
"Jangan lupa sama Mama lho, Ze. Nanti kamu betah lagi di sana." Belum apa-apa, Melisa sudah drama. Sejak semalam ia galau lantaran mau ditinggal anaknya. Padahal, perginya cuma seminggu.
"Ya enggaklah, Ma. Nanti siapa yang bakal nombokin uang jajanku tiap akhir bulan."
"Adrian, lah! Sekali ngasih aja dua puluh juta." Wanita itu geleng-geleng kepala. "Dari dulu nggak berubah. Manjain anaknya kebangetan."
Zevanna cengengesan "Ya emang mesti gitu, kan? Lagian orang tua kerja 'kan buat anak. Mama juga jadi agak hemat, kan?"
Gengsi mengiakan, Melisa memilih membuang muka. Mobil yang dikemudikan Pak Tono—sopir barunya —telah memasuki bandara. Zevanna segera keluar sambil menyeret satu koper ukuran kabin yang dibawanya.
"Jangan boros-boros. Bulan ini sama bulan depan, Mama nggak kasih kamu uang," ucap Melisa sebelum anaknya melakukan check in.
"Iyaaaa." Walaupun sedikit manyun, Zevanna tetap memeluk mamanya. "Mama hati-hati ya di sini. Jaga kesehatan. Nanti Ze pasti telepon kalau udah sampai."
"Nando jadi jemput, kan?" Melisa memastikan.
Zevanna mengangguk. Pelukan ibu dan anak itu terpaksa dilepas karena Zevanna harus segera bergegas. Gadis itu tersenyum sebelum benar-benar berangkat, dan Mama menepuk-nepuk pipinya pelan.
"Kamu juga hati-hati di sana. Jangan ngerepotin Kak Nando sama Kak Tasya."
"Iya, Ma."
***
Di Bandara Changi, Nando menunggu kedatangan adiknya seraya memegang kertas buffalo bertuliskan nama Zevanna. Sengaja agar adiknya marah-marah.
Dan benar saja, ketika akhirnya Zevanna muncul dengan napas memburu, raut wajah gadis itu seakan ingin menerkam kakaknya.
"Malu-maluin banget sih! Ini cuma Singapore, kecuali gue ke Zimbabwe baru lo boleh begini."
Nando cekikikan. "Soalnya kalau sampai ilang gak ada serepnya."
"Oh, terus kalau ada, lo mau bodo amat?"
Pria itu manggut-manggut sambil melipat kertas di tangan dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.
"Dasar kakak durjana!"
"Hahahahaha!" Nando tertawa puas. Mengambil alih koper Zevanna, mereka meninggalkan bandara. "Laper nggak?"
"Laper, lah!"
"Mau makan?"
"Enggak! Ya mau, lah! Pake nanya! Ish!" Zevanna berdecak gemas, ingin mencakar wajah Nando.
"Makan bakmie kesukaan lo, yuk! Tapi, traktir gue ya?"
Zevanna menghentikan langkahnya. Matanya memicing menatap sang kakak dengan satu tangan berkacak pinggang.
"Ayolah, jangan pelit-pelit. Ntar kuburannya sempit lho." Nando merayu. Kedipan mata genit ia layangkan kepada adiknya.
"Gue nanti dikremasi."
Kakak beradik itu bertukar pandang dengan tampang cengo, lalu sesaat kemudian tertawa renyah gara-gara celetukan Zevanna.
"Emang lain dari yang lain adek gue."
"Biarin! Wlek!" Zevanna menjulurkan lidah.
Nando dan Zevanna benar-benar mampir ke tempat yang menjual bakmie favorit Zevanna sebelum menuju apartemen, dengan Zevanna yang mentraktir kakaknya. Iya, Nando serius kalau dia minta dibayari. Toh, adiknya baru saja dapat jackpot dari ayah mereka.
Hanya ada Tasya setibanya mereka di apartemen. Zevanna jadi agak sedih. Padahal ia berharap disambut teriakan keponakannya yang tampan.
"Emang Ryuga ke mana? Kok Kak Tasya berani lepasin dia sendirian?" tanya Zevanna.
"Lo pikir anak gue pet, dilepas sendirian." Bapak dari bocah yang disebutkan namanya tidak terima.
"Lagi belajar bikin dimsum sama uncle barunya," jawab Tasya, lantas menyuguhkan minum untuk suami dan adik iparnya.
"Uncle baru?"
"Iya, di sebelah unit ini ada penghuni baru. Ganteng, Ze. Masih jomlo. Mau gak?" Tasya menawari, ekor matanya melirik sang suami yang duduk di sebelahnya.
"Gak, ah! Aku lagi anti sama cowok." Zevanna menunjukkan raut tak minatnya.
"Siapa tahu yang ini bisa bikin kamu move on, nggak kayak Marvel." Nando mengulum senyum penuh arti.
"Mulai, mulaiii …." Zevanna menyeringai kesal. "Aku telepon Mama aja, deh," sambungnya sambil beranjak.
Bertepatan dengan itu, bel berbunyi. Ketiganya kompak menoleh ke arah pintu. Tasya sudah mau beranjak, hendak membukakan. Tetapi, suaminya menahannya.
"Ryuga pulang, tuh. Bukain dong. Mumpung lo udah berdiri," pinta Nando.
"Hmmm … iya." Zevanna melangkahkan kakinya setengah tidak ikhlas lantaran masih jengkel. Di belakangnya, diam-diam Nando dan Tasya mengikuti.
"Ryuga home!" seru Ryuga begitu pintu di hadapannya terbuka.
Senyum lebar menghiasi wajah Zevanna. Ia segera berjongkok dan memeluk keponakannya. Matanya terpejam untuk sejenak menghidu aroma cologne dari tubuh mungil dalam dekapannya. "Ryuga, Aunty misses you."
Lalu ketika matanya terbuka, Zevanna tergemap menyadari siapa laki-laki yang berdiri di belakang Ryuga.
"Udah kali peluk Ryuga-nya. Sesek nanti anak gue." Nando muncul bersama Tasya.
Dengan gugup Zevanna mengurai pelukan dan kembali berdiri dengan perasaan luar biasa canggung. Zevanna memandang tidak percaya pada kakak-kakaknya yang saat ini sedang berbasa-basi membahas dimsum bersama Jayden. Iya, Jayden. J-A-Y-D-E-N. Apa Zevanna masih kurang jauh perginya sampai-sampai dipertemukan lagi dengan lelaki itu?
"Ini adiknya Abang yang katanya mau datang?" tanya Jayden dengan tatapan mengarah pada Zevanna. Jujur saja ia hampir tidak mengenali karena model rambut Zevanna yang berubah drastis. Terlalu pendek, padahal gadis itu dulu pernah bilang kalau tidak suka rambut pendek, makanya Jayden kaget.
"Iya, kenalan dulu dong kalian," ucap Nando sumringah.
Zevanna melotot ke arah kakaknya.
"Udah kenal kok, Bang."
Dan, bola mata Zevanna seakan mau mencelat keluar mendengarnya.
"Oh, ya? Kenal di mana?" tanya Tasya.
"JAYDENNNN! TOLONGIN, PLEASE!"
Suara dari arah belakangnya, sukses membuat Jayden memutar tubuh dan menyita perhatian mereka, termasuk Ryuga. Seorang wanita menghampiri Jayden dengan raut panik dan napas memburu. Dan, Zevanna menelan ludah mengetahui jika perempuan itu adalah Stella.
"Ada apa?" tanya Jayden kalem.
"Orangnya neleponin gue lagi. Lo ngomong sama dia lagi dong biar nggak gangguin terus. Harus lebih tegas dari yang kemarin ya." Stella menyerahkan ponselnya yang lagi-lagi berdering.
Sambil menerima hape Stella, Jayden berkata, "Bang, balik dulu ya."
"Iya, thank you ya, Jay," balas Nando.
Setelahnya, Jayden mengangkat telepon sambil berjalan menuju unitnya dengan Stella di sampingnya. "Halo! Mau apa lagi lo? Kalau berani sini muncul, jangan bisanya gangguin cewek gue lewat telepon. Dasar pengecut!"
Mendengar kata "cewek gue" keluar dari mulut Jayden dengan nada berapi-api, tubuh Zevanna mendadak lemas. Ia seperti ditampar oleh kenyataan, dan berpikir jika kesempatan yang membuatnya bisa kembali bersama dengan Jayden kini sepenuhnya telah sirna.
Zevanna mungkin akan terduduk di lantai kalau saja Ryuga tidak menarik-narik tangannya. "Aunty, ayo masuk. Aunty bawa jajan gak?"
.......
.......
.......
...Ada yang inget gak waktu Stella fitting gaun dan dia teleponan? Itu dia teleponan sama Jayden 😎😎😎...