
Ruangan itu gelap, hanya terdapat cahaya lilin yang menyala-nyala.
Namun, dekorasi di dalam ruangan terlihat megah dan mewah, penuh dengan barang-barang antik dan lukisan cantik yang terlihat sangat mahal.
Di tengah itu semua, adalah sebuah singgasana seorang raja.
Di sana, seseorang duduk dengan angkuh. Sembari menyandarkan tangannya di sebelah singgasana untuk menopang kepalanya, dan menyilangkan kedua kakinya. Sosok itu memandang rendah tamu yang mendatanginya.
Perihal siapa sosok itu, adalah malapetaka bagi sang tamu.
“Jadi, kau gagal ya?”
“Hk?!”
Suara sang raja dingin, dan itu menusuk tajam ke dalam jiwa tamu tersebut, membuatnya seakan dapat merasakan pedang dingin yang memotong lehernya.
Tamu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Baren dengan wujud monsternya.
Setelah dia berhasil melarikan dari jangkauan Yulius, dia dibawa ke tempat ini oleh mahkluk kecil hitam yang saat ini juga berlutut di hadapan sang raja.
Tapi, berbeda dengannya, Baren bersujud.
Wajahnya mencium karpet merah dengan sangat dekat.
Saat ini tubuhnya juga menjadi lebih kurus daripada sebelumnya.
Apakah itu efek dari sihirnya yang tidak sempurna, atau karena tekanan kuat dari sang raja itu sendiri?
Baren tidak tau, lagipula saat ini dia tidak diberikan celah untuk berpikir santai seperti itu. Berhadapan dengan sang raja, itu membuat hatinya meronta-ronta, dan terus mengutuknya dengan rasa takut yang mengerikan.
“Kumohon, tolong maafkan saya! Saya berjanji akan—“
“Aku tidak menyuruhmu bicara.”
“—Hk?!”
Tatapan tajam menembus jiwa Baren yang malang. Begitu alibinya di tolak mentah-mentah oleh sang raja, kesan akan kematian terus meningkat di dalam tubuhnya.
Itu membuat nafasnya terengah-engah, dan detak jantungnya berdegup kencang sampai ke otaknya, sehingga itu terasa sakit oleh denyutan yang keras.
Tulang belakang Baren di selimuti oleh hawa dingin.
Kemudian, suara yang rendah dari sang raja kembali melebur ke dalam ruangan, membawa aroma kematian dan virus ketakutan yang dengan cepat meng-inveksi mahkluk apapun yang mendekatinya.
Saat itu juga, Baren menarik nafasnya, dan menahan suaranya mati-matian.
“Kau telah kehilangan Lonceng Sang Pengembala. Tidak hanya itu, kau bahkan telah membiarkan Naga Merah itu didapatkan oleh orang lain. Oooh~, Baren yang menyedihkan, apa yang harus aku lakukan kepadamu?”
Tutur katanya sangat syaduh dan prihatin, tapi mengandung arti yang berbeda. Membuat keringat Baren tidak bisa berhenti membanjiri tubuhnya.
Dia sangat ingin mengumpat, tetapi mulutnya terkunci oleh rasa takut, sehingga itu membuatnya tidak dapat mengatakan apapun atau bahkan bergerak satu centimeter pun dari tempat itu.
Kemudian,—
“Baiklah, tidak masalah. Karena aku sangat rendah hati. Jadi, untuk kali ini saja aku akan memaafkanmu. Berkatmu juga, aku telah menemukan apa yang selama ini kucari, jadi kurasa aku harus berterima kasih kepadamu.”
Raja mengubah nada suaranya, menjadi lebih lembut dari sebelumnya.
Baren yang mendengarkan, sedikit merasa lega. Dia diam-diam menghela nafas di dalam benaknya, karena telah berhasil menurunkan emosi Sang Raja.
Ini seakan dia berhasil selamat dari terjangan badai yang mematikan.
Tapi, detik berikutnya, kekacauan segera menghampirinya kembali.
“Karena itulah, sebagai ucapan terima kasih. Aku akan meringankan hukumanmu hanya dengan kematian tanpa rasa sakit, jadi bersyukurlah.”
“Eh?”
Ekspresi Baren membeku.
Pada saat yang bersamaan juga.
‘Brakk!!’
Seperti sabit malaikat kematian yang terayunkan, tubuh Baren dibuat meledak sampai tak tersisa, dan memberikan bercak darah di atas karpet mereh.
Melihat itu, ekspresi sang raja berubah, dia tersenyum.
Tapi, matanya sama sekali tidak memandang Baren yang telah mati, melainkan sebuah cermin aneh yang berkilau layaknya layar monitor, yang saat ini melayang di depan matanya, sembari menampilkan video siaran langsung.
Di sana, apa yang terlihat adalah video tentang Yulius, yang saat ini tengah berjalan melintasi kota Renwell yang telah hancur lebur.
Melihatnya, senyuman sang raja semakin lebar, dan dia tiba-tiba mendesah dengan suara yang manis, saat tangannya terulur ke depan layar, seakan ingin menyentuh tubuh Yulius secara langsung.
Setelah itu, sambil memegang pipinya yang memerah, sang raja— wanita itu berkata dengan suara menggodanya yang bergairah.
“Aaahh~♡ Akhirnya! Setelah sekian lama! Momen ini akan datang juga. Akhirnya kita bisa bertemu kembali… Wahai tuanku yang tercinta~♡”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, persis seperti yang terjadi di dalam cermin.
Yulius saat ini tengah berjalan sendiri melintasi kota Renwell yang telah hancur semenjak serbuan para monster beberapa hari yang lalu.
Tapi, sekarang itu mulai terbangun kembali, para penduduk kota juga berhasil mendapatkan senyuman mereka lagi, dan bekerja dengan sangat semangat.
Begitu mereka melihat Yulius, semua orang mulai melambaikan tangan ke arahnya dan menyapanya dengan sebutan ‘Tuan Bangsawan’. Tampaknya Yulius telah diterima oleh mereka sebagai tuan mereka yang baru.
Setelah pertarungan itu, semua orang berterima kasih kepadanya. Bahkan dia menjadi orang yang sangat terkenal di kalangan masyarakat serta prajurit, banyak orang bercerita tentang kehebatannya saat pertarungan malam itu.
Ini membuat Yulius sedikit senang sekaligus malu, dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan semua pujian itu. Mungkin dia masih merasa bersalah karena tidak bisa melindungi seluruh kota dengan benar.
Tapi, itu adalah masalah yang berbeda.
Saat ini, Yulius berniat untuk pergi ke sebuah makam seseorang, yang berada sedikit jauh dari perbatasan kota. Di sana, dia juga harus mendaki bukit. Tapi, itu tidak terlalu tinggi untuk disebut bukit, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.
Ketika tiba di tempat tujuan, mata Yulius langsung dibuat terpesona oleh pemandangan rumput hijau, dan juga dibuat sedih oleh ratusan kuburan yang terbentuk di tempat tersebut.
“…..”
Yulius, dengan ekspresi yang mendung, berjalan lurus menuju ke puncak bukit.
Di mana, di sana terdapat satu kuburan yang berbeda dengan kuburan lainnya, karena batu nisan yang menjadi penandanya, terlihat jauh lebih besar.
Selain itu, juga terdapat sebuah tombak patah yang dipajangkan di atas kuburan tersebut, sebagai kenangan untuk memberitahu siapa yang telah terkubur.
Sesampainya di sana, bibir Yulius tersenyum tipis.
“Yo, Robert, maaf membuatmu menunggu.”
Setelah itu, dia mengambil sesuatu dari [Inventory] miliknya.
Itu adalah sebuah minuman alkohol.
Tapi, bukannya untuk diminum, Yulius malah menuangkan minuman tersebut di atas makamnya Robert, dan kemudian duduk bersila di depan makamnya.
“……”
Sayangnya, suara Yulius tidak keluar.
Dia tidak tau harus mengatakan apa.
Seharusnya sebelum dia sampai di sini, ada banyak hal yang ingin dia bicarakan. Namun, ketika dia telah sampai, tidak ada satu katapun yang teringat kembali.
Sehingga itu hanya membuat suasana menjadi hening.
“Apa tidak ada yang ingin anda katakan, Tuan Yulius?”
Selagi Yulius diam terpaku di depan makam Robert, tiba-tiba suara seorang wanita menyusup ke dalam suasanannya, dan memecahkan keheningan itu.
Begitu Yulius menoleh untuk melihat pemilik suara. Dia melihat seorang wanita cantik berambut merah seperti api yang membara, dan iris mata berwarna emas cerah yang berkilau cantik.
Dia juga mengenakan gaun merah yang terlihat mekar seperti bunga mawar, sehingga membuat penampilannya menjadi jauh lebih menawan.
Wanita itu keluar dari balik makan Robert, dan berjalan mendekati Yulius.
Tampaknya dia sudah menunggunya.
Dia adalah,—
“Yah, kurasa ini baik-baik saja.” Yulius menunduk, dan kemudian dia mengangkat kembali pandangannya untuk menatap wanita cantik itu, “Ini benar-benar sudah lama juga aku tidak bertemu denganmu. Kau tampaknya menjadi sedikit lebih mahir dalam melakukan perubahan manusiamu… Nadya.”
Mendengar pujian itu, Nadya dalam wujud manusianya tersenyum bangga, dan membusungkan dadanya yang besar.
“Tentu saja, karena aku juga sudah berlatih keras! Tapi, itu masih sedikit sulit untuk menyembunyikan tanduk dan ekorku. Mereka selalu muncul kembali jika aku lengah sedikit saja.” Nadya tersenyum masam, saat dia menunjukkan Yulius ekor dan tanduknya yang masih menempel di tubuhnya.
Meskipun begitu, Nadya masih terlihat cantik dalam perubahan manusianya, jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dia bisa saja menghilangkan ekor dan tanduknya jika dia berlatih lebih giat lagi.
“Kau masih memiliki banyak waktu, jadi latihanlah secara teratur.”
“Aku mengerti.”
“Tapi, lupakan itu. Ini cukup mengejutkanku saat kau muncul dengan wujud manusiamu. Aku tidak percaya kau bisa melakukan hal itu,” ujar Yulius dengan kagum.
“Yah, itu karena saya mulai terbiasa dengan tubuh ini.”
“Hmm…” Yulius memperhatikan tubuh Nadya kembali, dan kemudian dia berkata dengan suara yang serius, “Nadya, apa kau benar-benar tidak berniat untuk kembali ke tubuhmu yang lama?” tanyanya, menatap wanita itu dengan tatapan yang tajam.
Mendengar itu, Nadya menundukkan matanya. Dia tampak merenung, sembari melihat ke arah kedua telapak tangannya yang terbuka, dan kemudian, menarik nafas yang panjang, dia berkata.
Menatap Yulius kembali dengan tatapannya yang penuh tekad.
“Yah, saya lebih suka dengan tubuh ini.”
“…..”
Mata Yulius sesaat terpesona, saat Nadya mengatakan hal itu dengan rambut merah panjangnya yang berkibar terkena terpaan angin.
Tempat ini terbuka, jadi terkadang angin kencang sering berhembus.
Melihat itu, Yulius memejamkan matanya.
“Begitu…” ujarnya, sambil mengangguk pelan.
Dia tidak memiliki alasan untuk melarang wanita itu, jadi dia tidak memiliki apapun lagi untuk dia katakan kepada Nadya.
“Yah, jika kau ingin kembali. Bilang kepadaku, aku akan mencari caranya.”
“Terima kasih, Tuan Yulius.”
“Oh ya, sebenarnya tentang ini. Ada lagi yang ingin kubahas.” Mengingat sesuatu yang dia lupakan, alis mata Yulius terangkat, dan dia menepuk tangannya.
Kemudian, mengubah suasana, dengan suara yang datar, dia berkata.
“Karena kau tampaknya tidak berniat untuk kembali ke tubuh lamamu. Itu berarti, pernikahan di antara kita akan batal, dan kau bukan lagi tunanganku.”
“Eh?”
Saat itu juga…
Senyuman Nadya membeku, dan dia terdiam seperti patung.
Tapi, Yulius sama sekali tidak memperhatikannya, dia dengan santai melanjutkan kembali perkataannya, dengan suara yang tampak sedikit ceria.
“Yah, apa boleh buat? Jika kau memutuskan untuk tidak kembali, itu adalah pilihanmu sendiri. Aku tidak berniat untuk menghentikannya.” Yulius berjalan mendekati Nadya, dan memukul-mukul pundaknnya yang mematung.
Detik berikutnya, setelah mendapatkan kembali kesadarannya.
Nadya langsung memegang erat kedua bahu anak itu, dan menggoyangkannya ke belakang dan ke depan dengan cepat, sembari memohon dengan wajah yang seakan ingin menangis.
“Tuan Yulius, kumohon!! Carilah cara untuk aku agar bisa kembali ke tubuh lamaku!! Aku tidak ingin hubungan kita berakhir begitu saja!! Tolong jangan tinggalkan aku sendiri!!”
“Aku mengerti! Aku mengerti! Aku akan mencari caranya!! Jadi jangan menggoyangkan tubuhku sekuat itu!! Atau mereka akan terputus! Tolong lebih perhatikan lagi kekuatanmu saat ini!! Aaaahhh!! Hentikan! Tulangku sudah mengeluarkan suara yang aneh!! Apa itu patah?! Ini serius, aku akan mati!!”