
—Otoritas dari [Keahlian: Raja Kecil].
Itu adalah kekuatan di mana Yulius dapat menghubungkan perasaannya dengan para pasukannya satu sama lain, dan dia juga dapat meningkatkan kekuatan mereka menjadi berkali-kali lipat.
Tapi, kekuatan ini juga memiliki kelemahan.
Yaitu, sang raja harus menanggung semua penderitaan rakyatnya, sebagai bayaran atas kekuatan yang mereka dapatkan, dan sang raja juga dapat menggantikan rasa sakit pasukannya saat mereka terluka.
Ini adalah kekuatan yang luar biasa, tapi bayaran yang harus ditanggung juga tidak main-main. Jadi, jika ditanya apakah Yulius menyukainya atau tidak.
Dia tanpa ragu akan menjawab “Tidak”.
Namun, karena dia telah mendapatkannya.
Tidak ada pilihan selain menggunakannya.
Karena itu memang tanggung jawabnya sebagai seorang penguasa.
“Semuanya! Kembali susun formasi kalian!! Dan jangan biarkan monster-monster masuk lebih dalam!! Siapkan tombak dan pedang kalian!!” Teriak seorang prajurit, saat dia berlari mengitari seluruh pasukan yang tersungkur lemah dan menyemangati mereka kembali.
Mendengar teriakannya, seluruh pasukan perlahan bangkit. Meskipun mereka tidak memiliki komandan untuk memberi mereka perintah, itu tidak akan menjadi alasan untuk menyerah pada perjuangan.
“Apa kalian masih menyebut diri kalian sebagai pasukan Tuan Yulius jika kalian bahkan tidak bisa mengatasi masalah ini sendiri?!! Perlihatkan kepada monster-monster bodoh itu bagaimana caranya pasukan Tuan Yulius bertarung!!”
“Oooooouuuuuuhhhhhh!! Hidup Tuan Yulius!!”
“Lindungi kota dari para monster!!”
“Jangan biarkan satupun dari mereka bernafas!!”
Satu per satu, semangat perang kembali menyala di mata semua prajurit, dan mereka meraung dengan suara yang menggetarkan tanah saat secara serentak mulai menyerang seluruh monster yang mengamuk di dalam kota.
Dorongan dari momentum yang mereka berikan benar-benar di luar dugaan. Ini seakan kekuatan seluruh pasukan benar-benar bersatu menjadi satu kesatuan.
Semangat mereka seolah-olah terhubung satu sama lain, dan terus membakar jiwa mereka untuk terus berjuang dan berjuang.
Kekuatan yang mereka miliki juga bertambah berkali-kali lipat, sehingga itu membuat ledakan yang cukup kuat untuk membunuh para monster yang saat ini sedang mengamuk.
Para pasukan terus bertahan melawan para monster yang masih berada di luar tembok kota, dan tidak membiarkan mereka melangkah lebih jauh.
“Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi. Entah kenapa aku merasa bisa melakukan apapun saat ini!” ujar salah satu prajurit saat dia membunuh monster dengan sangat mudah.
“Kau juga merasakannya? Kekuatanku bertambah semakin kuat! Aku tidak percaya jika ini adalah kekuatanku sendiri!” sahut prajurit lainnya.
Tidak hanya mereka berdua, tapi seluruh pasukan juga merasakan perasaan yang sama. Di mana, kekuatan mereka menjadi lebih besar daripada sebelumnya.
Mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi, satu hal yang mereka yakini.
Bahwa mereka dapat memenangkan pertarungan ini.
Begitulah cara para prajurit bangkit kembali, dan membakar semangat mereka dengan api yang menyala-nyala. Mereka bertarung tanpa kenal lelah dan rasa takut akan kematian.
Karena mereka benar-benar yakin bahwa tidak ada yang bisa menghentikan mereka lagi saat ini. Sehingga itu membuat moral mereka menjadi semakin tinggi dan tinggi, sampai ke tingkat di mana mereka tidak tau lagi caranya tuk kembali.
Yang ada di dalam pikiran mereka hanyalah bertarung dan terus bertarung.
Sampai akhirnya, mereka berhasil memenangkan pertarungan tersebut, dan merebut kembali kota dari serbuan para monster.
“Ini kemenangan kita!!”
“Oooouuuuuuhhhhhhhhhhhh!!!!” teriak para prajurit, sembari mengangkat tinggi-tinggi senjata mereka ke atas langit, seakan-akan sedang memproklamirkan kemenangan mereka kepada seluruh dunia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, tubuh Yulius yang berada di dalam sebuah kepompong transparan, terlihat lebih sehat daripada sebelumnya. Dia telah berhenti meronta-ronta, dan darahnya juga mulai berhenti mengalir.
Dia sekarang tampak tertidur dengan wajah yang nyaman.
Melihat itu, Nadya dalam wujud naganya menghela nafas lega. Kemudian pandangannya teralihkan ke sebuah gemuruh suara yang berada di tempat lain.
Itu adalah raungan keras dari semangat perang para prajurit.
“Tampaknya kita sudah menang.”
Nia yang berada di dekatnya juga melihat kondisi Yulius, dia membuat wajah murung yang menunjukan rasa bersalahnya kepada Yulius. Tapi, dia juga merasa sedikit lega melihat anak itu yang terlihat lebih baik.
Nadya diam-diam memperhatikannya, tapi tidak mengatakan apapun.
Karena dia tau bahwa suaranya saat ini tidak akan sampai ke hati anak itu. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka di hatinya adalah menunggu Yulius bangun dan secara langsung membuatnya memaafkan Nia.
Itulah kenapa Nadya harus menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
Melihat wanita yang telah dia anggap sebagai adiknya sendiri terlihat sangat menderita oleh penyesalannya. Nadya sangat ingin membantunya, tapi yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menunggu sampai Yulius bangun.
Karena itu dia harus menahan dirinya.
(Aku harap semuanya baik-baik saja.)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, seorang gadis kecil dengan rambut peraknya yang berkilau indah, dan mata violetnya yang bersinar terang— Emi mengawasi seluruh kota dengan senyuman polos di bibirnya.
Melihat para monster-monster itu yang sudah terbantai habis dari atas loteng sebuah rumah milik penduduk, dia mengangguk.
“Emi melakukan tugasnya dengan baik!” ujarnya, memuji dirinya sendiri. “Aku harap guru juga memuji Emi karena telah bekerja keras,” lanjutnya.
Setelah itu, seolah-olah menyatu dengan angin, dia menghilang begitu saja saat angin yang cukup kencang menerpa di tempat tersebut.
Malam yang panjang telah berakhir, dan mereka hanya menyisakan kehancuran yang mengerikan dari seluruh penjuru kota Renwell, yang telah terbakar oleh api yang menyala-nyala.
Itu bagaikan hadiah yang diberikan oleh dewa kepada mereka yang telah berhasil memenangkan pertempuran, dan juga sebagai tanda bahwa pertempuran telah berakhir.
Meskipun itu menghancurkan setengah dari seluruh kota, tapi setidaknya tidak banyak korban jiwa yang berjatuhan saat perang berlangsung.
Dan salah satu korban itu adalah ajudan kebanggan Yulius, yaitu…
—Robert Abstain.
Sekalipun bukan luka yang parah, kematian sosok pria tua itu akan menjadi luka yang paling membekas di dalam pertempuran kali ini.
Dia adalah seorang pahlawan yang sebenarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari telah berlalu semenjak kehancuran kota.
Saat ini, para penduduk yang sebelumnya masih mengungsi di dalam kediaman mansion keluarga Viscount, sekarang mulai membantu untuk melakukan kontruksi ulang pada kota yang telah hancur.
Semuanya bersedih saat mereka melihat kota yang hancur, tetapi mereka tidak punya waktu untuk terus meratapinya. Mereka harus menjadikan ini sebagai pelajaran, dan bersumpah tidak akan pernah membiarkan hal ini terulang kembali.
Itulah kenapa para penduduk terlihat cukup bersemangat untuk membangun ulang kota mereka kembali. Wajah yang sebelumnya terlihat putus asa, sekarang telah berubah menjadi lebih ceria dan sehat.
Jadi, mereka seharusnya baik-baik saja jika dibiarkan seperti itu.
“Tuan Yulius, apa anda benar-benar berniat untuk pulang?”
Seorang wanita cantik berambut krem yang dipotong sebahu mengatakan itu dengan suara yang lirih. Dia adalah Nia, yang saat ini telah ditugaskan untuk menjadi asisten pengganti untuk Albert.
Bukannya memakai jirah ksatrianya yang seperti biasa, wanita itu saat ini memakai sebuah setelan jas keren laki-laki yang berwarna hitam. Penampilannya sekarang terlihat seperti seorang sekretaris dari perusahaan besar.
Itu cukup menggambarkan bahwa dia bisa diadalkan.
“Yah, aku akan pergi,” jawab Yulius, santai.
Lagipula, setelah ini banyak hal yang harus dia lakukan. Meskipun dia masih sedikit khawatir untuk meninggalkan kota ini begitu saja.
Tapi, selama ada Albert, dia yakin itu akan baik-baik saja.
“Aku akan meninggalkan iblis itu sementara di sini. Jadi kau tidak perlu khawatir.”
“Saya mengerti.” Tidak memiliki alasan lagi, Nia mengangguk paham. “Tolong jaga diri anda baik-baik, dan… untuk Nona Nadya. Saya menyerahkannya kepada anda.”
“Yah,” balas Yulius, singkat.
Setelah itu, dia segera beranjak dari tempat tersebut. Namun, sebelum dia sempat untuk pergi jauh, Nia tiba-tiba memanggilnya.
“Tuan Yulius!”
“Ya?” Yulius menghentikan langkahnya dan berbalik melihat wanita itu.
“Tentang ‘masalah itu’, saya benar-benar meminta maaf sebesar-besarnya!” Menunduk sedalam-dalamnya, Nia mengutarakan permintaan maafnya dengan tulus.
“Masalah itu?” Yulius memiringkan kepalanya dengan bingung, dia tidak tau apa yang sedang wanita itu bicarakan.
Tapi, kemudian, seakan menyadarinya, alis mata Yulius terangkat, dan dia berkata “Aahh, maksudmu yang itu.” Yang hampir terdengar seperti helaan nafas.
Dia tersenyum saat melanjutkannya.
“Jangan khawatir, aku tau kau takut jika Baren akan melakukan sesuatu yang aneh lagi. Tapi, meskipun dia berhasil melarikan diri dengan menggunakan kekacauan itu, aku yakin dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk saat ini.”
Mungkin dia berpikir Nia merasa bersalah karena dirinya tidak dapat mengawasi Baren dengan benar saat kekacauan itu terjadi, sehingga membuat pria itu berhasil melarikan diri.
“Aku yakin dia menggunakan mahkluk hitam kecil yang dia sebut ‘Shadow Demon’ itu. Di sini aku akan melakukan pencarianku sendiri, jadi jika aku menemukannya. Aku juga akan menghubungimu, karena aku yakin kau ingin membunuh dia dengan tanganmu sendiri,” ujar Yulius menjelaskannya.
Namun, Nia segera menggelengkan kepalanya menolak proposal tersebut.
“Tidak! Saya yakin Tuan Yulius juga sangat marah dengannya! Karena bagaimana, dialah yang membunuh Tuan Robert. Jadi, jika anda bertemu dengannya, tolong jangan pikirkan saya, dan bunuh dia sesuka anda,” balas Nia.
“Begitukah?”
“Yah, tolong lakukan itu.”
“Aku mengerti. Kalau begitu, sampai jumpa, Nia.”
“Yah, sampai jumpa, Tuan Yulius.”
Yulius berjalan menjauh, meninggalkan Nia sendirian di sana.
Anak itu berjalan dengan langkah kaki yang cepat, sehingga membuat para pelayan yang melihatnya segera menghindar dari jalan dan membiarkan anak itu lewat begitu saja.
Saat punggung kecil anak itu sudah tidak terlihat, Nia tersenyum lembut.
“Tuan Yulius, semoga anda baik-baik saja.”
Setelah itu, dia juga pergi dari tempat tersebut, dan menuju ke arah kantor tempat Albert. Di sana dia bekerja sebagai seorang asisten yang membantunya.
Semenjak perang itu telah selesai, Nia membuang nama ksatrianya, dan saat ini mengfokuskan dirinya untuk belajar di bidang manajemen.
“Karena Nona Nadya dan Tuan Yulius tidak ada. Aku harus berjuang keras menggantikan pekerjaan mereka,” ujar Nia, saat dia mengepalkan tangannya dengan pose semangat, dan kemudian membuka pintu tempat Albert bekerja.
Di sana, tanpa ampun dia dilatih mati-matian oleh Albert, sampai dirinya menjadi orang yang bisa diadalkan, dan dapat mengelola seluruh kota Renwell ini secara mandiri.
Itulah sekarang yang menjadi impian Nia saat ini.
Meskipun latihan Albert cukup berat, dia menikmati hidupnya dengan bahagia.
Sedangkan di sisi lain, saat Yulius melihat Nia yang dengan gembira berjalan pergi ke tempat Albert bekerja, memandangnya dengan tatapan yang gelap.
“Seperti yang kuduga, kakak adik sama aja.”