
(Saat ini, mata kami saling bertemu, dan secara insting, aku tau… bahwa pria ini bukanlah tandinganku. Tapi… entah kenapa perasaanku sangat tidak asing dengan pria itu. Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tapi dimana ya? Apa ini hanya perasaanku saja? Atau… hanya sebuah kebetulan semata?)
Berhenti dengan pikirannya yang penuh akan keraguan, Yulius kembali menoleh ke arah Baren, yang tiba-tiba mengangkat suaranya dengan angkuh.
“Kalau begitu, penyair bodoh yang memproklamirkan dirinya sebagai penguasa. Aku perintahkan kau untuk segera mati saat ini juga.” Membuat perintah secara sepihak, mata pria itu memandang Yulius seperti kotoran.
Detik berikutnya, bahkan sebelum dia sempat untuk membalas. Ekor sang naga telah bersiap-siap untuk menjadikannya daging hancur.
‘Bumm!’
“Keh!”
(Seperti yang kuduga, itu sangat cepat.)
Melompat mundur, Yulius berhasil menghindari serangan itu.
Tapi, sang naga tidak membiarkannya begitu saja, cakar yang tajam segera menyusul dari arah kirinya dan menebas Yulius dengan sangat kuat.
Yulius yang tersentak akan perkembangan yang mendadak, tidak dapat dengan cepat merespon, dan sebagai akibatnya. Tubuh kecilnya di hempaskan kuat oleh cakar tersebut, sampai membuat tangan kanannya terpotong.
“Gargh!!”
Tubuh Yulius memantul-mantul di atas tanah, dan mendorongnya jauh sampai akhirnya dia berhenti ketika tubuhnya menghantam batu besar yang dia buat sendiri dengan sihir tanah.
Dia dengan putus asa mencoba untuk bangkit kembali, dan saat matanya terbuka. Naga itu telah membuka mulutnya yang dipenuhi oleh taring tajam, dan bersiap dengan nafas apinya yang melegenda.
“Gawat!”
Mata Yulius terbuka lebar.
Melihat api merah yang berkobaran di depan rahang naga itu, keringat dingin mengutuk Yulius, dan kesan kematian langsung merayap ke seluruh tubuhnya.
Saat itu juga, api merah yang ganas menyembur dari mulut sang naga, dan tanpa ampun membakar segala sesuatu yang berada di jalurnya.
‘Buusshh!!!’
Untungnya, Yulius dengan cepat bereaksi.
Menggunakan sihir angin, dia mendorong tubuhnya secara paksa terbang ke atas dan nyaris menghindari semburan api naga tersebut.
Secara refleks, dengan rasa penasaran yang tidak pada tempatnya, pandangan Yulius menoleh ke bekas semburan yang diniatkan untuk membunuhnya itu.
“I-Ini…!” Dia tercengang.
Hanya untuk melihat sebuah kehancuran yang sangat mengerikan. Itu hampir setara dengan kehancuran yang diberikan oleh jurus andalan [Cursed Fire Sword] miliknya, atau bahkan lebih parah lagi.
Daerah di sepanjang jalur apinya dibuat hangus terbakar sepanjang 10 km. Yulius juga dapat merasakan bahwa [Mana] yang ada di sekitarnya mulai menguap, dan membuatnya kesulitan untuk menggunakan sihir.
“Dia adalah salah satu dari [Dragon Lord] yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan sebuah negara. Dialah Sang Naga Merah, sebuah malapetaka yang seribu tahun lalu menghancurkan tiga negara sekaligus, Netherlium Rose. Seberapa banyak kau berusaha, seekor serangga sepertimu tidak akan pernah bisa mengalahkan seekor naga yang perkasa.” jelas Baren dari atas punggung naga itu, seolah-olah menyombongkan kekuatannya sendiri.
“Huh?”
Di sisi lain, Yulius benar-benar tercengang.
(Sang… Naga… Merah……?)
Mengerutkan keningnya, Yulius seolah merasakan ‘sesuatu’ di dalam ingatannya yang mulai terbongkar, dan menyusun kembali ‘sesuatu’ yang dia lupakan.
Saat itu ter-rekontruksi ulang, matanya terbuka lebar, dia akhirnya ingat.
“Begitu, sekarang aku tau kenapa aku merasa tidak nyaman dengan pria itu.”
Yulius menyipitkan matanya ke arah Baren yang masih tersenyum sombong. Kemudian, dengan suara yang tidak terpesona, dia berkata bersama wajah datarnya yang tampak meremehkan.
“Bukankah dia adalah penjahat sampingan dari game sialan ini. Apa yang sedang dia lakukan di tempat seperti ini?”
Yulius memikirkannya, sekarang dia benar-benar ingat
Baren Oktaf, seseorang yang disebut sebagai Raja Bandit di dalam game simulasi kencan itu. Di dalam cerita, seharusnya dia memiliki peran untuk dikalahkan oleh sang protagonis di suatu kota yang telah Baren kuasai.
Kota itu bernama Kota Renwell, yaitu wilayah kekuasaan Viscount Teresan.
Yulius benar-benar lupa, dia tidak menyangka bahwa dirinya akan berada diposisi di mana dia harus melawan Raja Bandit tersebut.
Baren terkenal akan kekejaman dan kesadisannya dalam memimpin, dia juga merupakan seseorang yang sangat kuat dengan ilmu pedangnya.
Tapi, yang paling menonjol adalah kekuatannya untuk mengendalikan monster-monster sebanyak yang dia inginkan, atau lebih tepatnya itu adalah kekuatan dari item sihir yang dia miliki, Lonceng Sang Pengembala.
Sebuah item sihir yang telah lama menghilang sejak zaman perang para dewa.
Itulah setingan dalam game yang Yulius ingat.
Dia benar-benar lupa.
“Ah?”
Begitu Yulius masih terlena akan pikirannya sendiri, dia lupa bahwa saat ini dirinya berada di tengah-tengah pertarungan melawan seekor naga yang sangat jelas tidak mungkin untuk dia kalahkan.
“Keparat!” Mengunyah darahnya, Yulius menggerutu ketika naga itu menggunakan semburan apinya sekali lagi, dan menyerangnya yang masih berada di atas udaranya.
“Haha, matilah kau bajing*n!!” teriak Baren.
Ketika itu juga, Yulius sekali lagi menggunakan sihir angin untuk menghempaskan tubuhnya sendiri dalam menghindari serangan tersebut, dan untungnya kali ini dia masih sempat.
Tapi, sekarang yang jadi masalah adalah dia tidak memiliki cara untuk menyerang balik naga itu, jadi yang bisa Yulius lakukan hanya melarikan diri.
Jangankan serangan fisik, serangan sihir saja tidak akan mungkin untuk dapat menggores kulit keras dari naga tersebut. Jadi, efek samping dari pedangnya sama sekali tidak berguna.
Jika Yulius benar-benar ingin melukai Netherlium Rose, yaitu sang Naga Merah. Dia memerlukan kekuatan yang lebih kuat lagi dari [Seven Stroms of Hell].
Kira-kira itu sekitar 2 atau 3 kali lipat dari kekuatan itu.
Sedangkan saat ini Yulius tidak memiliki kekuatan yang setara untuk melakukannya. Selain itu, sihirnya juga dibatasi karena [Mana] yang ada di sekitar tempat itu dibuat menguap oleh semburan api naga tersebut.
Ini adalah pertarungan yang terlalu berat sebelah.
(Oh ya, kalau tidak salah protagonis itu menyegel mahkluk ini di dalam sihirnya yang luar biasa. Jadi, dia juga tidak tau bagaimana cara mengalahkannya.)
Waktu itu, Yulius juga dibuat kesulitan untuk melawannya. Dia sudah tidak ingat sudah berapa kali dia mati saat melawan naga tersebut.
“… Itu benar-benar game sialan.”
Tingkat kesulitan dalam pertarungan di game tersebut terlalu gila. Itu hampir mustahil untuk bisa menamatkan game itu tanpa menggunakan item-item kelas curang, yang sengaja diperjualbelikan oleh sang daveloversnya.
Ini juga yang menjadi alasan kenapa butuh 2 sampai 3 hari penuh hanya untuk menamatkannya. Adik perempuan Yulius sebelumnya juga menyerah diadegan mini game dan pertarungannya.
Karena itu dia mengandalkan Yulius untuk menamatkannya.
“Keh, aku tidak ingin mengingatnya lagi.”
Itu membuat kepalanya terasa sakit oleh ingatan masa lalu yang mulai mengalir. Tapi, kebanyakan dari itu adalah tentang adik perempuannya yang telah membuat dia harus mati hanya karena bermain game simulasi kencan.
Jadi ingatan itu terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.
Namun, sekarang dia tidak memiliki waktu untuk terus meratapinya.
Karena berkat itu juga, sekarang dia memiliki cara untuk mengalahkan Baren tanpa perlu berurusan dengan naga tersebut.
“Baiklah, sudah saatnya untuk mengakhiri ini semua,” ujar Yulius, saat dia kembali menatap ke atas langit dimana naga itu terbang dengan kebesarannya.
Ukuran kolosalnya sekitar 30 meter, dengan sisik berwarna merah kehitaman yang menghiasi seluruh tubuhnya. Dia juga memiliki mata emas yang sangat indah. Namun, sekarang itu telah kosong, tanpa jiwa di dalamnya.
Yulius benar-benar merasa prihatin dengan naga itu, yang harus dikendalikan oleh pria bodoh seperti Baren.
“Baren Oktaf, aku sarankan padamu untuk menyerah sekarang juga!” Mengulurkan pedangnya lurus ke arah wajah pria paruh baya itu, Yulius berteriak.
Dan sebagai balasannya, dia mendapatkan tatapan tajam dan dengusan kesal. Baren merendahkan suaranya, tapi itu pasti karena dia terlalu marah.
“Matilah, kelas teri. Kau tidak layak untuk hidup di dunia ini.”
Nada angkuhnya sama sekali tidak berubah.
“Heh…”
Yulius tertawa kecil.
“Apa yang kau tertawakan?” tanyanya.
Yulius mendesah pelan dan mengangkat bahunya dengan senyuman santai.
“Yah, kau tau. Dalam sebuah pertempuran, infomasi adalah segalanya. Selama kau memiliki informasi tentang musuh-musuhmu, kau memiliki segala cara untuk bisa melangkah lebih lanjut dan menghancurkan mereka semua. Ini adalah pengetahuan dasar yang semua orang ketahui. Jadi aku rasa kau juga tau.”
“Apa yang ingin kau katakan?” Wajah Baren sedikit terguncang, dia juga perlahan-lahan mulai bersiap-siap untuk serangan semburan naga berikutnya.
Tapi, seakan tak peduli, Yulius terus melanjutkan.
“Yah, intinya. Sang pemegang informasi terbanyak adalah seorang pemenang yang sesungguhnya. Tapi, itu juga tentang bagaimana caranya untuk menggunakan informasi itu dengan baik, dan dapat menghancurkan musuhmu.”
“…..” Naga Baren telah mendarat, dan bersiap untuk semburannya.
Tapi, Yulius tetap tidak peduli, dia terus berkata tanpa memikirkan sekelilingnya.
“Jadi, apa kau tau siapa pemenang di dalam pertarungan kali ini?” tanyanya, dengan senyuman palsu yang selalu dia arahkan kepada bawahannya.
Baren tetap terdiam.
Tapi, seolah menahan emosinya yang telah berada diambang batas ledakannya, dia terus mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
Kemudian, melanjutkannya, Yulius menyipitkan mata merah tuanya dengan tajam, dan memberikan pandangan meremehkan ke arah Baren.
“Kau?!”
“Yah itu aku! Pemenang dari pertarungan ini!”
Seketika itu juga, kedua individu itu bentrok dengan ledakan yang dahsyat.
Semburan api naga sekali lagi menyerbu ke arah Yulius, dengan niat untuk membakarnya sampai tak tersisa. Namun, Yulius, dalam senyumannya yang berani, dia menghentakkan kakinya dengan sangat kuat.
Kali ini, bukannya menghindar, Yulius malah menerjang ke arah naga itu secara langsung, dan melawannya secara terang-terangan.
Dia mengerahkan semua yang dia miliki di dalam kakinya, dan memusatkan semua kekuatan sihir yang tersisa hanya untuk memperkuat kakinya.
Jadi, dengan satu langkahnya, Yulius benar-benar meledak.
Dia bergerak dalam kecepatan yang bahkan telah melampaui dimensi lain, dan membuat ruang di sekitar jalurnya seakan terdistorsi.
Seperti kata kiasannya, tubuh Yulius meledak, berubah menjadi partikel-partikel kecil yang tak terlihat dan melaju dengan kecepatan yang bahkan telah melampaui cahaya.
Itu bahkan tidak mencapai satu detik.
Ketika Yulius dengan kejam merobek pinggang kanan Baren dan menggenggam erat daging beserta koyakan baju yang dia pakai.
Anak itu membelakangi Baren, yang saat itu juga terjatuh dari tubuh naga itu.
“Gaarrrgghhh!!”
Dia menjerit, dengan semua rasa sakitnya yang mengerikan begitu tubuhnya terjatuh di atas tanah yang keras, dengan luka robekan di pinggangnya.
Air mata keluar dari mata dan hidung Baren, dia meringis dengan sangat menyedihkan ketika luka sobekan di pinggangnya dipenuhi oleh pasir. Dia terjatuh dalam posisi yang mencium tanah, sehingga terdapat rasa pasir di mulutnya juga.
“Aarrghh!! Sakit! Sakit! Sakit!” Jeritnya dengan lirih.
Tapi, Yulius mengabaikannya, dia menatap daging yang dia pegang.
Di sana, di balik daging dengan kulit utuh itu terdapat sebuah lonceng cantik yang berwarna hitam dan pegangannya yang terbuat dari kayu polesan, tampaknya itu juga tidak memakai kayu biasa.
Itu adalah kayu dari ranting Pohon Suci, yang hanya ada di dunia para peri.
“Sial! Kembalikan benda itu!!” Merangkak di atas tanah, dengan mulutnya yang bersimpah darah, Baren mengulurkan tangannya mencoba untuk meraih Yulius.
“Siapa yang peduli dengan ocehanmu. Aku tau jika benda ini yang mengendalikan para monster-monster itu, jadi apa kau benar-benar berpikir aku akan mengembalikannya? Kau terlihat sangat menyedihkan sekarang,” balas Yulius, santai.
Itu menyebabkan Baren melototinya dengan mata bulat yang memerah. Dia berteriak keras dengan kemarahan yang tidak sedap dipandang.
“Siapa yang kau panggil menyedihkan, dasar bocah tengik?!! Kau yang tidak tau apa-apa tentang penderitaanku, tidak akan pernah mengetahui diriku!!”
Dia bagaikan pecundang yang bisa mengoceh tentang hal-hal bodoh dengan rasa ketidakpuasan akan dunia yang terlalu tidak adil. Kemarahan besar atas masa lalunya yang dipenuhi oleh kekejaman yang tidak bisa dimengerti.
Tapi, Yulius tidak peduli.
Tatapannya dingin dan sinis.
“Sudah kubilang siapa yang peduli, itu bukan urusanku,” ujarnya, dengan acuh tak acuh, yang membuat Baren semakin marah.
“Aahhhhh!! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Kenapa ini bisa terjadi?! Seharusnya tidak seperti ini!! Akulah yang semestinya menginjak-injak!! Lalu, kenapa ini bisa terjadi kepadaku?!! Kenapa malah aku yang terinjak?!! Sial! Sial! Sial! Sial!”
Mengutuk takdirnya sendiri, Baren mulai berbicara sendiri dengan kecepatan suara yang mengekspresikan kegilaannya, sembari menggaruk-garuk rambut, wajah, dan matanya. Sampai-sampai membuat seluruh kepalanya berlumuran darah karena daging yang terproteli oleh suam-suam kuku.
Melihat itu, Yulius melangkah mundur dan menjauh dari pria itu.
Saat dia hanya terus menyaksikan adegan mengerikan di mana Baren terus menerus melukai dirinya sendiri sembari mengutuk seluruh dunia.
Sesaat kemudian, dengan suara yang keras, pria itu berteriak.
“SHADOW DEMON!!!”
“?!”
Mata Yulius terbuka lebar, dia tercengang.
Tapi, itu sudah terlambat.
Detik berikutnya, bayangan dari tubuh Baren bergerak dan kemudian, selagi Yulius masih tertegun dengan peristiwa tersebut.
Dia terlambat beraksi ketika sesuatu yanga di dalam bayangan itu melompat dan memotong tangan kanannya, mata Yulius menyipit dan melihat wujud asli dari seekor monster bayangan berukuran 45 cm yang merebut tangan kanannya.
“Keh!”
Yulius mendecakkan lidahnya, dia dengan kerutan tajam melihat monster berwarna hitam pekat itu mulai berjalan ke arah Baren, dan memberikan lonceng yang berada di kepalan tangan Yulius kepada pria itu.
Saat itu juga, alis mata Yulius terangkat, dia kenal dengan adegan ini.
Ini adalah sesuatu yang sama persis dengan apa yang terjadi di dalam game. Sebuah adegan di mana Baren terpojok, dan dalam usaha terakhirnya, dia—
“Khuku, ahahahahahahahaha!! Jangan berpikir ini akan berakhir sampai di sini!!” Berdiri dengan usaha terbaiknya, sembari menahan ususnya yang keluar dari luka sobekan di pinggangnya, Baren mengepal lonceng tersebut dengan kuat.
Yulius mengernyitkan keningnya, dan membuat wajah bermasalah, dia panik.
“Tunggu! Kau tidak bisa—“ Suaranya terlambat.
‘Ctar!!’
Menggunakan seluruh kekuatannya, Baren menghancurkan lonceng tersebut menjadi serpihan kaca, dengan senyuman lebar yang terlihat seperti hewan buas.
Itu membuat mata Yulius jatuh dalam kesuraman, dia tidak berhasil menghentikannya.
Pada saat yang bersamaan.
Tubuh Baren mulai mengeluarkan sebuah cairan kegelapan dari lonceng yang dia hancurkan, dan berlahan-lahan seolah menelannya, cairan hitam yang menjijikan itu mulai menyelimuti seluruh tubuhnya sampai membentuk sebuah kepompong.
“Sial…” umpat Yulius, segera bersiap siaga dengan pedangnya.
Setelah itu, sebuah tangan besar dengan cakar yang tajam merobek kepompong tersebut dari dalam, dan memotongnya hingga robek sampai ke bawah.
Apa yang keluar dari kepompong adalah...
“Aahh, ini sangat menyegarkan.”
…Sosok monster Baren yang mengerikan
Dia benar-benar lupa, jika di saat-saat terakhir Baren, sang Raja Bandit.
Di mana jika dia telah terpojok, orang itu akan berubah menjadi mahkluk penghancur yang menghancurkan segalanya.
Ini juga yang menjadi salah satu pertarungan tersulit yang membuat Yulius ingin menangis, karena dia harus mendapatkan kekalahan selama ratusan kali.
“Baiklah, ini waktunya ronde kedua,” ujar monster itu, dengan senyuman sadis yang membuat Yulius ingin segera melarikan diri.
“Ini semakin merepotkan.”