Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.13 - Latih tanding



“Hei, Nia. Kau yakin ingin melanjutkan ini?” Yulius bertanya dengan ekspresi bermasalah. Dia ragu apakah harus menghentikannya atau tidak.


Tapi,—


“Tolong jangan mengkhawatirkan saya, Tuan Yulius. Lakukan saja dengan serius, ini adalah permintaan saya. Jadi saya yang akan bertanggung jawab.”


Mengepal dengan semangat yang tinggi, Nia terus bersikeras untuk melanjutkannya, jadi mau tidak tau Yulius harus menerima tekad itu.


“Hahhh…” Dia mendesah panjang.


Saat ini, mereka berada di arena latihan keluarga Viscount.


Banyak orang yang menatap ke arah arena dengan mata yang penasaran. Itu adalah tatapan dari mereka yang mengharapkan sesuatu yang seru akan terjadi.


Di antara para penonton juga ada Albert, Robert, dan Nadya.


Mereka semua menonton latih tanding— tidak, ini lebih seperti duel.


Awalnya Nia mengajak Yulius untuk melakukan latih tanding biasa. Jadi, mereka tidak berharap itu akan menjadi seheboh ini.


Semua orang yang menerima informasi jika Nia dan Yulius akan melakukan latih tanding segera berkumpul untuk menonton mereka.


Kabar itu pun mulai menyebar seperti api yang membara, dan sekarang arena latihan telah dipenuhi oleh orang-orang yang berkerumunan.


Ini membuat Yulius sedikit canggung untuk melakukannya.


Karena diskusi mereka sebelumnya tidak menunjukkan kemajuan, mereka terpaksa harus menundanya untuk nanti, dan karena dia juga tidak memiliki kegiatan lain.


Yulius menerima undangan Nia untuk latih tanding dengan perasaan seperti diajak temannya untuk makan siang bersama.


Tapi, entah kenapa makan siang itu sekarang telah berubah menjadi lomba makan antara mereka berdua. Sehingga Yulius tidak tau bagaimana dia harus menghadapi semua ini.


“Tuan Yulius, apa anda sudah siap?” tanya Nia, yang telah bersiap-siap dengan pedang dan perisainya.


Dia terlihat sangat bersemangat. Dia bahkan menghiraukan reaksi para penonton yang semakin memanas dan mulai menaruh taruhan untuk mereka berdua.


Dalam pertandingan ini, mereka hanya akan menggunakan senjata yang dibuat khusus untuk latihan, jadi tidak ada yang istimewa dari sana.


Ini adalah pertandingan satu lawan satu, murni tanpa menggunakan sihir. Hanya akan ada teknik dan pengalaman yang mereka asah yang akan menjadi penentu siapa pemenangnya.


Itulah jenis pertandingan saat ini.


Melihat semua orang yang tampak sangat menantikannya, Yulius menghela nafas lesu, dan dengan enggan mengambil pedang yang telah dipersiapkan.


“Oooooouuuhhh!!!”


Ketika itu juga para penonton mulai bersorak gembira.


Tapi, Nia tampak tidak senang. Dia mengerut dengan ekspresi yang tidak puas saat dia melihat Yulius yang hanya menggunakan satu pedang.


“Saya dengar anda menggunakan dua pedang saat perang. Apa anda meremehkan saya? Jika bisa saya ingin ini menjadi pertarungan yang serius.”


“Tidak, jangan khawatir. Ini saja sudah cukup,” balas Yulius, dengan tatapan mata yang terlihat bosan. Itu membuat Nia semakin menyipitkan matanya dengan tajam.


Namun, dia mengerti. Bahwa itu hanya provokasi, jadi dia segera menenangkan dirinya agar tidak termakan oleh emosinya sendiri dan bertindak ceroboh.


“Baiklah, aku sudah siap.”


Mengambil jarak yang sesuai untuk melakukan duel, Yulius menghunuskan pedangnya, dan Nia juga bersiap-siap dengan pedang dan perisainya.


Saat itu juga, suasana menjadi hening.


Sorakan para penonton yang tadinya memenuhi seluruh arena telah menghilang.


Semua orang menatap dengan mata yang serius, dan nafas yang tertahan.


Suasana yang tegang semakin mencekam, hampir merebut seluruh udara yang berada di sekitar Yulius dan Nia, membuat para penonton merinding.


Setelah itu…


‘Ting!’


Begitu bunyi lonceng berdering.


‘Bumm!!’


Kedua petarung itu menghentakkan kakinya secara bersamaan, dan membuat ledakan yang kuat dari lompatan mereka berdua.


Sulit dipercaya bahwa ini adalah pertarungan murni tanpa menggunakan sihir.


‘Stingg!’


Detik berikutnya, terlihat ayunan pedang Yulius terhentikan oleh perisai Nia.


“Keh!” Suara erangan keluar dari mulut Nia duluan, tulang tangannya berbunyi dengan suara yang tidak menyenangkan saat dia menahan serangan Yulius.


Karena itu, dia segera mengambil jarak, menghempaskan Yulius untuk menjauh.


Tapi, sebelum itu Yulius telah melompat mundur, dan begitu kakinya secara perlahan-lahan menyentuh tanah.


‘Buumm!!’


Sekali lagi, langkahnya meledak, dan dia mulai menyerang Nia dari segala arah pada kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia.


“Apa?!”


Akibatnya, Nia harus menanggung semuanya pada posisi bertahan.


Dia mati-matian untuk melihat darimana Yulius akan menyerang selanjutnya. Anak itu seperti bola karet yang dipantulkan dengan kecepatan yang tinggi.


Seolah-olah seluruh arenanya adalah sebuah kurungan yang terbatasi oleh dinding, pergerakan Yulius semakin meningkat ketika dia terus melompat lagi dan lagi.


Menyerang Nia dari segala titik buta yang ada, setiap kali serangannya ditangkis, Yulius akan kembali melompat, dan menyerangnya lagi dari sisi yang berbeda.


Anak itu menjadi semakin lincah, sehingga Nia mulai kesulitan untuk mengikutinya. Dia bahkan telah mendapatkan banyak luka goresan di tubuhnya.


Jika Yulius terus menggunakan strategi ini untuk mengalahkan Nia, maka dia pasti bisa membuatnya kelelahan atau kehabisan darah sedikit demi sedikit.


Ketika itu juga, suara Yulius terdengar. Dia berdiri di depannya dengan tatapan mata kosongnya yang seakan merendahkan Nia.


“Apa kau sudah menyerah?” ujarnya, dengan acuh tak acuh.


Namun,—


“Jangan meremehkanku, bocah sialan!” Tidak lagi memandang kehormatannya, Nia berkata kasar kepada Yulius, dan dia kembali membangkitkan semangatnya.


Itu membuat Yulius tersenyum.


“Itu baru semangat.”


Kemudian, dia kembali berakselerasi. Menggunakan tumpuan kakinya yang menerjang dengan kecepatan manusia super, Yulius mengayunkan pedangnya dengan kuat.


Dia berniat untuk mengakhiri pertandingan ini di sini.


(Baiklah, ini akhirnya.)


Melihat pedangnya yang telah menyentuh perisai Nia, Yulius berniat untuk menggunakan seluruh kekuatannya dan menghempaskan tubuh Nia.


Jadi,—


‘Buummm!!’


Suara benda keras yang menabrak tembok bergema di seluruh tempat. Itu tepat berada di tembok yang menjadi pembatas arena latihan.


Tapi, saat Yulius pikir semuanya sudah berakhir.


Dia melihat asap yang mengepul telah menghilang dan di sana hanya terdapat perisai Nia yang ditelan tembok.


“?!”


Seketika mata Yulius terbuka lebar, dia terkejut.


Namun, itu sudah terlambat.


Melihat ke atas, dia melihat Nia yang telah bersiap-siap untuk menyerangnya.


(Dia melompat tepat ketika aku menyentuh perisainya?! Pada waktu sesingkat itu?! Tanpa menggunakan sihir?! Ahaha, kau pasti bercanda, kan?!)


“Ini kemenangan saya, Tuan Yulius!!” teriak Nia saat dia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga ke arah Yulius. Dia terlihat sangat percaya diri.


(Kau benar-benar kuat, Nia. Tapi…)


Seringai lebar terlukis di wajah Yulius.


Namun, tidak ada satupun yang melihat senyuman itu. Sebuah senyuman yang dipenuhi dengan kesombongan dan keserakahan akan kemenangan.


Begitu pedang Nia mencapai tubuh Yulius, wajahnya terlihat cerah.


Melihat Yulius yang sama sekali tidak melakukan pergerakan untuk menghindarinya, dia yakin dia bisa memenangkan pertandingan ini.


Tapi, saat itu juga pedangnya berhenti.


“Hah?”


Itu tertahan dan tidak bisa digerakan. Dia seakan membentur sesuatu yang keras, membuat suaranya berseru konyol tanpa sengaja.


Debu-debu disekitarnya terhempas dalam bentuk lingkaran, membuat penglihatan semua orang yang berada di sana tidak bisa melihat apa yang terjadi.


Dan begitu semua debu mulai menghilang,—


“?!!”


Nia terkejut, matanya terbuka lebar, begitu juga dengan semua orang yang menotonnya. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Seharusnya itu telah menjadi serangan yang telak begitu Nia mengerahkan semua kekuatannya untuk menebas Yulius.


Tapi, anak itu, dengan santainya dia —


“Yah, kurasa ini yang akan terjadi.”


Suara itu keluar dari mulut Robert yang menonton, tapi tidak ada yang mendengarkannya karena mereka semua fokus pada apa yang mereka lihat.


Di mana Yulius dengan senyuman santainya menahan, atau lebih tepatnya menangkap pedang Nia dengan menggunakan tangannya sendiri.


Tatapannya seakan tidak peduli saat telapak tangannya mulai meneteskan darah dari sayatan bilah tajam milik Nia yang dia genggam dengan kuat.


Anak itu menahan tebasan kuat itu dan mengangkat Nia di udara yang masih memegang erat pedangnya seolah-olah itu bukan sesuatu yang istimewa.


Setelah itu, —


“Ini kemenanganku.”


Mengatakan itu, Yulius melepaskan tangannya dari bilah pedang Nia, dan saat wanita itu mulai terjatuh karena pondasinya yang lepas. Yulius mengayunkan kakinya dan menendang tubuh wanita itu dengan kuat.


“Ggrrg!!”


Itu membuat Nia sampai memuntahkan cairan dari mulutnya.


Tapi, tidak sampai di sana, tubuhnya dengan keras menabrak tembok pembatas dan semakin memperdalam lukanya.


Tubuh Nia tertelan oleh tembok, dan dia membuat retakan seperti jaring laba-laba di tembok tersebut.


“Kggh! Ugghhh…!!”


Dia perlahan-lahan tersungkur di atas tanah, dan akhirnya jatuh pingsan.


Melihat itu, ekspresi Yulius menjadi gelap, dia terlihat menyesal.


“Ta-Tampaknya… aku sedikit berlebihan…..”


Seperti itu, pertandingan dimenangkan dengan mudah oleh Yulius.