Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.18 - Peringatan kehancuran



Api obor menyala-nyala, memberikan sedikit pencahayaan di gua yang gelap tersebut.


Memiliki suasana tempat yang lembab, tetesan air terjatuh, dan menuntun arah bayangan seseorang yang menari mengikuti gerakan api obor yang tersulut itu.


“Ahh~ ahn~ ah~”


Seorang wanita mendesah, didorong kuat oleh bayangan sang pria. Wanita itu hanya bisa menjerit saat dirinya terjatuh ke dalam kenikmatan duniawi.


“Oi oi, apa ini saja yang kau punya? Menjeritlah lebih keras!”


“Ahh! Ooh! Ti-Tidak!! Tolong ampuni saya, Tuan Baren! Aahh~!”


Suara tepukan dan tamparan semakin keras, bergema dengan irama yang kasar di dalam gua yang lembab tersebut, seolah-olah telah direncanakan.


Menyerahkan hidup pada kesenangan diri sendiri, suara-suara desa*han wanita itu terus mengobarkan semangat sang pria untuk terus memainkannya.


Sama sekali tidak memperdulikan kebajikan dunia, mereka menikmati dunia yang telah mereka buat sendiri. Terus terjatuh dan terjatuh tanpa mengetahui sejauh mana mereka telah terjatuh, itu adalah napsu yang sangat memikat.


Namun, tidak membaca suasana.


Suara langkah kaki yang cepat mendekati mereka, semakin keras dan keras, sampai akhirnya itu berhenti begitu pria itu telah sampai ditujuannya.


Baren Oktaf, selaku pemimpin dari sosok pria yang datang, mengerut tidak senang. Dia menatap tajam pria itu tanpa menyembunyikan niat membunuhnya.


“Pergilah, kau mengangguku,” pintanya, yang terdengar seperti sebuah bom yang dapat meledak kapan saja. Dia menghentikan kegiatannya, dan wanita yang dia tiduri segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.


Saat pria itu menelan ludahnya dan melirik ke arah sang wanita yang dengan cepat mencoba untuk meninggalkan tempat selagi masih telanjang…


Tiba-tiba,—


‘Jlebb!’


“?!”


Lemparan pedang dengan sempurna menusuk kepala wanita itu hingga menembus otaknya dan seketika langsung membuatnya mati tak berdaya.


Tubuh wanita itu jatuh terserat oleh momentumnya sendiri, dan terbaring tepat di depan pria itu, dengan mata kosong terbuka lebar yang menyampaikan rasa prihatinnya tentang kematian yang paling mengenaskan.


Sang pria tersentak, hatinya membeku.


“—Hk?!”


Dia yang mencerna semua kematian instan itu dengan apresiasi kegilaan yang di luar nalar langsung menundukkan kepalanya lebih datar ke tanah.


Seluruh tubuhnya merinding oleh ketakutan akan kematian yang mungkin telah menunggu. Dia seakan berlutut di depan sang raja dengan lehernya yang siap untuk dipenggal kapan saja.


“Jadi, jelaskan alasanmu?” Tidak menolah sama sekali, Baren bertanya.


Seketika itu juga, memompa seluruh nafas kehidupan yang bisa dia hirup, dengan adrenalin di otaknya yang terus membengkak, pria itu mengangkat suaranya.


“Tu-Tuan Baren… sa-saya ingin, melapor, bahwa bawahan yang anda kirim untuk membunuh ‘wanita itu’ telah ditemukan tewas di gang pinggir kota,” jelasnya, dengan suara yang gemetar dan semakin menundukan kepalanya lebih dalam.


“Begitu, dia mati ya… Benar-benar sampah, dia pantas menerimanya.”


Sama sekali tidak ada perubahan nada dalam suaranya, tidak memberikan sedikitpun rasa simpatinya, dia malah mengolok-olok kematian itu.


“Bagaimana dia mati?” tanya Baren.


Pria itu segera menjawab, “Di-Dia ditemukan dalam keadaan di mana kepalanya dihancurkan seakan diremuk. Di sekitar gang itu juga tidak terdapat adanya bekas pertarungan, jadi kami pikir dia mati tanpa perlawanan.”


“Hrm..” Baren mendengus, tampak sedang memikirkan sesuatu.


Pria itu menunggu, sembari menahan nafasnya, dia terus menunggu sang raja untuk memberikan perintah selanjutnya.


Meninggalkan detak jantung yang terus berdetak, dia dengan hati-hati menekan suaranya agar tidak menyulut emosi sang raja. Hingga akhirnya waktu memberitahunya bahwa sepuluh detik telah berlalu.


Hanya sepuluh detik, tapi baginya itu seakan waktu berhenti untuk selamanya.


Kemudian, menutur kembali kata-katanya, Baren menghakimi.


“Kerja bagus, sekarang pergilah.”


“Ah…”


Seketika, nafas pria itu keluar dengan ceroboh. Merasakan oksigen yang masuk melewati tenggorokannya, dia serasa ingin meringis tentang seberapa sakitnya dia menahan semua siksaan itu.


Tapi, menyatakan akhir pembicaraan, dia telah dibebaskan.


“Apa yang kau tunggu? Pergilah,” pinta Baren sekali lagi dengan acuh tak acuh.


Meskipun begitu, pria itu tetap takut untuk berdiri. Tubuhnya seakan mati rasa ketika dia mengingat kembali nasib wanita yang ada depannya.


Mungkin, menyadari hal itu, alis Baren terangkat.


“Oh, ya. Jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu. Pergilah, jangan sampai membuat suasanaku menjadi buruk lagi.”


“Ba-Baik.. Terima kasih, Tuan Baren. Kalau begitu, saya permisi dulu.”


“Hrm…” Baren mengangguk.


Segara tersadar bahwa masih ada pilihan berbeda tentang cara kematiannya, pria itu mengangkat tubuhnya, dan berdiri tegak untuk melangkah pergi dari tempat tersebut.


Mungkin, mempertimbangkan ketidaksabaran sang penuturnya, dia takut untuk menyulut amarah sang raja lebih lanjut, jadi dia memutuskan untuk percaya pada kehidupannya sendiri dan berjalan pergi.


Perasaan bebas dan lega memenuhi hatinya ketika dia berhasil keluar dari ruangan itu, seakan-akan telah berhasil menghadapi badai yang menerjang.


Tapi,—


Pada saat yang bersamaan.


‘Ting!’


Dia mendengar suara lonceng berbunyi, pelan dan lembut.


Suara lonceng itu seolah bergema di dalam tubuhnya, sehingga membuatnya bertanya-tanya darimana asal suara lonceng tersebut.


Karena itu, dia secara refleks berbalik,—


“Hah?”


—Hanya untuk mendapatkan kepalanya yang terpenggal tanpa peringatan.


Kepala pria itu melompat lepas dari tubuhnya, memantul di atas tanah, dan kemudian bergelinding ke dekat kaki dari seekor monster bayangan yang berbentuk seperti seorang anak kecil berukuran 45 cm, dengan sayap kelelawar di punggungnya.


Tidak perlu di tanya lagi, dia adalah iblis.


Berlutut di depan Baren, iblis bayangan itu mengikuti panggilan dari lonceng yang dibunyikan dan bersumpah setia pada siapapun yang membunyikannya.


Saat itu juga, seringai sinis terlukis di wajah Baren.


Dengan penuh kesombongan, dia memerintahkan iblis itu.


“Shadow Demon, bawa wanita yang kuinginkan ke sini. Dia adalah wanita dengan rambut pirang kecoklatan dan mata zamrud, yang tinggal di mansion itu. Culik dia untukku, cepatlah!”


“…..”


Tidak mengatakan apapun.


Seketika itu juga, iblis bayangan bergerak dari dalam bayangan, dengan kecepatan kilat yang telah melampaui penglihatan manusia.


Tidak perlu ditanya lagi, dia akan memenuhi permintaan itu tanpa pamrih.


Kemudian, di tinggal seorang diri, Baren mulai tertawa keras.


“Khuku, Ahaha! Ahahahahahahahahaha!! Sebentar lagi! Tunggulah sebentar lagi, Nadya! Kali ini, aku pasti akan menyelamatkanmu!! Selama aku memiliki lonceng ajaib ini!! Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!!”


Dia tertawa dan tertawa, menertawakan masa depan yang akan datang.


Pikiran kotor yang terus berputar-putar di dalam otaknya, membuat dia kehilangan semua kewarasan dari makna kegilaan yang sebenarnya.


“Baiklah, kurasa aku juga harus bersiap-siap.”


Mengatakan itu, Baren mulai berjalan masuk lebih dalam ke gua tersebut.


Senyuman tipis menghiasi wajahnya saat dia sampai di sebuah gua yang lebih luas dari ruangan sebelumnya, bahkan itu lebih luas dari lapangan sepak bola.


Di sana, dia merentangkan tangannya, dan berteriak keras di hadapan ribuan hingga puluh ribuan monster yang telah berkumpul di gua tersebut.


Seringainya semakin lebar dan lebar, terlalu lebar hingga kau mungkin akan berpikir jika bibirnya telah koyak.


“Waktunya telah tiba, saatnya untuk berpesta!!” teriak Baren.


Pada saat yang bersamaan.


Raungan keras menggelegar di tempat tersebut, dengan membawa kekacauan dan kehancuran yang dapat dengan mudah membumihanguskan seluruh kota tanpa ampun.


Setelah itu, Baren mulai bergerak, dengan pasukan monsternya yang melebihi 50.000 ekor.