Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.11 - Wanita di taman bunga



Perang telah selesai, dan kemenangan berada di tangan Yulius.


Sebagai demonstrasi kemenangannya, dia mengangkat tinggi-tinggi kepala Kamuel yang telah terpenggal dan memamerkannya ke semua penduduk yang berada di wilayah Viscount.


Saat ini, berjalan menaiki kudanya, dan diikuti oleh seluruh pasukannya dari belakang, Yulius melakukan parade kemenangan saat mereka tanpa ragu-ragu berjalan di tengah kota yang menjadi wilayah kekuasaan Viscount.


Semua penduduk telah bersembunyi di rumah mereka, namun sebagian ada beberapa yang mengintip dari jendela sembari memandangi pasukan Yulius dengan ratapan yang penuh kegelisahan, ketakutan, dan kebencian.


Tujuan Yulius saat ini adalah rumah Viscount.


Sesampainya di sana, tanpa memperdulikan pandangan semua orang, Yulius turun dari kudanya dan berjalan lurus mendekati seorang wanita cantik yang telah menunggunya.


Dia adalah istri Viscount, Nadya Vin Teresan.


Memiliki rambut pirang kecoklatan yang panjang dan bergelombang, serta tatapan mata seksi yang berwarna hijau zambrud, itu membuat Yulius sedikit terpesona akan kecantikannya.


Dia juga memiliki dada yang besar, dan pinggul yang ketat. Memakai gaun berenda berwarna merah tua, wanita itu benar-benar menonjolkan sisi kedewasaannya yang matang.


Sedangkan di sebelahnya juga terdapat seorang ksatria wanita dengan penampilan yang tidak kalah menawan. Dia adalah seorang wanita dengan tatapan mata tajam berwarna biru, dan rambut krem di potong sebahu.


Meskipun dia terlihat cukup muda, wanita itu memiliki aura seorang ksatria teladan yang benar-benar kuat, serta status yang setara dengan Robert.


Dapat dipastikan bahwa dia adalah pengawal pribadi Nadya.


Ketika Yulius berjalan mendekati mereka, dia menyuruh pasukannya untuk tetap diam, dan dengan dia sendiri menghampiri kedua wanita tersebut.


“Sebuah kehormatan dapat bertemu dengan anda, Tuan Yulius. Perkenalkan, saya adalah Nadya Vin Teresan, istri sah dari Kamuel Vin Teresan, dan yang berada di sebelah saya adalah pengawal pribadi saya…”


“Nia Raichel, tolong panggil saya sesuka anda, Tuan Yulius,” sambung Nia, sembari membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Yulius.


Yulius hanya mengangguk, lagipula dia sudah tau identitas mereka berdua hanya dengan mengintip isi status yang mereka miliki.


Tapi, tentu saja, dia tidak akan mengatakan hal itu.


Ketika itu juga, dengan ekspresi yang tegas, Yulius memperkenalkan dirinya.


“Seperti yang kalian kenal, aku adalah Yulius vera Luciffer. Meskipun aku terlihat masih muda, aku adalah kepala rumah tangga baru dari keluarga Baron Luciffer, jadi aku harap kalian bisa memaklumi hal itu.”


Mendengar perkataan Yulius, Nadya dan Nia saling bertatapan. Mereka seakan tidak mempercayainya, bahwa anak sekecil ini telah menjadi seorang penguasa.


Namun, segera menyadari perilaku mereka, Nadya meminta maaf.


“Ah, tolong maafkan ketidaksopanan saya. Meskipun saya sudah mendengar sedikit rumor tentang anda, ini masih sulit dipercaya jika seseorang yang berada diusia anda telah menjadi seorang penguasa yang hebat,” sanjungnya sambil menundukkan kepalanya dengan permintaan maaf yang tulus.


Yulius mengangkat tangannya, dan sedikit tersenyum.


“Tidak perlu minta maaf. Tidak semuanya terlihat baik, bukankah kalian juga begitu? Di sini aku hanya ingin mendapatkan kerja sama di antara kalian berdua.”


“Kerja sama?” seru Nadya, terlihat penasaran.


Yulius mengangguk, “Yah, kerja sama.” Dengan senyuman yang semakin lebar.


“Tolong maafkan saya, bisakah anda menjelaskannya lebih rinci di dalam ruangan. Kurasa Tuan Yulius juga tidak merasa nyaman jika terus berdiri di sini, kan?” tanya Nadya, dengan senyuman lembutnya yang benar-benar menawan.


Sulit dipercaya bahwa wanita yang cantik dan bisa diandalkan seperti dia adalah istri dari pria busuk itu.


Tapi, mengenal seperti apa aturan dan peradapan dunia ini, Yulius sadar bahwa bukan hal yang aneh untuk melihat pernikahan politik di dunai ini.


“Tolong lewat sini, Tuan Yulius,” ujar Nadya, mempersilahkan Yulius untuk masuk ke dalam mansion, yang dimana di sana telah dipersiapkan para pelayan untuk menyambut kedatangannya.


Tapi, sebelum dia mengikutinya, Yulius berbalik untuk melihat pasukannya yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan mereka.


Tatapannya tertuju ke arah seorang pria tua dengan pakaian pelayan yang rapi dan pria tua dengan zirah penuh goresan di tubuhnya.


Yulius berniat untuk mengajak mereka berdua.


“…..”


Menyadari hal itu, Albert dan Robert segera turun dari kuda mereka, dan berjalan mengikuti Yulius yang masuk ke dalam mansion.


Ketika anak itu berjalan mengikuti kelompok Nadya, dia menatap ke arah langit dan menghela nafasnya dengan tatapan mata yang lesu.


“Tampaknya ini akan menjadi pekerjaan yang merepotkan. Kuharap aku bisa segera pulang ke rumah dan meminta Lin untuk memanjakanku sepuasnya. Sudah lama sejak aku tidak lagi bertemu dengannya. Ini menyebalkan.”


Menghela nafasnya sekali lagi, Yulius menggumamkan hal itu dengan suara yang pelan, di mana hanya dia saja yang dapat mendengarnya.


Setelah itu, dia kembali beralih ke masalah yang ada di depannya.


“Yah, kurasa apa boleh buat. Mari kita cepat-cepat selesaikan masalah yang ada di sini dan kembali ke rumah. Aku yakin Lin dan Emi juga merindukanku.”


Mengatakan itu, Yulius mengikuti kelompok Nadya ke sebuah ruangan, dimana di sana mereka semua membicarakan tentang masa depan yang harus mereka selesaikan.


Tapi, karena mereka terlalu banyak memakan waktu untuk melakukan diskusi itu.


Tanpa disadari hari sudah menjelang malam, dan kelompok Yulius terpaksa harus tinggal di sana untuk bermalam dan menunda keberangkatan sampai beberapa hari ke depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini, Yulius berada di dalam kamar yang dipinjamkan oleh Nadya kepadanya.


Tapi, tidak berada di sana, dia tertidur di atap kamarnya dengan tatapan yang basah, sembari memandangi cahaya bulan dan bintang-bintang di langit yang gelap.


Meskipun dia tidak terlalu paham tentang membaca bintang atau nama-nama bintang. Dia masih bisa menikmati waktu kosongnya dengan bersantai melihat keindahan mereka.


Sebelumnya Yulius sempat bingung dengan orang-orang yang suka membuang-buang waktunya hanya untuk pergi keluar melihat bintang. Lagipula mereka bisa melihat bintang di gambar atau di video, jadi tidak perlu sampai keluar rumah.


Itulah yang dia pikirkan sebelumnya.


Tapi, sekarang dia benar-benar paham dengan perasaan mereka.


Melihat bintang seperti ini secara langsung, entah kenapa membuat hatinya menjadi terasa lebih sejuk dan menenangkan.


“Aku harap suatu hari aku bisa melihat bintang jatuh.”


Menghembuskan nafasnya di malam yang dingin, Yulius menutup kelopak matanya ketika dia mengingat kembali keindahan dari bintang jatuh yang sebelumnya pernah dia lihat di televisi kehidupan lamanya.


“Itu benar-benar indah.”


Menikmati dirinya dengan ketenangan malam yang sunyi. Mata Yulius terbuka ketika tiba-tiba dia merasakan adanya keberadaan orang lain di sekitarnya.


Dia segera berdiri, dan di sana dia melihat siluet seseorang dalam kegelapan.


“Bukankah itu Nona Nadya, apa yang dia lakukan di sini? Apa dia juga sedang menikmati malam yang indah sepertiku?”


Melihat seorang kenalannya yang berjalan di dekat taman bunga, Yulius segera turun dari atap dan pergi menghampirinya.


Nadya saat ini berada di sebuah rumah kecil yang khusus dibuat untuk menikmati pemandangan taman bunga yang cantik. Rumah itu mirip seperti sangkar burung dengan beberapa tanaman bunga yang menjalar di atapnya.


Nadya duduk di kursi yang tersedia, dia bagaikan seorang wanita cantik yang keluar dalam lukisan ketika mata hijau zambrudnya berkilau di dalam kegelapan.


Angin berhembus kencang dan membuat rambut panjangnya berkibar.


(Benar-benar sangat disayangkan dia menjadi istri dari pria busuk itu.)


“Selamat malam, Nona Nadya,” sapa Yulius, dengan senyuman yang lembut.


Mendengar itu, Nadya menolehkan pandangannya ke arah Yulius, bahkan ketika dia melakukan itu keanggunannya masih tidak berubah.


Menyadari siapa yang datang, wanita itu segera memperbaiki postur tubuhnya, dan membuat senyuman indah di wajahnya saat dia menyambut Yulius.


“Tuan Yulius, selamat malam juga. Apa anda sedang bersantai?” tanyanya.


Yulius mendekatinya dan berdiri di sebelahnya. Dia mengambil jarak yang cocok agar dia tidak terlalu membuat Nadya merasa tidak nyaman.


Ketika menjawab, dia mengangkat bahunya ringan, “Yah, bagaimana denganmu?”


“Saya… juga sedang bersantai. Saya sering mengunjungi taman ini ketika malam hari, karena hanya pada waktu itu saja saya bisa melihat kilauan dari bunga-bunga ini. Selain itu, di sini saya juga bisa menenangkan pikiran saya.”


“Begitu, tampaknya Nona Nadya sangat menyukai bunga.”


“Apa Tuan Yulius tidak menyukainya?”


“Aku suka melihat mereka. Tapi, terkadang itu membuatku sedih. Jadi sebisa mungkin aku tidak terlalu ingin melihat mereka.”


“Kenapa?”


“Ntahlah, rasanya sesak saja ketika aku melihat mereka layu.”


(Sebelumnya aku pernah menanam bunga waktu aku masih SD, dan aku benar-benar sangat sedih ketika melihat bungaku mati semua. Semenjak itu aku tidak lagi suka untuk melihat bunga.)


“…..” Nadya hanya diam saja.


Tampaknya dia tidak ingin melanjutkan obrolan tentang bunga.


Tapi, saat Yulius diam-diam memperhatikan ekspresi di wajahnya, dia melihat wanita itu tiba-tiba berdiri dan dia berjalan mendekati sebuah bunga mawar yang berwarna biru.


Yulius yang melihatnya juga ikut berjalan mengikutinya.


“Lihatlah, Tuan Yulius. Bagaimana menurut anda tentang bunga ini?” tanyanya.


“Umm, itu cantik.” Bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, Yulius menjawab dengan suara yang gagap.


Tapi, Nadya tetap tersenyum. Dia benar-benar terlihat sangat menawan ketika sosoknya berjalan bersama bunga-bunga di sekelilingnya.


“Apa anda tau? Batang dari bunga ini memiliki racun di durinya, jadi sangat berbahaya jika anda mencoba untuk memegangnya dengan tangan kosong. Namun, karena dia memiliki bunga yang cantik, bunga ini cukup populer dikalangan para bangsawan,” ujarnya dengan suara yang lembut, seperti nyanyian seorang peri.


“Begitu, aku akan mengingatnya.”


“Terus, apa anda bisa melihat bunga yang ada di sana?”


“Aku melihatnya.”


“Itu adalah bunga violet. Apa anda tau arti dari namanya?”


“Tidak.”


“Itu adalah cinta dan kesetiaan.”


“Itu sangat indah.”


“Lalu, apa anda tau bunga yang ada di sebelah sana?”


“Oh, aku tau. Itu melati, kan?”


“Benar.”


Nadya mengajak Yulius berkeliling taman, dia memberitahunya tentang banyak bunga-bunga yang tidak Yulius kenal, dan mereka menikmati waktu mereka bersama.


Malam masih panjang, dan setelah berkeliling di sekitar taman bunga, mereka akhirnya kembali lagi ke rumah kecil yang ada di taman bunga itu.


Saat itu juga, Nadya berbalik dan menatap mata Yulius dengan senyuman indah.


“Sekarang, apakah anda sudah menyukai bunga?” tanyanya.


“Yah, ini sedikit lebih baik. Aku berterima kasih kepadamu.”


“Fufu, terima kasih kembali~”


Mereka sekarang berdiri bersebelahan, memandangi taman bunga yang telah mereka kelilingi bersama-sama.


Hati Yulius merasa nyaman ketika dia dengan santai mengobrol tentang bunga bersama Nadya.


Kemudian, tanpa mereka sadari, malam semakin larut, dan ketika mereka berada ditengah-tengah obrolan, Nadya bertanya.


“Ngomong-ngomong, apa Tuan Yulius memiliki seseorang yang anda sukai?”


“Aku?”


(Aku menyukai Lin dan Emi. Tapi, apa itu yang sebenarnya dia tanyakan?)


“Fufu, wajah anda terlihat gelisah. Tidak perlu memikirkannya seserius itu.”


“Maafkan aku.” Tidak bisa memikirkan jawabannya dengan baik, Yulius menundukkan kepalanya menyesal.


Tapi, dengan anggun Nadya menggelengkan kepalanya.


“Tidak, anda tidak salah. Memiliki seseorang yang disukai bukanlah kesalahan.”


“Kau benar.”


“Saya malah sedikit iri dengan anda. Seperti yang anda tau, saya sekarang hanyalah seorang wanita yang kehilangan suaminya. Sekarang satu-satunya yang saya miliki hanya Nia. Meskipun terkadang anak itu terlalu berlebihan, tapi dia adalah satu-satunya orang yang bisa berbagi cerita dengan saya.”


“…..” Yulius hanya terdiam, dia menyipitkan matanya menatap ke arah dirinya sendiri.


Menyadari hal itu, Nadya segera mengangkat suaranya sekali lagi.


“Tolong jangan menghakimi diri anda seperti itu, Tuan Yulius. Anda sama sekali tidak melakukan kesalahan.”


“Nona Nadya, apa anda memiliki seorang anak?” tanya Yulius.


“Seorang anak? Umm, yah, saya berharap memilikinya. Tapi…” Wajah Nadya menunduk dengan canggung, “... Ini memalukan, tapi suami saya sama sekali tidak suka dengan saya. Dia selalu pergi dari rumah dan bermain-main dengan wanita lain, jadi saya masih belum mendapatkannya,” jawabnya, sambil tertawa kecil dengan malu-malu.


“Eh?”


Mendengar hal itu, ekspresi Yulius tiba-tiba membeku, dia benar-benar terkejut. Tubuhnya membatu seperti patung. Itu adalah informasi yang benar-benar tidak dia duga.


Setelah itu, memalingkan pandangannya sekali lagi, dia menatap ke arah Nadya yang menggaruk pipinya yang memerah sembari tertawa malu.


Yulius tersenyum dengan bibir yang gemetar, dan keringat mulai mengalir dari dahinya.


(Tu-Tunggu dulu! Wa-Wanita ini… Dia masih perawan…?!)