
Beberapa hari telah berlalu semenjak Yulius membunuh semua pejabat korup yang ada di wilayahnya dan membebaskan mereka yang diberi tuduhan palsu.
Saat ini, berada di dalam ruang kerjanya. Anak itu sedang mengerjakan tugasnya seperti biasa, bersama Lin yang berdiri di sebelahnya sembari membacakan isi laporan yang dia pegang.
“… Itu semua adalah laporan tentang hasil panen penduduk desa saat ini. Mereka tampaknya menjadi sedikit lebih baik semenjak anda menurunkan uang pajaknya.” Ujar Lin yang terlihat senang saat membacakan isi laporan tersebut.
Itu juga membuat Yulius senang begitu mengetahui bahwa wilayahnya semakin berkembang. Meskipun dia hanya seorang Baron miskin yang hidup di pedesaan, setidaknya dia bisa membuat rakyatnya menjadi sedikit lebih bahagia.
Ini membuat dadanya terasa sangat segar.
“Aku benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi jika keputusan ini tidak memiliki hasil sama sekali. Aku yakin pak tua itu akan marah lagi padaku.” Ujarnya, sambil menghela nafas dengan lega dan membaringkan tubuhnya di sandaran kursi.
Dia seakan berhasil selamat dalam situasi yang mempertaruhkan hidup dan matinya. Yulius benar-benar bersyukur bahwa keputusannya untuk menurunkan bayaran pajak adalah pilihan yang tepat.
“Tuan Albert benar-benar sangat marah pada anda saat dia mendengar kalau anda telah menjual hampir semua aset pribadi yang kita miliki.” Sanggah Lin, sambil mengingat wajah iblis dari seorang pria tua yang marah-marah.
Ini membuat Yulius tertawa dengan suara yang hampa.
“Yah, tidak masalah. Albert adalah kepala pelayan lama sejak masa kakekku berkuasa. Jadi, bukan berarti aku tidak mengerti perasaannya. Bagi dia pasti barang-barang peninggalan kakekku adalah sesuatu yang sangat berarti.”
Sebagai informasi tambahan…
Leluhur Yulius dulunya merupakan seorang petualang yang hebat, sampai-sampai mereka berhasil mendapatkan pengakuan dari Kerajaan, dan mereka diberikan wilayah kekuasaan serta diangkat sebagai seorang Baron.
Itulah cerita bagaimana keluarga mereka bisa menjadi seorang bangsawan.
Namun, sejak orang tua Yulius berkuasa. Wilayah kekuasaan Luciffer benar-benar berantakan, dan akibatnya tumpukan hutang sudah ada dimana-mana.
Berkat itu juga, Yulius lah yang harus menderita karena ulah mereka.
Saat ini, fokusnya adalah mengembangkan wilayahnya kembali.
Untuk melakukan itu, pertama dia menurunkan pajak sampai tingkat dimana rakyatnya tidak lagi perlu mengkhawatirkan masalah bayar pajak.
Namun, dilihat dari manapun keputusan untuk menurunkan pajak itu adalah hal yang bodoh. Jika mereka melakukan hal itu, mereka tidak akan bisa membayar hutang-hutang mereka yang setiap bulannya akan ditagih.
Karena itulah, kenapa Yulius menjual aset pribadi mereka.
Demi mendapatkan uang tambahan.
Semua itu untuk menutupi hutang-hutang yang mereka miliki. Sehingga mereka tidak perlu khawatir lagi tentang keputusan untuk menurunkan pajak.
Meskipun ada sedikit pertentangan dari pihaknya yang merasa tidak puas pada keputusan yang dia buat. Contohnya seperti Albert, yang telah diangkat Yulius kembali menjadi kepala pelayan semenjak dia dikurung sama seperti Robert. Oleh pejabat-pejabat korup yang dulunya menggerogoti keluarga Luciffer.
Sebagai seorang kepala pelayan yang tegas dan bijaksana. Yulius menyerahkan tugas kepada Albert untuk membina kembali semua pelayannya yang ada di wilayahnya, sehingga mereka tidak akan bisa bermalas-malasan kembali.
Untuk hasilnya, itu benar-benar luar biasa. Sampai-sampai Yulius harus merasa seperti berada di rumah yang berbeda, karena di setiap sudut ruangannya benar-benar dibersihkan dengan sangat teliti dan sempurna.
Dia puas dengan bagaimana mereka mengatur kembali semuanya sedikit demi sedikit, sehingga itu terlihat jauh lebih baik daripada yang sebelumnya.
“Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana dengannya? Apa semua berjalan lancar?” Tanya Yulius, yang menatap ke arah Lin untuk meminta jawaban.
Menanggapi hal itu, Lin tersenyum, “Dari laporan yang dikirim, tampaknya saat ini para prajurit mendapatkan pelatihan langsung dari Tuan Robert. Sehingga, beberapa dari mereka ada yang hampir mati. Tapi, berkat itu juga, moral para prajurit benar-benar telah bertambah semakin kuat. Dia juga menuliskan bahwa dirinya ingin melakukan pertandingan ulang dengan anda sekali lagi.”
“Haha, dia benar-benar keras kepala. Tidak masalah, selama dia melakukan tugasnya dengan baik, tanganku selalu terbuka untuk semua penantang.” Ujar Yulius yang tertawa kaku dan berkata sambil memamerkan ototnya, “Oh ya, jika bisa, tolong katakan padanya untuk tidak terlalu berlebihan.” Tambahnya.
“Baik, saya akan menyampaikannya.” Balas Lin sembari menggangguk.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
—Kamar tidur Yulius.
Hari sudah malam, dan bulan menggantung jelas di atas langit.
Saat Yulius dengan nyenyak tidur bersama Lin di kasur yang sama, matanya terbuka. Kemudian dia dengan hati-hati membuka tangan Lin yang memeluknya, berharap dia tidak bangun dengan itu.
Melepaskan pelukannya dengan hati-hati, Yulius sekali lagi memperhatikan Lin, dan begitu dia pikir bahwa semuanya sudah aman. Dia menghela nafasnya dan mulai mengendap-endap untuk keluar kamar.
Namun, di saat yang bersamaan—
“Unh, Tuan Muda. Anda tidak boleh melakukan itu…”
Ekspresi Yulius membeku, spontan dia menarik nafasnya dan perlahan-lahan melihat ke arah Lin yang tiba-tiba bersuara.
Untungnya, dia masih tertidur dan hanya ngelindur.
Ini membuat Yulias lega, dia mendesah pelan.
“Benar-benar, tolong jangan menakutiku.” Ujarnya dengan suara yang pelan, dan mulai berjalan lagi menuju ke arah jendela yang ada di kamar tersebut.
Dia mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, dan dengan diam-diam, Yulius pergi meninggalkan rumahnya, untuk melakukan kegiatannya seperti biasa.
Yaitu—
“Hyahahaha!! Malam ini aku panen besar lagi!!”
Merentangkan tangannya lebar-lebar, Yulius tertawa keras, sembari membunuh para bandit yang menghunuskan pedang mereka ke arahnya
“Keparat! Apa kau tau apa yang sudah kau lakukan?!”
“Berani-beraninya kau menyerang kami!!”
“Bunuh dia!!”
Mereka mulai menyerang, mengayunkan pedang panjang mereka ke arah Yulius yang tersenyum lebar menertawakan keahlian mereka yang sangat payah.
Dia bahkan tidak perlu membuang-buang banyak gerakan hanya untuk menghindari semua ayunan mereka yang lambat.
“Hehe! Hari ini pun tampaknya kalian sangat bersemangat, tuan bandit! Maaf, tapi kalian akan menjadi makananku malam ini.” Ujar Yulius dengan santai.
“Kaaggghh!!”
“Guaarrgghh!!”
“Ti-Tidak! Arrgh!!“
Menerjang ke arah mereka dengan kecepatan manusia super, Yulius tanpa ampun memotong satu per satu kepala mereka dan membantai mereka semua sampai tak tersisa.
Pada saat itu juga, saat dia tengah menikmati pembantaiannya, seseorang menyerang Yulius dari arah belakang. Namun, anak itu hanya terdiam, dan menjentikkan jarinya.
“Kalian benar-benar sangat bersemangat.”
[Fiery Spear]
Seketika itu juga, sebuah pentagram sihir muncul di atas kepala bandit itu, dan membakarnya dengan tombak api besar yang membara sampai mati.
“Kaaaarrrrgggggghhhhhhhhh!!!!” Jerit bandit itu dengan suara yang menggelegar. Kemudian, saat api telah padam, dia telah berubah menjadi arang.
“Hehe, malam ini aku benar-benar sangat beruntung.” Ujar Yulius dengan senang berjalan ke arah tumpukan koin emas yang dibawa oleh para bandit-bandit itu.
“Ohoho, bahkan ada alat sihir juga. Tampaknya kalian telah memburu banyak pedagang hari ini. Jangan khawatir, aku sudah membalaskan dendam kalian. Jadi, biarkan aku memanfaatkan semua ini dengan baik.”
Mengatakan itu, Yulius mulai memasukkan semua barang-barang rampasan tersebut ke dalam sistem [Inventory] miliknya, sampai benar-benar tak tersisa.
Sekarang, dia melihat isi statusnya saat ini, karena tampaknya ketika dia membunuh para bandit-bandit itu. Dia mendengar pemberitahuan naik level.
[Nama: Yulius vera Luciffer]
[Level: 59 >>> 61]
[Kekuatan: 298 >>> 303]
[Kepintaran: 376 >>> 385]
[Kecepatan: 305 >>> 311]
[Ketahanan: 234 >>> 237]
[Pesona: 171]
[Keahlian: Sihir Api (Lv.10), Sihir Air (Lv.5), Sihir Tanah (Lv.4), Sihir Angin (Lv.8), Sihir Kegelapan (Lv.10), Sihir Cahaya (Lv.5), Mahir Pedang (Lv.10), Bela Diri (Lv.10), Mata Elang (Lv.5), Ahli Ranjang (Lv.9), Penilai (Lv.10)]
[Keahlian Khusus: Kebangkitan Iblis (Lv.%*@)]
[Poin Keahlian: 2]
[Title: Bangsawan Kelas Baron, Kepala Keluarga Luciffer, Reinkarnator, Pewaris Sah, Pendekar Beringas, Calon Raja Iblis]
[Ruang Penyimpanan >>>]
Yulius menyipitkan matanya, dia sedikit mengernyit.
“Serius, gimana caranya ngilangin title [Calon Raja Iblis] ini? Aku gak ada niat buat berubah jadi Raja Iblis tau!” Keluhnya sambil memegang kepalanya yang sakit.
Tapi, kemudian dia mendesah dan memutuskan untuk tidak memikirkannya.
“Lupakan. Yang terpenting saat ini adalah keahlian apa lagi yang perlu kutingkatkan dengan dua poin yang baru kudapatkan ini.” Gumamnya saat melihat [Poin Keahlian]-nya yang bertambah berkat levelnya yang telah naik dua tingkat.
Memikirkannya dengan serius, Yulius akhirnya memutuskan apa yang perlu dia tingkatkan. Wajahnya tersenyum lebar saat dia tanpa ragu-ragu memasukkan satu poin ke dalam keahlian [Ahli Ranjang] hingga menjadi level sepuluh.
“Hehe, baiklah, kurasa itu saja. Sisanya bakalan kusimpan.”
Sekarang, dia telah memiliki enam keahlian yang sudah berlevel sepuluh. Dia sudah tidak sabar untuk menguji keahlian [Ahli Ranjang] yang sudah berada ditingkat akhir.
Di dunia asalnya, dia bahkan belum pernah menyentuh wanita sama sekali. Karena itu, di dunia ini Yulius berniat untuk memuaskan semua hasratnya. Tidak akan ada yang bisa menghalanginya lagi. Dia akan melakukan apapun yang dia inginkan.
Tapi, sekarang yang jadi masalah adalah, dengan siapa dia harus tidur?
“Apa jika aku meminta Lin dia bakalan mau melakukannya?” Gumam Yulius dengan wajah yang datar, membayangkan dirinya tidur bersama dengan Lin.
Meskipun selama ini Lin selalu memanjakannya dan menuruti semua keinginannya, mereka masih belum pernah melakukan ‘hal itu’ sama sekali
Alasannya sederhana, karena Yulius orang yang pengecut.
Dia tidak tau bagaimana caranya mengajak seorang wanita untuk tidur bersama, bahkan hanya memikirkannya saja saat ini wajahnya benar-benar panas karena rasa malu.
“Ti-Tidak, kupikir aku harus menunggu sampai aku sedikit lebih besar lagi! Itu benar, lebih baik begitu! Jika tiba-tiba aku meminta hal itu kepada Lin, aku tidak ingin dia membenciku dan menganggapku sebagai Tuan Muda yang cabuI!”
Yulius mengangguk beberapa kali, meyakinkan dirinya bahwa saat ini bukan waktunya untuk melakukan sesuatu yang dewasa.
“Baiklah, kurasa sudah saatnya untuk pulang.”
Beranjak ingin pergi, Yulius berjalan menjauh dari tempat itu.
Namun, pada saat dia ingin berbalik dan pergi.
Dia mendengar sesuatu.
“To..To…long…..”
Yulius segera menoleh untuk mencari sumber suara tersebut, dan di sana dia melihat sebuah kurungan yang seharusnya dipakai untuk mengurung hewan. Itu tertutupi oleh kain yang kusang sehingga Yulius tidak melihatnya.
“Apa itu budak?” Ujarnya, dan pergi untuk melihat.
Begitu dia sampai dan membuka kain tersebut, matanya membelalak kaget, dan secara spontan mulutnya bergerak dengan rasa kagum.
“Elf…”