Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.7 - Kekacauan yang mulai bergerak



Beberapa menit kemudian, setelah dibujuk oleh Lin. Akhirnya gadis Elf itu menjadi sedikit tenang dan mau mendengarkan perkataan Yulius.


“Oke, Emi, dengar baik-baik. Aku akan mengatakannya sekali lagi. Mulai dari sekarang, kau akan kuangkat menjadi muridku, dan kau harus memanggilku [Guru], apa kau mengerti?” Menyilangkan kedua tangannya, Yulius menatap gadis Elf itu yang telah diberi nama Emi oleh Lin, karena dia lebih menyukai Lin daripada Yulius.


Bahkan, saat ini. Agar dia tidak mengamuk lagi seperti sebelumnya, Lin memangkunya.


“Dengar baik-baik yang dikatakan Tuan Muda, Emi,” ujar Lin, sembari mengelus kepala gadis itu dengan lembut.


“Emi mengerti. Emi akan mengikuti apa yang dikatakan Lin,” balas Emi dengan wajah yang polos.


“Tunggu! Siapa yang menyuruhmu untuk mengikuti perkataan Lin?!” Merasa dirinya sama sekali tidak dihargai, Yulius menegur Emi.


Tapi, gadis itu sama sekali tidak peduli. Dia hanya menatap wajah Lin dengan senyum yang ceria dan menikmati dirinya di dalam pangkuan Lin, membuat Yulius mengernyit dengan jengkel.


“Ya yah, terserahlah. Sekarang, ayo kita pindah tempat. Akanku tunjukan perbedaan di antara kita dan setelah itu kau harus benar-benar mematuhiku.” Tidak mau kalah, Yulius mulai membuat pernyataan itu, dan mereka semua pergi ke halaman belakang mansion yang menjadi tempat latihan para pasukan.


Berjalan ke sana, Yulius mengarahkan pandangannya ke arah para pasukannya dan diam-diam mengintip isi status mereka semua.


Semenjak kedatangan Robert, mereka telah membuat kemajuan yang sangat bagus, seluruh status prajurit meningkat dan bahkan ada juga dari mereka yang memperlihatkan kekuatan yang menonjol.


Yulius senang, dia tersenyum saat dengan puas memperhatikan semua prajuritnya.


Saat itu juga, Robert yang kebetulan berada di sana menyadari keberadaan kelompok Yulius dan segera menyapanya.


“Selamat siang, Tuan Yulius. Apa anda ke sini untuk melihat-lihat, atau anda ingin berlatih tanding dengan salah satu prajurit?” ujar Robert dengan senyuman lebar.


Mungkin, karena mendengar kata “Latih tanding,” beberapa prajurit tampak gemetar ketakutan dan wajah mereka langsung berubah menjadi suram.


Mereka tau, jika tuan mereka Yulius ingin berlatih tanding. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Anak itu tidak akan menahan diri untuk membuat musuhnya babak belur atau membunuh mereka.


Dia pikir semua luka dapat disembuhkan menggunakan sihir penyembuhan. Karena itu, cedera parah saja tidak akan menjadi masalah sama sekali.


Itulah yang membuat para prajurit takut.


Akan tetapi, berkat itu juga para prajuritnya mulai berjuang keras untuk bertambah kuat. Karena yang menjadi incaran Yulius untuk latih tanding bukan seseorang yang kuat, melainkan seseorang yang lemah.


Mengetahui hal itu, para prajurit mulai berlomba-lomba untuk menjadi yang terkuat. Tidak ada satupun dari mereka yang berani bermalas-malasan.


“Tidak, hari ini aku bermaksud untuk mengajari Emi caranya bertarung,” jawab Yulius, sembari memperkenalkan Emi kepada Robert.


Namun…


Mungkin karena takut dengan ketegangan yang Robert berikan, gadis itu diam-diam bersembunyi di belakang tubuh Lin.


“Emi?”


Alis mata Robert terangkat ketika dia melihat gadis kecil yang merupakan keturunan iblis berdiri di belakang Lin.


Tetapi, setelah itu, dia tersenyum dengan lembut dan membungkukkan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya lebih dekat.


“Kalau begitu, Nona Emi. Semoga anda beruntung. Tuan Yulius mungkin akan sedikit keras, jadi anda juga harus berhati-hati dan mendengarkan perkataannya dengan baik,” ujarnya, tanpa ada niat buruk sama sekali.


Itu membuat Emi perlahan-lahan keluar dari bentengnya. Dia menunduk dengan malu-malu, tangannya masih memegang erat rok panjang Lin dan kemudian dia berkata dengan suara yang pelan dan gugup.


“Ma… Makasih…”


“Sama-sama.” Robert tersenyum lebar dan berkata dengan suara yang lembut, seolah-olah dia berbicara dengan cucunya sendiri.


“Kalau begitu, Robert. Aku pergi dulu, aku pinjam lapangan latihannya.”


“Yah, Tuan Muda. Lakukan sesuka anda.”


Menyudahi percakapan, Yulius segera berjalan lagi menuju tempat latihan mereka. Sedangkan Robert kembali lagi melatih para prajurit.


Tapi, ini benar-benar membuat Yulius merasa tidak nyaman.


Hampir di sepanjang jalan dia merasakan tatapan yang tidak enak dari orang-orang disekitarnya, bahkan Lin juga menyadarinya.


Benar, semua pelayan dan prajurit menatap Emi.


Itu adalah rasa jijik, takut, kebencian, kemarahan, dan pandangan buruk lainnya. Mereka semua memandang Emi seolah-olah dia adalah monster.


Ini mengingatkan Yulius kembali tentang peringatan Albert sebelumnya.


Saat ini, dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah pandangan mereka. Seberapa banyak dia berteriak bahwa Emi tidak berbahaya, mereka tidak akan pernah mendengarkannya.


Karena itulah, Yulius memikirkan solusi lain untuk memecahkan masalah ini.


Mereka akhirnya tiba di lapangan latihan.


Itu cukup luas, hampir seperti lapangan golf. Beberapa prajurit juga terlihat di sana, yang sedang berjuang untuk melatih sihir mereka.


Ledakan demi ledakan melutus di berbagai tempat, membuat suasana di sana terkesan seperti medan perang yang sesungguhnya.


Di sinilah Yulius melatih pasukan penyihirnya.


“Baiklah, kita mungkin akan berlatih sedikit jauh dari mereka. Jadi, apa kau sudah siap, Emi? Ini adalah pelajaran pertamamu,” jelas Yulius sambil menatap Emi.


Emi mengangguk paham, dan dia mulai memperhatikan Yulius dengan seksama.


(Tampaknya aku harus berterima kasih dengan Robert nanti.)


“Sihir yang kau miliki adalah sihir angin dan kegelapan. Tapi, pertama, mari kita berlatih sihir kegelapan. Pada dasarnya, sihir kegelapan adalah sihir yang membuat musuhmu menjadi lemah dan meracuni mereka. Contohnya seperti ini...” Yulius mengambil sebuah batu, dan kemudian dia memecahkannya sampai berkeping-keping, hanya dengan menggenggam erat batu tersebut.


“?!” Itu mebuat Emi terkejut saat batu itu pecah begitu saja.


“Jujur saja, tidak banyak di dunia manusia yang bisa menggunakan sihir kegelapan. Jadi, mereka selalu merendahkan sihir kegelapan. Mengatakan bahwa sihir kegelapan adalah sihir yang tidak berguna. Namun, itu salah!” teriak Yulius dengan penuh semangat, “Mengatakan sihir kegelapan sebagai sihir yang tidak berguna. Itu hanya pemikiran dari orang-orang toIoI yang tidak tau apa-apa!”


Yulius menjelaskan semuanya, tentang seberapa hebatnya sihir kegelapan, dengan semangat yang tinggi.


Itu membuat Emi sedikit kagum dengannya.


“Dengar, sihir kegelapan adalah sihir yang keren! Dengan sihir kegelapan kau bisa melemahkan monster-monster yang kuat dan mengalahkan mereka dengan lebih mudah. Kau bisa membutakan penglihatan mereka, membuat pergerakan mereka menjadi lebih lambat, dan memberikan kerusakan mental lainnya! Bahkan dengan sihir kegelapan, kau bisa melakukan teleportasi dengan bebas sesuai keinginanmu! Itu adalah sihir yang sangat berguna!!” teriak Yulius mengepalkan tangannya.


Dia berpidato dengan suara yang benar-benar keras, sampai membuat beberapa prajurit dan pelayan yang lewat spontan menatap ke arah mereka karena keributan yang dia buat.


Namun, Yulius menghiraukan pandangan itu dan terus melanjutkannya.


“Jadi, aku ingin kau memperlajari sihir kegelapan terlebih dahulu.”


“Baik, Guru!” jawab Emi dengan tegas, yang terlihat benar-benar tertarik untuk mempelajari sihir yang Yulius jelaskan.


“Jawaban yang bagus. Pertama, aku ingin kau menghancurkan batu yang ada di sana. Aku sudah menyiapkannya untukmu. Gunakan sihir kegelapan untuk melemahkannya dan gunakan kekuatanmu sendiri untuk menghancurkannya.”


Tapi, itu membuat Emi kebingungan.


“Guru, Emi sama sekali tidak melihat ada batu dimana pun,” jelasnya saat dia dengan imut memiringkan kepalanya.


“Jangan khawatir, aku akan membuatnya.”


Mengatakan itu, Yulius mengumpulkan Mana di tengah lapangan luas itu, dan kemudian dia perlahan-lahan menciptakan batu yang berukuran raksasa.


Itu adalah ukuran yang bahkan hampir setara dengan mansion miliknya.


Emi yang melihatnya terkagum-kagum, mulutnya ternganga saat dia menahan nafas melihat jumlah kekuatan sihir yang besar itu.


Tapi, bagi orang-orang yang berada di mansion Yulius, ini adalah pemandangan yang biasa. Dimana Tuan Muda mereka selalu membuat keributan yang membuat semua orang tidak bisa berkata-kata.


“Jangan khawatir, kau memiliki kekuatan sihir yang bahkan melebihiku. Jadi aku yakin kau bisa menghancurkan batu itu dengan mudah,” ujar Yulius sambil tersenyum lebar dan memberikan jembol kepada Emi.


“Tuan Muda, bukankah ini terlalu berlebihan?” Lin yang tadinya diam saja dan hanya melihat, akhirnya membuka suaranya.


Namun, Yulius tidak mendengarkannya.


“Ini adalah sesuatu yang penting untuk anak itu. Jangan khawatir, dia pasti bisa.”


“Apa anda yakin tidak ada niat terselubung dibaliknya?” tanya Lin sekali lagi, dengan tatapan matanya yang menajam, membuat Yulius sedikit panik.


“Te-Tentu saja. I-Ini murni karena kepercayaanku pada kekuatan anak itu,” jawab Yulius dengan suara yang gemetar dan keringat dingin yang bercucuran.


“Tuan Muda, tolong jawab saya sambil menatap mata saya,” ujar Lin yang terlihat marah.


“Serius, aku sama sekali tidak bermaksud apapun! Lihatlah Emi, dia juga terlihat sama sekali tidak masalah dengan itu! Dia malahan terlihat sangat bersemangat! Benarkan, Emi?!” Mencari pengalihan topik, Yulius berbicara kepada Emi yang matanya masih berbinar-binar penuh semangat melihat batu yang sebesar mansion itu.


“Yah, Emi akan berjuang, Guru!!” teriak Emi sambil mengepalkan kedua tangannya dan mendengus dengan pose semangat.


“Bagus, itu baru muridku!” Yulius mengelus kepala gadis itu dan memujinya.


Melihatnya, Lin hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang.


“Yah, jika dia mengatakan itu. Saya tidak akan menghentikannya.”


Setelah itu, mereka memulai latihan Emi.


Yulius dengan tegas memberikan instruksi tentang cara yang baik untuk mengendalikan jumlah kekuatan sihir Emi yang luar biasa besar itu, dan memberinya pengetahuan lebih lanjut tentang sihir kegelapan.


Pertama, dia menyuruh Emi untuk menghancurkan batu seukuran kepalan tangan, seperti yang Yulius lakukan sebelumnya.


Kemudian dia mulai memperbesar batu yang harus dia hancurkan.


Ini juga latihan untuk membuatnya terbiasa dengan pengubahan aliran Mana di tubuhnya dan dapat mengendalikan jumlah kekuatan sihir yang sangat luar biasa itu dengan bebas.


Sebelumnya, Yulius juga melakukan hal yang sama, bedanya Yulius langsung bisa menghancurkan batu seukuran mansion dalam sekali coba.


Ini adalah bukti seberapa jenius dirinya dibidang apapun, karena karakternya yang merupakan Last Boss dalam game itu.


Selain itu, dia juga memiliki Sistem yang dapat membuatnya bertambah kuat dengan mudah.


Sistem yang dia miliki mempunyai efek untuk meningkatkan semua kekuatannya dua kali lipat lebih cepat daripada orang biasa.


Dia juga bisa meningkatkan [Keahlian] yang dia miliki dengan mudah, hanya dengan menggunakan [Poin Keahlian]. Berbeda dengan orang lain yang perlu latihan keras dan mati-matian untuk meningkatkan [Keahlian] yang mereka miliki.


Selain itu, selama Yulius melakukan sesuatu sekali saja. Dia bisa meningkatkan [Keahlian] yang dia inginkan dengan mudah.


Contohnya, ketika dia bermain gitar sekali saja. Dia akan segera mendapatkan [Keahlian: Bermain Musik] dan selama Yulius memiliki 10 [Poin Keahlian]. Dia bisa meningkatkan keahliannya dalam bermain musik setingkat orang jenius.


Tapi, satu hal yang tidak bisa dia dapatkan dan yang menjadi perbedaannya dengan orang lain.


Itu adalah pengalaman.


Meskipun dia memiliki teknik yang bagus, jika dia tidak memiliki pengalaman. Itu sama saja seperti orang bodoh yang memamerkan bakatnya.


Karena di dunia ini belum ada yang pasti.


Meskipun dia memiliki [Keahlian: Mahir Pedang (Lv.10)]. Di luar sana juga ada yang memiliki keahlian seperti itu dengan level yang sama.


Lalu, jika mereka bertarung, siapa yang akan menang?


Jelas, itu adalah orang yang memiliki pengalaman bertarung paling banyak.


“Itu tidak bagus, lebih banyak lagi gunakan Mana-mu! Buat batu kokoh itu seperti pasir yang mudah hancur!”


“Baik, Guru!!”


Saat mereka tengah latihan sihir bersama seperti itu.


Tanpa disadari hari sudah malam, dan akhirnya didetik-detik terakhir Emi.


Dia berhasil juga menghancurkan batu seukuran mansion itu dengan mudah.


Di mana, itu membuat semua pelayan dan prajurit yang melihatnya terkejut. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.


Hanya dengan satu pukulan pelan dari tangan kecil Emi, batu seukuran mansion itu berubah menjadi bongkahan batu-batu kecil.


Karena hal ini juga, semua pelayan dan prajurit tidak lagi berani mencela Emi.


“Guru! Lihat! Emi berhasil! Emi berhasil menghancurkannya!!” Merasa sangat bahagia akan keberhasilannya atas usaha yang dia kerahkan, Emi langsung melompat ke arah Yulius dan memeluknya dengan sangat erat.


“Yah, kau sudah berusaha keras. Karena itu, malam ini, sebagai perayaan atas keberhasilan pertamamu. Kita akan mengadakan pesta makan yang mewah.”


“Yeeyyy!! Emi mencintai Guru!!”


“Uhh…”


Mendengar itu, Yulius hampir saja meneteskan air matanya karena merasa sangat terharu. Akhirnya, setelah semua pertengkaran mereka, dia bisa juga akrab dengan Emi.


“Yah, Guru juga mencintai Emi!”


Setelah itu, pada malam tersebut. Mereka semua merayakan kedatangan Emi dan keberhasilan pertamanya dengan sangat gembira.


Tapi, tidak selamanya mereka berada dalam kebahagiaan.


Karena, keesokan harinya…


Seluruh keluarga Luciffer digemparkan dengan deklarasi perang yang tiba-tiba.