
Keesokan harinya, dipagi hari.
Seperti biasa, Albert menyiapkan sarapan untuk semua orang.
Saat itu juga, seseorang membuka pintu.
Begitu Albert menoleh untuk melihat siapa yang datang, dia melihat Nadya yang berjalan masuk dengan sosoknya yang anggun dan cantik.
Wanita itu juga menyadari keberadaan Albert, dan dia segera menyapanya dengan senyuman yang indah.
“Selamat pagi, Tuan Albert.” Dia bertutur kata dengan tata krama yang bermartabat layaknya seorang bangsawan sejati.
Albert juga hendak menyapanya balik, tapi—
“Selamat pa—“
“Haaahhhhh~”
“??”
Tidak sempat untuk menyelesaikan kalimatnya, alis mata Albert terangkat ketika dia mendengar suara helaan nafas suram yang keras dari balik punggung Nadya.
Albert mengedipkan matanya sekali, mengangkat wajahnya dan melihat dengan tatapan yang bingung saat dia memperhatikan Yulius yang berjalan di belakang Nadya dengan wajah yang tertunduk.
Anak itu terlihat tidak sehat.
Ini membuatnya bertanya-tanya, apa sesuatu telah terjadi?
“Nona Nadya, apa terjadi sesuatu dengan Tuan Yulius?”
Albert memutuskan untuk bertanya kepada Nadya, yang dia pikir wanita itu mungkin mengetahui sesuatu tentang kondisi Yulius saat ini.
Sebenarnya, dia memiliki tebakan untuk situasi ini, tapi dia kurang yakin.
“Yah, mungkin anda sudah mengetahuinya. Tapi, seperti yang anda pikirkan, Tuan Yulius telah memutuskan untuk mengambil semuanya dengan baik,” jawab Nadya, yang masih pada ekspresi tenangnya seperti biasa.
Mendengar itu, Albert mengangguk, “Jadi begitu,” ujarnya.
Kemudian dia memejamkan matanya sebentar, dan tatapannya beralih kembali kepada Yulius yang membuat ekspresi suram seakan-akan dunia akan kiamat.
“Jadi, kenapa anda terlihat menyedihkan seperti itu, Tuan Yulius?” tanya Albert, yang memandang Yulius dengan wajah datarnya seperti biasa.
(Yah, aku pikir dia mungkin hanya memikirkan semuanya secara berlebihan.)
“Albert, apa kau telah merencanakan semua ini?” Menghampiri Albert dengan wajah gelapnya yang masih tertunduk murung, Yulius bertanya.
Itu membuat wajah Albert mengendur.
(Jadi dia sudah mengetahuinya, ya. Kurasa aku sudah tidak bisa mengelak lagi.)
“Tolong maafkan saya, Tuan Yulius.”
Albert membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, dan meminta maaf dengan suara yang menyesal.
Namun, pada saat Albert ingin mengintip kembali, dia melihat Yulius yang mulai gemetaran, dan menggumamkan sesuatu dengan suara yang ketakutan.
“Jadi begitu… Aku tau kau membenciku, tapi aku tidak tau itu akan sejauh ini.”
Albert tidak dapat mendengarkan apa yang anak itu katakan.
Tapi, sekilas dia bisa merasakan bahwa sebuah kesalahpahaman pasti terjadi.
Dia merasa sedikit aneh dan bingung ketika dia melihat perbedaan yang jelas di antara kedua orang itu.
Di mana Nadya terlihat cerah dengan wajah yang penuh kebahagiaan, sedangkan Yulius terlihat gemetaran dengan wajah gelap yang penuh ketakutan.
Ini sekali lagi membuat Albert merasa aneh.
(Apa yang sebenarnya terjadi?)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini, mereka semua berada di ruang rapat.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, semua orang langsung menghadiri kembali rapat yang masih belum mereka selesaikan.
Namun, tampaknya itu juga akan berakhir sampai hari ini saja.
“… Yah, jadi begitulah. Aku memutuskan untuk menikahi Nona Nadya.”
Berkata dengan suara yang dapat didengar oleh semuanya, Yulius menyatakan hal itu kepada mereka semua yang hadir dengan wajah yang datar.
Pada saat yang bersamaan.
‘Brak!!’
“Tunggu! Menikah?! Apa maksudnya itu?! Aku sama sekali tidak mendengar ini!!”
Mungkin, seperti yang sudah ditebak. Yang pertama kali mengangkat suaranya adalah Nia. Dia membanting tangannya ke atas meja dan berteriak keras.
Wajahnya terlihat panik, sekaligus kebingungan.
Dia dengan tajam melotot ke arah Yulius, dan memberikan perasaan yang ingin membuat Yulius memalingkan kepalanya.
“Tuan Yulius, apa maksudnya anda ingin menikahi Nona Nadya?!” tanya Nia, yang terus mendesak Yulius untuk segera memberikan jawabannya.
Dia terlihat sedikit kesal.
(Jangan tanya aku! Aku sendiri juga tidak tau! Mereka menjebakku!)
“Hei Tuan Yulius! Apa maksudnya ini?!” Semakin mendorong pertanyaannya kepada Yulius, Nia berdiri dan berjalan cepat untuk menghampiri anak itu.
“Nona Nadya?” Itu membuat Nia sedikit tercengang, dia tampak semakin bingung, “Kenapa… Kenapa anda menerima pernikahan ini?” tanyanya lemah.
“Nia, tolong maafkan aku karena memutuskan semua ini tanpa memberitahumu. Tapi, kumohon, tolong mengerti lah Nia. Ini bukan seperti yang kau pikirkan.”
Nadya mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Nia. Namun, tampaknya anak itu hanya menjadi semakin bingung dan sakit.
Sedangkan Albert dan Robert hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Yulius juga diam-diam memperhatikan kedua pria tua itu, yang menjadi pelaku utama kenapa dia harus menikahi Nadya, sehingga situasi ini bisa terjadi.
Dalam hatinya, Yulius menyimpan dendam kepada mereka, dan dia bersumpah suatu saat pasti akan membalasnya.
“Bukan seperti yang saya pikirkan? Apa maksud anda, Nona Nadya?” tanya Nia, yang terlihat sangat kesulitan untuk mengerti dengan apa yang terjadi.
“Nia, ini semua untuk melindungi kota,” jawab Nadya singkat.
Namun, itu membuat Nia terlihat marah, dia menggertakkan giginya.
“Saya tau itu!! Tapi yang saya tanyakan adalah kenapa anda menerimanya?! Bukankah ini sama saja seperti pada saat anda mengorbankan diri untuk pria itu!! Saya sudah tidak ingin melihat anda menderita lagi!!” bentak Nia dengan keras.
Itu membuat ruangan bergetar hanya dengan suaranya.
(Yah, tidak ada yang bisa menyalahkannya. Itu wajar saja untuk dia marah jika dia tau orang tersayangnya akan mendapatkan kembali penderitaan yang sama.)
Masih memperhatikan suasana yang semakin menegang dengan ekspresi yang santai, alis mata Yulius terangkat ketika dia melihat Nia yang mulai menangis.
Begitu juga dengan Nadya, dia tampak kesulitan.
(Baru kali ini aku melihat wanita itu terlihat kesusahan. Meskipun dia masih cantik seperti biasanya. Yah, tapi kau tidak bisa menilai orang dari luarnya saja.)
Memikirkan hal itu, Yulius menyipitkan matanya ke arah Nadya.
(Wanita ini adalah wanita yang menakutkan di dalamnya.)
“Nona Nadya, saya… saya…” Meneteskan air matanya, Nia mengepalkan tangannya.
Melihat itu, mata Nadya melebar terkejut. Dia segera memeluk Nia dengan sangat erat, dan terus meminta maaf kepada satu-satunya keluarga yang dia miliki itu.
“Nia, tolong maafkan aku. Maafkan aku karena telah memutuskannya tanpa berbicara denganmu terlebih dahulu… Tapi, sungguh, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, bukankah kau juga tau jika Tuan Yulius adalah orang yang baik.”
“Hiks… kak Nadya…”
(Eh? Kak Nadya?)
Terkejut oleh panggilan imut yang tiba-tiba muncul itu, alis mata Yulius terangkat.
Tapi, tidak ada yang memperhatikannya.
Nadya yang memeluk erat tubuh Nia, mengelus lembut rambutnya dengan penuh kasih sayang seperti seorang kakak perempuan.
Saat Yulius melihatnya, mereka benar-benar tampak seperti seorang saudara.
“Nia, tolong jangan mengkhawatirkanku. Tuan Yulius bukanlah orang jahat, dan aku juga mencintainya sebagai seorang kekasih.”
Mengatakan hal itu, pipi Nadya menjadi merah merona. Dia tampak begitu menggoda ketika suara lembutnya mengungkapkan cinta yang begitu dalam.
Tapi,—
(Cih! Dasar bodoh, jangan kira aku akan merasa terharu. Aku yakin kalian telah merencanakan sesuatu lagi untuk menjebakku. Aku tidak akan lagi terbawa suasana oleh semua yang kalian katakan dan lakukan. Aku tidak akan tertipu lagi!)
—Masih mendirikan kesalahpahamannya, pikiran Yulius menolak untuk terharu.
Setelah itu, Nia akhirnya menjadi sedikit tenang, dan dia terus membenamkan dirinya dengan manja kepada Nadya yang masih memeluknya.
“Aku mengerti. Aku tidak akan menghentikan kak Nadya.”
“Terima kasih karena telah mengerti, Nia.”
“Aku akan percaya kepada kakak, dan juga...” Keluar dari pelukan Nadya, Nia tersenyum tipis ketika dia menatap Yulius. “… Tuan Yulius, saya percayakan Nona Nadya kepada anda,” lanjutnya, sambil menundukkan tubuhnya dalam-dalam.
“Eh? Ah? Ya-Yah! Serahkan kepadaku! Aku akan membuatnya bahagia!!”
Tersentak oleh namanya yang tiba-tiba dipanggil, Yulius secara spontan mengatakan hal itu dengan senyuman yang penuh dengan rasa percaya diri.
Saat itu juga, mereka membuat reaksi yang beragam.
Robert tertawa dan berkata, “Itu baru Tuan kami!”
Di sebelahnya Albert hanya mendengus kasar.
Sedangkan Nadya dengan malu-malu tersenyum bahagia, sembari mencuri-curi pandang kepada Yulius. Wajahnya memerah seperti gadis yang baru pertama kali merasakan cinta, dia terlihat sangat imut.
Nia yang mendengar itu juga tertawa, dia sepertinya sangat puas.
“Ahaha, Tuan Yulius tampaknya seorang pria yang berpengalaman dalam menggoda wanita. Kalau begitu, aku bisa dengan tenang menyerahkan Nona Nadya kepada anda,” ujarnya, dengan suara yang terdengar senang.
“Ah?”
Tapi, satu orang yang akhirnya sadar dengan apa yang baru saja dia katakan, membeku layaknya patung, dan dia segera menyesali perbuatannya.
Yulius mengerut dengan ekspresi bermasalah.
(A-Aku melakukannya…)
Setelah ini, ketika Yulius masih terdiam dan menyesali dirinya sendiri karena telah bertindak ceroboh, semua orang tampak begitu tenang melanjutkan diskusi mereka tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Sampai akhirnya, tanpa Yulius sadari.
Rencana tentang kencan pertamanya bersama Nadya telah dibuat.