
Dokter menyatakan kalau kaki Zevanna telah sembuh dan tidak perlu lagi menggunakan alat bantu. Karena itulah, raut sengak milik si gadis terus terpampang sepanjang berjalan di koridor. "Benar 'kan apa yang aku bilang kalau kakiku udah nggak apa-apa," ucapnya jemawa.
"Iyaaaa ...." Jemari Marvel yang mengisi sela-sela jemari Zevanna dieratkan. Senyum kebahagiaan jelas terpancar. "Kita rayain kesembuhan kamu, yuk!"
"Sushi yaaa?"
Disuguhi raut innocent Zevanna dengan matanya yang mengerjap-ngerjap, Marvel mana bisa menolak. "Siap, Bos!" Ia melakukan hormat seperti saat upacara bendera.
"Yeayyy!" sorak Zevanna kegirangan hingga lupa di mana dirinya berada dan berujung mendapat lirikan tak sedap dari beberapa orang yang duduk di kursi tunggu. Ia menunduk seraya mengatupkan tangan di dada sebagai permohonan maaf, sementara Marvel tertawa tertahan.
"Apa, sih, kok malah diketawain," ungkap Zevanna manyun begitu mereka tiba di lobi.
"Abisnya kamu kayak anak kecil" Marvel mengacak pelan rambut pacarnya. "Tunggu sini ya. Aku ambil mobil dulu."
Di tengah perjalanan, pasangan kekasih itu bertukar pandang, meringis bersamaan melihat macet yang menghadang. Yang membuat mobil Marvel berhenti sesaat kemudian.
Sedikit terkesiap, mata Zevanna membeliak ketika Marvel tiba-tiba menggenggam tangannya. Hal biasa memang. Bahkan dulu, sering lelaki itu merangkulnya. Tetapi, mau seberapa banyak, belum pernah di tengah suasana yang mendadak sunyi begini. Zevanna tidak tahu kenapa, tetapi ia merasa tidak nyaman. Padahal, Marvel pacarnya, kan?
"Kamu udah laper banget, ya?" tanya Marvel memecah lamunan.
Kelu untuk berucap, Zevanna hanya menggeleng cepat.
"Muka kamu pucet. Tapi, di sini nggak ada makanan. Maaf ya nggak sempat bawain oleh-oleh. Kemarin di sana juga sibuk banget. Minum dulu aja ya, Sayang." Tanpa menunggu jawaban, Marvel sudah membuka botol air mineral kemasan yang selalu tersedia di mobilnya. Lantas menyodorkannya langsung ke depan mulut Zevanna.
Gadis itu menatap Marvel dan botol di depannya dengan tatapan polosnya. Menjadikan sang pacar kian gemas akan dirinya. Marvel mengangguk meyakinkan, dan Zevanna pun minum beberapa teguk.
"Makasih," ucap cewek itu sesaat setelahnya.
"Kamu kenapa lihatin aku kayak barusan?" tanya Marvel penasaran.
"Kayak gimana emang?"
"Kayak lagi ngebatin 'hmmm, pacarku ganteng banget'."
"PD abis!" Satu cubitan Zevanna mendarat di pinggang Marvel.
Lelaki yang sudah kembali mengemudi itu memekik, "Aduh, sakit banget. Kalau nabrak gimana, Yang?"
"Lebay!"
Marvel tertawa renyah. Tangannya terulur untuk mengusap-usap kepala Zevanna penuh sayang. "Kamu kenapa tadi tiba-tiba diam, hm? Kamu kalau kepikiran sesuatu, jangan ragu buat sharing sama aku ya. Aku pasti coba buat bantu. Tapi, kalau dirasa sangat menggangu, mungkin kamu butuh konsultasi. Tenang aja, aku ada kenalan psikolog."
Marvel sudah tahu tentang perangai buruk Priscilla yang membuat Zevanna sempat down dan stress. Baik saat di rumah sakit maupun awal-awal kepulangan gadis itu ke rumah. Marvel sampai menunda beberapa pekerjaannya demi bisa menemani Zevanna. Yang mana membuatnya sangat hectic selama seminggu ini.
"Kak ... makasih banyak." Tatapan Zevanna yang tadi tertuju ke depan kini sudah berlabuh di kedua bola mata hitam Marvel.
"Ada aku. Jangan khawatir ya." Marvel menangkup sebelah pipi Zevanna dan menepuk-nepuk pelan.
Segaris senyum berhasil tersungging di bibir yang siang ini dipoles lipstik warna nude.
"Nah, gini dong. Senyum. Mama pengin ketemu kamu secepatnya, Sayang. Dia senang banget waktu tahu kita udah pacaran. Kan nggak lucu kalau Mama lihat kamu sedih. Nanti dikiranya aku ngapa-ngapain kamu."
"Tante Vera mau ketemu aku?" tanya Zevanna terkejut.
Mendadak Zevanna diserang gelisah. "Nggak mau, ah. Aku belum siap." Napas perempuan itu memburu.
"Nggak siapnya kenapa? Kamu udah sering ketemu Mama 'kan dulu."
"Iya, tapi kan ...." Zevanna membuang napas gusar.
"Tapi apa?"
"Dulu sama sekarang 'kan beda."
"Ooohhhh ...." Marvel mengerti. "Karena kamu sekarang calon mantu Mama, ya?"
"Kak Marvel, ish!" Zevanna berdecak. "Tadi mama mertua, sekarang calon mantu."
"Ya emang gitu, kan? Atau kamu maunya nggak usah pakai kata calon?" Khayalan Marvel makin ke mana-mana.
"KAK MARVEL!" Wajah Zevanna merah padam. Salah tingkah, malu, cemas, membaur menjadi satu.
"Ya, Sayang?"
"Aku serius, nih." Wajah Zevanna kembali murung. "Aku minder, Kak, kalau harus ketemu orang tuamu dalam waktu dekat."
"Alasannya?"
"Udah umur segini, tapi kerjaannya belum jelas. Mau jawab apa nanti kalau ditanya."
"Hei ...." Mengurangi kecepatan mobilnya, Marvel berupaya mengembalikan tingkat kepercayaan diri pacarnya yang mendadak hilang. "Kamu talented tahu. Aku lihat video kamu yang like sama comment makin banyak. Kamu juga bilang ada beberapa brand lokal yang mau endorse kamu."
Zevanna memang tidak lagi bekerja. Tetapi, ia mencoba untuk tetap produktif dengan membuat video tutorial make up. Ia juga kadang mengabulkan permintaan orang-orang yang ingin diajari beberapa jenis make up look yang membuat followers-nya makin banyak.
"Iya, tapi ...."
"Nggak ada tapi-tapian. Kamu harus percaya diri sama bakat yang udah Tuhan kasih. Kamu lupa kalau kakak sepupumu aja sampai nggak suka karena dia sadar kamu hebat?"
"Kak Marvel ...." Zevanna seketika jadi melankolis. Marvel memang sering memberikan ucapan semacam itu, tetapi lewat chat. Dan sekarang, saat lelaki itu mengucapkannya langsung, Zevanna benar-benar bersyukur karena memiliki Marvel di sisinya. Ia merasa dihargai, lantas tanpa sadar setetes air mata membasahi sudut mata Zevanna.
"Heh, kok malah nangis?"
"Mau bilang makasih lagi, tapi takut kamu bosen dengernya." Dibarengi air mata yang menetes, Zevanna menampilkan raut bahagia.
Bertepatan dengan itu, mobil Marvel memasuki parkiran basemen sebuah mal. Begitu posisinya sudah benar, ia tidak langsung mematikan mesin dan keluar, melainkan memegangi bahu Zevanna supaya lurus menghadapnya. "Aku tahu kita baru pacaran sebentar, tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku serius sama hubungan ini. Toh, kita sudah kenal lama, kan? Kalaupun ada sifat yang berubah, kita bisa memahaminya mulai sekarang. Dan yang terpenting, aku sayang kamu, kamu sayang aku."
Beralih, tangan kanan Marvel menyentuh dagu Zevanna. Sedikit mengangkatnya, ia mendekatkan wajahnya. "I love you, Zevanna," ucap Marvel tepat di bibir Zevanna sebelum kemudian merasai lembut dan manis bibir itu.
Sementara Marvel terus menjelajahi rongga mulutnya, pikiran Zevanna justru melanglang buana.
" ... kamu sayang aku."
Aku sayang Kak Marvel?