Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.17 - Kencan yang terselubung



Dia tidak tau bagaimana ini bisa terjadi.


Kepalanya penuh akan pertanyaan, tapi dia dilarang untuk mempertanyakannya kepada seseorang. Dipaksa terdiam oleh kenyataan bahwa dirinya telah membisu semenjak dia berada disituasi ini.


Kekosongan yang hampa terlukis di matanya ketika melihat langit yang cerah.


“Tuan Yulius, apa yang sedang anda pikirkan?”


Menerobos masuk melalui pendengaran Yulius, suara indah yang lembut itu memaksa kesadarannya kembali ke dalam dunia nyata.


Nadya yang dari tadi memperhatikan anak itu yang hanya terdiam, memberikan tatapan cemas dengan dadanya yang menahan nafas.


“Tidak, bukan apa-apa. Maafkan aku,” ujar Yulius, yang memejamkan matanya menunduk.


Nadya tersenyum, dan melepaskan nafas yang terkumpul di dadanya.


“Benarkah? Jika anda tidak enak badan, tolong beritahu saya Tuan Yu—“


“Hentikan itu. Bukankah kita semua sudah berjanji jika selama kencan, kita tidak boleh memakai sebutan kehormatan. Bersikaplah seperti biasa, Nadya.” Memotong suara Nadya, Yulius berkata dengan suara datarnya yang acuh tak acuh.


Alis Nadya terangkat dalam kejutan sesaat.


Pipinya memerah halus ketika jari telunjuk anak itu hampir menempel di bibirnya, memberikan isyarat singkat untuk berhenti bicara.


Nadya mengangguk, “Maafkan saya—“


“—Dan jangan pakai bahasa formal denganku. Kau sekarang adalah tunanganku. Entah kenapa ini akan terasa aneh jika kau bersikap seperti tahanan terus,” sela Yulius, membuat Nadya terdiam untuk yang kedua kalinya.


Wanita itu melemaskan pipinya, membuat ekspresi yang masam di wajahnya. Dia mungkin masih belum terbiasa untuk tuntutan perubahan sikap yang tiba-tiba.


Yulius paham itu, namun dia tetap akan memaksakan kehendaknya.


(Lagipula sekarang kita bukan hanya sekedar melakukan kencan. Ini seharusnya menjadi salah satu dari rencana pria tua itu. Meskipun aku tidak suka, karena dia bilang ini untuk melindungi kota. Aku terpaksa harus melakukannya.)


Tapi, Yulius tidak sadar, bahwa perkataannya membawa luapan kebahagiaan yang cukup untuk memenuhi hati Nadya yang masih terbilang polos.


Meskipun dia wanita yang cukup umur untuk memiliki seorang anak. Dia terbilang masih lugu dalam masalah percintaan.


Nadya menahan pipinya dengan satu tangan, memiringkan kepalanya dengan posisi yang lucu, dan tersenyum lembut layaknya angin hangat dimusim semi.


“Yulius, aku mencintaimu.”


Godaan singkat itu seketika membuat pikiran Yulius berhenti.


Namun, dia segara tersadar, menarik paksa nafasnya dan mengerut dengan perasaan takut yang meluap-luap sampai ke wajahnya.


“A-Apa?! Kenapa tiba-tiba?!”


(Apa wanita ini mencoba untuk menipuku lagi?!)


Sedikit gelisah dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba itu, Yulius memikirkannya.


Namun, Nadya menggelengkan kepalanya, “Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya merasa ingin mengatakannya saja,” balasnya.


Dia berputar seperti menari saat berjalan di depan Yulius dan menatap Yulius dengan mata zamrudnya yang terlihat berkilau dari balik topi jeraminya yang bermotif bunga.


“Kalau begitu, Yulius. Ini adalah pertama kalinya aku melakukan kencan, jadi bisakah kamu menuntunku,” lanjutnya, dengan senyuman indah yang terbias oleh cahaya matahari di tengah-tengah langit yang cerah.


Melihat itu, Yulius mendesah singkat dan menggaruk rambut belakangnya.


(Aku masih tidak tau kapan wanita ini akan mengungkapkan sikap aslinya. Tapi…)


Masih meramu kecurigaan yang mendalam kepada Nadya, Yulius tidak bisa dengan mudah mempercayai wanita yang ada di depannya hanya karena dia bersikap lembut kepadanya.


Mengingat kembali bagaimana semua orang menipu dirinya, Yulius bersumpah tidak akan lagi dengan mudah mempercayai kata-kata orang lain.


Dia akan curiga, mencurigakannya, dan terus mencari sifat aslinya.


Tapi...


“…Kencan tetaplah kencan. Mari nikmati waktu ini untuk bersenang-senang.”


“Yulius, hari ini kita akan kemana?”


“Waah!!”


“Ada apa, Yulius?”


“Kenapa kau tiba-tiba memegangku?”


“Hmm, bukankah itu biasa untuk seorang kekasih bergandengan tangan?”


“Ah? Ya... Um, yah, kau benar.”


(Sialan, itu membuatku kaget. Aku pikir dia ingin menusukku. Sungguh, aku tidak bisa lengah dengan wanita ini.)


Menghela nafas panjang, Yulius kembali berjalan.


Setelah itu, meskipun masih menaruh perasaan curiga disetiap tindakan Nadya, Yulius malakukan kencan pertama mereka dengan lancar.


Akan tetapi, di sisi lain.


Di tempat yang gelap dan kotor, dengan pakaian lusuh yang terlihat seperti seorang pengemis. Pria itu memandang kelompok Yulius dengan tatapan mata yang bejat.


Bibirnya tersenyum vulgar saat dia terkekeh dengan suara yang pelan.


“Kheke, da-dasar bodoh. Keluar secara terang-terangan seperti ini. Itu sama saja seperti memberikan kami hidangan yang mewah secara gratis.”


Pria itu mengintip dari balik gang yang tak dilihat oleh siapapun.


Dia terus mengawasi kelompok Yulius yang semakin menjauh.


Kemudian, dia tertawa aneh dan mengambil langkah mundur untuk kembali ke dalam kegelapan.


“Aku akan mengakhirinya. Perdamaian yang menyebalkan ini. Aku akan menghancurkannya. Selama perempuan sialan itu mati, orang-orang di sekitarnya pasti akan bersedih. Saat itu, aku hanya perlu memprovokasi mereka semua dengan menyebarkan rumor bahwa pembunuhnya adalah bocah itu. Dengan begitu, pemberontakan pasti akan terjadi dan aku akan dibebaskan, kheke.”


Membawa kekacauan dipundaknya, pria itu melangkah pergi, meninggalkan gang yang sempit dan gelap itu bersama dengan rencana jahatnya.


Tapi,—


“Oh, apa ini? Aku mencium bau yang busuk di sekitar sini.”


“?!”


“Pria tua itu benar-benar menyebalkan. Tidak bisakah dia menyerahkan tugas ini kepada orang lain saja, kenapa harus aku? Pergi berkencan sambil membunuh semua orang yang terlihat mencurigakan. Ini sangat merepotkan.”


“Siapa kau?!”


Suara itu membuat hatinya membeku.


Dia segera menoleh untuk melihat pemilik suara.


Tapi, saat itu juga, urgensi di tubuhnya semakin meningkat ketika kepalanya tiba-tiba dicengkram kuat oleh tangan kejam yang berniat untuk membunuhnya.


“Katakan, siapa bosmu?”


“Ghh?!”


Mata merah tua yang tajam menatapnya dengan hasrat membunuh.


Dia segera menarik lidahnya, dan membiarkan rasa takut menyelimuti seluruh tubuhnya yang dengan mudah diangkat oleh anak itu.


Setelah itu, dengan tingkat ancaman yang sama seperti menghadapi seekor hewan buas, anak itu kembali berkata.


“Aku benci dengan semua ini. Padahal kupikir aku bisa sedikit bersenang-senang dengan kencan ini. Tapi, karena kalian, aku terpaksa harus mendapatkan bagian yang paling merepotkan. Jadi, aku ingin kalian membayarnya dengan baik.”


“Ggghh?!”


“Sekarang, katakan. Dimana bos kalian?”


Menyipitkan matanya dengan tajam, anak itu memperkuat cengkramannya, membuat suara yang berderit dari kepala pria lusuh itu.


Dia mencoba untuk mengumpulkan informasi dari pria itu.


Tapi,—


“Gghh… Ma..”


“Huh? Kau bilang apa?”


“… Matilah.”


“Baiklah, cukup. Ini benar-benar merepotkan.”


‘Brakk!’


Mencekram lebih erat kepala pria itu, Yulius meremukkannya tanpa ampun.


Hancur di tangannya, dia dapat merasakan perasaan becek yang menjijikan ketika tangannya juga menghancurkan otak pria tersebut.


Darah merah mengalir di sepanjang lengannya, dan tubuh pria itu terjatuh ke atas tanah dengan bunyi bedebuk yang keras.


Tapi, masih dalam ekspresi dinginnya, Yulius mendesah panjang.


“Ini benar-benar kencan yang sangat merepotkan.”


Dalam kencan kali ini, Yulius tidak hanya disuruh untuk bersenang-senang dengan Nadya dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka adalah pasangan yang serasi.


Tapi, dia juga disuruh oleh Albert untuk mengawasi setiap perubahan yang terjadi di sekitar mereka, dan memusnahkannya jika itu dianggap berbahaya.


Sama seperti yang terjadi sekarang, mereka mengira bahwa ada kelompok yang secara khusus berniat untuk melakukan pemberontakan dengan sengaja, dan itu benar.


Hanya mendapatkan bukti itu saja sudah cukup.


Selanjutnya Yulius hanya perlu melanjutkan kencan mereka dan menyerahkan sisanya kepada Albert untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut. Meskipun dia kurang suka karena dirinya seenaknya digunakan sebagai umpan musuh.


Tapi, Yulius mau tidak mau harus pasrah ketika Albert mulai mengungkit bahwa ini semua untuk melindungi kota dari kehancuran.


“Aku benci ini. Pria tua itu benar-benar memahami ketidaksukaanku.”


Mendecakkan lidahnya dengan kesal, Yulius segera pergi dari tempat tersebut dan membuang mayat pria itu di tumpukan sampah yang ada di dekatnya.


“Baiklah, mari kita lanjutkan kencan ini.”


Keluar dari sana, Yulius mulai membersihkan darah yang terciprat di bajunya dengan sihir, dan melangkahkan kakinya menghampiri Nadya yang telah dia biarkan menunggu.


Dia berlari ke arah wanita dengan gaun berenda berwarna merah muda itu, yang sama sekali tidak menonjolkan aura kedewasaannya seperti biasa. Dia lebih seperti gadis polos yang ingin menikmati dirinya dengan hal-hal yang feminim.


Yulius tidak membencinya, dia cantik dan itu cocok.


Jadi tidak ada masalah.


Meskipun dia masih kurang yakin dengan niat Nadya yang sebenarnya untuk memakai baju yang cocok dengan seleranya seperti itu.


Yulius curiga, apakah dia menyembunyikan cambuknya di sana?


Apakah itu hanya pengalihan untuk membuatnya lengah?


Daripada musuh yang mengincar nyawa mereka, dia lebih waspada terhadap wanita itu.


“Maaf membuatmu menunggu, Nadya,” ujar Yulius, memanggil wanita itu dengan senyuman dan nada suaranya yang seperti biasa.


Itu adalah ekspresi yang benar-benar natural.


Tanpa meninggalkan jejak atau bukti apapun yang dapat membuat siapapun curiga bahwa dia baru saja membunuh seseorang.


Seperti seorang pembunuh yang melupakan pembunuhannya, Yulius terlihat santai saat dia dengan polosnya menghampiri Nadya.


“Apa semuanya sudah selesai? Apa kamu terluka, Yulius?” tanya wanita itu, dia menghela nafas lega saat melihat Yulius yang akhirnya kembali.


Namun, apresiasi kekhawatiran yang berlebihan masih tertinggal. Memasang wajah yang cemas, Nadya memeriksa dengan teliti tubuh Yulius.


“Tidak, aku baik-baik saja. Lagipula ikan teri itu bukan tandinganku.”


“Begitu… tapi, tolong jangan terlalu memaksakan dirimu.” Berkata dengan suara yang lemah, Nadya menaruh tangannya di depan dadanya, seakan menahan diri agar tidak membiarkan emosinya meluap.


(Yah, itu benar-benar kecemasan yang sia-sia. Di sini tidak ada yang bisa mencapai levelku dengan mudah. Jadi, jujur saja, tugas ini sangat membosankan—)


Yulius menghela nafas kecewa di dalam hatinya.


(—Aku menginginkan sesuatu yang lebih membuatku bersemangat.)


“Ngomong-ngomong, Yulius, apa kamu ingin mencoba itu denganku?”


“Hm?” Memalingkan pandangannya ke arah jari telunjuk Nadya, garis-garis kesuraman langsung jatuh di wajah Yulius, “I-Itu… kurasa aku..” Dia terlihat ragu-ragu.


Di depan Nadya yang menunjuk, itu mengarah ke sepasang kekasih yang tengah menikmati waktu mereka dengan meminum sebuah minuman dengan satu sedotan yang membentuk hati.


(Sial, aku lupa kalo ini adalah dunia simulasi kencan itu!)


Jadi tidak aneh jika di dunia ini memiliki banyak sekali spot atau event romantis untuk melakukan kencan. Meskipun seharusnya itu terkesan sedikit tidak wajar melihat dunia ini yang memiliki latar dunia fantasi abad pertengahan.


“Apa kamu mau melakukannya denganku?”


“—Hk?!”


Melihat senyuman indah yang tak gentar dari bibir Nadya, serta wajah cerahnya yang polos itu, Yulius secara refleks menarik nafasnya tersentak.


Tubuhnya menegang saat jantungnya berdetak cepat.


Dia tidak tau harus melakukan apa.


Jujur saja, ini terlalu memalukan untuk bisa dia lakukan, dan jelas itu akan membuatnya menerima beberapa serangan mental.


Tapi, jika dia menolak— itu mustahil. Melihat bagaimana Nadya terus menatapnya, Yulius sama sekali tidak diberikan celah untuk melarikan diri.


Keringat dingin bercucuran, Yulius merinding ketika dia melihat tatapan Nadya yang seakan membungkamnya untuk tidak mengatakan apapun.


Dia hanya bisa pasrah dan mengangguk pada ajakannya.


“Aku… Aku mengerti…” terima Yulius dengan enggan.


Nadya terlihat bahagia, dan dia merangkul lebih dekat ke lengan Yulius, membuat anak itu merasa sedikit tidak nyaman saat dia diseret pergi secara paksa.


Yulius hanya bisa menggigit bibirnya dan menahan semua rasa malu itu sendiri.


Selama kencan, jiwanya sedikit demi sedikit terkikis ketika Nadya terus menyeretnya ke tempat-tempat yang khusus untuk sepasang kekasih, dan terus menyuruhnya untuk melakukan permainan aneh yang memalukan.


(Seperti yang kuduga, wanita ini adalah musuhku.)


“Yulius, lihatlah! Mereka tampaknya memiliki coklat batang juga… umm, dan sepertinya kita bisa memainkan permainan yang mereka sebut pocky game? Ayo kita coba.”


(Kumohon, sudah cukup… Ampuni aku…)