
“Aah?”
Nafas panas keluar dari mulut seseorang, membuat waktu yang terhenti kembali berjalan dengan intensitas yang sangat ekstrim.
Dengan keruntuhan pikiran mereka yang tidak dapat mencerna semua informasi yang terjadi, mereka tidak sempat untuk merespon serangan buas dari para monster-monster yang dengan cepat menggunakan kesempatan ini untuk menyerang para pasukan dan menerobos masuk ke dalam kota.
Hampir dari semua prajurit yang menyaksikan kehancuran itu tidak dapat melakukan apa-apa, dan hanya mengundang ajal mereka yang kejam.
“Gaaarrrggggghhhh!!!”
“Ti-Tidak!! Aarrrggghhh!!”
“Hentikan! Menjauhlah dariku!! Aaahhhhhh!!!”
Teriakan dan jeritan menggelegar di mana-mana, membuat kekacauan semakin berkembang menjadi semakin buruk dan buruk.
Hampir semua prajurit terbunuh dengan sangat brutal oleh para monster yang mengigit, memakan, dan merobek tubuh mereka tanpa ampun.
Mereka yang tidak dapat bereaksi dengan cepat terhadap perkembangan situasi ini, terpaksa harus menerima ajal yang mengenaskan dengan menjadi makanan para monster.
Nia, yang melihat itu melebarkan matanya, tapi itu hanya sebentar. Ketika dia melihat ada prajurit yang mau termakan, dia segera menghentakkan kakinya dan menyelamatkan prajurit itu dari terkaman para monster.
Menebaskan pedang peraknya, darah merah bertebaran mengikuti lengkungan dari ayunannya, dan itu membuat darah monster itu terciprat di pipinya.
“Apa yang kau lakukan?! Cepat pergi dari sini, dan kembali ke formasi kalian seperti sebelumnya! Jika kita tidak segera menghentikan monster-monster ini, mereka akan mulai membunuh seluruh penduduk dan mungkin juga keluargamu! Jadi, cepatlah pergi! Dan lindungi kota dengan nyawamu!!” tegas Nia, sembari menahan serangan para monster dengan tarian pedang peraknya yang indah.
“Ba-Baik, bu!!”
Prajurit itu segera pergi, dan meninggalkan Nia seorang diri di sana, yang mana dia terlihat sangat depresi karena kegagalannya untuk melindungi kota dari ancaman kehancuran.
Melihat sosok prajurit itu yang berlari menjauh, Nia diam-diam mengigit bibirnya.
Penyesalan yang dalam sekarang terasa hampa dan sia-sia.
Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semua ini.
Melihat ke belakang, dahi Nia mengkerut, dan matanya berubah menjadi suram ketika dia melihat seluruh kota yang terbakar habis oleh api yang menyala-nyala.
Kegelapan memenuhi hatinya, tubuhnya gemetar tak berdaya. Nia tidak lagi sanggup untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang ksatria.
Dia telah gagal.
Kota yang seharusnya dia lindungi, telah lenyap bagaikan mimpi buruk.
Dia tidak lagi dapat mengangkat wajahnya dengan bangga, semangat perang yang dia miliki telah runtuh.
Segalanya telah berakhir.
Sekalipun dia mengangkat pedangnya di sini, dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk menghentikan amukan para monster dan juga sosok monster hitam yang menjadi dalang dari segalanya.
Mau seberapa banyak Nia berjuang, dia tidak akan bisa menyelamatkan semua orang. Dia tidak akan bisa melindungi mereka semua dengan kekuatan kecilnya yang sama sekali tidak ada gunanya.
Sekarang, dengan semuanya yang telah hancur, dia tidak lagi dibutuhkan.
“Oh, apa ini? Bukannya kau benalu bodoh yang selalu bersama wanita jala*ng itu. Kau tampaknya sangat kesulitan untuk memahami semuanya, itu lucu, khuku.”
“—Hk?!”
Nia tersentak, ketika pemilik suara itu menuturkan kata-katanya, ketegangan yang dingin menekan dada Nia dengan sangat kuat, itu membuatnya terasa sesak.
Kemudian, begitu pandangannya menoleh.
Di sana, apa yang dia lihat adalah kematian.
Sebuah kematian yang perlahan-lahan mulai menghampirinya.
Tubuh Nia tidak dapat bergerak, dia seakan terkekang oleh rantai yang menjerat seluruh tubuhnya, dan mulutnya juga terbungkam, melarangnya untuk mengatakan sesuatu.
Itu bagaikan kutukan yang mulai merambat dan merusak tubuhnya.
Nia sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa ketika kematian secara perlahan-lahan mulai mendekatinya.
Itu benar-benar konyol, meskipun sebelumnya dia mengatakan kepada prajurit itu untuk mengorbankan nyawanya. Sekarang dia sendiri malah takut kepada kematian, ini sangat lucu sampai Nia ingin menertawakan dirinya sendiri.
“Ada apa dengan wajah itu? Apanya yang lucu? Apa kau sudah menjadi gila?” tanya sosok hitam itu, dengan wajah angkuh yang tanpa ragu-ragu merendahkan Nia dan semua mahkluk yang dia lihat.
Tapi, tidak ada yang tau. Lagipula saat ini Nia sama sekali tidak bisa merasakan ‘perasaan’ dari tubuhnya, jadi dia tidak benar-benar tau seperti apa wajah yang saat ini dia perlihatkan.
Namun, siapa yang peduli.
Lagipula, ekspresi apapun yang dia buat. Pada intinya kenyataan bahwa saat ini dia sangat putus asa tidak ada yang berbeda.
“Terserah lah, karena kau menganggu pemandanganku. Bisakah kau mati saja?” Berkata dengan suara yang dingin, sosok itu mengulurkan jari telunjuknya.
Saat itu juga, sebuah cahaya hitam pekat berputar-putar di ujung jarinya, membentuk bola yang kecil dan kemudian menerjang cepat seperti tembakan senjata api yang kuat.
Itu adalah serangan yang dimaksudkan untuk membunuh Nia.
Tapi, begitu peluru hitam tersebut hampir mengenai kepala dari wanita itu dan meledakkannya. Robert datang, dan dia dengan sekuat tenaga menangkis peluru hitam itu yang memiliki kekuatan sihir besar menggunakan tombaknya.
Sebagai gantinya, tombak Robert hancur berkeping-keping.
“Keerggh!!” erang pria tua itu, yang dengan susah payah kembali bangkit.
“Oh?” Alis mata sosok hitam tersebut terangkat, dia tampak sedikit terkejut. “Aku tidak percaya kau bisa menangkisnya. Aku duga, kau pasti sangat kuat. Tapi, karena aku tidak mengenal orang sepertimu ada di sini, apa itu artinya kau adalah pendatang luar?” lanjutnya, dengan wajah yang terlihat penasaran.
Robert menyeringai berani. “Itu adalah sebuah kehormatan untuk dipanggil kuat oleh orang sekuat anda. Tampaknya anda juga mengenal baik tentang keluarga Viscount. Apa tujuan anda menghancurkan kota ini?” tanyanya balik, sembari mengerutkan wajahnya dengan tajam dan berhati-hati untuk serangan berikutnya.
Mata Robert juga secara terbuka mengirimkan kebencian dan kemarahan kepada sosok monster hitam itu.
Tapi, seakan meremehkannya.
“Heh.”
Sosok itu tertawa kecil.
Itu membuat Robert semakin berwaspada kepadanya, dan dia diam-diam juga melirik ke arah Nia yang saat ini seperti tubuh yang jiwanya telah tersedot habis.
Jika mereka tidak segera melarikan diri, kemungkinan besar mereka berdua akan mati.
Tapi, dia tidak yakin monster hitam itu akan melepaskannya begitu saja.
“Kau benar-benar badut yang lucu. Bagaimana bisa kau mengatakan kalimat berani itu dengan tubuh yang gemetar seperti itu? Apa kau menyindir dirimu sendiri atau gimana?” ujek sosok hitam itu, sembari tersenyum dengan sombong.
Robert mengigit bibirnya, dan dia tidak dapat menyangkal perkataan orang itu karena saat ini tubuhnya benar-benar gemetar ketakutan semenjak dia tanpa pikir panjang maju dan berhadapan dengan sosok tersebut.
“Baiklah, sambil menunggu kota ini hancur. Mungkin aku bisa sedikit bermain-main dengan kalian. Pertama, perkenalkan namaku Baren Oktaf.”
Mengatakan itu, sosok tersebut memperkenalkan dirinya. Hati Robert membeku ketika Baren mulai menjadikan mereka berdua sebagai sasarannya.
Secara insting dia dapat mengetahui bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Ketegangan yang ekstrim semakin meningkat dan meningkat, membuat Robert sendiri tidak tau harus melakukan apa. Dia tidak yakin apakah mereka berdua bisa bertahan hidup jika Baren menyerang mereka.
Tapi, sayangnya, permainan yang Baren maksud, adalah sesuatu yang jauh lebih kejam dan tidak manusiawi dari yang Robert bayangkan.
Monster itu mengangkat suaranya sekali lagi, dengan angkuh dan santai.
“Nia Raichel, aku memerintahkanmu untuk membunuh pria tua itu.”
“?!!”
Mata Robert terbuka lebar, dia tampak keheranan.
Untuk memastikan, dia melirik sedikit ke arah Nia. Namun gadis itu masih tetap sama, dia sama sekali tidak bergerak ataupun berkedip dari posisi aslinya, dia benar-benar terlihat seperti patung.
Baren yang melihatnya menghela nafas panjang dengan kecewa.
“Ini menyedihkan. Aku tidak percaya suatu hari aku akan melihatmu yang terlihat sangat mengecewakan seperti ini… Nia Sang Ksatria Cahaya.”
“?!”
Akhirnya, setelah mendengar perkataan Baren. Nia menunjukkan reaksinya, matanya terbuka lebar, dan dia mendapatkan kembali pandangannya pada dunia nyata.
Pikiran Nia terguncang, tubuhnya gemetar seakan tak mempercayainya. Dia menatap Baren dengan tatapan yang masih jatuh di dalam kekacauan.
“Da-Darimana… Darimana kau tau sebutan masa kecilku itu?” lirihnya, dan mengambil langkah kecil untuk secara perlahan-lahan maju ke depan.
Robert yang melihat reaksi terkejut Nia hanya bisa memiring kepalanya sembari menyaksikan kejadian itu dengan bingung.
Kemudian, Baren mengangkat bibirnya tipis, dan menatap Nia seakan melihat teman lamanya yang setelah sekian lama akhirnya mereka bertemu.
“Apa kau tidak mendengarku tadi? Namaku adalah Baren Oktaf,” ujarnya, datar, dan tersenyum lebar yang tampak sangat menakutkan.
Mendengar perkataannya, bibir Nia bergetar.
“Baren… Oktaf…”
Dia benar-benar terlihat sangat terkejut, matanya terbuka lebar.
“Yah, lama tidak bertemu, Nia. Mungkin kau tidak bisa lagi mengenaliku karena wujudku yang seperti ini. Tapi, aku adalah teman lamamu, Baren Oktaf… Aku bangkit kembali dari neraka untuk membalaskan dendamku.”
“—Hk?!”
Seringai lebar bagai iblis terlukis di wajah pria itu, membuat buluh kuduk Nia dan Robert merinding ketakutan.
“Baiklah, akan kukatakan sekali lagi. Nia, bunuhlah pria tua itu untukku. Jika tidak…”
Menghentikan kalimatnya di sana, Baren melanjutkan perkataannya ketika tiba-tiba bayangan yang ada dibawahnya bergerak, dan dari sana keluar tubuh telanjang dari seorang wanita cantik, yang memiliki rambut panjang pirang kecoklatan dan mata zamrud yang saat ini telah tertutup.
Dia adalah,—
“Nona Nadya?!” teriak Nia dan Robert secara bersamaan.
Melihat Nadya yang terbaring lemah tak berdaya dengan seluruh tubuhnya yang dipenuhi oleh bekas luka dan aliran darah yang menetes dari selangkangannya, mata Nia melotot dengan penuh kemarahan.
Dia dapat merasakan setiap pembuluh darahnya yang mendidih oleh perasaan murkanya. Dalam sekejap, tubuhnya meledak oleh kekuatan sihir yang melimpah dan membuat seluruh jiwanya panas oleh kemarahan yang membara.
“KAU?! BAJING*N!!!!”
Tapi, itu hanya membuat Baren semakin tersenyum lebar.
Dia dengan kejam menginjak kepala Nadya yang terbaring di atas tanah yang kotor dan kemudian berkata dengan suara angkuh.
“Sebenarnya aku berniat untuk menyimpannya sampai bocah itu datang, tapi terserahlah,” ujar Baren, dan dia menatap ke arah Nia kembali, “Nia, cepat bunuh pria tua itu untukku, atau aku akan membunuh tuan kesayanganmu ini.”
Tanpa rasa malu dan keraguan, Baren memerintahkan Nia untuk membunuh Robert, dan menjadikan Nadya sebagai sanderanya.
Melihat situasi ini, Nia kehilangan cahaya lagi. Dia terlihat sangat bingung dan tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk mengatasi masalah ini.
Dua pilihan yang kejam itu membuat rasa kemanusiaannya sedikit demi sedikit terkikis. Dituntut paksa untuk harus memilih salah satu dari kedua pilihan itu, Nia semakin kacau dan kacau.
Tubuhnya terbasahi oleh keringat dingin, dan dengan pikirannya yang telah lumpuh, dia memutar keras otaknya. Memikirkan dengan serius kedua pilihan itu, sebuah pilihan yang akan menjadi momen terkelam disepanjang hidupnya.
Satu kesalahan yang salah, maka dia tidak akan bisa kembali lagi.
Kebingungan yang intens terus mendesaknya untuk membuat pilihan, dan waktu yang berlanjut semakin menuntutnya untuk segera melakukan sesuatu.
Nia sama sekali tidak tau, apa yang harus dia lakukan?
“Nia, cepatlah bunuh pria itu.”
“Ah?” Nafas lemah Nia keluar dengan ceroboh.
Mendengar suara itu sekali lagi, pikirannya menjadi berantakan dan dia dapat merasakan organ dalamnya yang terus menggerutu dalam kesakitan.
Dia tidak tau sudah seberapa lama dia telah terdiam ketika perintah itu kembali dilontarkan. Dia tidak ingin lagi memikirkannya, dia harus segera memilih.
Meskipun itu akan membuat otaknya meleleh, dia harus tetap memilih.
Karena jika tidak,—
“Apa anda akan melepaskan Nona Nadya jika saya mati?” Melangkah maju dengan suara beratnya yang penuh akan keberanian, Robert bertanya.
“Hah?”
Isi pertanyaannya, itu benar-benar membuat Nia berhenti pikir. Dia tidak yakin apakah mungkin dia hanya salah dengar?
Karena itu terdengar sangat kejam di telinganya.
Baren yang mendengarnya juga menoleh ke arah pria tua itu, tatapannya menyipit dengan emosi yang menyatakan bahwa dia tidak senang.
“Apa maksudmu?”
“Kubilang, apakah anda akan membebaskan Nona Nadya jika saya mati?”
“Huh? Apa-apaan itu?”
“Bukankah anda ingin membunuhku, maka itu terserah anda. Saya rela mengorbankan nyawa saya sendiri jika itu untuk Nona Nadya. Lagipula…” Robert tersenyum lebar, penuh akan kebanggaan. “… Lagipula, wanita itu adalah seseorang yang kelak akan menjadi istri masa depan tuan saya. Jadi, adalah sebuah kehormatan jika dapat menyerahkan nyawa ini untuk menyelamatkan Nona Nadya.”
“Tuan… Robert…” helaan nafas kagum keluar dari bibir Nia.
Dia terkesiap, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja Robert katakan. Meskipun dia terlihat sangat menyenangi keputusan Robert, tetapi di sisi lain Nia juga merasa bersalah dan sedih.
Berulang kali dia berpikir, apakah tidak ada cara untuk keluar dari masalah ini?
Tapi, sayangnya dia tidak memiliki waktu lagi untuk memikirkannya.
“Benar-benar konyol.” Suara yang dingin tiba-tiba menusuk pendengaran mereka, menghancurkan suasana dengan cara yang paling buruk.
Selagi Nia mengfokuskan pandangannya kepada Robert.
Tiba-tiba,—
“Ini sungguh mengecewakan.”
Dengan ujaran yang dingin itu, Baren menembakkan kembali peluru hitam dan meledakkan kepala Robert tepat di depan mata Nia.
“Hah…”
Ekspresi bodoh membeku di wajahnya.
Melihat cipratan darah merah segar yang mengenai pipinya, pikiran Nia seakan terhenti, dia tidak dapat dengan cepat memahami apa yang baru saja terjadi.
Namun, detik berikutnya...
“Ah… Aaahh… Tuan… Robert….. Aaah…. Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!!”
Jiwa Nia menjerit dengan kumpulan rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Menyaksikan langsung kematian Robert yang mengenaskan, dan melihat tubuh pria tua itu yang terjatuh tepat di depan matanya, dengan kepala yang telah meledak dari tubuhnya.
Kemanusiaan Nia dalam sekejap dibuat hancur.
Air mata darah yang perih dan pedih mulai tumpah membanjiri wajahnya, dan jeritannya menjadi melodi kesedihan terburuk yang pernah ada.
Nia dengan putus asa berlari ke arah Robert, dan mengangkat tubuhnya yang telah mati tak bernyawa. Itu benar-benar membuatnya runtuh tak berdaya.
Meninggalkan semua pilihan-pilihan hidup yang menyiksa, dia dengan pandangan yang tersesat mulai mengutip kembali pecahan-pecahan dari kepala Robert dan menyatukannya kembali, sembari berharap akan keajaiban.
Tapi, dia juga tau bahwa itu tidak akan pernah bisa datang.
“Aaah.. aaahhh….. aaahhhh….. aaahh……” Rintihan lirih yang menyedihkan membuat Nia semakin menderita, bersama dengan tangisannya yang terisak-isak.
Dia tidak ingin mempercayainya.
Dia tidak ingin memikirkannya.
Bahwa salah satu sosok yang paling berarti di dalam hidupnya, mati begitu saja.
Meskipun hubungan mereka hanya sebentar, bagi Nia, Robert sudah seperti orang tua keduanya, karena pria tua itu selalu memberikannya semangat dan dorongan untuk terus melangkah maju.
Dia selalu menghiburnya, dan menegurnya ketika dia melakukan kesalahan.
Nia benar-benar tidak percaya bahwa dirinya akan kehilangan sosok pria tua itu dengan begitu cepat. Dia tidak ingin mempercayainya.
“Aaahhh… jika ini mimpi buruk… kumohon… tolong bangunkan aku dari mimpi ini…… aku sudah tidak tahan lagi……” ujar Nia, dengan tangisannya yang terus mengalir tanpa henti.
Melihat itu, Baren hanya menghela nafas lesu, sembari menjadikan kepala Nadya sebagai mainan seperti sebuah bola.
Tidak ada belas kasihan dan rasa bersalah sedikitpun yang dia rasakan dari melakukan semua itu, yang ada hanya kekecewaan yang dalam karena semua kesenangannya berakhir dalam sekejap.
“Ini membosankan…”
“Kalau begitu, kenapa kau tidak mati saja?”
“Hah?”
Menerima balasan tak terduga dari arah belakangnya, Baren dengan terkejut segera menoleh untuk melihat siapa orang yang menegurnya itu.
Dan itu membuat senyumannya semakin lebar dan lebar seperti hewan buas.
Dia adalah seorang anak kecil dengan rambut hitam legam seperti kegelapan dan mata merah tua yang tampak seperti api yang menyala-nyala.
“Ahahahaha! Aku tau kau akan datang! Yulius vera Luciffer!!“
“Maaf menyela ocehanmu, tapi aku tidak memiliki waktu lagi untuk bermain-main. Jadi, kali ini aku akan dengan serius membunuhmu.”
“?!”
“Baren Oktaf, aku akan memberikanmu sebuah pelajaran yang sangat berharga. Tapi, sebagai bayarannya, kau harus mengorbankan nyawamu… Ingatlah ini, bahwa bos kelas rendah sepertimu, tidak akan pernah bisa mengalahkanku!”
“KAU?!”
“Sekarang, berlututlah dihadapan seniormu, kelas rendah…” Mengulurkan tangannya, dengan suara yang dingin, Yulius berkata. “Lahaplah semuanya.”
[Gluttony]