bingung, “… Apa yang harusku jelaskan kepada Albert nantinya jika aku membawa anak ini? Mungkin Lin akan setuju-setuju saja, tapi aku tidak yakin dengan pak tua itu.”


Karena dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja di tempat tersebut. Yulius berniat untuk membawanya ke rumah dan dirawat di sana.


Dia memikirkan berbagai alasan, seperti dia membutuhkan seorang pembantu tambahan, atau dia membutuhkan seseorang untuk mengurus semua keperluannya mengantikan Lin. Sedangkan Lin akan dipindahkan dibidang manajemen secara penuh.


Itu bagus, jika Lin mengurus manajemen sepenuhnya. Itu artinya mereka akan selalu bersama, dan Lin tidak perlu lagi capek-capek mengurus keperluannya.


Tapi...


“Aku tidak yakin itu akan membuatnya senang,” ketus Yulius, dia mengerut.


Memikirkan tentang betapa bahagianya Lin yang selalu dapat membantunya, dia merasa itu bukan pilihan yang tepat untuk mengganti pekerjaannya.


“Yah, lupakan itu. Pertama, mari kita lihat isi status anak ini, setelah itu baru pikirkan pekerjaan apa yang cocok untuknya…”


Yulius menyipitkan matanya. Pada saat itu juga, mata merahnya bersinar, dan dia dapat melihat isi status dari gadis Elf yang sedang tidur tersebut.


Namun, setelah melihatnya, mata Yulius terbuka lebar.


“I-Ini…”


[Nama: --]


[Level: 19]


[Kekuatan: 57]


[Kepintaran: 443]


[Kecepatan: 96]


[Ketahanan: 43]


[Pesona: 78]


[Keahlian: Sihir Kegelapan (Lv.7), Sihir Angin (Lv.9), Mahir Busur (Lv.5), Mahir Belati (Lv.6), Ahli Nujum (Lv.1)]


[Title: Elf Tingkat Tinggi, Titisan Iblis]


Membaca statusnya, seringai lebar menghiasi wajah Yulius.


“Dia bisa berguna…”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, di mansion keluarga Luciffer, tepatnya di ruang kerja Yulius.


Saat ini—


“APA ANDA SUDAH GILA?!!” Seorang pria tua dengan wajah yang merah dan emosi yang mendidih berteriak keras kepada Yulius. Dia adalah Albert, kepala pelayan baru keluarga Luciffer.


“Tu-Tuan Albert, tenanglah. Aku yakin Tuan Muda punya alasan yang logis. Benarkan Tuan Muda? Tu-Tuan Muda, tolong jangan palingkan wajah anda.”


Panik melihat Yulius yang sama sekali tidak mengatakan apapun, hati Lin mulai gelisah dan dia terus mendesak anak itu untuk segera membuat alasan. Karena dengan begitu, Lin bisa mendukungnya apapun alasannya.


Namun, Yulius sama sekali tidak memikirkan apapun, dia hanya bisa terdiam ketika Albert mulai kehilangan akal sehatnya dengan membeturkan kepalanya di dinding sampai berdarah.


“Aku yakin ini hanya mimpi! Itu benar, ini mimpi! Tidak mungkin ini terjadi! Siapapun, tolong katakan kepadaku bahwa ini semua hanya mimpi!”


Dia bahkan mulai menggumamkan sesuatu yang aneh. Itu adalah reaksi yang sama ketika dia tau bahwa Yulius menjual semua aset pribadi keluarganya.


Alasan kenapa Albert dan Lin terlihat sangat panik adalah…


—Tidak lain dan tidak bukan karena gadis Elf yang Yulius bawa.


“Tu-Tuan Muda, apa anda tau seperti apa pandangan orang-orang tentang mahkluk lain yang bukan ras manusia?” tanya Lin kepada Yulius, yang hanya bisa memiringkan kepalanya kebingungan melihat situasi ini.


Kemudian, dengan polos anak itu berkata, “Gak tau. Emang kenapa?”


Mendengar itu senyuman Lin bergetar, dan dia memegang kepalanya dengan sakit sembari memikirkan masalah saat ini.


Tapi, di sisi lain, dia juga merasa senang karena tuannya tumbuh menjadi anak yang baik dan tidak membeda-bedakan orang lain hanya karena mereka berasal dari ras yang berbeda.


Ketika Lin ingin menjelaskannya, suara Albert memotong.


“Karena mereka dianggap sebagai keturunan iblis!” serunya dengan tegas, dan berjalan mendekat ke arah Yulius dengan ekspresi yang marah, “Apa anda tau apa yang akan terjadi jika anda memutuskan untuk mengambil anak itu?” tanyanya.


“....”


Namun Yulius hanya terdiam. Dia sedikit ketakutan ketika Albert mendekatkan wajah iblisnya yang mengerikan tepat di depan wajahnya.


“Apa yang akan terjadi?” tanya Yulius yang masih bersikap apatis.


Begitu menjawab, Albert menyipitkan mata hitamnya, “Orang-orang akan menganggap anda sebagai orang gila. Jika penduduk tau bahwa tuan mereka memiliki hobi untuk pergi bersama keturunan iblis. Jelas, itu akan menimbulkan masalah untuk kedepannya, dimana anda tidak akan lagi dipercaya,” jelasnya.


Tapi—


“…..”


Bukan berarti dia merasa terkejut oleh perkataan Albert. Dia terdiam karena dia masih bingung, apa yang perlu dipermasalahkan dari hal itu.


Jika memang seorang Elf dianggap sebagai keturunan iblis, lalu kenapa gadis itu yang tidak tau apa-apa harus disalahkan?


Emang apa salahnya menjadi seseorang dari keturunan iblis?


Dia lahir seperti itu bukan berarti dia ingin.


Apa dia membahayakan?


Apa dia pernah melukai orang lain?


Bukankah selama ini dia lah yang selalu dilukai?


Jika memang seseorang dengan keturunan iblis tidak diterima oleh manusia. Lalu, apa hubungannya perspektif mereka dengan pandangan Yulius?


Tidak ada.


Sama sekali tidak ada hubungannya.


Siapa pula yang peduli dengan pandangan orang lain.


Di sini.


Di tempat ini.


Di wilayah ini.


Yulius adalah penguasanya.


Karena itu, yang boleh mengatur mana yang salah dan mana yang benar hanya dirinya sendiri. Dia lah yang memimpin, jadi tidak seharusnya seorang pemimpin mengikuti seperti apa pandangan orang lain tentang kebajikan yang benar.


Dia tidak perlu dibenahi tentang hal-hal seperti itu.


Jika putih bisa menjadi gelap, maka gelap juga bisa menjadi putih. Dan satu-satunya yang bisa melakukan hal itu hanya orang yang memiliki kekuasaan mutlak seperti dirinya.


Oleh karena itu—


“Tuan Yulius, saya ingin anda segera membuang gadis itu!” tegas Albert sekali lagi, yang memberikan sedikit ancaman di dalam suaranya.


Namun…


“Tidak.” Tanpa ragu-ragu Yulius menolaknya. Membuat Albert mengerutkan keningnya pada sikap anak itu yang benar-benar keras kepala.


Saat dia ingin meledakkan amarahnya, Yulius segera menyela dan melanjutkan kembali perkataannya dengan suara yang tegas.


“Aku telah membawa anak itu ke sini, maka sudah seharusnya aku bertanggung jawab untuk merawatnya sampai akhir.”


“Tapi—“ Albert mencoba untuk berteriak, namun Yulius memotongnya.


“Albert, apakah itu sikap seorang penguasa untuk meninggalkan tanggung jawabnya setelah dia memutuskan apa yang telah dia lakukan?” tanya Yulius.


Kemudian, dia menyipitkan matanya dengan tajam ke arah Albert dan memberikan dorongan terakhir untuk membuat pak tua itu menyerah.


“Apa kau ingin aku menjadi seseorang yang sama seperti orang tuaku? Akulah yang telah memutuskannya sendiri. Bahwa aku, tidak akan pernah lagi melarikan diri!” Meninggikan suaranya, Yulius berkata dengan suara yang penuh kebanggan.


“…..” Itu membuat Albert terdiam, dia menundukkan kepalanya. Meskipun dia masih merasa tidak puas. Tapi, yang bisa dia lakukan hanya sampai di sini.


Karena sebagai seorang pelayan yang baik. Tugas Albert bukanlah menceramahi tuannya tentang bagaimana caranya berperilaku yang benar. Melainkan adalah terus mendukung dan membantu tuannya apapun yang tuannya putuskan.


“Aku telah memutuskan untuk menyelamatkan anak itu. Jadi, apapun alasannya, aku tidak akan pernah meninggalkannya begitu saja!”


“—Hk.”


Albert mengerut pada situasi ini, dia benar-benar sakit.


Tapi, dia juga tidak lagi memiliki kekuasaan untuk menghentikan keinginan Yulius yang dengan kuat mencoba untuk melindungi gadis Elf itu.


Meskipun dia masih merasa enggan, Albert menyerah pada keputusan Yulius.


Dia tau, walaupun dirinya terus memaksakan kehendaknya kepada Yulius, anak itu tidak akan pernah menyerah untuk melakukan apa yang telah dia putuskan.


“Saya mengerti, jika itu keinginan anda, maka saya akan menyiapkan beberapa pengetahuan dan pemahaman kepada anak itu. Sehingga dia dapat melakukan beberapa pekerjaan dengan benar. Tolong kabarkan saya jika dia sudah siap.”


“Baik, aku mengandalkanmu, Albert.”


“Kalau begitu, saya permisi di sini.” Albert membungkukkan badannya, dan setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Melihatnya yang telah menjauh, Yulius menghela nafasnya dengan lega seperti ikan yang akhirnya bisa berenang di dalam air.


Tumpukan ketegangan yang ada di dalam dadanya akhirnya terhempas, dan dia dapat mengambil nafas dengan bebas.


“Itu benar-benar menakutkan. Pak tua itu, aku tau dia kompeten dan bisa diandalkan, tapi jika bisa aku ingin dia sedikit menahan diri kepadaku,” keluhnya sembari membaringkan seluruh berat badannya di sandaran kursi dengan lesu.


“Tolong jangan terlalu menyalahkannya, Tuan Muda. Tuan Albert mengatakan hal itu hanya karena dia sangat memperdulikan anda,” sanggah Lin di sampingnya.


Mendengar itu, Yulius mengangguk, “Aku tau.” Matanya tertunduk pada penyesalan.


Mengatakan semua hal tentang masalah yang Yulius berikan saat ini, dia sedikit merasa bersalah kepada Albert karena telah menuntut berbagai keegoisan yang seharusnya tidak perlu dia pikul.


Bahkan dia sendiri tau apa yang sebenarnya akan terjadi semisalnya dia pergi untuk menyelamatkan seseorang dengan keturunan iblis, yang dianggap semua orang bahwa mereka adalah pembawa bencana.


Yulius juga paham begitu dia melihat isi status dari gadis Elf tersebut.


Dimana di sana tertera dengan jelas bahwa dia adalah titisan iblis. Tidak hanya dia, tapi setiap monster yang Yulius lihat, juga memiliki [Title] yang sama.


Itulah kenapa dia tidak dapat menyangkal bahwa gadis itu adalah keturunan iblis, meskipun dia telah berjuang untuk semua kemanusiaannya sendiri.


Yulius sedikit prihatin pada situasinya saat ini. Namun, sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk melarikan diri. Karena dia sendiri yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah lagi meninggalkan tanggung jawabnya.


“Yah, kita hanya bisa melakukannya secara perlahan-lahan,” gumamnya.


Dia percaya, bahwa suatu hari nanti, akan datang hari dimana semua orang akan menerima keputusannya untuk melindungi seseorang dari keturunan iblis.


Dia berharap ketika itu orang-orangnya bisa hidup berdampingan dengan mereka.


Itu adalah masa depan yang Yulius impikan— tidak, lebih tepatnya, itu adalah masa depan yang harus Yulius wujudkan.


“Lin, aku akan pergi untuk melihat anak itu.”


“Saya akan mengikuti anda.”


Memberikan pernyataan singkat itu, Lin tanpa ragu mendorong keikutsertaannya, dan kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan bersama, menuju kamar yang telah disiapkan untuk gadis Elf itu.