
Zevanna yang menyakiti, Zevanna pula yang sakit hati. Marvel telah memblokir segala akses kontak mereka. Lelaki itu juga sudah berbicara dengan mamanya sesaat setelah mengantar Zevanna.
"Maaf, saya menganggu waktu Tante sebentar," ucap Marvel begitu duduk berhadapan dengan Melisa. "Saya hanya ingin memberitahu tahu Tante kalau saya dan Zevanna sudah tidak lagi memiliki hubungan apa pun."
Sontak saja wanita paruh baya itu melirik anaknya yang sejak muncul membuatnya curiga. Wajah Zevanna sangatlah sembab. Oleh sebab itu, Melisa memiliki rencana untuk menginterogasi.
"Zevanna nggak salah, Tante. Tolong jangan lihat dia seperti itu." Marvel tersenyum rikuh.
Di saat begini saja, laki-laki itu masih membelanya. Zevanna jadi tambah merasa bersalah. Ia mengusap sudut matanya yang basah.
"Saya dan Zevanna tidak memiliki masalah. Hanya saja seiring berjalannya waktu ternyata tujuan kami berbeda." Ya, tujuan Marvel adalah Zevanna, tetapi tujuan gadis itu adalah Jayden. "Saya datang dengan cara baik-baik. Karena itu, saya juga ingin pergi dengan cara yang baik. Tante, terima kasih karena sudah menerima saya dengan sangat baik. Maaf kalau selama ini saya banyak salah."
"Tante juga minta maaf ya, Marvel. Tentang kamu dan Zevanna, Tante nggak bisa apa-apa jika itu sudah menjadi keputusan kalian. Semoga kamu dan Zevanna selalu bahagia dengan cara masing-masing."
Marvel mengangguk, kemudian berdiri diikuti oleh ibu dan anak di depannya. "Kalau begitu saya pamit, Tante." Pandangannya beralih pada Zevanna yang sejak tadi diam. "Zevanna, aku pamit. Kamu baik-baik ya. Selamat tinggal."
Gadis itu hanya mengangguk-angguk. Matanya kembali menghangat karena air mata lagi-lagi mengalir.
Marvel berjalan mendekat, memeluk perempuan yang dicintainya, meski di situ ada mama sang gadis. Usapan di punggung ia berikan beberapa kali. Lalu, ketika pelukan mereka terurai, ia memaksakan senyum dengan kedua tangan berada di bahu Zevanna. "Kamu harus bahagia. Harus! Karena nggak ada yang perlu ditangisi."
Zevanna mengusap wajahnya kasar. Seminggu telah berlalu, tetapi tidak semudah itu ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. "Gimana gue nggak nangis, Kak? Kamu baik banget sama aku."
Ia menoleh mendengar pintu kamarnya diketuk. "Masuk aja, Ma."
Alih-alih sang mama, Astrid-lah yang justru menampakkan batang hidungnya. Zevanna mengernyit. Perasaan dia tidak janjian dengan sahabatnya yang kini sudah berdiri dan menyodorkannya sarapan.
"Nasi uduk kesukaan lo, nih! Mau nggak?" ujar Astrid saat Zevanna tak kunjung menerima.
"Lo ngapain tiba-tiba ke sini?"
Kesal, Astrid pun menaruh makanan yang dibawa di meja samping tempat tidur. "Bosen. Leon sibuk. Jalan, yuk?" katanya sudah duduk bersila di sebelah Zevanna.
"Lo disuruh nyokap gue?" Zevanna melempar tatapan menyelidik.
"Hah?" Astrid pura-pura kaget.
"Nggak usah akting. Jelek!" Zevanna menyambar sarapannya. "Lo kalau ngajak jalan pasti telepon terus janjian di suatu tempat, nggak nyamperin ke sini."
Astrid nyengir. "Lo ngertiin gue banget sih! Gue jadi ge-er. Hehe ...."
"Bahasa lo. Jijik tahu nggak!" Zevanna bergidik.
Bukannya tersinggung, Astrid justru tersenyum. "Seneng deh kalau lihat lo masih bisa marah-marah," ungkapnya jujur. Karena itu artinya Zevanna sudah kembali pada sifat aslinya.
"Nyokap cerita apa aja?" tanya Zevanna usai menelan makanannya.
"Semua yang beliau ketahui."
Bahu Zevanna mengendur. Ia menaruh nasi uduk yang tinggal setengah di nakas. Ia sudah menceritakan semuanya kepada mamanya, termasuk alasan Jayden memutuskannya.
"Apa sih, Ze, yang bikin lo terus-terusan murung? Nyokap lo sampai nyamperin gue langsung saking khawatirnya tahu nggak," ucap Astrid kontan membuat sahabatnya terbelalak. "Bukannya keputusan Kak Marvel udah bener?"
"Iya, tapi Kak Marvel tuh baik banget. Dia aja masih sempat-sempatin waktu buat pamit ke nyokap, masih peluk dan nenangin gue." Zevanna meringis dalam hati.
"Itu karena Kak Marvel cinta sama lo, sayang sama lo. Tapi dia lebih milih realistis." Astrid berkata dalam satu tarikan napas. "Lo jangan terlalu terbebani gini lah, Ze. Toh, Kak Marvel baik—kalian putus dengan cara baik-baik. Beda cerita sama lo yang putus dari Jayden." Ia terkikik melihat temannya naik pitam.
"Yeah siapa tahu kangen." Astrid mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. "Jalan, yuk?"
"Ke mana?"
"Halcyon."
"Ogah! Mending gue dorong lo dari balkon kamar ini."
Astrid terkekeh-kekeh, sama sekali tidak takut. "Emang kenapa, sih? Yang penting 'kan bayar."
"Gak usah ngadi-ngadi. Lo jangan bikin gue kayak cewek nggak punya harga diri, dong!"
"Lhoh, bukannya emang nggak punya?"
"Kampret!" Zevanna mendorong wajah Astrid hingga duduknya hampir terjengkang. Temannya itu memekik manakala Zevanna mengacak-acak rambutnya.
"Zevanna semprul!"
"Siapa suruh nyebelin!" Zevanna manyun.
"Iye, iye, maap." Astrid meraih guling dan memeluknya. "Enaknya ngapain yah? Kalau cuma pergi makan kayak bosen banget."
Keduanya tercenung memikirkan agenda menyenangkan apa yang sekiranya dilakukan. Cukup lama sampai akhirnya Astrid menjentikkan jari.
"Cari parfum yuk! Bosen gue wanginya nggak ganti-ganti."
"Boleh—eh, tapi abis itu ke salon ya. Gue mau potong rambut."
"Mau buang sial lo?" Astrid melirik temannya dan tertawa.
"Mau sesuatu yang baru aja." Semalam Zevanna banyak melihat foto dan video berbagai model rambut, jadi ingin meniru.
"Dicat aja sekalian," usul Astrid, "warna hijau kekuning-kuningan. Ntar gue beliin lo jepit rambut bentuk lalat," lanjutnya tanpa dosa.
Zevanna menatap sahabatnya dengan mata memicing dan napas menderu sebelum kemudian menggebuk Astrid dengan batal. Bugh!
"Adawww!"
"Rasain!" Zevanna turun dari ranjang. "Gue mandi bentar."
"Nyenyenye."
Sembari menunggu temannya selesai mandi dan berdandan, Astrid mengecat kuku setelah diizinkan oleh si pemilik alias Zevanna. Begitu beres, mereka bergegas menuju lantai satu.
"Ma, aku pergi sama Astrid ya." Zevanna berpamitan.
Melisa sumringah karena akhirnya anaknya mau keluar rumah. "Iya, hati-hati."
Ketika dua gadis itu sudah mau masuk ke mobil Astrid, mobil lain yang tidak Zevanna kenali berhenti tepat di depannya. Seorang laki-laki berkemeja biru muda dan dilapisi jaket denim serta kacamata hitam yang bertengger di hidung keluar dari pintu bagian penumpang.
Zevanna mengernyit beberapa saat. Kemudian begitu menyadari siapa orangnya, ia malah ternganga-nganga.
"SURPRISEEEE ...." Pria itu berucap sembari melepaskan kacamatanya. Sontak saja Zevanna langsung menubruk dan memeluknya.