Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.14 - Membunuh keraguan



Melihat tangan kanannya yang terluka, Yulius segera menggunakan sihir penyembuh untuk menghilangkan lukanya.


[Heal]


Setelah itu, menyarungkan kembali pedangnya, dia berjalan ke arah Nia yang tersungkur dengan penuh luka di tubuhnya.


Yulius mengulurkan tangannya untuk menyembuhkan semua luka wanita itu.


[Heal]


Seluruh tubuh Nia diselimuti oleh cahaya hijau dan semua lukanya menghilang.


Pada saat itu juga, dia mendapatkan kembali kesadarannya.


“Nn!”


Nia perlahan-lahan membuka matanya, dan saat kepalanya mendongak dengan setengah mata yang masih terbuka, dia melihat Yulius yang mengulurkan tangannya.


“Kau baik-baik saja. Maaf, aku terlalu berlebihan,” ujarnya.


Nia meraih uluran tangan tersebut dengan senang hati, wajahnya tersenyum.


“Tampaknya rumor itu memang benar, atau haruskah saya bilang bahwa anda telah melebihi rumor itu.” Nia berkata, saat dibantu Yulius untuk berjalan.


“Kau terlalu menyanjungku.”


“Terima kasih, Tuan Yulius.”


“Yah, jangan khawatirkan itu. Lagipula ini hanya latih tanding, kau bisa—“


“Bukan itu,” potong Nia sembari menggelengkan kepalanya.


Alis mata Yulius terangkat, dan dia menatap wajah Nia dengan heran.


Kemudian, masih dalam senyuman lembutnya, Nia melanjutkan.


“Tuan Yulius, terima kasih karena telah menerima kami.”


“….”


Suaranya penuh akan ketulusan yang murni.


Itu benar-benar kata yang keluar langsung dari lubuk hatinya yang terdalam, sehingga Yulius bingung bagaimana dia harus menanggapinya.


Ini terlalu tiba-tiba.


Tapi, sebelum dia sempat membalas, Nia lanjut berkata.


“Ketika saya mendengar bahwa Tuan Kamuel telah kalah. Saya sangat khawatir apakah seluruh penduduk kota akan dijajah oleh anda. Sebelumnya, saya berusaha untuk meminta Nona Nadya melarikan diri bersama saya meninggalkan kota. Tapi, Nona tidak ingin meninggalkan rakyatnya begitu saja. Dia mengatakan dirinya akan menjadi bayaran untuk keselamatan seluruh rakyatnya.”


“….”


“Dia benar-benar sangat mencintai kota ini. Karena itulah, saya bertekad untuk terus bersama Nona Nadya apapun yang terjadi. Saya sendiri siap untuk mengorbankan diri saya untuk melindungi beliau.”


“Itu…”


“Tapi, saya senang karena anda tidak berniat untuk menghancurkan wilayah kami. Itulah kenapa, saya benar-benar sangat berterima kasih kepada anda, Tuan Yulius. Terima kasih karena telah menerima kami semua dengan baik.”


Merasakan seluruh rasa terima kasih itu melalui seluruh pembuluh darahnya, dada Yulius terasa sesak ketika dia bingung harus mengatakan apa.


Dia tidak tau apakah dirinya pantas untuk menerima rasa terima kasih itu atau tidak.


Namun, memaksa paru-parunya untuk bernafas.


Dia menggerakkan bibirnya dan merangkai beberapa kata-katanya.


“Yah, sama-sama…”


Suaranya pelan, bahkan dia sendiri tidak yakin apakah itu keluar atau tidak.


Tapi, setelah itu mereka sama sekali tidak mengatakan apapun lagi, dan Yulius terus memikul tubuh Nia.


Dia membawanya ke tempat Nadya.


Ketika semua orang masih bersorak pada pertarungan itu, dunia mereka hening.


Nadya tersenyum indah saat matanya bertemu dengan mataku, dia sedikit menunduk, dan aku membalasnya dengan senyuman kecil.


Setelah itu, dia beralih ke arah Nia yang ada di sebelahku.


“Kamu telah berjuang, Nia.”


“Nona… Nadya…..” Bibir Nia gemetar, dan matanya mulai basah.


Sesaat kemudian, air matanya mulai menetes satu per satu.


Sedangkan Nadya hanya tersenyum dan perlahan-lahan membuka tangannya seakan ingin menangkap Nia.


Saat itu juga, Nia melepaskan rangkulan Yulius dan melompat ke arah Nadya, memeluknya dengan sangat erat.


Detik berikutnya, tangisannya pecah.


Dia menangis dengan terisak-isak seperti anak kecil di dalam pelukan Nadya.


“Nona... Nadya... hiks... Saya kalah… hiks, hiks.... Saya kalah… hiks…. Saya….”


“Sudah sudah, kamu sudah berjuang keras kok.” Membelai kepala Nia dengan lembut, seperti sosok ibu, Nadya mulai menghibur Nia yang bersedih.


Yulius pikir dia tidak seharusnya menonton itu, jadi dia memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.


Namun, sebelum pergi, langkah kakinya berhenti, Nadya memanggilnya.


“Tuan Yulius…”


Mendengar itu, Yulius berbalik dan melihat wanita itu.


Setelahnya,—


“… Terima kasih atas segalanya.”


—Nadya dengan tulus berterima kasih kepadanya.


“….”


Namun, Yulius hanya mengangguk dan segera pergi dari tempat tersebut.


Di sana, dia menghampiri Albert dan Robert yang dari tadi telah memperhatikan mereka dengan tatapan yang datar.


Tapi, bukan berarti dia ada alasan untuk berbicara dengan mereka, jadi Yulius memutuskan untuk melewati mereka dan terus berjalan maju.


“Apa anda merasa takut?” Albert berkata, menghentikan langkah Yulius.


Mendengar pertanyaannya, Yulius mengerutkan keningnya.


“Apa maksudmu?” ketus anak itu dengan sedikit jengkel.


Akan tetapi, Albert sama sekali tidak terpengaruh, wajahnya masih sama tanpa ekspresi, dengan suara dinginnya yang khas.


Dia bahkan tidak menoleh untuk melihat Yulius, tatapannya masih mengarah ke tempat dimana Nadya menghibur Nia.


“Menerima semua rasa terima kasih itu, anda takut, kan? Tidak, kurasa anda hanya cemas. Anda cemas apakah anda benar-benar bisa membalas rasa terima kasih itu atau tidak. Karena itulah anda melarikan diri.”


“….”


“….” Yulius hanya terdiam, namun Albert tidak bermaksud untuk berhenti di sana.


“Setelah mengetahui seberapa besar ketakutan dan keputusasaan Nona Nadya dan Nona Raichel, anda menjadi semakin takut. Anda tidak tau harus melakukan apa agar bisa menjadikan semuanya berakhir dengan bahagia.”


“…. Aku pergi.”


“Tuan Yulius! Saya tidak bermaksud untuk menyuruh anda mengabulkan keinginan mereka. Tapi…” Suara Albert semakin tinggi saat dia mencoba untuk mendorong semua kata-katanya kepada Yulius.


Kemudian, dengan suara yang tegas, dia memberikan anak itu sedikit lagi dorongan untuk bisa menghadapi semua masalah ini.


“Tolong bertanggung jawablah untuk semua keputusan yang telah anda buat! Itu adalah tugas anda untuk mengambil semuanya! Bukankah anda sudah berjanji tidak akan melarikan diri lagi dari tanggung jawab?”


“?!”


Albert mengambil langkah yang dalam, menegaskan kembali segalanya kepada Yulius yang saat ini telah kehilangan arahnya untuk melangkah.


Mendengar semua itu, mata Yulius terbuka lebar, dia terguncang.


Kemudian, menundukkan kepalanya, dia tiba-tiba menggertakkan giginya sampai berbunyi, wajahnya terlihat sangat frustasi.


Sesaat kemudian, saat dia mendapatkan kembali ketenangannya.


Yulius berkata,—


“Aku pergi ke toilet dulu.”


Setelah itu, dia meninggalkan Albert dan semua orang yang ada di belakangnya.


Robert terlihat bingung apakah dia harus mengejar Yulius atau tidak, namun Albert menyuruhnya untuk tetap diam, jadi dia hanya bisa terdiam.


“Biarkan anak itu merunungi dirinya sendiri.”


“Tuan Albert, bukankah anda terlalu berlebihan?” tanya Robert.


Albert mendengus, “Dia harus melalui ini semua untuk menjadi seorang penguasa yang baik,” jawabnya, membuat Robert hanya bisa meratapinya.


Kemudian, menyipitkan matanya dengan tatapan yang penuh arti, Albert melirik ke arah tempat dimana sebelumnya Yulius berjalan melewatinya.


(Tuan Muda, tolong jangan mengecewakan saya.)


Menaruh harapan ke punggung anak itu, Albert menutup kedua matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini, berada di tempat yang jauh dari permukiman manusia.


Yulius memuntahkan semua rasa frustasi dan kemarahannya di dalam sebuah hutan yang jauh dari pandangan semua orang.


“Aaargghhh!!!”


Dia berteriak, sambil meninju sebuah pohon besar dengan sangat kuat.


Yulius melepaskan semua uneg-uneg yang selama ini telah menempel di dalam dirinya.


Darah merah menetes dari kedua tangannya yang terluka.


Karena Yulius mengepalkan tinjunya terlalu kuat, itu sampai membuat kukunya menusuk tangannya sendiri saat dia mulai membantingkan tinjunya ke batang pohon yang besar itu.


“Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?! Apa aku idiot?! Tidak, aku memang idiot!!”


Sekali, dua kali, dia melancarkan tinjunya ke batang pohon besar itu sembari berteriak keras dan melampiaskan semua amarahnya pada dirinya sendiri.


Tangannya telah banyak dilumuri oleh darah, begitu juga dengan pohon itu yang mendapatkan bercak darah di batang bekas pukulannya.


“Aarrgghh!!”


Saat dia meninju untuk yang sekian kalinya.


Yulius akhirnya kelelahan. Dia menyandarkan kepalanya ke pohon itu.


Wajahnya melihat ke bawah dengan tatapan yang tajam, dan dia juga mengigit bibirnya dengan ekspresi yang menggambarkan rasa frustasinya yang dalam.


Akibatnya, darah juga mulai mengalir dari mulutnya.


Tapi, seakan tidak memperdulikannya, dengan suara yang kesal, dia berkata.


“Kali ini kau benar-benar mendapatkanku, pak tua sialan!!”


Kemudian, untuk yang terakhir kalinya…


Yulius meninju kembali pohon itu dengan sekuat tenaga, dan membuatnya sampai bergetar hebat, sehingga burung-burung yang ada di sekitarnya terbang ketakutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meninggalkan sosoknya yang penuh cahaya, matahari mulai tenggelam dan bulan telah terbit, menggantikan siang menjadi malam.


Menghembuskan nafas lembutnya yang hangat dikedua tangannya, saat ini Nadya berada di taman bunga kecil yang menjadi tempat favoritnya.


“Tampaknya malam ini akan menjadi malam yang dingin,” gumam Nadya, saat dia mengangkat kepalanya ke atas dengan anggun untuk melihat bulan dan bintang-bintang yang menyinari seluruh dunia dengan cahaya redupnya.


Bibirnya membentuk senyuman yang indah bak seorang wanita yang keluar dari lukisan. Tapi, matanya seakan menangis, basah oleh kesedihan yang dalam.


Meskipun kenyataan adalah kenyataan, sebuah idealis seperti itu tampak terbentuk di tangisan wanita itu yang hampa tanpa air mata.


“Ngomong-ngomong, apakah Tuan Yulius saat ini sudah tidur?” tanyanya, yang mencoba untuk mengubah suasana sepinya saat ini.


Jadi, dia tidak benar-benar berharap untuk mendapatkan jawabannya.


Tapi,—


“Aku masih belum tidur!”


“?!”


Menjawab pertanyaannya, adalah Yulius itu sendiri.


Itu membuat Nadya sedikit terkejut, dan pandangannya segera beralih ke arah pemilik suara yang berada di sebelahnya, yang masih berdiri agak jauh dari dirinya.


Kemudian, mengambil langkah yang cepat, Yulius menghampirinya.


“Tu-Tuan Yulius…?!”


Nadya merasakan ada sesuatu yang aneh ketika dia melihat Yulius yang memperpendek jarak di antara mereka dengan cepat.


Dia mengambil langkah mundur, tapi Yulius dengan paksa menarik kembali Nadya ke dekatnya.


“Kyaa!!”


Itu sedikit kasar, jadi Nadya menjerit kesakitan.


Akan tetapi, seolah-olah tidak memperdulikannya, Yulius menggenggam pergelangan tangan Nadya semakin kuat, membuatnya sedikit ketakutan.


“Uuh…! Tu-Tuan Yulius….”


Tatapan mata Yulius terlihat sangat dingin. Dia dengan tajam menatap lurus ke arah Nadya, yang mana membuat wanita itu merasa tidak nyaman.


Entah kenapa, Yulius saat ini sangat berbeda, dia seperti orang lain.


Namun, sebelum Nadya sempat untuk menanyakan apa yang sudah terjadi. Yulius mengangkat suaranya sekali lagi, dengan suara dinginnya yang acuh tak acuh.


“Nadya… Menikahlah denganku.”