Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.19 - Urutan malapetaka



Setelah pulang dari perjalanan kencannya yang panjang, membuka pintu kamarnya, Yulius langsung jatuh terbaring di atas kasurnya.


“Aaah… capek kali…..” keluhnya, dengan suara yang berat.


Meninggalkan sisa-sisa jiwa yang masih tersisa dari helaan nafas yang keluar, dia merasa seluruh tubuhnya terasa berat dengan lelah yang tak tertahankan.


Hari sudah malam, meskipun seharusnya ini menjadi waktu yang cocok untuk menyelinap keluar dan bermain-main dengan para bandit.


Dia tidak ingin bergerak.


Saat ini yang dia butuhkan adalah istirahat.


“Aku…. harus…. tidur……”


Memejamkan matanya secara perlahan-lahan, Yulius akhirnya dapat tertidur.


Rasa lelah dari semua kegiatan yang dia lakukan hari ini telah memberikannya perasaan kantuk yang luar biasa, sehingga membuatnya dapat dengan mudah tertidur tanpa masalah.


Tapi, itu adalah waktu yang singkat.


“?!!”


Bagaikan kelopak mata hewan buas yang mengawasinya dari balik kegelapan, hasrat membunuh yang luar biasa membakar pembuluh darahnya dan terus membara sampai mencapai otaknya.


Seketika, mata Yulius terbuka lebar dan dia terbangun dari tidurnya.


Merasakan hasrat membunuh yang begitu besar, sarafnya secara spontan menghempaskan semua rasa kantuknya seakan terkena sengatan listrik.


Itu adalah instingnya, yang terus mengatakan bahwa malapetaka akan datang.


Yulius mengernyit dengan ekspresi bermasalah, dan dia langsung menatap tajam melihat keluar jendela dengan pemandangan kota yang tampak mempesona.


“Apa itu?”


Tapi, bukan itu.


Bukan itu yang sedang Yulius perhatikan.


Melainkan itu adalah sesuatu yang terlihat seperti badai pasir, yang tampaknya dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke arah kota tempatnya tinggal.


Yulius menajamkan penglihatannya, menggunakan [Keahlian: Mata Elang], penglihatannya seolah terkena efek zoom, dan membuatnya dapat melihat pemandangan yang berada di tempat jauh dengan sangat jelas.


Di sana, dia melihat—


“Tu-Tunggu dulu, apaan itu?!”


Yulius terkejut, dengan ekspresinya yang sangat tercengang.


Mendadak, saat itu juga, dia dapat mendengar suara alarm kekacauan di dalam kepalanya yang terus berdering tanpa henti.


Matanya melotot seakan tak mempercayainya.


“Keparat, apa-apaan dengan gerombolan monster itu?! Ini gawat, ini benar-benar gawat!! Jika monster sebanyak itu mencapai kota! Tidak ragukan lagi kota ini akan hancur!!”


(—Kalau itu terjadi! Semua hasil jeri payahku untuk menemani wanita sialan itu kencan akan terbuang sia-sia!)


“Bagaimanapun caranya, aku harus menghentikan monster-monster itu!!”


Bergegas untuk berangkat keluar, Yulius pergi melewati jendela dan dia tanpa pikir panjang segera berlari kencang menuju sekawanan monster-monster itu.


Tapi, tepat setelah dia ingin pergi, pintu kamarnya terbuka.


Yulius secara reflek berbalik, hanya untuk menemukan seorang wanita cantik dengan rambut berwarna krem yang dipotong sebahu.


“Nia?!”


Alis mata anak itu terangkat. Dia terkejut melihat Nia yang dengan panik menerobos masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


“Tuan Yulius, ini gawat!” teriaknya.


(Humu, jadi kau juga menyadarinya ya... Itu benar, kita harus cepat-cepat. Jika tidak, kota ini akan dihancurkan oleh—)


“—Nona Nadya telah diculik!!”


“Eh?”


Menerobos masuk secara paksa melalui pikirannya yang masih setengah jalan, tiba-tiba Nia meneriakkan hal itu dengan suara yang keras. Sehingga membuat Yulius tanpa sadar berseru dengan wajah yang bodoh.


(Wanita itu… diculik…..?)


Matanya terbuka lebar, dengan keringat yang menetes melewati dahinya.


Selama beberapa detik, jeda yang aneh membuat seluruh ruangan jatuh ke dalam keheningan total, dan ketegangan konflik semakin memuncak.


Tapi, detik berikutnya…


“Yah, itu tidak terlalu penting,” ujar Yulius, santai.


“Eh, Tuan Yulius, apa anda mengatakan sesuatu?”


“Tidak, bukan apa-apa. Lupakan itu… Nia, cepat perintahkan seluruh pasukan untuk bersiap-siap di depan gerbang! Kita tidak memiliki banyak waktu!” teriak Yulius dengan tatapan mata yang tegas, membuat Nia sedikit terkejut.


“Menyiapkan seluruh pasukan?! Tapi, untuk apa?!” Dia terlihat bingung.


Tapi, sekarang Yulius tidak memiliki waktu untuk menjelaskan semuanya.


“50.000?!” Nia tersentak.


“Benar! Sekarang cepat pergilah dan beritahu semua orang tentang ini! Sebisa mungkin aku akan menahan mereka! Jadi, aku serahkan sisanya kepadamu!”


Mengatakan itu, Yulius segera melompat keluar dan pergi begitu saja.


Namun, Nia segera mengejar Yulius, dia berhenti di tepi jendela dan berteriak kepada Yulius dengan rambutnya yang berkibar kencang terkena hembusan angin malam.


Wajahnya terlihat seakan ingin menangis.


“Tuan Yulius, bagaimana dengan Nona Nadya?!” teriaknya sekuat tenaga.


“Aku akan menyelamatkannya juga, jadi jangan khawatir!” balas Yulius tanpa menoleh sedikitpun saat dia mulai berlari kencang menuju ke arah kota.


Nia yang melihat punggung Yulius telah pergi jauh, menekan kedua tangannya di depan dadanya, dan menahan semua perasaan sesak yang terus menjerit di dalam hatinya.


“—Tidak! Ini bukan waktunya untuk bersedih! Aku harus segera bergerak dan mengabarkan informasi ini kepada semua orang!”


Menghapus air matanya, Nia memantapkan tekadnya untuk tetap kuat, dan dia segera pergi untuk melakukan tugas yang telah diberikan kepadanya.


Malam itu, perlahan-lahan…


Kehancuran mulai merayap ke dalam kedamaian mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(Aarrhh, sial! Kenapa aku selalu terkena masalah sih?! Emang apa yang sudah kulakukan keparat?! Tidak bisakah mereka membiarkanku beristirahat sebentar!!)


Berlari dengan kecepatan yang merobek udara, Yulius melaju kencang melewati atap-atap rumah untuk menuju ke arah monster-monster yang semakin lama semakin mendekati kota.


“Itu masih terlalu jauh, kuharap aku masih sempat.”


Berkata dengan suara yang prihatin, Yulius semakin mempercepat langkahnya.


(Jika saja aku belajar sihir teleportasi atau sihir terbang, ini pasti akan jauh lebih cepat. Sayangnya tidak ada seorang pun yang bisa mengajari kedua sihir itu. Sialan!)


Yulius menyipitkan matanya tajam, dengan wajahnya yang mengerut dalam kemarahan besar yang benar-benar membuatnya ingin meledakkan semuanya.


Dia menghentakkan kakinya dengan kuat, dan terus berlari tanpa henti.


Hingga akhirnya, saat dia melompat dengan suara udara yang meledak, Yulius sampai di depan segerombolan monster itu dengan pendaratan yang membuat tanah di sekitarnya bergetar dan membentuk kawah yang besar.


Mata merah tuanya berkilau dengan tatapan yang tajam.


Menghadapi ribuan monster-monster yang tanpa henti berlari lurus ke arah kota, Yulius menghembus nafasnya dengan kasar, membuat kabut putih mengepul keluar dari mulutnya.


Kemudian, mulutnya bergerak pelan,—


“Terbakarlah…”


[Cursed Fire Sword]


Seketika itu juga.


Api hitam yang merupakan perwujudan dari api neraka membara dan menyala-nyala dengan kebanggaannya yang mampu membakar segalanya tanpa meninggalkan debu sedikit pun.


Api itu termanifestasi menjadi sebuah pedang, dengan panjang dua meter lebih dan bilahnya yang terus terbakar oleh api hitam yang tidak akan pernah padam.


Itu adalah sihir api tingkat tinggi.


Kekuatan yang bahkan seorang jenius sekali pun tidak akan sanggup untuk menguasainya. Karena terlalu kompleks dan kerumitan dari sihirnya yang jika tidak dapat mengontrolnya dengan baik, itu akan membakar penggunanya sendiri.


Selain itu, sihir tersebut juga memakan sejumlah [Mana] yang sangat besar.


Kebanyakan seorang penyihir tidak akan mempelajari sihir ini, lagipula karena sihir ini membentuk perwujudannya sebagai sebuah pedang.


Seorang penyihir yang bahkan tidak pernah belajar pedang sedikitpun, akan terlalu sia-sia jika mereka mempelajari sihir tersebut.


Karena itulah, sihir ini disebut sebagai sihir kelas sampah.


Tapi, mereka juga berpikir.


Jika di dunia ini ada seorang pendekar pedang hebat yang berhasil mengendalikan sihir ini dengan bebas. Tidak salah lagi, dia adalah yang terkuat.


“Graawwrrrr!!”


Meraung dengan suara yang menggelegar, sekawanan monster yang melihat Yulius menghalangi jalan mereka, dengan kekuatan penghancur yang mengerikan.


Mereka tanpa ragu menerjang ke arah Yulius.


Akan tetapi,—


‘Buuusshhhhh~!!’


Mengangkat pedangnya, Yulius berputar dan mengayunkan pedang besar yang melebihi tubuhnya sendiri itu dengan seluruh tenaganya.


Seketika, puluhan hingga ratusan monster lenyap dalam kobaran api hitam yang menebas layaknya bulan sabit saat anak itu mengayunkan secara horizontal.


Para monster menjerit dan terkejut pada kebesaran kekuatan itu.


“Baiklah, mulai dari sini, tidak akan kubiarkan kalian melangkah lebih jauh.”


Meninggikan suaranya yang dingin tanpa belas kasihan, Yulius menajamkan tatapannya seperti hewan buas, yang siap untuk membakar semua mangsanya.