Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.12 - Menuntut masalah baru



Itu bagaikan petir yang menyambar tubuhnya.


Menerima fakta bahwa selama ini seseorang yang dia kenal sebagai seorang dewasa yang matang ternyata masih memiliki sisi gadis yang belum direbut. Itu semacam menerima pukulan lurus yang tak terduga.


Melihat bagaimana suaminya yang merupakan seorang pria busuk, bahkan tidak aneh jika tubuh Nadya telah dipermainkan secara semena-mena.


Namun, haruskah ini disebut sebagai keberuntungan.


Itu artinya Nadya masih bisa memilih seorang suami yang layak, dan dia masih dapat menikmati masa kedewasaannya dengan lebih bahagia.


Tapi, Yulius merasa sedikit skeptis saat memikirkannya lagi.


“Hmm, apa ini yang mereka sebut sebagai gap-moe?”


Mengatakan hal itu dengan wajah yang serius, dia tenggelam di dalam pikirannya.


Saat ini, dirinya berada di dalam kamarnya sendiri.


Mengingat waktu yang sudah larut malam, dia memutuskan untuk kembali bersama Nadya, dan mereka berpisah di kamar mereka masing-masing.


Tergeletak di atas kasur dengan seluruh berat badannya, Yulius masih terbangun.


“Ini benar-benar mengejutkan, aku tidak percaya Nona Nadya masih perawan. Dengan semua aura kedewasaannya itu, aku pikir dia seseorang dengan pengalaman yang banyak. Dunia benar-benar tempat yang luas.”


Memikirkan hal itu, dia tidak bisa tidur.


Itu membuatnya tidak bisa tidur dengan nyaman ketika tanpa sengaja imajinasinya mulai menjadi semakin liar, dengan membayangkan dirinya yang tidur bersama seorang janda perawan.


Lagipula, meskipun Yulius sekarang adalah seorang anak yang masih berumur 11 tahun. Di dalamnya dia adalah seorang pria dewasa yang sehat.


Memikirkan hal-hal yang aneh tentang seorang wanita. Tentu saja akan membuatnya merasa tidak nyaman jika hanya berdiam diri. Pastinya dia memerlukan tindakan atau sesuatu untuk melampiaskan itu semua.


(Jika saja Lin ada di sini, aku dapat menghilangkan semua hasrat buruk ini hanya dengan meminta Lin untuk tidur di pangkuannya, atau menyuruhnya untuk tidur bersamaku.)


Meskipun Yulius tidak akan memintanya untuk melakukan hal yang aneh, dia masih bisa menahan diri selama ada Lin yang mau memanjakannya.


Tapi—


“Ini juga aneh. Aku setiap hari selalu tidur bersama Lin, dan aku menginginkannya lebih dari siapapun. Tapi, kenapa sampai sekarang aku masih belum berani untuk menyentuhnya? Aku yakin Albert juga akan memakluminya jika aku sedikit bermain-main dengan seorang pelayanku sendiri. Tapi, kenapa Lin berbeda?”


Tanda tanya sekarang penuh di dalam pikirannya. Memikirkan hal itu sembari memiringkan kepalanya, Yulius tampak bingung dengan dirinya sendiri.


Namun, memikirkannya terlalu serius juga tidak ada gunanya.


Yang terpenting saat ini adalah bagaimana dia harus meredakan semua rasa sakit itu. Jika dia tidak segera melampiaskan semua hasrat yang dia miliki, dia tidak akan pernah bisa tidur dengan pulas.


Sedangkan besok dia masih memiliki diskusi yang belum terselesaikan. Jika bisa dia ingin menyimpan tenaganya sebanyak mungkin.


Akan sangat buruk jika dia kurang tidur.


“Apa boleh buat, kurasa aku harus melampiaskan semua ini dengan memburu beberapa bandit di luar sana. Setidaknya aku bisa bersenang-senang dan mengalihkan pikiranku ke tempat yang lain.” Turun dari tempat tidurnya, Yulius berkata dengan suara yang datar sembari menggaruk rambut belakangnya.


Setelah itu, dia pergi keluar dari kamarnya secara diam-diam, dan memburu beberapa bandit untuk dijadikan sebagai tempat pelampiasan.


Hingga akhirnya, dia bisa tidur dengan raut wajah yang pulas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi telah tiba, dan seperti biasa. Yulius bangun terlambat, saat dia tiba di ruang makan, dia telah melihat semua orang telah berkumpul di sana.


“Selamat pagi, Tuan Yulius. Tampaknya anda tidur dengan nyenyak.”


Mengatakan itu adalah Albert, yang telah menyiapkan meja makan dan sarapan untuknya. Yulius hanya mengangguk untuk menanggapi sapaannya, dan duduk di kursi yang telah dipersiapkan.


Wajahnya masih terlihat mengantuk meskipun dia telah mencuci mukanya. Tapi setidaknya dia masih bisa makan dengan baik.


Sarapan hari ini adalah roti dan daging asap, beserta sup hangat sebagai pelengkapnya.


Itu menu yang sama seperti biasa.


Dia sedikit merindukan sup krim buatan Lin.


(Yah, ini juga enak sih. Meskipun tidak seenak buatan Lin.)


“Baiklah, setelah kita selesai sarapan. Kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang masalah kemarin. Kuharap semuanya tidak ada yang keberatan,” ujar Albert dengan tegas, dan semua orang mengangguk sebagai jawabannya.


Itu membuatnya tenang setelah mengkonfirmasi jadwal mereka semua hari ini.


Setelahnya, dia kembali duduk di kursinya sendiri dan menikmati sarapannya yang sama dengan yang dimakan oleh semua orang.


Di sisi lain, ketika Yulius menikmati rotinya. Dia diam-diam melirik ke arah Nadya yang berada di seberang meja, itu membuatnya kembali teringat dengan yang mereka bicarakan tadi malam.


Ketika itu juga, Nadya juga meliriknya, dan mata mereka saling bertemu.


Yulius buru-buru segera memalingkan pandangannya dengan malu, sedangkan Nadya hanya tersenyum indah seperti biasa.


(Dia benar-benar orang dewasa.)


Ini sangat jauh berbeda dengannya yang masih kekanak-kanakan karena tidak dapat mengendalikan emosi dan hasratnya dengan baik.


Hal itu membuatnya merasa sangat terpuruk.


(Jika dipikirkan baik-baik, kemungkinan besar umur kami berdua tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan umurku dikehidupan yang lama.)


(Yah, lupakan saja. Sekarang yang lebih penting adalah masalah yang saat ini ada di depanku. Tidak ada gunanya juga memikirkan tentang keadaan orang lain.)


Merasa tidak pantas untuk ikut campur dengan keadaan seseorang. Yulius akhirnya memutuskan untuk menghiraukannya dengan meyakinkan dirinya sendiri untuk fokus pada masalah yang saat ini tengah mereka hadapi.


Setelah itu, dia melanjutkan kembali makannya dengan lahap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Angin pagi masih berhembus, dan saat ini juga, semua orang terlihat sangat sibuk dengan situasi mereka masing-masing.


Di sebuah ruangan yang hampa di mana hanya ada meja dan kursi, beberapa orang terlihat duduk rapi di posisi mereka tersendiri.


Hingga akhirnya, seseorang mengangkat suaranya.


“Melanjutkan pembicaraan kita yang kemarin. Seperti yang diduga, banyak para penduduk kota yang merasa takut dan skeptis dengan kepemimpinan Tuan Yulius.


Meskipun kami sebisa mungkin beradaptasi dengan menyuruh para prajurit kami untuk bersikap ramah kepada mereka. Masih banyak dari mereka yang masih tidak mempercayainya.


Mereka takut, apakah mereka akan dijadikan budak seumur hidup atau alat perang nantinya. Jika kita tidak segera mengatasinya, cepat atau lambat…


…Pemberontakan akan terjadi.”


Berdiri dengan posisi yang tegak, Albert menjelaskan hal itu dengan suara yang tegas, kepada semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


Di mana di sana terdapat Yulius, Albert, Robert, Nadya, dan Nia.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka, semua orang masuk ke dalam suatu ruangan, dan melanjutkan diskusi mereka yang masih belum selesai.


Karena ini adalah diskusi yang rahasia, tidak ada prajurit atau pelayan yang ditempatkan di dalam ruangan tersebut.


Jadi informasi tidak akan bocor.


Untuk jaga-jaga, Yulius juga memberikan sihir kedap suara di dalam ruangan. Ini adalah salah satu sihir angin tingkat menengah, jadi tidak terlalu sulit untuk melakukannya.


“Kami memiliki ide untuk mengirimkan bantuan subsidi dari wilayah kami. Tapi, seperti yang anda tau. Wilayah kami juga tidak terlalu makmur untuk bisa mengambil keputusan itu dengan mudah,” lanjut Albert, dengan ekspresi yang datar, “Jadi, jika bisa kami ingin menyelesaikan masalah ini dengan ide yang lain.”


Selama diskusi, pria tua itu hampir tidak pernah menunjukkan ekspresinya sama sekali. Jadi, tidak ada yang tau apa yang sebenarnya dia pikirkan.


Melanjutkan diskusi, Robert tiba-tiba mengangkat tangannya, dan semua orang melihat ke arahnya ketika dia berdiri dengan posisi yang tegas.


(Kenapa kita perlu berdiri hanya untuk memberikan pendapat? Apa ini lumrah? Aku sedikit malu untuk melakukannya seperti itu sambil dilihat semua orang.)


“Bagaimana dengan melakukan demonstarsi lagi?” ujar Robert, yang membuat alis mata Yulius sedikit terangkat. Dia tidak menyangka kepala pria itu bisa berputar.


Jadi, dia memutuskan untuk mendengarkan perkataan pria besar itu dengan seksama.


Lagipula, selama diskusi. Hanya Yulius saja yang tidak pernah memberikan idenya. Dia hanya bisa menonton dan memperhatikan rekan-rekan mereka saling mengutarakan pendapat mereka masing-masing.


“Saya dengar Nona Nadya sangat dicintai oleh para rakyat. Jadi, jika kita membuat kesan di depan publik bahwa Tuan Yulius dan Nona Nadya memiliki hubungan yang dekat. Itu pasti—“


“—Maaf karena memotong anda, Tuan Robert. Tapi, saya rasa itu tidak mungkin.” Nia memotong, dan dia segera berdiri untuk melanjutkan perkataannya


Semua orang beralih menatapnya, sedangkan Robert kembali ke bangkunya.


“Setelah perang itu, kami telah menerima banyak keluhan dari para prajurit. Karena kebanyakan para prajurit yang selamat dari medan perang masih belum bisa menghilangkan rasa rakut dan trauma mereka dari sosok Tuan Yulius yang… umm, seperti iblis,“ ucapnya, yang sedikit ragu apakah dia harus mengatakannya atau tidak.


Tampaknya dia khawatir jika itu akan menyinggung Yulius. Tapi, tidak ada yang bisa menyalahkannya, lagipula itu semua memang benar.


Yulius juga merasa bersalah tentang hal itu. Karena salahnya, mereka akhirnya tidak dapat meng-implementasikan ide yang menurutnya juga sangat bagus.


“Banyak dari mereka yang menganggap bahwa Tuan Yulius adalah orang jahat yang berdarah dingin dan tidak punya belas kasihan. Jadi, jika Tuan Yulius dan Nona Nadya terlihat dekat di depan publik. Itu hanya akan terlihat seperti… umm—“ Tidak tau harus bagaimana mengatakannya, Nia terdiam.


Tapi, Albert segera menyanggah perkataannya dengan baik.


“Tuan Yulius hanya akan terlihat seperti seorang penjahat yang mencabuli tuan putri mereka. Jadi, mereka hanya akan beranggapan bahwa Tuan Yulius mengancamnya. Apa itu yang ingin anda katakan, Nona Raichel?”


“Ya-Yah.” Bingung harus merespon seperti apa, Nia dengan malu mengangguk.


Pada saat yang bersamaan, Yulius membanting tangannya ke atas meja dengan keras. Dia mengangkat suaranya untuk melakukan protes.


“Oi, Albert! Bahkan Nia menahan diri dan ragu-ragu untuk tidak mengatakannya, bagaimana bisa kau yang merupakan ajudanku mengatakan hal itu dengan mudah?!” gerutunya, yang menatap penuh keheranan kepada bawahannya yang menghina dirinya tanpa ragu-ragu sedikitpun.


Tapi, akibatnya, Albert melototinya dengan tatapan yang tajam, yang membuat Yulius spontan langsung menarik nafasnya.


“—Hk?!”


“Dari awal ini juga salah anda karena hilang kendali saat berperang! Jika saja anda melakukannya dengan sedikit lebih tenang! Saya yakin masalah ini juga akan lebih cepat terselesaikan! Jadi, saya harap anda tidak menyalahkan saya atas keprihatinan anda sendiri!” tegas pria itu, yang tidak memberikan ampunan sedikitpun.


“Uuhh… maafkan aku.”


Seakan mendapatkan pukulan tepat diperutnya, Yulius menyesal. Tubuhnya menciut dan dia segera duduk kembali di tempat duduknya dengan wajah yang murung.


Ketika itu juga, dia dapat mendengar Nadya yang diam-diam sedikit tertawa.


(Apa yang dia tertawakan?)


Itu membuat Yulius memiringkan kepalanya dengan bingung.


Kemudian, diskusi kembali berlanjut tanpa memberikan hasil apapun.