
"Jadi, rencananya saya akan mengeluarkan koleksi pakaian terbaru saya, dan tadi niatnya mau menemui Indra, siapa tahu dia ada waktu luang untuk melakukan pemotretan pembuatan katalog. Tapi, lihat kamu bawa kamera, saya jadi penasaran. Apalagi kelihatannya kamu sudah terjun lama di dunia fotografi." Melisa mengungkapkan ketertarikannya.
Jayden tersenyum hangat. Sejenak mereka menyesap cappucino masing-masing yang baru diantarkan oleh pramusaji.
"Tante benar. Saya sudah suka fotografi dari SMA. Kalau dihitung berarti sudah sekitar sepuluh tahun," papar Jayden dengan senyum yang kembali bertengger di bibir tipisnya.
"Sepertinya saya nggak usah basa-basi lagi, ya. Jayden, gimana kalau kamu kerja sama saya? Jadi fotografer untuk pembuatan katalog pakaian yang tadi saya bilang?" ujar Melisa dengan keyakinan penuh.
Mata sipit Jayden sedikit membeliak. "Tante yakin? Nggak mau lihat hasil jepretanku dulu?"
Melisa terkekeh. "Kita mungkin baru bertemu. Tapi, nggak tahu kenapa saya bisa merasa langsung percaya sama kamu. Seperti memang sudah seharusnya kita mengenal lama."
Jayden mengerutkan keningnya samar, sedikit waswas.
"Ah, saya tahu. Cara kamu berpakaian mengingatkan saya pada anak laki-laki saya. Sebelum memutuskan untuk bekerja di Singapura, dia yang sering membantu saya. Ya, sudah, Jayden. Saya masih ada urusan. Kamu bisa pikir-pikir dulu. Lagi pula pemotretannya masih minggu depan," ujar Melisa agak terburu-buru. Ia memberikan kartu namanya kepada Jayden.
Lelaki itu menerimanya dan membacanya sekilas. "Aku akan menghubungi Tante kalau sudah tahu jawabannya."
Mereka bersalaman. Tidak lama setelah Melisa keluar dari kafe, Jayden pun memutuskan untuk pulang.
Hidup memang penuh kejutan. Baru kemarin lelaki itu kebingungan di apartemen Thomas memikirkan tentang apa yang bisa dilakukan agar bisa terus bertahan hidup. Sekarang dalam waktu kurang dari 48 jam, dua pekerjaan ditawarkan kepadanya.
Jayden telah mengambil keputusan usai berpikir semalaman dan bertanya beberapa hal kepada Thomas. Lelaki yang kini tengah memandangi langit-langit kamarnya itu terpaksa menyingkap selimut ketika pintu kamarnya diketuk.
"Hmm .... Apa?" tanyanya acuh tak acuh begitu membuka pintu.
"Mau lo apa gue yang bikin sarapan?" tanya Joanne to the point. Gadis itu tampak segar karena baru saja mandi.
"Gue aja. Masakan gue lebih enak," kata Jayden enteng, tapi cukup berhasil menusuk ulu hati adiknya.
"Ya, udah cepetan. Gue mau nasi goreng sosis."
"Lima menit." Jayden kembali menutup pintu kamarnya.
Enyah dari depan kamar kakaknya, Joanne menuruni anak tangga dengan bibir mencebik. Orang bilang anak perempuan itu lebih mirip ayahnya. Namun, kenyataannya dia tidak ada mirip-miripnya bahkan dari segi wajah sekalipun. Kecerdasan sekaligus kepiawaian sang ayah ketika berada di dapur semuanya menurun pada kakaknya.
Jayden yang baru saja sampai di dapur dan siap berkutat dengan wajan serta spatula mengangkat sebelah alisnya melihat ekspresi adiknya yang pagi-pagi sudah cemberut.
"Kenapa lo?"
"Lagi insecure punya saudara kayak lo."
Jayden mengembuskan napas berat. Jika saat masih remaja dulu dia akan menyombongkan diri karena pada kenyataannya dirinya memang lebih unggul dalam banyak hal, lain lagi dengan sekarang. Jayden selalu berusaha memberikan afirmasi positif agar adiknya yang sering mengalami krisis identitas tidak salah jalan. Apalagi sekarang mereka hidup tanpa adanya pendampingan orang tua.
"Lo 'kan jago gambar. Di antara gue, Papa, sama Mama, cuma lo yang bisa menghasilkan karya-karya keren." Jayden membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan, kemudian membawanya ke meja dapur. "Fokus sama kemampuan diri bukan sama kelebihan orang lain karena yang kayak gitu ujung-ujungnya cuma bikin iri," imbuhnya sambil meraih pisau, mulai memotong-motong sosis.
Kalau Jayden sudah bijak begitu, pikiran Joanne langsung tertuju pada ayahnya. Sifat kedua lelaki yang sejak kecil selalu menjadi malaikat pelindungnya itu memang sebelas dua belas. Tampak diam dan seakan tak peduli, tapi sejatinya menaruh perhatian yang begitu besar.
"Papa bakalan pulang nggak, ya, Ko?" Kepala gadis itu kini sudah terkulai di meja bar. "Joanne kangen Papa." Ia menyalakan ponselnya, lalu menuju galeri untuk sekadar melepas rindu yang begitu menyesakkan.
Pergerakan tangan Jayden sontak terhenti. Ekor matanya melirik Joanne yang diam-diam menitikkan air mata. Oh, ****! Jayden membenci hal seperti ini. Karena itu, dia dengan segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Minggu depan gue udah kerja, jadi fotografer," kata Jayden memberitahu.
"Sama Ko Thomas?" Joanne menegakkan tubuhnya. Memandangi kakaknya yang kini sudah berada di depan kompor. Bumbu hingga peralatan yang dipakai sama, tapi setiap dia yang memasak entah mengapa rasanya berbeda.
"Bukan. Ada kenalan baru."
Joanne hanya manggut-manggut, lalu beranjak untuk melihat lebih dekat cara Jayden memasak. Siapa tahu ada trik khusus yang selama ini disembunyikan.
***
"Lo mau masuk rumah sakit?" ujar Bobby, kemudian mendaratkan bokongnya di sebelah Zevanna. Lelaki itu hanya geleng-geleng kepala melihat betapa tidak sehatnya hidup Zevanna.
"Jangan gitu, dong. Gue cuma lagi cape sama biar nggak ngantuk aja." Zevanna manyun. Suasana hatinya semakin buruk karena peristiwa Jayden yang masuk ke kamar hotel bersama ibunya terus berputar-putar di kepala.
"Serah lo, deh. Asal nggak ngeluh asam lambung naik aja ntar. Gitu 'kan, ya, Priss, mainnya?" Bobby menenggak air minumnya.
Priscilla hanya mesem, sedangkan bibir Zevanna semakin maju.
"Cewek yang pertama tadi foundation-nya agak terlalu terang. Next, perhatiin lagi." Priscilla memberi masukkan, lalu ikut bergabung bersama Bobby dan Zevanna.
"Noted, Kak." Zevanna membuang napas pendek. Kepalanya menengadah menatap langit-langit ruangan dengan pikirannya yang kembali tertuju pada dua orang yang membuatnya kesulitan tidur semalam; Jayden dan ibunya. Batin gadis itu bertanya-tanya sejak kapan keduanya saling mengenal. Apa karena ibunya, Jayden jadi memutuskan hubungan dengannya secara tiba-tiba? Jika benar, maka Zevanna hanya bisa tersenyum kecut menanggapinya.
"Ze! Oy! Zevanna!"
Zevanna kontan mengerjap-ngerjapkan mata menyadari dirinya ketiduran. "Kenapa, Kak?" Ia menegakkan tubuhnya dan kembali meneguk kopinya sampai habis.
"Lo kenapa, sih? Berantem sama nyokap?"
"Emang Zevanna kenapa, Priss?" Bobby jadi ikut-ikutan kepo.
"Minggat dari rumah nyokapnya," jawab Priscilla diiringi kekehan.
"Serius?" Saking terkejutnya Bobby sampai menegakkan tubuhnya.
"Gaklah!" Dengan cepat Zevanna membantah. "Lagi pengen nginep di rumah bokap aja."
"Ooo ... adaptasi sama nyokap baru?" Lagi-lagi Bobby yang bersuara. "Gimana rasanya punya ibu tiri, Ze? Galak kayak yang sering disangka orang-orang nggak?"
"Kebanyakan mantengin drama di medsos lo. Kak Lily baik, kok. Baik banget malah."
Sebelah alis Bobby terangkat. "Kakak? Lo manggilnya kakak?" Lelaki itu hampir tersedak ludahnya sendiri. Bobby memang sangat tidak up to date karena 80% otaknya hanya memikirkan pekerjaan, sisanya jalan-jalan dan makan.
Priscilla terkekeh. "Lo nggak tahu kalo nyokap barunya Zevanna belum ada 30 tahun?"
"WHAT?" Kali ini Bobby benar-benar tidak bisa untuk biasa-biasa saja.
Zevanna melirik sinis, merasa Bobby terlalu berlebihan.
Bobby meringis, tak enak hati. "Sorry, sorry." Ia lantas berdeham untuk mengusir kecanggungan yang mendadak tercipta. "Tapi omong-omong, kalau belajar dari bokapnya Zevanna yang jodohnya usianya beda jauh banget, bisa jadi jodoh gue masih SMA atau malah SMP, makanya sampai sekarang gue masih jomlo," imbuhnya sambil mengelus-elus dagu.
"Ngeh! Kalau itu, sih, lo cuma nggak bisa move on aja sama yang kemarin," ejek Priscilla sukses membuat wajah Bobby merah padam.
"Sialan lo!"
Di tengah perdebatan Priscilla dan Bobby, Zevanna bangkit berdiri dan mengambil tasnya. "Gue balik dulu, deh. Nggak kuat ini mata."
"Ke rumah bokap?" tanya Priscilla memastikan yang hanya dijawab dengan anggukan.
"Oke. Minggu depan jangan lupa pembuatan katalog pakaian nyokap lo." Priscilla mengingatkan.
"Kuat nyetir, Ze? Gue mau, kok, kalau disuruh nganterin." Bobby menawarkan diri.
"Thanks, tapi gue masih bisa, kok.
Priscilla tertawa. "Good job, Ze. Bobby sebenarnya cuma modus, kok, biar nggak dikatain 'si gagal move on'. By the way, hati-hati, ya."
Zevanna mengangguk seraya mengacungkan salah satu ibu jarinya, kemudian bergegas keluar dari tempat tersebut.