Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.1 - Reinkarnasi ke dunia game



Duduk di depan layar komputer, dengan sorot mata hitam yang telah terputus oleh filosofi dunia. Vincent menghela nafas lelah dengan suara yang berat.


“Haahhh… Akhirnya game busuk ini tamat juga….”


Merentangkan tangannya ke atas, dia melakukan peregangan.


Setelah itu, dengan lesu, dia berusaha untuk mencapai kasur dan membaringkan tubuhnya yang belum beristirahat selama dua hari berturut-turut.


Pada saat itu juga, ponselnya tiba-tiba berdering.


Mengambilnya dengan wajah yang sekarat. Dia melihat bahwa itu adalah pesan dari adik perempuannya, yang dikirim beserta dengan fotonya yang berada di pantai.


“Jala*ng itu, dia seenaknya saja menyuruhku untuk menamatkan game ini, sedangkan dia bersenang-senang pergi ke Hawaii!”


Game yang dimainkan oleh Vincent adalah sebuah game simulasi kencan yang khusus untuk kaum perempuan. Dimana kau akan menjadi seorang protagonis (Perempuan) dan memilih target penangkapan (Pria) yang tampan dan kaya.


Bagi Vincent, yang merupakan seorang pria sejati. Memainkan game seperti itu adalah sebuah penghinaan yang benar-benar memalukan.


Tapi, dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan adiknya.


Berkat kecerobohan yang dia lakukan, adiknya menangkap basah dirinya yang telah menyembunyikan majalah p*rno di bawah kasur dan lemarinya.


Karena itu, dia diancam jika tidak menamatkan game ini. Adiknya akan mengadu kepada orang tua mereka tentang rahasianya.


Bagi Vincent itu adalah situasi yang tidak ingin dia bayangkan, karena jika dia sampai ketahuan menyimpan sesuatu yang seperti itu.


Orang tuanya tidak akan lagi mengirimkan uang jajan untuknya, dan dia akan disuruh untuk meninggalkan apartemen yang saat ini dia tempati.


Itulah mengapa, dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti adiknya.


Dia mengatakan bahwa dia ingin diundang ke sebuah pesta yang akan diadakan oleh produser dari game tersebut. Dimana hanya 100 orang tercepat yang berhasil menamatkan gamenya saja yang akan diundang.


Di sini Vincent bermain dengan email milik adiknya sendiri, dan untungnya dia berhasil menjadi salah satu dari 100 orang terpilih tersebut setelah mengorbankan waktunya selama dua hari tidak tidur.


Ada pemberitahuan yang muncul dari pihak game yang mengatakan bahwa dirinya akan diudang ke dalam pesta yang akan segera digelar minggu depan.


“Jala*ng sialan itu, tidak hanya menyuruhku untuk menamatkan game busuk ini! Dia juga memintaku uang saku untuk jalan-jalannya di Hawaii! Keparat!”.


Setelah memberinya siksaan dengan menyuruhnya bermain sebagai seorang wanita yang berusaha untuk membuat pria tampan jatuh cinta. Gadis sialan itu juga memalak uang yang dia dapat dari hasil kerja paruh waktunya.


Tapi—


“Hm? Ini aneh? Seharusnya uang yang kukasih tidak sebanyak itu sampai membuatnya bisa berjalan-jalan ke Hawaii.”


Memiringkan kepalanya dengan bingung, Vincent mengingat-ingat apa saja yang pernah gadis itu katakan kepadanya.


“Oh ya, kalau tidak salah dia pernah mengatakan kalau dia meminta uang kepada ibu untuk membuat SIM. Kemana uang itu sekarang pergi?”


Memikirkannya, sekarang semuanya terhubung.


Seringai lebar terlukis di wajah Vincent.


“Bagus! Ahaha, aku bisa mengirimkan fotonya yang berada di Hawaii ini kepada ibu, dan memberitahunya bahwa anak manismu sedang bersenang-senang. Kita lihat, sekarang siapa yang berkuasa. Jangan berpikir aku tidak akan membalas semua penghinaan ini, jala*ng sialan!”


Merasa puas dengan idenya, Vincent segera mengirimkan foto yang baru saja dikirim oleh adiknya kepada ibunya.


Dia mengatakan bahwa adiknya telah memakai semua uang yang seharusnya digunakan untuk membuat SIM, malah dipakai untuk bersenang-senang.


Dengan begitu, dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


Dia benar-benar tidak sabar untuk menantikan bagaimana ekspresi adiknya nanti.


“—Tapi, sebelum itu. Lebih baik aku merayakan semua kemenangan ini dengan membeli makanan yang mahal-mahal. Hari ini aku akan sedikit royal.”


Mengatakan itu, Vincent turun dari tempat tidurnya dan pergi keluar.


Berjalan dengan hati yang gembira. Dia merasa rasa lelahnya telah menghilang setelah berhasil membalaskan dendamnya pada adiknya, dan dengan segar pergi keluar untuk mencari makan.


Akan tetapi, pada saat dia ingin menuruni tangga, tiba-tiba kelapanya terasa pusing. Dunia di sekitarnya seakan runtuh dan terlihat kabur.


Seluruh tubuhnya mati rasa, dan pijakannya tidak stabil. Sehingga, ketika dia berniat untuk menuruni tangga, kakinya terpeleset, dan dia mulai terjatuh ke belakang dengan kepalanya yang terbentur langsung di sudut runcing tangga tersebut.


'Duk!'


(Huh…. Apa aku….. akan mati?)


Kesadaran Vincent terhempas, dan penglihatannya berubah menjadi gelap gulita.


Namun, saat itu juga. Dia dapat merasakan dirinya seakan tersedot oleh sesuatu dan mengalir mengikuti arus. Dalam perjalanan, dia juga menjatuhkan sesuatu. Dia tidak tau apa itu, tapi yang pasti itu adalah hal yang berharga.


Ketika dia mencoba kembali untuk memungutnya lagi. Itu sudah terlambat, jiwanya telah terjatuh di sebuah jurang dalam yang tak memiliki dasar.


Hingga pada satu titik, dia terbangun seolah kesetrum, dan membuka matanya lebar-lebar sambil menarik nafas dengan terengah-engah.


“Hahh… hah… hahahh….!”


Remaja itu memeriksa tubuhnya, terutama yang berada di belakang kepalanya. Dia tidak yakin semua itu hanya sekedar mimpi. Perasaan kematian itu terlalu nyata sampai membuatnya berkeringat dingin.


Saat itu juga, tanpa dia sadari seorang wanita berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa dan menatap lurus matanya dengan pandangan yang cemas.


“Tuan muda! Tuan muda!! Apa anda baik-baik saja?!”


“Huh?”


Wanita itu memakai sebuah seragam pelayan dengan motif seperti seragam pelayan yang ada di negara eropa. Dia memiliki rambut hitam panjang yang dikepang menjadi satu, memakai kacamata, dan memiliki kulit yang mulus.


Selain itu, dia juga memiliki dada yang besar, dan pinggang yang kencang sebagai seorang wanita muda yang cantik.


Tetapi, yang lebih membuatnya heran adalah…


“Tuan muda, apa anda sakit?!”


Dia tidak salah dengar.


Ini membuatnya benar-benar kesulitan untuk berpikir, dan mencerna semua informasi ini dengan baik.


Jadi—


“Tolong tinggalkan aku sendiri.”


“Eh, tapi…”


Wajah pelayan itu tampak enggan. Dia ragu apakah itu adalah pilihan yang baik untuk meninggalkan tuannya yang dalam kondisi seperti ini.


“Kumohon…” Ujar pemuda itu dengan suara yang lirih.


Ini membuat hati pelayan tersebut meluluh, dan dia dengan berat hati permisi untuk pergi sembari membungkukan tubuhnya dengan sopan.


“Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan muda. Jika anda perlu sesuatu, anda bisa memanggil saya kapan saja. Saya akan menunggu di samping pintu.”


Menanggapi perkataannya, pemuda itu hanya mengangkat tangannya, dan mempersilahkan pelayannya untuk pergi meninggalkannya sendiri.


Sekarang dia sendiri.


“Baiklah, pertama. Dari mana aku akan memulainya?” Ujarnya, kemudian dia turun dari kasur dan berjalan berputar di sekitar ruangan itu untuk menjernihkan pikirannya.


Pada saat itu juga, matanya melirik ke arah sebuah cermin yang ada di kamar itu.


Mendekati cermin tersebut. Di sana, dia terkesiap. Pantulan dari wajahnya benar-benar membuatnya kagum, atau lebih tepatnya— Dia terkejut.


Alisnnya mengernyit, dan dengan bibirnya yang gemetar, dia tertawa kaku.


“Hahaha… Kau serius?”


Keringat dingin mulai bercucuran.


Ekspresinya berubah menjadi gelap ketika dia melihat penampilannya sendiri. Bukan karena itu buruk, dia memiliki wajah yang lumayan tampan. Dengan rambut hitam mengkilap, dan mata merah yang tajam—


Tapi, bukan itu yang menjadi masalahnya, yang membuatnya sangat takut dengan sosoknya saat ini ialah…


—Tidak lain dan tidak bukan karena dia adalah Boss Terakhir di dalam game simulasi kencan yang pernah dia mainkan sebelumnya, Sang Raja Iblis, Yulius vera Luciffer.


“Serius… Aku harus gimana nih?”


Dalam cerita, Yulius vera Luciffer akan bertarung melawan sang protagonis dan dia akan mengalami kematian yang paling mengenaskan, sebagai sosok jahat yang ingin menghancurkan seluruh kerajaan.


Alasannya sangat sederhana, karena Yulius membenci sang protagonis dan kerajaan itu sendiri. Tapi, untuk alasan lebih lanjutnya dia tidak tau kenapa.


Di dalam game juga tidak terlalu dijelaskan. Di sana hanya diperlihatkan Yulius muncul sebagai sosok monster yang mengerikan dan mengobrak-abrik kerajaan.


Itu juga akan menjadi adegan puncak dalam ceritanya, dimana sang protagonis dan target penangkapannya akan bertarung bersama mengalahkan Yulius dengan kekuatan cinta mereka.


Setelah itu mereka menikah dan bahagia bersama.


Tapi, itu khusus hanya untuk sang protagonis dan target penangkapannya. Lalu, bagaimana dengan Yulius?


Dia hanya akan mati.


Lebih buruknya lagi, karena dia tidak tau bagaimana dirinya bisa menjadi monster pada saat itu. Dia jadi tidak tau bagaimana caranya menghindari alur kematiannya.


Ini benar-benar reinkarnasi terburuk.


Selama [Kebangkitan] monster dalam dirinya tidak diketahui apa penyebabnya. Dia tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang.


“—Tidak, tunggu dulu. Jangan menyerah begitu saja. Selama aku tidak terlibat di dalam ceritanya, ini akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menjadi karakter figuran selama ceritanya berlangsung. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi.” Gumam Yulius meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak cepat pasrah pada keadaan.


Meskipun dia awalnya terlihat sangat ketakutan begitu sadar bahwa dirinya adalah Last Boss dalam cerita game simulasi kencan itu. Yulius memantapkan hatinya untuk tetap berpikir positif.


“Pasti. Aku yakin ini baik-baik saja. Dilihat dari umurku saat ini, tampaknya masih lama lagi sebelum ceritanya dimulai. Jadi, aku bisa menghabiskan waktuku untuk berbuat baik atau bertambah kuat. Untuk lebih menjamin masa depanku.”


Itu adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.


Dengan berbuat baik dia mungkin saja bisa menghindari kemungkinan untuk mati. Dia berharap kekuatan dewa berkerja pada saat itu, dan dia mendapatkan belas kasihan untuk melanjutkan kehidupannya menjadi yang lebih baik.


Tapi…


Ada juga pilihan dimana dia bertambah kuat dan kuat sampai-sampai tidak ada lagi orang di dunia ini yang bisa mengalahkannya. Dengan begitu, Yulius tidak perlu takut lagi pada kematian.


“Hmmm…”


Dia memikirkannya, di antara dua pilihan itu. Dia sedang memikirkan apa yang dia pilih sebagai tujuan selama hidupnya di dunia ini.


Alisnya mengerut, dan dia menaruh tangannya di bawah dagunya, sembari berkeliling di ruangan itu memikirkan hal tersebut dengan wajah yang serius.


Namun, karena kedua pilihan itu adalah pekerjaan yang sangat merepotkan. Dia memutuskan untuk menunda pemikirannya.


“Yah, untuk sekarang lebih baik aku mengetahui posisiku saat ini. Urusan masa depan akan kuserahkan pada diriku dimasa depan.” Ujarnya dengan santai.


Kemudian, dia tersenyum lebar dan mulai memperhatikan sekelilingnya.


“Dilihat dari seberapa mewah ruangan ini, aku yakin aku adalah orang yang kaya. Itu artinya, aku bisa sedikit bersantai selama berada di dunia ini.”


Itulah yang dia pikirkan.


Namun—


Kenyataannya akan menjadi pukulan telak yang menjatuhkannya langsung ke dalam lubang neraka yang paling dalam.