Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.37 - Sang Protagonis



“Tuan, perkenalkan dialah yang akan menjadi lawan anda.”


“Kau bisa memanggilku Tamus,” sambung pria besar itu dengan suara yang berat, dan terdengar seakan sedang mengintimidasiku.


Tapi, tanpa mengubah sikap, aku mengangguk. “Aku.. umm.” Suaraku terhenti, aku bingung bagaimana harus menyebut namaku, karena aku sedang menyamar, jadi aku juga harus membuat nama samaran.


Kalau begitu, —


“… Kalian bisa memanggilku Arc. Mohon bantuannya, Pak Tamus.”


“Tamus saja sudah cukup. Jika kau sudah bersiap-siap, kita akan memulai ujianmu. Tapi, sebelum itu—“ Pandangan Tamus menoleh, dan dia melihat ke arah seorang gadis yang juga berada di tempat tersebut. “Aku akan mengetesmu terlebih dahulu, gadis muda,” ujarnya dengan tatapan mata yang tajam.


“Baik!” Jawab gadis itu dengan semangat.


Gadis itu—sang protagonis, dia memiliki rambut berwarna abu-abu kebiruan yang dipotong sebahu, dan iris mata dengan warna yang sama, namun memiliki kilauan yang terlihat seperti permata. Dia memiliki tampilan yang polos seperti yang pernah kulihat di dalam game, tapi dia juga cantik seperti yang kuharapkan.


Aku tidak percaya akan bertemu dengannya secepat ini.


Ini sungguh kebetulan yang menyeramkan, jika bisa aku tidak ingin terlibat dengannya sebanyak mungkin. Karena dunia berputar di sekitarnya, aku yakin hal-hal yang merepotkan akan menimpaku kalau aku ikut campur terlalu jauh.


Lebih baik bersikap acuh tak acuh dengannya.


“…?” Alis mataku terangkat.


Tanpa kusadari aku telah memandangnya terlalu lama, dan itu membuat mata kami saling bertemu ketika dia menoleh ke arahku.


Sial, aku pasti akan dicurigai!


Saat itu juga, dia melambaikan tangannya ke arahku dan tersenyum lembut. Tapi, bukannya membalas, aku memalingkan pandanganku darinya.


Mungkin, berpikir bahwa aku tidak memiliki niat untuk akrab dengannya, gadis itu juga dengan pahit menurunkan tangannya, dan memalingkan pandangannya dariku.


Kurasa aku terlalu berlebihan, tapi ini yang terbaik.


“Oh ya, gadis muda, aku masih belum tau namamu.” Tidak memperhatikan kejadian itu, Tamus menanyakan hal itu kepada gadis tersebut.


Mendengar itu, dia dengan buru-buru memperbaiki postur tubuhnya, dan berdiri dengan kaku ketika memperkenalkan dirinya dengan suara yang gugup.


“Umm… Na-Nama… Namaku Carmilla, aku datang dari desa ke sini untuk mengikuti perintah dari guruku yang menyuruhku untuk mendaftar di Akademi.”


“Akademi?!” Menyambut perkataan Carmilla dengan terkejut adalah gadis resepsionis dengan identitas yang gelap, Viola. Matanya terbuka lebar.


Carmilla menanggapi keterkejutan Viola dengan canggung.


“Ya-Yah, aku mendaftar sebagai seorang beasiswa. Ini mungkin sedikit sulit karena tempat itu dipenuhi oleh para bangsawan—tidak seperti rakyat jelata sepertiku, dan aku yakin biaya untuk sekolah di sana pasti juga akan banyak. Jadi, aku memutuskan untuk mencari penghasilan dengan manjadi seorang petualang.” Mata Carmilla terkulai lemah ketika dia membicarakannya dengan tidak percaya diri.


Aku dapat membayangkan sifatnya yang pesimis, dan memiliki status mental yang tidak terlalu tinggi. Ini mungkin karena dia masih berada di awal-awal game.


Viola yang mendengar itu, masih dalam keterkejutannya. Aku menoleh untuk melihat ekspresinya, dia terlihat jauh lebih bermasalah dari yang kubayangkan.


Aku tidak tau apa yang dia pikirkan, tapi dia mengernyit pahit, bibirnya terpelintir ketika dia bergumam dengan suara yang lirih.


“Begitu… jadi itu kau—“ Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tapi itu pasti sesuatu yang merepotkan, jadi aku memutuskan untuk mengabaikannya.


“Lupakan tentang itu, mari kita mulai ujiannya!” Masih pada sikapnya yang tegas dan keras, dan menjadi satu-satunya orang yang tidak peduli pada situasi, Tamus memulai ujiannya Carmilla.


Melihat itu, aku dan Viola sebagai penonton mundur jauh ke belakang untuk membukakan ruang kepada mereka berdua.


Ini mungkin adalah kesempatan yang langka untuk melihat kekuatan Carmilla. Tapi, aku tidak berpikir dia akan kalah begitu saja. Sekalipun ini masih awal-awal, dia tetap protagonis di dunia ini.


Akan bermasalah kalau dia menjadi terlalu lemah.


Aku juga memutuskan untuk tidak mengintip statusnya, karena itu akan menjadi spoiler yang tidak menyenangkan. Tapi, sebagai gantinya aku mengintip status Tamus.


[Nama: Tamus Inforn]


[Level: 89]


[Kekuatan: 259]


[Kepintaran: 15]


[Kecepatan: 104]


[Ketahanan: 427]


[Pesona: 43]


[Keahlian: Ahli Bela Diri (Lv.7), Ahli Kapak (Lv.7), Ahli Tempur (Lv.4), Ketahanan Besi (Lv.6), Raungan Hewan Buas (Lv.4)]


[Title: Mantan Petualang Rank B, Mentor Para Petualang, Ras Petarung]


“Tidak buruk...” Melihat isi statusnya, aku bergumam pelan.


Sembari melipat kedua tanganku, aku menonton pertarungan mereka bersama Viola dari jarak yang cukup jauh.


Di sana, aku melihat isi status pria yang bernama Tamus.


Yah, seperti yang kuduga, para petualang memiliki kekuatan yang melebihi seorang prajurit biasa, dia bahkan telah melampaui status Robert, yang merupakan seorang veteran perang.


“Baik, Nona Carmilla, apa kau sudah siap?” tanya Tamus, ketika dia dengan angkuh berdiri tegak dan memandang Carmilla sebagai musuhnya.


“Yah, mohon bantuannya, Tuan Tamus!”


Itu membuat Carmilla sedikit takut, tapi dia menguatkan tekadnya dan memegang erat-erat pedang ringan di satu tangannya. Dia juga memasang kuda-kuda bertarungnya sendiri.


Aku sudah melihat itu sebelumnya di dalam game, tapi melihatnya secara langsung seperti ini membuat kesan yang berbeda.


Dia… kuat.


Tumpuan kaki yang tegas, pandangan mata yang tak gentar sekalipun rasa takut menyelimuti, dan selain itu, gaya berpedangnya terlihat sangat indah. Itu polos, tapi aku bisa merasakan bahwa dia mengemban mimpinya di sana.


Sebuah teknik pedang yang jujur dan kuat.


Meskipun dia lebih berbakat di bidang Sihir Suci sebagai seorang Saint di masa depan, teknik berpedangnya juga tidak kalah hebat. Aku bisa tau kalau dia berlatih dengan sangat keras di bidang tersebut.


“Aku akan memulai ujiannya, kalian berdua sudah siap?!” Maju ke depan, Viola meneriakkan hal itu, dan saat dia melihat kedua petarung mengangguk dengan tatapan yang serius, dia memulai pertarungannya. “Pertarungan di mulai!”


Tangan dijatuhkan, dan pada saat itu juga ledakan terjadi. Saling menyerang secara bersamaan, mereka bentrok dengan kekuatan yang luar biasa.


Sedangkan aku, berdiri di sana sebagai penonton, aku menggerjapkan mataku berkali-kali ketika menyaksikan pertarungan tersebut.


Bagaimanapun,—


“… Apa, itu?” Mataku terbuka lebar, dan tubuhku merinding.


—Cahaya yang berkilau terang memenuhi pandanganku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pertarungan selesai, dan itu adalah kemenangan untuk Carmilla.


Bagaimanapun, selama pertarungan dia telah memperlihatkan sesuatu yang luar biasa di mana seluruh tubuhnya tiba-tiba diselimuti oleh sebuah cahaya yang tipis, dan itu juga membuat rambut serta matanya berubah menjadi putih bersih.


Setelah dia menunjukkan perubahan tersebut, Carmilla dengan mudah menjatuhkan Tamus, dan mengalahkannya hanya dengan sekali serangan.


Itu benar-benar mengagumkan, aku bahkan sampai menahan nafasku ketika menontonnya. Tapi, itu juga membuatku bertanya-tanya.


“Bukankah itu kekuatan Saint? Kenapa dia bisa menggunakannya?”


Aku mengingat-ingat kembali tentang kejadian yang ada di dalam game, dan seharusnya ini bahkan belum menjadi awal-awal dari game itu dimulai.


Tapi, kenapa dia bisa menggunakan kekuatan Saint yang seharusnya muncul di akhir-akhir permainan ketika dia bertarung melawan Last Boss, yaitu aku sendiri.


Aku tidak bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang pasti, dengan ini aku bisa yakin bahwa cerita di dalam gamenya telah berubah tanpa mengikuti skenario yang sebenarnya.


Sial, semakin aku memikirkannya, ini membuatku semakin khawatir dengan masa depan. Sungguh, tidak bisakah itu hanya menjadi game simulasi kencan biasa tanpa ada konflik yang terlalu berat.


Setingan dunia di game ini terlalu merepotkan.


“Baik, selanjutnya adalah giliranmu, Tuan Arc— atau itulah yang ingin saya katakan. Tapi, apa kau benar-benar baik-baik saja, Tamus? Kau terlihat cukup kewalahan.” Mengobati luka-luka di tubuh Tamus dengan sihir penyembuhan, Viola mengatakan hal itu tanpa mengubah wajah datarnya.


Tapi, menanggapinya, Tamus tiba-tiba tertawa keras.


“Hahahahaha! Kau benar, aku kalah!” Dia memukul-mukul perutnya sendiri dengan kegirangan dan mengakui kekalahannya sendiri.


Itu membuatku sedikit terkejut, aku pikir dia akan kesal.


Tamus menolehkan matanya ke arah Carmilla, dan dia tersenyum lebar, “Kau lulus, Nona Carmilla!” ujarnya, yang menyatakan kelulusan Carmilla.


Di sana Carmilla membuka matanya lebar-lebar, dia seakan tidak mempercayainya, dan dengan wajah yang bersinar, dia tersenyum bahagia sembari menundukkan kepalanya kepada Tamus.


“Terima kasih banyak, Tuan Tamus!!” teriaknya dengan penuh suka cita.


“Ha ha ha, Tamus saja sudah cukup.” Tamus melambaikan tangannya, seakan menyuruh gadis tersebut untuk tidak berbuat sejauh itu.


Suasana di sekitar mereka terlihat sangat baik.


Tapi…


Aku benar-benar berharap kalau mereka juga tidak melupakanku.


“Nah, kapan aku bisa memulai ujianku?” tanyaku, menyela pembicaraan di antara mereka saat keduanya sedang berbicara dengan asik.


Saat itu juga, tatapan semua orang menoleh ke arahku, dan aku bisa melihat Tamus yang mengangkat alisnya seakan-akan dia mengatakan ‘Oh ya, kau masih ada’.


Itu membuatku kesal.


Kemudian, seakan ingin mengkonfirmasi jawabannya, Viola menoleh kembali ke arah Tamus dan bertanya. “Bagaimana, apa kau masih bisa, Tamus? Jika tidak, aku bisa mencari penggantinya atau aku saja yang akan—“


“—Pe-Permisi, apa aku bisa mendapatkan tugas itu?”


“Eh?”


Memotong perkataannya, tiba-tiba Carmilla mengangkat tangannya dan menuturkan keinginannya untuk menjadi lawan tandingku.


Itu membuatku membeku.