Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.20 - Api yang membara



Raungan keras terus menerus bergemuruh dimalam yang dingin.


Berlari-lari dengan suara hentakan kaki yang menggambarkan kehancuran, ribuan monster menerjang dengan niat menghancurkan seluruh kota.


Saat ini, bergegas dengan kepanikan total, para prajurit telah bersiap siaga dengan formasi mereka untuk menghadang semua monster-monster itu.


Nia yang telah diposisikan sebagai komandan dalam pertempuran kali ini, berkeringat dingin saat dia memandang dengan penuh kecemasan melihat segerombolan monster yang terus mendekati mereka, seperti bencana tsunami.


Menelan ludahnya, nafas Nia megap-megap. Jantungnya berdegup dengan kencang hingga mencapai telinganya. Rasa takut terus membuat seluruh tubuhnya berkeringat. Dia mengalami dehidrasi yang sangat parah.


“Komandan!”


Seorang pria tua dengan suara yang tegas memanggil Nia.


Seketika, itu menarik paksa kesadarannya dan dia langsung menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Wajah Nia masih terlihat tegang saat suara yang prihatin keluar dari mulutnya.


“Tuan Robert?”


“Komandan, apa anda baik-baik saja? Aku tau ini bukan waktunya untuk bercanda. Jadi, jika bisa aku ingin anda bersikap lebih layak. Anda adalah orang yang dipilih langsung oleh Tuan Yulius untuk menangani masalah ini.”


“Tapi, aku…”


Melihat ekspresi Nia yang mengeluh dengan tidak percaya diri, Robert mengerut. Dia tau bahwa tanggung jawab yang saat ini wanita itu pikul bukanlah sesuatu yang bisa dia remehkan.


Nia masih terlalu muda.


Dia memang sangat kuat, tapi dia tidak berpengalaman.


Ini sama seperti yang sebelumnya pernah Yulius katakan, bahwa status bukanlah segalanya. Sehebat atau sekuat apapun status orang itu, jika dia bodoh. Masih banyak cara untuk membunuhnya.


Robert sendiri memiliki kekuatan dan pengalaman yang membuktikan bahwa usianya yang sekarang adalah hasil dari ketekunan dan kerja kerasnya.


Sedangkan Nia saat ini hanya terlihat seperti brilian kasar yang belum diasah.


Memeluk seluruh tanggung jawab untuk melindungi ribuan nyawa penduduk yang ada di kota, dia masih kekurangan dorongan untuk melangkah lebih maju.


(Tuan Yulius benar-benar sangat kejam untuk menyuruh gadis ini memikul semua beban sendirian. Aku takut ini tidak akan berjalan lancar.)


“Tuan Robert, apa yang harus aku lakukan?” Berkata dengan suara yang lemah, mata suram Nia menatap Robert dengan rasa takut yang merebut cahayanya.


Alis Robert mengernyit dengan simpati, dia tau ini mungkin masih terlalu berat untuk Nia. Tapi, setidaknya dia yakin bahwa pilihan tuannya Yulius tidak pernah salah.


“Anda adalah komandannya, jadi semua pilihan ada di tangan anda sendiri,” tegas Robert saat dia menegangkan pelipisnya.


Nia menunduk, dia mengigit bibirnya dengan frustasi.


Tapi,—


“Di dalam pertempuran, sebuah kemenangan dan kekalahan adalah masa depan yang belum bisa dipastikan. Tidak ada seorangpun yang bisa menebak masa depan seperti apa yang akan datang di antara rekan dan musuh. Selain itu, melihat semua bencana konyol ini, siapapun pasti akan putus asa. Namun…”


“Ya?”


“... Namun, selama anda bertarung di pihak Tuan Yulius. Kemenangan adalah sesuatu yang sudah dipastikan sejak awal.”


Itu adalah gagasan yang benar-benar bodoh.


Jika seorang Panglima Perang yang telah mendedikasikan hidupnya hanya untuk pertempuran, pasti dia akan tertawa mendengar penyataan tersebut.


Tapi, tidak dengan Robert dan pasukan Yulius lainnya.


“….”


Pandangan Nia menoleh ke arah para pasukannya yang berjumlah sebanyak lebih dari 9.000 prajurit. Itu semua adalah batas pasukan yang bisa mereka kumpulkan saat ini, dengan pasukan Yulius yang sekitar 2500 prajurit dan sisanya adalah pasukan yang berada langsung di bawah perintah Nia.


Namun, mata Nia dibuat terkejut ketika dia melihat perbedaan jauh antara moral pasukan Yulius dan pasukan yang berada langsung di bawah pimpinannya.


Tatapan para prajurit yang dimiliki Yulius jauh lebih tegas dibandingkan miliknya. Mereka seolah-olah memiliki keyakinan kuat bahwa dalam pertempuran kali ini kemenangan sudah ada di tangan mereka.


“Apa ini?”


Udara di sekitar pasukan Yulius terasa sangat panas, seakan-akan api yang membara tengah membakar mereka semua dengan semangat yang tak ada tandingannya.


Mereka jelas sangat berbeda dengan pasukan Nia yang terlihat skeptis dan cemas saat melihat ribuan monster-monster itu menuju ke arah mereka.


Semua pandangan seakan membayangkan kehancuran yang tiada tara.


Sedangkan di sisi lain, semangat perang pasukan Yulius benar-benar mengerikan. Mereka seperti prajurit elit yang telah dipersiapkan hanya untuk berperang.


Mata tegas tanpa rasa takut, dan kekuatan seorang prajurit yang tidak perlu lagi diragukan. Serta…


…Seorang pemimpin dengan karisma dan kekuatan yang luar biasa.


Melihat ke depan, Nia dapat menyaksikan sebuah fenomena yang mengagumkan dimana api yang berwarna hitam membakar para monster-monster itu tanpa ampun.


“Jadi, inikah kekuatan yang mengalahkan pasukan Tuan Kamuel.”


“Nona Nia, ini adalah pasukan kami.” Berdiri di sebelah Nia, Robert mengatakan itu dengan suara yang penuh kebanggaan.


Ini membuat Nia merinding.


Tapi,—


“Haha, kalian pasti kumpulan orang-orang yang gila.”


Dia tertawa kecil, dan memberikan pendapat sarkastik itu dengan jujur.


“Aku anggap itu sebagai pujian.”


Sekarang, api kecil telah terpicu di dalam hati Nia.


Mengambil nafas yang panjang, dia menghadap ke arah pasukannya dan kemudian berteriak dengan suara yang keras.


“Semuanya, bersiaplah dengan senjata kalian!! Kita akan membuat formasi 'Mencabut Kepala Kura-Kura' yang sudah kita rencanakan!! Meskipun monster-monster yang besar telah dilawan oleh Tuan Yulius! Masih ada monster kecil yang terlepas!! Ini sudah menjadi tugas kita untuk melindungi kota!! Bakarlah semangat kalian!!”


“OOOOOUUUUHHHHH—!!!”


Raungan perang menggelegar, hingga menggetarkan seluruh langit dan bumi.


Nia tersenyum lebar.


Itu adalah sebuah senyuman bengis yang tidak akan pernah bisa dia tunjukkan kepada tuan tersayangnya.


Tatapannya menyipit dengan tajam saat dia melihat segerombolan monster yang bertipe kecil menerjang mereka dengan cakar, taring, dan senjata buas mereka lainnya.


Nia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.


Kemudian,—


“JANGAN BIARKAN MEREKA MASUK!!!”


“OOOOOUUUUHHHHHH—!!!”


Saat itu juga, prajurit yang terdepan langsung menghentakkan perisai berukuran besar mereka ke tanah, dan menahan semua bentrukan dari monster-monster itu.


Sedangkan di sisi lain, pasukan sayap kiri dan sayap kanan akan menyisir seluruh monster-monster itu dari dua bagian, dan menghancurkan mereka semua satu per satu selagi regu perisai menahan para monster.


Untuk monster yang berhasil melompat masuk melewati perisai yang setinggi tiga meter itu. Mereka hanya akan mendapatkan takdir mengenaskan dengan tubuh mereka yang tertusuk oleh tombak tajam.


Atas semua perintah dan strategi yang Nia berikan, seluruh pasukan melakukan tugasnya dengan sangat baik, dan mereka terus mempertahankan kota dengan seluruh kekuatan mereka.


Melihat itu, Robert tersenyum masam.


“Apa yang akan terjadi jika dia menjadi pemimpin di perang sebelumnya?”


Dia tidak tau pasti apa yang akan terjadi.


Tapi, dia yakin itu adalah sesuatu yang akan sangat dia benci.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


[Ignis Flames]!


Menghunuskan pedang api terkutuknya, Yulius berputar searah jarum jam dan membakar semua monster yang ada di sekitarnya.


Tapi, itu masih belum cukup untuk melenyapkan mereka semua.


Monster yang berbentuk seperti singa sebesar 5 meter mengayunkan cakarnya ke Yulius. Meraung keras, dia membuat kawah besar dari bekas hantaman cakarnya.


Yulius melompat tinggi ke atas.


Menghindari serangan itu di detik-detik terakhirnya, dia melompat di atas mereka semua. Melayang tinggi dalam posisinya yang akan terjatuh, Yulius mengangkat pedang besarnya tinggi-tinggi dan kemudian membantingnya dengan sekuat tenaga ke arah segerombolan monster yang ingin memangsanya.


[Meteor Fall]!


Hantaman yang keras mengguncangkan tanah, membuat ledakan hawa panas yang besar dan membunuh ratusan hingga ribuan monster sekaligus.


Setelah mengeluarkan jurusnya secara buruntun. Yulius terlihat mengalami kelelahan yang mengerikan, nafasnya bekerja secara tidak beraturan, detak jantungnya berdetak kencang, dan tenggorokan serta bibirnya terasa kering dan pecah-pecah.


(Sial, beban dari penggunaan sihir ini mulai meningkat. Jika seperti ini terus, aku tidak bisa mempertahankannya selama lebih dari 20 menit lagi.)


Selain pemakaian sihir [Cursed Fire Sword], Yulius juga memakai sihirnya untuk memperkuat tubuh dan mentalnya. Dia juga menggunakan sihir penyembuh secara terus-menerus untuk menyembuhkan luka bakar di sekitar lengannya.


Tidak aneh jika dia bisa tumbang kapan saja, mengingat penggunaan jumlah sihir yang sangat luar biasa boros itu.


Tapi, melihat para monster itu yang masih tersisa kurang dari 40.000 ekor, Yulius mengerut, giginya gemeretak dengan kesal ketika melihat situasi yang masih belum berubah.


Ini belum waktunya untuk menyerah.


“Hah…hah..haa…” Nafasnya terleha-leha.


Matanya menyipit dengan tajam. Begitu melihat monster-monster itu yang mulai menerjangnya sekali lagi, Yulius menghunuskan pedangnya dan mengalirkan kekuatan sihir yang sangat besar ke dalam pedang tersebut. Sehingga, ketika para monster semakin mendekat.


Yulius menghembuskan nafas panasnya dan berkata,—


[Seven Storms of Hell]


Seketika itu juga.


“Graaaahhhhhhh!!!!”


Jeritan para monster menggelegar dengan sangat keras ke seluruh dunia, dan membakar lebih dari 15.000 ekor dari mereka yang tenggelam di dalam badai api neraka yang kejam.


Itu adalah salah satu dari jurus andalan [Seni Pedang Api Terkutuk].


Yulius menggunakanya di detik-detik terakhir ketika para monster itu hampir menyentuhnya. Sejauh 100 meter lebih, monster-monster itu tenggelam di dalam badai api hitam yang menghanguskan segala bentuk kehidupan.


Tapi, tentu saja, kekuatan yang besar juga memerlukan harga yang besar.


“Gbrgh!”


Alih-alih ingin muntah, darah keluar dari mulut Yulius.


Otak dan organ dalamnya seakan mendidih ketika dia menggunakan jurus itu.


Matanya meringis menahan semua rasa sakit, dan Yulius berusaha keras menompang kehidupan kecilnya agar tidak terjatuh.


Saat itu juga, [Cursed Fire Sword] miliknya menghilang dan dia langsung menggunakan sihir tanah membentuk sebuah sandaran untuk mempertahankan tubuhnya.


“Ini masih belum berakhir.”


Membakar semangatnya sekali lagi, Yulius mengambil pedang ganda berwarna hitam miliknya dari [Inventory], dan segera mengambil kuda-kuda bertarungnya sekali lagi.


Mata merah tuanya menyala dalam kegelapan, dan senyuman tipis terlukis di bibirnya yang terdapat bercak darah.


“Heh…”


Yulius tertawa kecil.


“… Apa akhirnya sang bos datang?”


Mengangkat kepalanya, Yulius mendongak ke atas langit.


Di sana, sebuah bayangan raksasa menutupi cahaya bulan, membentuk ukuran kolosal yang benar-benar membawa mimpi buruk akan bencana yang sesungguhnya.


Dia adalah malapetaka.


Seekor mahkluk tingkat legenda yang selalu didongeng-dongengkan sebagai musuh terkuat seorang pahlawan, dan entitas asli dari definisi sebuah kekacauan.


Jika ingatan Yulius tidak salah, mahkluk itu disebut dengan nama [Naga].


Seekor monster raksasa yang berbentuk seperti kadal besar dengan sayap lebar di punggungnya, dan nafas api yang dapat melenyapkan segalanya.


Tapi, apa yang ada di ujung tatapan Yulius bukan naga itu, melainkan,—


“Aku tebak, sepertinya kau dalang dari semua ini,” ujar Yulius, santai. Sembari menaruh pedang hitamnya di atas bahunya dengan senyuman yang mengejek.


Dalang yang dia maksud adalah seorang pria paruh baya dengan badan kekar dan rambut pirang panjang yang dengan sombongnya menunggangi mahkluk tingkat legenda tersebut.


Dia bergerak mendekati Yulius, dan mendarat dengan satu hempaskan kuat dari sayap naga itu, sehingga membuat pandangan Yulius tertutupi oleh debu yang bertebaran.


Yulius mengernyitkan alisnya dan meningkatkan kewaspadaannya ke level yang tertinggi.


“Jika aku tebak, kau pasti adalah orang toIoI yang berani menantangku.” Berkata dengan suara yang arogan, pria itu mengangkat dagunya meremehkan Yulius.


Itu membuat Yulius mendecakkan lidahnya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


“Yulius vera Luciffer, kepala rumah tangga dari keluarga Baron Luciffer.”


Menurunkan senjatanya dalam posisi yang siap bertarung, Yulius memperkenalkan dirinya sebagai awalan dari pertarungan mereka.


Setelah itu, mengangkat bibirnya sebelah, sembari menyilangkan kedua tangannya dalam gaya yang angkuh, pria itu membalas.


“Baren Oktaf, seorang penguasa yang sebenarnya.”