
Bagaimana ini bisa terjadi?
Menatap dengan tatapan yang hampa, aku mempertanyakan situasiku saat ini.
“Baiklah, apa kalian berdua sudah siap?” Mengangkat tangannya tinggi-tinggi, Viola memberikan aba-aba untuk memulai pertarungan di antara aku dan Carmilla.
Serius, bagaimana ini bisa terjadi?
Bukankah ini akan menjadi pertarungan di antara sang protagonis dan boss terakhir, kenapa ini bisa terjadi bahkan sebelum gamenya sendiri dimulai?
Masih banyak waktu sebelum Akademi melakukan pembukaan, dan gamenya telah mencapai puncak dari skenarionya. Aku benar-benar tidak habis pikir. Bahkan menjadi game ampas juga ada batasnya, kan?
Tapi…
“Ini lebih baik daripada harus bertarung melawannya,” gumamku dengan suara yang pelan, saat tatapanku melirik ke arah wanita resepsionis dengan rambut hitam.
Aku memang ingin menghindari pertarunganku dengan protagonis, tapi aku juga tidak ingin bertarung dengan Viola jika bisa.
Yah, apapun itu, aku tidak punya pilihan lain.
Ini juga demi mendapatkan lisensiku untuk menjadi seorang petualang, jadi kurasa aku akan kalah setelah menunjukkan perlawanan yang cukup sengit.
“Haahhh… dadu sudah lempar. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.”
Mencoba menyerah pada situasi, aku menghela nafas lesu, dan mengambil posisi siap bertarung dengan dua belati hitam di kedua tanganku. Aku menganti gaya bertarungku juga ketika berada pada penyamaran ini.
Meskipun aku sedikit kurang terbiasa pada pegangan di belatiku dan beratnya, aku hanya bisa berusaha keras.
Untungnya, aku telah menggunakan sembilan poin keahlian untuk meningkatkan keahlian belatiku ke level maksimal.
Jadi, kurasa aku hanya membutuhkan waktu untuk terbiasa.
Selagi aku memikirkan hal tersebut sembari menatap lemas melalui topengku ke arah Carmilla. Saat itu juga, tangan Viola terjatuh, dan pertarungan di antara aku dengan Carmilla akhirnya dimulai.
“Pertarungan dimulai!” teriak Viola.
Detik berikutnya, dengan kekuatan kami masing-masing, aku menyerang untuk yang pertama kalinya dengan akselerasiku yang secepat kilat. Aku menjulurkan belatiku ke arahnya dengan serangan sentrifugal.
Tapi, dengan kecepatan yang melampauiku, dan insting yang kuat. Carmilla dengan muda menghindari seranganku dan dia juga sadar dengan serangan tipuanku, sehingga dia mengambil beberapa langkah dariku ke belakang.
Dan jarak kami merenggang menjadi sedikit jauh.
“Seperti yang kuduga, Tuan Arc benar-benar sangat kuat. Anda membuatku sampai merinding,” ucap Carmilla dengan senyuman yang seakan menikmati pertarungan ini.
“….”
Tapi, aku tidak mengatakan apapun.
Mataku hanya menyipit semakin tajam, dan aku sekali lagi mengambil posisi bertarung, tapi kali ini aku hanya terdiam.
“Gaya itu… Apa anda menyuruhku untuk menyerang duluan?”
“….”
“Kalau begitu, tanpa ragu saya akan menyerang anda.” Mengatakan hal itu dengan sedikit gembira karena berbagai alasan, Carmilla menghentakkan kakinya dan menyerang lurus ke arahku.
Itu benar-benar teknik berpedang yang sangat jujur.
Karena itulah, hal tersebut akan menjadi kelemahan yang sangat fatal.
[Earth Surge]
“Huh?” Mata Carmilla terbuka lebar.
Merasakan guncangan yang kuat dari tanah di pijakannya, dia terlihat keherenan sekaligus panik. Tubuhnya berhenti menatap keanehan tersebut.
“Apa ini? Apa anda menggunakan sihir?”
Aku merampalkan mantraku dengan sihir non verbal, di mana aku bisa menggunakan sihir tanpa perlu rampalan, jadi wajar saja jika dia tidak menyadari jika aku menggunakan sihir.
Nah, sekarang kau memiliki banyak celah.
‘Tuk! Swush!’
Tidak melewatkan kesempatan, aku segera melompat ke arah Carmilla dan menggunakan kesempatan di mana dia masih bingung dengan sihir non verbalku untuk menjatuhkannya.
Tubuhku melesat tajam dan sekali lagi aku menerjang ke arahnya dengan menjulurkan belati ke arahnya.
“?!”
Melihat itu, Carmilla segera mencoba untuk menangkisnya.
Namun, aku telah menduga hal tersebut, dan menggunakan serangan cepat lainnya dengan menjadikan serangan pertama sebagai pengecoh.
Belatiku terayun dengan tajam, bentrok dengan pedang ringannya sesekali, tapi aku tidak memperdulikan hal tersebut, dan terus menyerangnya dengan tusukan, tebasan, dan serangan kejam lainnya.
Aku menyerang semakin cepat dan cepat, dan terus memojokkannya.
“Keh?!”
Berkat itu, aku berhasil menghancurkan tumpuan kuda-kudanya, dan hanya tinggal beberapa serangan lagi sampai aku benar-benar menjatuhkannya.
‘Sting!’
Mengayunkan belatiku dengan sekuat tenaga, tiba-tiba ledakan cahaya terjadi dan itu membuatku secara refleks menggunakan kedua tanganku untuk menutupi wajahku.
“Hk?!” Aku mengerut tajam begitu melihat perubahan yang mendadak terjadi di tubuh Carmilla begitu belatiku dibuat terhempas saat mengenai tubuhnya.
Senjataku telah menghilang satu, sedangkan pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Aku benar-benar sial.
“Ha ha, kau bercanda, kan?” Bibirku dengan getir tertawa ketika melihat ke arah kedua tanganku yang gemetar tanpa sebab—tidak, aku tau penyebabnya.
Aku mengangkat mataku, dan di sana terdapat Carmilla dengan tubuhnya yang diselimuti oleh cahaya tipis, sedangkan mata dan rambutnya berubah menjadi putih bersih.
Tapi, yang membuatnya lebih menakutkan adalah ekspresinya yang kosong seakan memandang dunia yang jauh dari dunianya saat ini.
Kekuatannya juga semakin meningkat berkali-kali lipat sepanjang waktu tanpa mengenal batas, dan itu membuatku semakin merinding. Ini hampir mirip dengan kekuatan >Otoritas Keserakahan< milikku, yang dapat meningkatkan kekuatanku secara terus menerus selama aku terus membunuh.
Meskipun milik Carmilla jauh lebih sempurna dibandingkan dengan milikku, yang masih terbilang cacat, karena jika aku terlalu banyak membunuh, itu juga bisa menelan kendaliku pada tubuhku sendiri dan aku hanya akan menjadi mesin pembunuh tanpa henti, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Itulah kenapa dia pantas untuk di sebut sebagai sang protagonis.
Ini adalah kekuatan asli dari perwujudannya sebagai seorang Saint sejati.
Dan juga, itu adalah musuh alamiku.
Aku memandangnya dengan tatapan yang tajam, sambil terus berwaspada pada pergerakannya yang selanjutnya.
Saat itu juga,—
‘Bum!’
“Apa?!”
Carmilla menerjangku dengan kecepatan yang sulit untuk dipercaya bahwa itu adalah gadis yang serupa seperti sebelumnya. Dia melesat pada kecepatan di mana aku bahkan hampir kesulitan untuk menghindarinya.
Namun, jika dibandingkan dengan pelatihanku saat bersama Nadya.
Ini masih belum apa-apa.
Aku menangkis serangan tajam dari pedang ringannya menggunakan belatiku, dan aku segera mengambil jarak darinya. Ketika itu, aku mengeluarkan belati lainnya untuk mengganti belatiku yang terhempas jauh dari inventaris.
Meskipun berbeda jenis, kekuatan mereka hampir sama.
“Baiklah, mari kita mulai pertarungan ini lagi.”
Mengambil posisi siap, aku menyipitkan mataku dengan tajam kepada mahkluk buas putih yang tanpa ragu berniat untuk menghancurkanku dari dunia ini.
Apa itu hanya perasaanku saja, atau kekuatanku benar-benar melemah?
Udara dingin menusuk tulang belakangku ketika Carmilla mengayunkan pedang ringannya dengan cepat ke arahku, dan aku dengan mati-matian berusaha untuk menangkis semua serangannya.
Ini juga membuatku merasakan perasaan yang aneh.
Entah kenapa tubuhku terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Begitu aku mengecek isi statusku, di sana mataku terbuka lebar.
Aku benar-benar dibuat terkejut.
“Sial, apa-apaan status buruk ini?!”
Di samping semua status kekuatanku, aku bisa melihat mereka semua menurun setiap kali aku terkena serangan dari Carmilla.
Ini membuatku berpikir keras untuk mencerna apa yang terjadi.
Pada saat itu, akhirnya aku mengingat tentang kejadian ketika boss terakhir tiba-tiba saja menjadi lebih lemah begitu Carmilla berhasil membangkitkan kekuatannya yang sesungguhnya.
“Jangan-jangan?!”
Dengan perasaan buruk yang berputar-putar di hatiku, aku mengecek isi dari status buruk yang kudapatkan. Tertera di sana dengan jelas.
[Peringatan!! Anda terkena status buruk penurunan status akibat terkena serangan tidak langsung ataupun langsung dari kekuatan Sihir Suci!!]
Melihatnya, wajahku meringis.
Seperti yang kuduga, karena aku boss terakhir dan dia protagonis. Itu artinya, dia adalah satu-satu eksistensi yang dapat menghancurkanku, yang merupakan asal-asul dari kebangkitan Raja Iblis itu sendiri.
Carmilla diberkahi oleh title seorang Pahlawan dan Saint secara sekaligus. Itu artinya, title miliknya beresonasi dengan title Calon Raja Iblis milikku, sehingga itu membuatku secara alami menerima penalti karena telah bertarung dengan musuh yang memang ditakdirkan untuk membunuhku.
Ini lebih buruk daripada yang kupikirkan.
Sekalipun aku sudah ini akan terjadi, aku benar-benar tidak bisa mencernanya dengan akal sehatku sendiri.
Jika seperti ini terus, tidak perlu diragukan lagi, aku akan kalah.
“Apa boleh buat, mari kita sedikit serius.”