
“Zevanna?”
Lelaki dengan potongan rambut undercut itu membelalakkan mata. Marvel yang merasa terlampau ekspresif lantas berdeham untuk kembali biasa-biasa saja. “Mobil lo mogok?”
“Nggak. Cuma bannya kempes nggak tahu kenapa. Kena paku kali, ya?” Zevanna berasumsi.
“Gue ada kenalan montir yang bisa dipanggil ke sini buat ganti ban lo, tapi kalau lo buru-buru, nanti minta montirnya aja suruh bawa ke bengkel. Biar lo bareng gue aja.”
Giliran mata bulat Zevanna yang melebar. Seniornya waktu kuliah ini memang sangat anti basa-basi dari pertama kali Zevanna mengenalnya. “Kalau nggak ngerepotin boleh, dong, diteleponin,” katanya disambut kekehan Marvel.
Lelaki yang malam ini tampil kasual dengan sweater warna kuning gading itu segera merogoh ponselnya yang berada di saku celana jeans.
Dua puluh menit berlalu, seorang laki-laki bertubuh kurus dengan pakaian khas orang bengkel akhirnya datang. Marvel berjalan menghampiri dan menjelaskan tentang ban mobil Zevanna yang kempes.
Sembari menunggu, Zevanna diajak Marvel untuk duduk di trotoar. Lelaki itu memberinya minuman soda yang kebetulan dibeli sebelum akhirnya mendapati Zevanna di tengah jalan.
"Kenapa tahu-tahu berhentiin mobil?" tanya Zevanna. Di kanan kiri tempat itu tidak ada apa-apa, kecuali deretan ruko yang sudah tutup. Makanya, dia sempat berpikiran negatif.
"Karena lihat orang yang kayaknya butuh pertolongan. Eh, nggak tahunya lo."
"Kaget, ya?"
Marvel terkekeh, lantas mengangguk-angguk. "Dari kecil udah didoktrin Papa buat nolong orang selagi mampu. Tahu sendiri, adek gue dua-duanya cewek. Jadi, anggap aja kalau gue berbuat baik, adek-adek gue juga dapat kebaikan dari orang lain pas mereka kesusahan."
"Such a good boy."
Lagi, tawa pelan Marvel mengudara. “Sibuk apa sekarang?” tanyanya dengan kepala menoleh pada gadis yang kini memusatkan perhatian pada keramaian.
“Sibuk mainan kuas. Kalau lo?” Zevanna balas bertanya. Kali ini gadis itu menengok ke arah laki-laki di sebelahnya.
“Melukis?"
"Nope. Make up artist."
"Oohh ...." Bibir Marvel membulat. "Gue lagi ngerintis usaha kecil-kecilan bareng temen."
Zevanna manggut-manggut. Sama sekali tak terkejut dengan apa yang Marvel ucapkan mengingat keluarga lelaki berkumis tipis itu juga sudah lama berkecimpung di dunia bisnis.
Kalau ditanya dari mana Zevanna tahu, gadis itu tahu karena mereka satu organisasi saat kuliah. Walaupun tidak lama lantaran Marvel memilih keluar sebab sudah mulai memasuki semester-semester akhir, tapi mereka terbilang cukup dekat. Setidaknya keduanya pernah beberapa kali jalan berdua. Jujur saja, Zevanna pernah tertarik dengan Marvel. Namun, seiring berjalannya waktu di mana keduanya sama-sama sibuk dan intensitas bertemu pun semakin jarang atau bahkan tidak ada membuat perasaan itu perlahan hilang.
Mereka beranjak ketika ban mobil Zevanna selesai diganti. Sialnya, saat hendak membayar nominal yang disebutkan sang montir, Zevanna harus meringis melihat uang cash di dompetnya ternyata tidak cukup.
“Gue ada.” Layaknya pahlawan sejati, Marvel mengeluarkan sejumlah uang lalu membayarkan total biaya yang semestinya menjadi tanggungan Zevanna.
Suasana mendadak canggung bagi Zevanna sepeninggal montir tadi. “Gue ganti abis ini, Kak,” katanya tak enak hati.
“Gimana kalau gantinya dengan kasih nomor hape lo?” Marvel menyodorkan ponselnya dalam keadaan menyala dan tidak lagi terkunci.
Zevanna sempat melongo. Matanya bergantian menatap Marvel dan benda pipih di tangan lelaki itu yang belum juga ia terima.
“Nggak apa-apa kalau keberatan.” Marvel hendak mengantongi kembali ponselnya, tapi secara tiba-tiba Zevanna mengambil alih benda itu dari tangannya.
“Nggak keberatan, kok.” Gadis itu mengetikkan nomornya, lalu mengembalikan ponsel Marvel.
“Thanks.”
Zevanna hanya mengangguk, kemudian masuk ke mobilnya.
***
Omelan Astrid sontak memenuhi telinga Zevanna setibanya gadis itu di restoran Jepang yang terdapat di sebuah mall.
Ya, memang siapa yang tidak akan mencak-mencak kalau yang ditunggu telat hampir satu jam?
Zevanna hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi hasil dari memakai behel selama bertahun-tahun. “Ban mobil gue kempes tadi. Lo jangan marah-marah, dong. Nggak kasihan sama gue apa?” Ia memelas. Takut kalau Astrid mengurungkan niat untuk mentraktirnya. Bukannya apa, Zevanna kalau sudah makan sushi memang suka kalap sampai-sampai ATM-nya pernah jebol. Maklum, isinya memang tidak seberapa.
“Iya, iya. Pesen, gih. Nanti keburu pingsan lagi,” kata Astrid, lalu memakan sushi terakhirnya.
Zevanna mendengkus kesal. Baru setelah mood-nya dirasa lebih baik ia memanggil pramusaji dan menyebutkan pesanannya.
“Lo nggak dikasih makan berapa tahun, sih?” tanya Astrid masih saja heran mendengar Zevanna memesan makanan seabrek. Padahal, mereka sudah berteman dari awal masuk kuliah.
“Seabad.” Zevanna menjawab sekenanya. Dia sedang sibuk mengetikkan pesan kepada ayahnya yang masih saja khawatir. Apalagi saat Zevanna berkata mobilnya mogok. Adrian langsung menawari putrinya untuk menukarkan mobil lamanya dengan yang lebih baru. Yang mana hal itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Zevanna sebab gadis itu akan membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri yang entah kapan akan terlaksana.
Astrid sedang mesam-mesem dengan ponsel ketika Zevanna selesai berdebat dengan ayahnya melalui aplikasi chatting. Mengedikkan bahu tak acuh, ia memilih untuk menyantap bermacam-macam sushi yang baru disajikan.
Zevanna memakannya dengan lahap mengingat dirinya tidak makan siang gara-gara Jayden yang entah bagaimana bisa bekerja sebagai fotografer ibunya.
“Lo kayaknya beneran belum makan seabad, ya? Kenapa? Kak Prissy nggak kasih lo waktu buat makan?” Astrid langsung memberondong Zevanna begitu urusan dengan ponselnya selesai.
“Nggak gitu. Emang tadi siang males makan aja,” ungkap Zevanna belum mau menceritakan tentang Jayden yang kembali muncul ke kehidupannya.
“Kebiasaan lo! Lagian ya, Ze,” Astrid membenarkan posisi duduknya, “lo kenapa nggak buka jasa make up sendiri, sih? Kan enak, apalagi lo ada sertifikat hasil kursus dulu,” katanya, lalu memasukkan sebuah sushi milik Zevanna ke mulutnya.
Gerakan tangan Zevanna yang hendak mengambil sushi sempat terhenti kala mendengar cetusan ide Astrid yang sebenarnya juga sudah ia idam-idamkan sejak lama. “Walaupun udah dapet sertifikat, gue masih amatiran banget. Lo tahu sendiri dulu gue lebih banyak pacarannya daripada kursusnya.”
“Oh, iya.” Astrid cengengesan. “Sampai lupa gue sama Jayden. Udah bisa move on belum lo dari dia?” Kali ini gadis kelahiran Bandung itu benar-benar tertawa.
Batin Zevanna menggeram, sedangkan bibirnya sudah mengerucut. Tapi, omong-omong soal laki-laki, dia jadi ingat malaikat penolongnya beberapa puluh menit yang lalu. “Tebak siapa yang nolongin gue waktu ban mobil gue kempes tadi?”
“Cih! Pengalihan isu.” Astrid mencibir, kemudian menghabiskan minumannya yang tinggal setengah.
“Lo nggak bakal percaya kalau gue sebutin namanya. Cepetan tebak!” ujar Zevanna sama sekali tak peduli dengan ucapan Astrid.
“Siapa emang?” Mau tak mau, Astrid jadi penasaran karena sepertinya yang menolong Zevanna cukup penting. Entah penting bagi siapa, tapi Astrid benar-benar kepo setelah sahabatnya menyebutkan beberapa clue.
“Kak Marvel!”
“Kak Marvel? Marvel Nuka Lesmana?” Astrid menyebutkan nama seniornya di kampus dulu.
Zevanna mengangguk mantap. “Yup.”
“Kok, bisa?” tanya Astrid masih setengah tak percaya.
“Ya, bisa aja. Kan nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak.” Zevanna berkata bijak.
Astrid langsung mual mendengarnya.
“Tadi, gara-gara duit cash gue kurang, Kak Marvel juga yang bayarin. Dia juga minta nomor hape gue. Dia nggak berubah, ya, dari dulu. Perhatian.” Zevanna bertopang dagu. Mengingat momen kedekatannya dengan Marvel beberapa tahun yang lalu membuatnya senyam-senyum sendiri.
Astrid menatap sahabatnya ngeri. “Jadi, lo nggak mau bahas Jayden lagi gara-gara Kak Marvel udah nolongin terus bayarin biaya ganti ban mobil lo itu?”
“Nggak, lah!” Zevanna mengelak cepat.
Lagi dan lagi Astrid tertawa. “Enggak? Terus sekarang lo ngarepin dua-duanya? Siapa cepat dia dapat gitu?”
Mendadak kepala Zevanna berdenyut. Susah memang punya sahabat yang hidupnya sangat terarah, tapi kalau dipikir-pikir kenapa bisa pas begini? Marvel muncul lagi ke kehidupannya di saat dirinya tengah dipusingkan dengan Jayden yang tampak dekat dengan ibunya. Apa Tuhan baru saja mengirimkan seseorang yang mungkin akan mengobati luka hatinya yang disebabkan oleh Jayden? Entahlah, yang jelas Zevanna harus segera pulang sebelum otaknya terkontaminasi oleh ucapan-ucapan Astrid yang hanya akan membuatnya makin pusing.