
Bahagia itu kita yang tentukan. Adalah prinsip yang sekarang dipegang Zevanna setelah tidak sengaja membaca caption salah satu akun kata-kata bijak di Instagram. Sudah cukup selama ini waktunya habis untuk menangisi luka yang disebabkan Jayden. Sekarang, saatnya ia menjemput masa depan dan kebahagiaannya.
Ya! Jangan biarkan luka menguasai di saat ada bahagia yang menanti.
Senyum gadis itu merekah tepat setelah membubuhkan lipstik warna merah di bibirnya. Malam Minggu ini, Marvel akan mengajaknya pergi ke acara grand opening sebuah restoran Korea milik salah satu teman lelaki itu.
Marvel bilang beberapa media juga diundang karena partner bisnis temannya adalah seorang model dan bintang iklan. Entah siapa model yang dimaksud, yang jelas Zevanna harus tampil lumayan ekstra supaya nanti tidak malu-maluin kalau tidak sengaja tersorot kamera.
Pukul enam lewat sekian menit, Zevanna turun ke lantai satu. Rupanya Marvel sudah sampai dan sekarang sedang mengobrol dengan mamanya.
"Nah, ini Zevanna-nya udah nongol," ucap Melisa merangkul bahu anaknya.
Zevanna mengulas senyum. "Kak Marvel udah lama?" tanyanya pada lelaki berkemeja hitam yang senada dengan gaun yang dikenakannya.
"Belum kok," jawab Marvel. "Berangkat sekarang?"
Zevanna mengangguk, lantas mereka berpamitan pada Melisa yang sempat-sempatnya menyuruh keduanya berfoto karena katanya terlihat sangat serasi.
...BULGOGI TIME...
Begitu nama yang terpampang di bagian depan restoran sesampainya Zevanna dan Marvel di tempat yang sudah ramai tersebut. Beberapa orang berseragam khas wartawan, tak ketinggalan dengan kameranya, juga tampak berwira-wiri.
"Hai, Bro! Datang juga lo!" Seorang pria bermata sipit dengan rambut kecoklatan seketika menghampiri.
"Nolak rezeki namanya kalau nggak datang," kelakar Marvel.
"Halah, nolak apa nolak?" Lelaki itu melirik Zevanna sekilas, membuat perempuan itu sedikit mengernyitkan kening.
Marvel tertawa. "Ssst! Diam aja," katanya, kemudian memiringkan badan agar menghadap Zevanna. "Ze, kenalin ini Steven yang punya restoran. Stev, ini Zevanna." Ia memperkenalkan.
"Steven Lee." Steven menjabat tangan Zevanna. "Too much information, restoran ini hasil patungan sama dia. Marvel berlebihan." Ia menunjuk seorang pria berperawakan tinggi yang baru selesai mengobrol dengan tamu lainnya, lantas memanggilnya. "Mikha!"
Orang yang dipanggil mendekat. Zevanna membulatkan bibir. Wew, Mikhael Rain, batinnya. Lumayan buat cuci mata. Kapan lagi bisa bertemu orang yang fotonya kerap menghiasi banner segede gaban di berbagai tempat. Zevanna lantas bersalaman dengan Mikha setelah Marvel melakukan hal serupa.
"Mikha, saya sering lihat iklanmu berseliweran. Bolehlah, kapan-kapan kita kerja sama. Kalau sekarang sih, cuma mau kontak yang bisa dihubungi saja," ungkap Marvel serius.
Acara grand opening berjalan lancar dan tidak memakan waktu lama. Para wartawan sudah bubar setelah mereka mewawancarai Mikha dan Steven. Dan kini, orang-orang yang berkesempatan hadir telah duduk di meja masing-masing menunggu makanan mereka datang, kecuali Zevanna dan Marvel yang masih setia berdiri.
"Kak, kita nggak duduk?" tanya Zevanna mulai lelah gara-gara sepatu hak tingginya.
"Capek ya?"
Perempuan itu sontak mengangguk. Marvel lalu menggandengnya. Zevanna pikir, Marvel akan mengajaknya duduk di meja yang masih kosong. Namun tidak, lelaki itu justru membawanya ke lantai dua yang tak berpenghuni.
"Kak ...." Zevanna menghentikan langkahnya, membuat Marvel melakukan hal yang sama.
Menolehkan kepala, Marvel bisa membaca adanya keraguan di wajah Zevanna. "Kenapa?"
"Kenapa nggak di bawah aja kayak yang lain?"
"Takut?" Marvel terkekeh. Tangannya terulur untuk merapikan rambut Zevanna yang tertiup angin.
"Yaaa ... enggak sih, cuma ...."
"Dari meja yang itu bisa lihat bulan secara jelas." Marvel kembali menarik tangan Zevanna, dan gadis itu mau tak mau mengikutinya.
Pria yang kini duduk berhadapan dengannya itu benar. Dari meja mereka, Zevanna bisa melihat bulan sabit yang menggantung di langit malam ditemani bintang-bintang yang bersinar terang di sekelilingnya. Kendati begitu, bulan tetap memiliki keindahannya tersendiri. Dan mungkin, Zevanna yang sudah lelah tidak perlu menambah lelah dengan menjadi bintang yang terang. Cukup menjadi bulan yang menenangkan, tetapi mampu membius mereka dengan apa yang dimilikinya. Kebaikan, kemampuan, dan kerendahan hatinya.
"Special dishes for special guests."
Zevanna tersentak dari lamunan dan kontan menoleh. Ada Steven yang sedang menyajikan banyak hidangan, dan Zevanna baru menyadari jika meja tempatnya duduk berbeda dari yang lainnya. Terdapat lilin di tengahnya seakan meja itu memang sengaja disiapkan untuknya. Entah siapa yang menyalakannya dan kapan, ia betul-betul tidak tahu. "Thank you," ucapnya dibarengi senyuman.
"My pleasure."
Seiring dengan kepergian Steven, speaker yang terdapat di pojok atas membunyikan instrumen musik. Zevanna menelan ludah. Ia bukan anak kemarin sore yang tidak berpengalaman masalah beginian. Ia sudah bisa menebak ke mana obrolan malam ini akan bermuara. Apalagi tangan besar Marvel baru saja menggenggam tangannya.
"Ze, we've been close and to be honest I've fallen in love with you. But, you know, I used to have a lot of things to do. And now, we meet again under better conditions. I thought the feeling was gone, but it wasn't. I just fall more and more in love with you. So, Zevanna Epiphania Nelwan, would you like to create a love story with me?"
Zevanna mengembuskan napas panjang. Menatap Marvel dan tangan mereka yang masih bertautan, ia menyunggingkan senyuman. Semestinya Zevanna tinggal mengangguk, maka semuanya sudah cukup. Namun, laki-laki yang berdiri di dekat tangga yang tak sengaja tertangkap penglihatannya membuat lidahnya kelu. Mata hitamnya yang jernih menatap Zevanna lekat. Seakan dia juga menanti jawab. Zevanna mendadak gamang.