Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Latihan Jadi Ayah



Zevanna mematut dirinya di depan cermin. Sekali lagi, memastikan bahwa penampilannya dalam balutan gaun warna krem terkesan kalem, tetapi tetap elegan. Menyunggingkan senyum manis, Zevanna menatap puas akan rupa wajahnya yang ehm ... cantik. Jayden harus melihatnya agar laki-laki itu menyesal karena sudah mencampakkan perempuan sebaik dan secantik dirinya—tunggu! Sepertinya ada yang salah. Zevanna akan pergi bersama Marvel, tetapi kenapa malah mantan sialannya yang justru terlintas di kepala. Ini tidak bisa dibiarkan.


Mendengkus sebal, Zevanna menyingkir dari depan kaca kemudian meraih tas bertali rantai emas dan menyampirkannya di bahu. Keluar dari kamar, pandangan Zevanna otomatis mengedar mencari Jayden. Kan! Lagi dan lagi lelaki itu. Bodo, ah, memang saat ini Zevanna butuh kehadiran sosok itu supaya bisa pamer. Sayangnya, hingga tiba di lantai satu, Zevanna tidak mendapati Jayden. Angan-angan Zevanna untuk melihat raut penyesalan Jayden menguap begitu saja.


"Marvel belum datang?" Melisa yang tengah menuruni tiga anak tangga terakhir bertanya.


"Belum. Mungkin sebentar lagi."


Benar saja, tidak lama kemudian deru mobil terdengar berhenti. Melisa membuka pintu sebelum tamunya menekan bel. Tampak Marvel yang baru turun dari mobil terkesan kikuk.


"Malam, Tante. Saya Marvel." Pria berkaus putih yang dilapisi blazer navy itu mengulas senyum.


"Tante masih ingat, kok," jawab Melisa, "masuk dulu, yuk!"


Ketika Marvel masuk dilihatnya Zevanna yang tersenyum padanya. Adik tingkatnya dulu itu sangat cantik malam ini. Tidak! Zevanna memang cantik sejak dulu. Bahkan, setelah seharian mereka mengerjakan ini dan itu karena mau ada event kampus, perempuan itu selalu mengagumkan meski dalam keadaan berantakan. Marvel menyukainya apalagi setiap mengingat anak rambut Zevanna yang beterbangan, lantas dia dengan sukarela menyelipkan ke belakang telinga.


"Ngobrol sebentar nggak apa-apa ya, Kak. Soalnya ada yang kangen," ujar Zevanna melirik sang mama.


Marvel manggut-manggut sambil tersenyum. Mereka duduk di sofa ruang tamu ditemani teh melati buatan Mbok Diah. Asisten rumah tangga Melisa ini memang sangat bisa diandalkan. Dari awal kerja hingga sekarang sudah lima belas tahun, setiap ada tamu pasti langsung membuatkan minum tanpa disuruh.


"Kamu sudah lama banget nggak ke sini," ucap Melisa benar adanya.


"Nggak lama setelah lulus, saya lanjut S2 di England," jawab Marvel.


"Ooo ... pantas aja. Kalau sekarang sibuk apa?" tanya Melisa ingin tahu. Walaupun sudah mengenal Marvel cukup lama, tetapi keadaan sekarang jelas berbeda. Mereka—Marvel dan Zevanna—bukan lagi mahasiswa. Mereka adalah dua orang dewasa yang seandainya menjalin hubungan, Melisa berharap keduanya tidak sekadar main-main.


"Saya dan teman-teman lagi nyoba bikin game untuk ponsel. Saya juga invest di kedai kopi milik teman sama tempat pencucian mobil juga ada. Yeah, apa aja saya coba selagi masih ada dana buat diputar," jelas Marvel.


"Hebat banget kamu," puji Melisa sambil sesekali menatap Zevanna.


"Iya, iya, aku nggak hebat." Zevanna manyun. "Udah, ah. Ayo, Kak Marvel, kita pergi nanti keburu tambah malam," ajak Zevanna yang justru diartikan lain oleh mamanya.


"Iya, deh, yang nggak mau diganggu. Mama juga ada urusan, kok," ungkap Melisa.


Marvel kembali tertawa melihat interaksi ibu dan anak di hadapannya. Ketiganya lantas beranjak dari duduknya.


"Kalau begitu saya izin ajak pergi Zevanna ya, Tan, eumm ...." Marvel menyadari ada yang kurang. "Ze, papa kamu nggak di rumah?"


Zevanna dan mamanya saling melempar pandang. Ada kesan pahit di mata gadis itu. Marvel mungkin akan jadi orang kesekian yang kaget jika tahu orang tuanya bercerai.


"Papa udah nggak tinggal di sini," jawab Zevanna. "Ma, aku pergi dulu ya." Ia mencium pipi kiri mamanya.


"Hati-hati. Pulangnya jangan malam-malam."


"Iya, Tante." Marvel mengangguk singkat, kemudian melangkah keluar dan membukakan pintu mobil untuk Zevanna.


Tepat setelah mobil Marvel menjauh, Jayden turun ke lantai satu. Senyuman Melisa menyambutnya. Jayden lantas menghampiri karena ada perlu.


"Jay, Tante pergi dulu ya," ucap Melisa mendahului.


"Iya, Jay. Tapi, kalau masih sakit jangan dipaksa lho, ya?"


Jayden mengiakan. Setelahnya, Melisa berpamitan agar tidak terlambat menemui calon pengantin yang akan membuat gaun pengantin padanya.


Tinggallah Jayden dan kesunyian. Lelaki itu menghela napas, melanjutkan tujuannya ke dapur, kemudian kembali ke kamar. Namun, alih-alih menyelesaikan pekerjaan, ia justru duduk terdiam di sisi ranjang.


Jayden terngiang-ngiang obrolan Zevanna, Melisa, dan Marvel. Iya, dia mendengar semuanya. Dia juga melihat betapa cantiknya Zevanna malam ini, meski dari jauh—dari lantai dua. Dan harapan Zevanna diam-diam terkabul. Jayden menyesal, lebih tepatnya semakin menyesal telah meninggalkan gadis itu.


Jayden cemburu Zevanna pergi bersama laki-laki lain. Namun, melihat bagaimana Marvel, Jayden hanya bisa meringis pedih. Motornya tentu tak sebanding jika dijejerkan dengan Mercedes Benz milik Marvel. Zevanna pantas bahagia. Zevanna pantas mendapat yang lebih baik darinya.


Entah berapa lama, lelaki berkaus hitam itu merenung. Malam tahu-tahu kian larut ketika ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari mama Zevanna.


[Jay, malam ini saya nggak pulang. Titip rumah sama Zevanna ya]


Sudah jam sepuluh lebih saat Jayden melihat jam di dinding, dan Zevanna belum pulang mengingat ia belum mendengar suara mobil atau ketukan sepatu gadis itu. Jayden jadi khawatir. Ia ingin menghubungi Zevanna. Namun, apakah nomor gadis itu masih sama? Jayden sangsi.


Ia memutuskan untuk ke bawah, menunggui hingga Zevanna pulang. Setelah hampir satu jam lamanya, suara mobil akhirnya terdengar dan berhenti di depan rumah. Jayden menempelkan telinganya di pintu. Samar ia mendengar Zevanna mengucapkan terima kasih sebelum mesin mobil Marvel kembali menyala, kemudian perlahan menghilang.


Zevanna berjalan mengendap-endap, takut Mama masih bangun. Hati-hati ia membuka pintu. Namun, bukannya mamanya, melainkan Jayden-lah yang saat ini justru memergokinya dan menatapnya seakan-akan dia adalah bandar narkoba yang siap ditangkap.


"Kenapa jam segini baru pulang?"


Zevanna membuang muka. Peduli setan! Dia melewati Jayden begitu saja.


"Zevanna!"


"Bukan urusan lo!" seru Zevanna tanpa menghentikan langkahnya.


"Tapi kamu perempuan. Mama kamu nggak pulang malam ini dan dia nitipin kamu ke aku."


"Gue pergi sama Kak Marvel bukan orang asing, dan gue bukan anak kecil yang perlu dititip-titipin segala!" tegas Zevanna. Ia sudah berbalik menatap Jayden. Matanya menyeringai kesal karena rasa lelah ditambah sekarang marah gara-gara Jayden menghadangnya. "Lo lagi latihan jadi bokap tiri gue?"


"Maksud kamu?"


"Pura-pura bego!"


"Ze—"


"Udahlah!" Zevanna mengibaskan tangannya, enggan mendengarkan Jayden. Ia melanjutkan langkah menaiki anak tangga. Dan tepat ketika dia sampai di ujung, listrik tiba-tiba padam.


.......


.......


.......


...Aku baru sadar kalau cerita ini alurnya cukup lambat. Kalian merasa bosan nggak?...