
[Gluttony]
Mengulurkan tangan kanannya, sebuah kegelapan berwujud kabut hitam meleburkan tangan kanan Yulius dan memanjang dengan bentuk kepala naga yang menerjang Baren secara mendadak.
Baren mengambil reflek secepat mungkin, dia melompat untuk menghindarinya.
`
“Kggh!!”
Tapi, sayangnya, kedua kakinya tidak sempat untuk menghindar, dan hilang termakan oleh gigi taring dari mulut naga hitam tersebut.
“Kau sangat lemah.”
Yulius menarik kabut hitam berwujud naga dari tangan kanannya dan mengubahnya kembali menjadi bentuk tangannya yang normal.
Saat itu juga, dia dapat merasakan kekuatan sihirnya yang perlahan-lahan mulai meningkat. Semua itu berkat bagian dari tubuh Baren yang dia makan. Ini adalah kekuatan asli dari [Keahlian: Kerakusan].
Di mana, dia dapat melahap segala sesuatu yang memiliki kekuatan sihir, dan kemudian mengubah kekuatan sihir mereka menjadi miliknya.
Kekuatan ini juga cocok untuk dijadikan sebagai kartu as, karena dengan ini dia bisa melahap segalanya tanpa kenal ampun.
Jadi, dengan ini dia bahkan juga bisa melahap tubuh dari seekor naga yang memiliki pertahanan tinggi terhadap serangan fisik dan sihir.
“Aku peringatkan kau. Cepatlah menyerah, atau kau akan mati…”
Yulius memandang kembali Baren, yang saat ini tersungkur lemah di tanah dengan kedua kakinya yang telah menghilang. Baren bisa saja mendapatkannya kembali, tapi setelah kehilangan kekuatan sihirnya setengah, itu pasti akan sedikit sulit. Dia tidak bisa dengan gegabah menggunakan kekuatannya.
“Bocah sialan! Apa kau pikir kau bisa selamat setelah melakukan ini kepadaku?!” Kebencian yang kuat diutarakan dengan suara yang keras, Baren menjerit.
Mendengar itu, Yulius menghela nafasnya, tampak tenang.
“Sudah kubilang menyerah saja, kau sudah kalah,” ujarnya dengan tatapan menyempit yang seakan meremehkan Baren.
“Cih! Boca—“
[Wind Slash]
“Gaaaarrgggggggggghhhhhhh!!!”
Tidak membiarkannya berkata-kata, Yulius merampalkan sihirnya dengan suara yang dingin. Dia menggunakan sihir angin dan menebas tangan kiri Baren tanpa belas kasihan sedikitpun.
Lagipula,—
“Tampaknya kau benar-benar lupa. Bukankah sudah kubilang, waktu bermain-mainnya sudah habis. Aku akan membunuhmu di sini, pertarungan kita sudah berakhir, apa kau mengerti itu? Aku masih memiliki banyak urusan dengan para monster-monster itu, jadi aku tidak punya waktu untuk mengurusmu.”
“—Hk?!”
Hati Baren tersentak, dengan wajah yang pucat, dia tampak kesakitan.
Itu adalah perasaan ketidakberdayaan. Posisi mereka sekarang telah berputar balik layaknya roda, sekarang Baren adalah yang terinjak-injak.
Tapi, yang membuat dia lebih takut lagi bukan itu. Melainkan tekanan yang kuat dari tatapan tajam Yulius yang memikat hati lemahnya, sampai-sampai itu hampir meledak jika dia tidak menahannya.
Denyutan yang menyakitkan terus berdetak di dadanya. Itu juga membuat nafas yang mengatur paru-parunya tersedak oleh rasa takut.
Baren berkeringat dingin ketika dia melihat Yulius.
Detak jantung berdetak kencang seperti akan pecah.
“A-Apa… Darimana kau mendapatkan kekuatan sihir itu?!” teriak Baren dengan wajah yang suram, tubuhnya terus gemetar diselimuti oleh rasa takut.
Melihat itu, Yulius memandangnya seakan melihat sampah.
Kemudian,—
“Haahhh…” Menghela nafasnya dengan lesu, dia menjawab, dengan suara yang tidak tertarik.“… Yah, anggap saja ini adalah hadiah dari cinta pertamamu.”
“Huh?”
Mata Baren membulat tak percaya.
Baginya, itu pasti akan terdengar sangat konyol. Tapi, mengingat kembali apa yang dia lakukan, matanya menoleh ke arah tubuh Nadya, yang hanya sebuah cangkang kosong tanpa isinya, karena dia telah memindahkannya ke tempat lain.
Menganalisa perkataan Yulius tadi, dia akhirnya mengerti.
Wajahnya mengerut dengan ekspresi yang tak percaya.
“Mungkinkah…”
“Aku pikir aku tak perlu menjelaskannya lagi.”
Dia sekarang ingat, bahwa dirinya telah menghancurkan lonceng yang seharusnya menjadi pengendali untuk para monster. Jadi, itu akan membuat seluruh monster telah lepas dalam kendalinya dan kembali ke sosok monster mereka yang buas.
Namun, ada satu keberadaan yang sedikit berbeda.
Itu adalah Sang Naga Merah, Netherlium Rose.
Jika saja, mahkluk dengan kekuatan mitos itu membiarkan Yulius untuk memakannya seperti yang dia lakukan sebelumnya. Maka, kemungkinan besar saat ini Yulius telah mendapatkan kembali kekuatan penuhnya.
Sekarang, wajah Baren benar-benar sangat pucat. Itu tidak lagi melukiskan kesombongan yang pernah dia tunjukkan sebelumnya.
Itu wajar saja, lagipula dia tidak lagi memiliki kesempatan menang melawan Yulius, yang telah kembali kepada kondisinya yang optimal. Berbeda dengan dia sebelumnya yang lemah karena harus bertarung dalam kondisi dimana dia hanya memiliki tetesan terakhir dari kekuatannya.
Tapi, dengan kekuatan penuh Yulius yang sekarang, transformasi Baren ke monster sama sekali bukan tandingannya. Dia bisa saja membunuh pria itu kapan pun yang dia mau.
Tapi,—
“Sayangnya, aku tidak akan membunuhmu. Berterima kasihlah.”
“Huh?” Sekali lagi Baren terkejut. “Apa maksudmu?”
“Yah…” Mengambil nafasnya, sebelum menjawab, pandangan Yulius menoleh ke arah tempat lain. Baren yang memperhatikannya juga menoleh ke arah yang sama.
Di sana, terdapat tubuh seorang pria tua tanpa kepala yang saat ini ditangisi oleh seorang gadis ksatria berambut krem sebahu, dengan jirah peraknya yang telah rusak.
Melihat itu, Yulius mengigit gigi belakangnya, dia tampak frustasi.
(Sepertinya, mau seberapa kuat diriku. Aku tetap tidak akan bisa menjadi seorang pahlawan, huh? Ini benar-benar menggelikan.)
“Aku akan membuatmu membayar semuanya,” ujar Yulius, dengan hasrat membunuh yang membuat atmosfer di sekitarnya meluap.
Baren yang berada di dekatnya, dapat dengan jelas merasakan hal itu merayap dan mengukir tanda-tanda kematian di jiwanya.
Kemudian, Yulius kembali beralih ke arah Baren, tatapannya masih tajam.
“Lupakan lah.” Tapi, menutup matanya, Yulius memutuskan untuk mengalihkan pikirannya ke tempat lain dan dia mulai menatap ke sekelilingnya.
Dia mendesah kecewa, hampir tampak seperti mengeluh.
“Ini benar-benar hancur.”
“Khuku…”
“Hm?” Mendengar suara tawa jahat dari sebelahnya, Yulius menoleh dan melihat pemilik suara— Baren, mulai tertawa dengan gigi yang terlihat.
“Ahahahahahahahahaha! Itu benar! Kota ini telah hancur dan saat ini para monster juga sedang mengobrak-abrik seluruh kota sampai tak tersisa! Kau mungkin kuat, tapi kau tidak akan sempat menyelamatkan seluruh kota jika kau membunuh para monster itu satu per satu! Apa lagi yang bisa kau lakukan?! Para monster telah berpencar mengikuti insting mereka, dan kau juga tidak akan bisa menggunkaan sihir skala besar di dalam kota!! Ini adalah kemenanganku!!”
Tidak peduli dengan darah yang termuntahkan dari mulutnya, Baren mengejek Yulius, dengan usaha kerasnya yang menahan jeritan rasa sakit di tubuhnya
Tapi, ekspresi Yulius sama sekali tidak berubah, dia tenang.
“Kau benar, ini benar-benar merepotkan untuk membunuh mereka satu per satu. Tapi, tampaknya kau telah salah paham.”
“Huh?”
“Sejak kapan aku pernah mengatakan bahwa aku yang akan membereskan mereka semua. Jika kau kalah jumlah dengan musuhmu, maka kau hanya perlu menambahkan jumlah rekanmu yang melebihi mereka, itu saja...”
Yulius tersenyum santai, sembari mengangkat bahunya.
Itu membuat Baren terheran-heran, dia seakan meragukan kegilaan anak itu yang mengocehkan sesuatu tentang menutupi jumlah dengan jumlah.
Namun, kemudian, anak itu kembali berkata.
“… Ini adalah jawaban yang simpel. Bukankah begitu… Emi?”
Melewati garis pandangnya dengan kilatan putih, tiba-tiba seorang gadis elf dengan rambut peraknya yang bergemilang penuh kilauan, berdiri di depan Yulius, dan tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.
“Apa ini akhirnya Emi bisa beraksi?!”
Dia mendorong tubuhnya ke arah Yulius, dan memelas dengan raut wajah yang menggemaskan. Yulius mendesah singkat, dan menepuk-nepuk kepala gadis itu.
“Tentu saja, lakukan sesukamu.”
Melihatnya, itu membuat Baren mengerutkan ekspresinya. Tapi, masih dengan kesombongannya, Baren mengejek Yulius kembali.
“Oi oi, apa kau yakin hanya dengan kalian berdua, kalian bisa melakukan sesuatu terhadap situasi ini!! Sebentar lagi, aku yakin para monster sudah mencapai mansion, dan membunuh semua penduduk yang mengungsi di dalam sana!!”
“…..”
“Khuku, ini adalah akhirnya.”
Baren tersenyum lebar, dia tersenyum puas penuh kemenangan.
Tapi, respon Yulius benar-benar membosankan.
Dia hanya menghela nafasnya dengan kecawa, dan menyipitkan matanya tajam ke arah Baren, sembari berjalan mendekati pria itu.
“Apa kau memiliki telinga yang sangat buruk atau gimana? Ingat kataku… bukan aku yang akan mengalahkan mereka semua. Tapi…”
Tersenyum tipis, Yulius menatap ke sekitarnya.
Saat itu juga, sebuah pentagram yang besar terbentuk di mana-mana, bersinar dengan cahaya berwarna biru gelap, itu membuat seluruh kota di selimuti oleh cahayanya.
Mata Baren terkesiap saat melihat hal itu, dia tampak bingung.
“Apa… itu?”
“Ini mengejutkan, tampaknya kau memiliki lebih banyak dari yang kupikirkan,” gumam Yulius, menaruh tangan di dagunya saat dia melihat ratusan hingga ribuan cahaya yang muncul di seluruh kota dengan terkejut.
“Apa Emi hebat?”
“Yah, kau sangat hebat.” Memuji Emi, Yulius membelai kepala gadis itu.
“Ehehe~” Emi tertawa dengan malu-malu, pipinya memerah.
“Tu-Tunggu dulu! Apa yang terjadi?! Apa yang baru saja kau lakukan?!” Tidak tau apa-apa mengenai situasi yang berkembang, Baren panik.
Mendengar itu, Yulius mendesah pelan. Dia sudah tidak ingat sudah berapa kali dia melakukannya, jadi dia benar-benar bosan.
“Kau akan tau jika melihatnya.” Tidak menoleh sedikitpun, pandangan Yulius masih berfokus kepada seluruh kota yang diselimuti cahaya biru gelap.
Baren juga menatap ke arah yang sama.
Ketika itu juga, di tempat yang terdekat dengan salah satu cahaya biru gelap berbentuk pentagram itu. Di sana, Baren dapat melihat…
“Apa itu?”
Tapi, dia masih tidak mengerti sama sekali.
Pikirannya gagal dalam mengelola informasi yang dia dapatkan, dan membuat pikirannya hanya terbias oleh apa yang dia saksikan.
Di mana, seekor monster yang mengamuk, telah di bunuh oleh mayat-mayat yang keluar dari dalam cahaya biru pentagram tersebut. Memiliki bentuk yang beragam, ribuan mayat hidup dari manusia hingga monster itu mulai membantai habis seluruh monster yang mengamuk di seluruh kota.
Itu membuat mata Baren melebar dan terbungkam.
“…..”
Melihat seluruh monster yang ada di seluruh kota terbersihkan hanya dalam waktu singkat, dia tidak bisa lagi berkata-kata.
Hanya bisa membuat ekspresi yang konyol, dan menahan nafas.
(Yah, bukan berarti aku tidak mengerti perasaannya. Di dunia ini, sangat jarang untuk melihat seorang [Necromancer]. Mungkin yang bisa melakukannya hanya [No Life King] saja, yang juga menjadi salah satu legenda terbesar di dunia ini. Jadi cerita tentang mayat hidup hanya ada pada dongeng saja di jaman sekarang.)
“Emi, berapa banyak pasukan yang kau miliki?”
Menerima pertanyaan dari Yulius, Emi menaruh jarinya dengan bingung di samping kepalanya, dan memiringkan kepalanya dengan imut, sembari menjawab dengan suara yang ragu-ragu.
“Emi tidak tau… Itu ada banyak, karena setiap lingkaran sihir ada ratusan… itu artinya… umm, Emi sulit untuk menghitungnya.” Berpikir keras untuk menjawabnya, Emi sampai mengeluarkan asap putih dari kepalanya,
Tapi, Yulius mengangguk, dia menerima jawabannya.
Dia pikir mungkin itu akan ada sekitar 100.000. Meskipun mahkluk hidup yang diubah menjadi mayat hidup terbilang sangat lemah dan rapuh, tapi mereka memiliki jumlah yang tidak masuk akal.
“Begitu, kurasa itu sudah cukup untuk membunuh semua monster-monster itu.” Berkata dengan suara yang datar, Yulius memutuskan untuk menyerahkan masalah ini kepada Emi dan kemudian dia pergi.