Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.32 - Kepergian dan kepulangan Yulius [Volume 1 End]



Setelah banyak hal yang terjadi, akhirnya waktu di mana Yulius akan pulang ke wilayahnya pun tiba, dan semua orang telah menunggunya di sepanjang jalan utama kota.


Banyak penduduk yang berkumpul hanya untuk memberikan salah perpisahan kepada Yulius, yang telah dianggap sebagai pahlawan mereka.


Mereka berbondong-bondong melempari bunga dan meneriakkan nama Yulius. Bahkan, meskipun Yulius masih belum muncul, mereka dengan sabar menunggunya.


Melihat itu, dari atap mansion, Yulius berdiri dan tersenyum kecil.


“Padahal sebelumnya mereka sangat menakutiku saat aku pertama kali datang. Tapi, sekarang lihatlah. Aku telah menjadi orang yang sangat terkenal. Rasanya benar-benar sangat memuaskan. Aku sekarang mengerti perasaan seorang idol saat mereka disoraki oleh para penggemar mereka. Ini luar biasa.”


Dia menyilangkan tangannya, dan membuat suara yang sombong.


Mengetahui bahwa dirinya sangat dikagumi, itu membuatnya benar-benar sangat senang. Sulit untuk menggambarkan perasaannya sekarang dengan baik.


Ada banyak peristiwa yang sudah terjadi, sekarang kenangan itu kembali teringat bagaikan selembar foto yang terus tersusun di buku harian.


Semua ingatan itulah yang membuat Yulius sampai ke titik ini.


Meskipun tidak semuanya adalah hal yang baik, yang pasti dia harus bersyukur dan menikmati kejayaannya yang telah dia capai sampai sekarang. Itulah tanggung jawabnya sebagai seorang penguasa.


“Khuku, teruslah kagumi aku, para pengumpul uang jajanku yang tercinta, dan teruslah dengan rajin membayar pajak bulanan kalian. Karena akhir-akhir ini pengeluaranku benar-benar sangat banyak. Jadi, bekerja keraslah untuk menghasilkan uang agar suatu saat nanti aku bisa menikmati uang tersebut.”


Yulius mengubah senyumannya menjadi senyum jahat, dan terkekeh layaknya seorang penguasa yang hanya peduli terhadap uang rakyatnya.


Itu membuatnya mendapatkan kepuasan yang berbeda.


“Aaah... ini sungguh menyegarkan. Rasanya aku tidak masalah meskipun harus menjadi penjahat di dalam game sialan ini.”


“Tuan Yulius, anda di mana?! Ini sudah saatnya untuk berangkat! Semua persiapannya sudah selesai! Jadi, saya mohon untuk anda segera kembali!”


Selagi Yulius tenggelam di dalam pikirannya sendiri, seorang pelayan yang memasuki kamarnya berteriak dan mencari-cari keberadaannya.


Itu membuat Yulius kembali ke ekspresi datarnya yang biasa.


“Oh, sudah selesai ya. Akhirnya, aku bisa pergi juga dari kota ini.”


Mengatakan itu, Yulius turun dari atas atap, dan kembali ke kamarnya melewati jendela yang terbuka. Pelayan yang melihat itu terkejut.


“Tuan Yulius, darimana saja anda?! Tuan Albert dan Nona Nia sudah menunggu!”


“Begitu, maafkan aku. Aku akan ke sana.”


Pelayan wanita itu tergesa-gesa dan segera menyuruh Yulius untuk turun.


Setelah itu, tanpa menunggu lama lagi, Yulius pergi keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke halaman depan mansion ini. Di mana, di sana telah dipersiapkan semua kebutuhannya untuk pulang ke wilayahnya kembali.


Telah disiapkan sebuah kereta kuda yang mewah, dan beberapa pengawal dengan jirah perak yang mengagumkan untuk mengawalnya, sambil membawa bendera yang melambangkan wilayahnya.


Itu memiliki lambang berwarna hitam pekat sebagai warna utama, putih untuk perisai, merah tua untuk pedang ganda yang menyilang, dan terakhir warna ungu untuk api yang melingkari lambang lainnya.


Dia tidak tau apa arti dari lambangnya, tetapi karena dia pikir itu keren, dia menerimanya begitu saja. Jadi menurutnya tidak ada masalah.


“Tuan Yulius, kemana saja anda selama ini! Semua orang mencari anda!” tegur Nia saat dia melihat Yulius yang baru keluar dari mansion dan menghampiri kelompok mereka.


Sedangkan Albert yang melihat itu hanya menghela nafasnya sambil memegang dahinya dan menggelengkan kepalanya.


Yulius merasa bersalah, dia tidak bisa membuat alasan kalau dia sedang sibuk mengagumi kehebatannya sendiri di atas atap, jadi dia memutuskan untuk mengubah topiknya.


“Yah, ada banyak hal. Ngomong-ngomong, di mana Nadya?” tanya Yulius, saat dia memeriksa sekelilingnya dan tidak melihat sosok wanita yang dia cari.


Alis mata Nia terangkat, dia juga memperhatikan sekelilingnya.


“Jika anda mengatakannya, itu benar, saya masih belum bertemu dengan Nona Nadya sampai sekarang. Saya pikir Nona Nadya akan menjadi yang pertama untuk menyapa anda.”


“Yah, jika itu dia. Aku pikir tidak ada masalah. Kita juga tidak memiliki banyak waktu lagi, jadi lebih baik tidak perlu menunggunya.”


(Apa dia segitunya tidak ingin melihatku pergi meninggalkan kota?)


“Tuan Yulius, lewat sini.”


Seorang prajurit dengan jirah perak menuntun Yulius, dan membuka pintu kereta untuk mempersilahkannya masuk, dan kemudian menutup pintunya kembali.


(Aku tidak terlalu terbiasa dengan perlakuan royal ini. Kurasa aku lebih suka jika itu yang lebih sederhana. Ini membuatku sedikit tidak nyaman.)


“Kalau begitu, Tuan Yulius, sampai jumpa! Jaga diri anda baik-baik!”


Membuka jendelanya, di sana Yulius dapat melihat Nia yang melambaikan tangannya dan menangis. Sedangkan Albert hanya mendengus tidak senang sambil menyilangkan kedua tangannya.


Ini membuat alis Yulius berkedut.


(Pria tua itu, tidak bisakah dia sedikit lebih emosional disaat seperti ini! Dia benar-benar tidak bisa membaca suasana!)


“Yah, kau juga! Jaga dirimu baik-baik!”


Tapi, memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan pria tua itu, Yulius balas melambaikan tangannya kepada Nia, dan kemudian keretanya berangkat.


Saat itu juga, sebuah terompet ditiupkan dengan sangat keras, sebagai tanda bahwa kereta Yulius akan pergi. Seluruh pasukan yang mengawalnya juga dengan gagah membawa bendera serta pedang di pinggang mereka.


Setelah itu, kuda pun dipacu.


Menyadari bahwa keretanya sudah berangkat, Yulius kembali duduk di kursinya dan menyadarkan seluruh berat tubuhnya dengan helaan nafas yang lesu.


“Ini benar-benar kota yang sangat merepotkan,” gumamnya, saat dia melihat kea rah jendela di mana banyak sekali ingatan yang telah disimpan di kota ini.


“Meskipun kebanyakan itu ingatan yang buruk. Tapi…” Yulius berhenti, kemudian. Bibirnya terangkat dan membentuk senyuman yang hangat.


“… Ini adalah kota yang sangat bagus.”


Di sana, dia juga masih bisa mendengar suara Nia yang terus berteriak keras, seperti seorang anak kecil yang menangisi kepergian keluarganya. Tidak hanya dia, tapi para penduduk kota yang melihat keretanya juga bersorak untuknya.


Dari anak kecil, remaja, pria dewasa, wanita, dan sampai lansia.


Mereka semua berkumpul hanya untuk mengucapkan rasa terima kasih dan salam perpisahan untuk Yulius, yang telah berjasa bagi kehidupan mereka.


“Hidup Tuan Yulius!!”


“Terima kasih karena telah menyelamatkan kota kami, Tuan Penguasa!!”


“Semoga perjalananmu baik-baik saja, nak!”


“Kapan-kapan datang lagi ke warung kami, Tuan Penguasa! Aku akan memberikanmu potongan harga! Dan jangan lupa untuk membawa Nona Nadya juga bersama!”


“Itu benar, tolong jaga Nona Nadya bersamamu, Tuan Yulius!”


Dalam perjalanan pulang ke wilayahnya, Yulius memberitahu kepada semua penduduk kota kalau dia akan membawa Nadya yang masih tertidur untuk ikut ke wilayahnya.


Tapi, tentu saja mereka tidak tau jika jiwa Nadya telah dipindahkan ke tubuh seekor naga. Mereka hanya diberitahu jika Nadya terkena penyakit aneh dan Yulius pergi membawanya untuk menyembuhkan penyakit tersebut.


Yang mengetahui tentang kebenarannya hanya dia, Albert, dan Nia.


“Kami pasti akan selalu menantikanmu untuk kembali ke kota ini lagi, Tuan Yulius!!”


“Saat itu, kembali lah bersama istri anda!!”


“Terima kasih banyak karena telah melindungi kami!!”


“Hidup Tuan Yulius!!”


Mendengar semua pujian dan rasa terima kasih itu, wajah Yulius menjadi lembut, dan perasaan yang hangat terus mengalir ke dalam dadanya.


“Fufu~ anda benar-benar sangat di cintai, bukan? Tuan Yulius…”


“Yah, kau benar,” jawab Yulius, saat matanya terus menatap ke arah para penduduk yang dengan semangat melambaikan tangannya dan melempari mereka bunga-bunga.


Hanya memikirkannya saja sudah sangat melelahkan.


“Kenapa anda tidak bersantai saja selama perjalanan nanti?”


“Kau benar, akan kulakukan itu.”


Menerima saran tersebut, Yulius mulai membaringkan tubuhnya ke sandaran kursi yang embuk dan mulai tertidur.


Tapi, menyadari sesuatu yang aneh, layaknya sengatan listrik, matanya langsung terbuka lebar, dan dia bangkit tiba-tiba sambil berteriak keras.


“Nadya?!!”


“Fufu~ Anda menemukanku.”


Nadya menutup mulutnya dengan tangannya, dan tertawa kecil ketika melihat reaksi Yulius yang baru sadar bahwa wanita itu telah berada di depannya, dan duduk manis dengan wujud manusianya.


“Darimana kau masuk?” tanya Yulius sambil mengernyitka dahinya.


“Tolong jangan memasang wajah kerepotan seperti itu, Tuan Yulius. Aku sudah ada di sini bahkan sebelum anda masuk. Apa anda tidak menyadariku?” jawab Nadya, dengan senyuman indahnya yang menggoda.


Mendengar itu, Yulius menghela nafas panjang.


“Yah, terserahlah. Jadi, apa tujuanmu melakukan itu?” tanya Yulius dengan acuh tak acuh, yang kemudian dijawab Nadya dengan suara yang tinggi.


“Tentu saja, apalagi kalau bukan untuk mengucapkan salam kepada suamiku yang ingin pergi jauh! Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri! Tapi, karena aku ingin menyampaikan langsung perasaanku kepada anda! Aku ada di sini!”


“Uuh… hentikan, kau membuat perutku sakit……”


Mendengar Nadya yang dengan senyuman lebar mengatakan hal itu, Yulius memegangi perutnya kesakitan. Dia tidak bisa menahan rasa malu ketika wanita itu bertingkah layaknya hubungan suami-istri.


Mau berapa kali Yulius mencoba untuk menerimanya, dia tetap tidak terbiasa.


Tapi, kemudian Nadya tiba-tiba mengubah suasananya.


Dia berjalan mendekati Yulius, dengan senyuman terindah yang bisa dia berikan, dan tatapan mata basah yang berkilau, yang mana membuat Yulius terpesona.


Seakan ada sihir yang merasuki tubuhnya, dia tidak bisa berpaling ataupun berkedip sekalipun dari wajah cantik Nadya.


“Karena itulah, Tuan Yulius…”


Suaranya menyusup ke telinga Yulius seperti rayuan lembut dari seorang dewi. Kemudian, dia memegang pipi Yulius dengan belaian tangan yang penuh akan kasih sayang.


Setelah itu, wajah mereka menjadi semakin dekat, Yulius sama sekali tidak bergerak saat Nadya perlahan-lahan mulai mendekatkan bibirnya ke bibirnya.


… Dan memberikannya kecupan cinta yang sangat hangat.


“… Aku akan terus menunggu anda.”


Nadya pergi, tubuhnya perlahan-lahan terurai dan menghilang begitu saja saat dia mengatakan itu dengan senyuman indahnya.


Melihat itu, mata Yulius masih terpesona.


Tapi, kemudian dia menghela nafasnya.


“Dasar bodoh, jika kau ingin mengatakan sampai jumpa, setidaknya jangan memakai sihir teleportasimu seperti itu. InI bukan perpisahan untuk selamanya…”


Yulius menyandarkan tangannya di pinggir kursi, sambil menopang kepalanya saat dia dengan senyuman tipis melihat ke arah kota yang dipenuhi oleh sorakan keras yang menyampaikan rasa terima kasih kepadanya.


“Benar-benar… kalian terlalu membesarkannya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah itu, kelompok Yulius berangkat pergi dari kota.


Mereka melakukan perjalanan ke wilayah Luciffer dengan aman tanpa ada masalah. Lagipula tidak akan ada orang bodoh yang berniat untuk menyerang kelompok Yulius dengan pasukan berjirah perak yang mengagumkan.


Selain itu, tidak akan ada monster yang berani menyerang mereka selama Nadya masih meninggalkan berkah perlindungan dari Sang Naga Merah di kereta kuda Yulius sebelum mereka berpisah.


Jadi perjalanan bisa dengan cepat dan lancar sampai ke tujuan.


Hanya membutuhkan waktu setengah hari sampai mereka tiba di wilayah Luciffer, dan bahkan saat mereka sampai Yulius juga disoraki oleh para penduduk desa yang telah menunggunya.


Selama ini dia tidak pernah keluar rumah untuk berjalan-jalan ke desanya sendiri, karena dia tidak sempat melakukannya berkat pekerjaan yang menumpuk.


“Tapi, kupikir aku akan melakukannya jika ada waktu.”


“Tuan Yulius, kita telah sampai.”


Selagi Yulius memikirkan tentang masa depan itu, pintu keretanya terbuka, dan seorang prajurit memberitahunya bahwa dia telah tiba di depan rumahnya.


“Ini mungkin sedikit sepi karena sudah tidak orang-orang yang berisik lagi, dan Robert juga sudah tidak ada. Tapi, aku tidak bisa terus meratapinya, atau Albert akan memarahiku.”


Menggumamkan hal itu, Yulius segera turun dari keretanya, dia mengambil nafas yang panjang sebelum melangkahkan kakinya kembali ke rumah lamanya.


Saat itu juga…


“Selamat datang kembali, Tuan Yulius!!”


Semua pelayan dan prajurit berbaris rapi di depannya dan membuat jalan dengan karpet merah sebagai jalurnya. Kemudian, melihat Yulius yang turun dari kereta, mereka semua berteriak secara serentak.


“?!” Itu membuat Yulius sedikit terkejut, dia melebarkan matanya.


Melihat ke depan, di sana dia dapat melihat seorang wanita berambut hitam panjang yang dengan senyuman tulus menyambutnya, dan juga seorang gadis kecil berambut putih yang dengan senyuman cerianya berdiri di sebelah wanita itu.


Setelah itu, dengan tumpukan kerinduannya yang telah dia tahan selama ini, Lin berkata dengan suara yang lembut dan menyambut Yulius dengan pelukan yang hangat, ketika Yulius segera berlari untuk menggapainya.


“Lin, aku merindukanmu.”


“Yah, saya juga, Tuan Muda.”


Yulius sendiri juga tidak tau entah apa yang merasukinya. Tanpa sadar kakinya telah berlari dan kemudian memeluk tubuh Lin dengan sangat erat.


Dia merasakan kehangatan yang mengalir ke seluruh hatinya, dan membuat pupil matanya terasa sedikit panas, hingga membuat air matanya menetes.


Melihat itu, Lin tersenyum lembut, dan membelai anak tersebut.


“Selamat datang, Tuan Muda.”


“Yah, aku pulang.”


...[Volume 1 END]...


Halo para pembaca, terima kasih karena telah terus mendukung author dan membaca karya author sampai sini. Meskipun masih banyak kekurangan dan masalah saat author membuat novel ini.


Setiap kali author melihat pemberitahuan kalau ada satu orang yang membaca novel author, itu saja sudah membuat author sangat senang dan bisa terus melanjutkan untuk menulis.


Jujur saja, author juga awalnya tidak yakin bisa sampai sejauh ini nulisnya. Soalnya ini juga baru pertama kalinya author nulis sebuah novel, hanya dengan modal nekat dan pengetahuan dari suka membaca novel, terutama novel Jepang.


Karena itu, masih banyak hal-hal yang perlu author pelajari untuk membuat novel yang bagus dan bisa memuaskan kalian semua.


Ngomong-ngomong, di Volume 2 nantinya, dari novel [Become A Last Boss With System], cerita akan mulai berfokus kepada jalan cerita utama dari gamenya. Jadi bisa dibilang kalau Volume 1 ini masih prolognya saja, meskipun sudah sejauh ini.


Mulai sekarang, akan dimulai cerita Yulius tentang dirinya yang masuk ke dalam Akademi, dan terlibat dengan karakter-karakter yang ada di dalam game.


Jadi, saya harap kalian bisa terus mendukung author, dan kalau bisa, berikan komen dan vote kalian, agar membuat author lebih semangat lagi.


Sebagai informasi tambahan, di Volume 2 nanti, author akan lebih banyak menulis dengan sudut pandang orang pertama, jadi semoga kalian suka.


Sampai jumpa di Volume berikutnya.