
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya bisa merayakan ulang tahun di rumah lantaran pandemi, tahun ini Nando dan Tasya akan merayakan ulang tahun putra semata wayang mereka di East Coast Park.
Pagi-pagi sekali, dengan dibantu Zevanna, mereka menyiapkan kue, makanan, camilan, dan baju ganti. Sementara Ryuga sibuk memilah mainan untuk digunakan bermain pasir.
Ketika semuanya sudah siap, bel apartemen berbunyi. Zevanna langsung memasang wajah siaga.
"Ze—"
"Gak mau! Kak Nando aja sana yang bukain," tolak Zevanna bahkan sebelum kakaknya menyelesaikan ucapannya. Ia masih trauma dengan kejadian kemarin siang. Yang mana membuatnya kesulitan tidur semalam.
Ada banyak tanya dalam benak Zevanna tentang bagaimana Jayden ada di sini dan mengenal kakaknya. Namun, bunuh diri namanya kalau dia berani mengatakannya.
Mau tidak mau, Nando mengalah karena istrinya juga sedang sibuk.
Hanya dengan mendengar teriakan antusias keponakannya, sepertinya Zevanna tahu siapa yang datang.
"Mamaaaaa, Ryu dapat kado dari Uncle!" Ryuga menghampiri mamanya sambil memamerkan kado besar di tangannya. Di belakangnya, Jayden menyunggingkan senyum.
"Udah bilang makasih belum?" tanya Tasya.
"Udah, Ma."
"Ada yang bisa aku bantu?" Jayden menawarkan diri melihat dua perempuan di depannya tampak sangat sibuk.
"Nggak perlu, Jay. Kamu mau ikut kita piknik aja aku udah makasih banget," ucap Tasya rikuh.
Nando yang baru muncul manggut-manggut menyetujui. Kontras dengan Zevanna yang kini tercengang. Kenapa tidak ada yang bilang padanya kalau Jayden ikut?
"Aku seneng, kok. Kebetulan belum pernah ke sana juga," balas Jayden santai.
Zevanna memalingkan wajah saat matanya tidak sengaja bertubrukan dengan milik Jayden. "Kak, ini udah selesai. Aku siap-siap dulu ya." Tanpa menunggu jawaban, gadis itu ngeloyor pergi.
Setelah menaiki MRT dilanjut menggunakan bus, akhirnya mereka sampai di East Coast Park. Zevanna tersenyum cerah menatap garis pantai yang membentang di hadapannya. Angin laut yang seolah menyambut, menerbangkan rambut-rambutnya hingga mengenai wajah. Mata Zevanna menyipit lantaran silau. Namun, hal itu hanya sesaat karena setelahnya seseorang berdiri di sebelahnya.
Zevanna menoleh. Tampak Jayden yang rupanya sedang mengambil potret. Penampilannya terlihat lebih santai setelah semua kancing kemejanya dilepas dan menampilkan kaus putih polos yang menjadi inner-nya. Wajah pria itu yang tertimpa sinar matahari terlihat berkilauan. Senyumannya yang mengembang kala melihat hasil jepretannya menjadikannya sempurna di mata Zevanna.
"Geser, Ze. Tikarnya mau digelar," kata Nando.
"Eh, i-iya." Zevanna yang terperanjat membuat Jayden menengokkan kepala.
Lelaki itu segera mematikan kameranya dan lekas membantu Nando dan Tasya.
"Uncle, ayo main!" Ryuga yang sudah memegang ember kecil dan sekop tampak tidak sabar membangun kastil pasirnya.
"Nanti dulu. Kan mau tiup lilin," ujar Jayden saat kemejanya ditarik-tarik.
Zevanna menggembungkan pipi, menahan tawa.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja, Ze." Kakak iparnya berujar lirih di telinga gadis itu.
Zevanna refleks mendelik, dan tanpa ia ketahui, sepasang mata sipit ternyata memperhatikannya.
"Lo juga kalau mau senyum jangan nanggung gitu." Giliran Nando yang berbisik di telinga Jayden.
Memalingkan wajahnya, Jayden pura-pura tidak mendengar dan malah bertanya hal random kepada Ryuga. Yang mana hal itu membuatnya tampak konyol di mata Nando.
Begitu makanan sudah tertata, mereka duduk melingkar. "Kita foto dulu ya," ucap Nando sambil mengeluarkan ponsel, lalu menaruhnya di tripod.
Mereka foto bersama-sama dilanjut Ryuga yang berpose dengan kue ulang tahunnya, kemudian bersama orang tua bocah itu.
"Nanti dulu," Nando mengambil alih pisau kue di tangan putranya, "kan belum foto sama Aunty dan Uncle."
"Udah, kok." Zevanna menyanggah. Ia memperlihatkan foto selfie-nya bersama Ryuga.
"Baru berdua, kan, belum bertiga." Nando tak kalah pintar.
"Harus banget emang?" Zevanna sangsi. Lagi pula untuk apa, sih!
"Iya, harus. Yuk, kalian duduk di sebelah Ryuga. Itung-itung belajar." Nando memutar ponselnya menjadi lanskap.
"Foto doang ngapain pakai belajar." Zevanna mendumal.
"Belajar kalau nanti punya anak," celetuk Tasya disusul kekehan.
Skakmat! Kali ini Zevanna tidak tahu lagi mesti menjawab apa lantaran rasa hangat menjalari kedua pipinya. Lantas, saat tidak sengaja menoleh, keningnya sontak berkerut melihat senyuman tipis menghiasi wajah Jayden.
Kenapa laki-laki itu tersenyum? Apa dia senang dengan kelakuan menyebalkan kakak-kakaknya? Terlebih Jayden sudah punya pacar. Tidak seharusnya dia bersikap seperti pria ganjen. Zevanna bergidik, ilfeel.
Usai mengisi perut hingga kelewat kenyang dan membantu Ryuga membangun kastil pasir, Zevanna duduk memeluk kakinya tidak jauh dari keponakannya. Sedangkan kedua kakaknya berada lumayan jauh dan tengah sibuk berfoto-foto. Zevanna tidak mengerti mengapa mereka bisa lebih antusias dibandingkan dirinya yang entah kapan akan ke sini lagi.
"Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini."
Gadis itu menoleh ke sumber suara. Ada Jayden duduk dengan jarak sekitar satu meter darinya.
"Aku juga nggak nyangka kamu kenal dekat sama Kak Nando." Zevanna memaksakan senyum.
"Kita satu kantor."
Zevanna hanya mengangguk. Rasanya sulit berbicara dengan Jayden di posisi seakan mereka memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun. Perasaan Zevanna selalu menggebu-gebu hanya dengan bersitatap dengan lelaki yang masih setia melihat ke arahnya. Jayden tidak berubah. Semua yang ada dalam diri pria itu masih sama seperti dulu, saat mereka berkenalan hingga akhirnya kini mereka tak lebih dari sekadar teman.
Mungkin itu yang membuat Zevanna sulit berpaling. Gadis itu menunduk dengan raut sendu. Telunjuknya dibiarkan menari di pasir, membentuk gambar abstrak.
Jayden mengamatinya dengan senyum terkulum. Aksi memandangi Zevanna itu akhirnya teralihkan lantaran mendengar ponselnya berdering.
"Halo."
Seharusnya Zevanna tidak peduli atau minimal pura-pura tidak peduli. Tetapi, kepalanya justru sudah tegak duluan. Dan ketika Jayden menengok ke belakang, sumpah demi Tuhan ia mati-matian menahan agar tidak mengikutinya.
"Kok bisa ada di sini?" tanya Jayden bangkit dari duduknya.
"Ternyata Papa ngajakin ke sini. Ya udah, karena gue tahu lo di sini, makanya gue telepon. Ketemu Papa yuk!"
Saat Jayden kembali menatap Zevanna untuk berpamitan, gadis itu dengan cepat bergegas menghampiri keponakannya.
"Ayo! Soalnya Papa bilang habis ini masih ada urusan."
Begitu bayangan Jayden dan Stella menjauh, Zevanna menengok ke arah mereka. Sesak memenuhi dada ketika dilihatnya Stella yang memeluk lengan Jayden sambil menggoyang-goyangkannya. Ada perasaan iri dan tidak rela karena semestinya dirinya yang ada di samping lelaki itu.
"Aunty, kenapa Aunty nangis?" tanya Ryuga refleks membuat Zevanna mengusap matanya yang basah.
Belum sempat Zevanna memberikan alasan, ana itu lebih dulu berseru, "Mamaaaaaa, Aunty Ze nangis."
Dan, tidak hanya Nando dan Tasya yang segera mengarahkan pandangan mereka ke Zevanna. Tetapi, Jayden pun menyempatkan diri untuk menoleh.
Zevanna nangis kenapa?