
Marvel Nuka Lesmana
Sayang, siap-siap ya. Aku otw
Keresahan dalam diri Zevanna makin menjadi usai membaca pesan masuk dari pacarnya. Ia sudah berdosa. Haruskah ia membuat pengakuan? Marvel bahkan telah bertemu dengan papanya. Keduanya sempat mengobrol saat hendak pulang, usai Zevanna dan Marvel membeli lampu tidur. Sama seperti dulu, dua pria dewasa itu langsung akrab. Adrian pun tanpa ragu meminta Marvel supaya berkunjung ke rumahnya. Kangen main catur bareng, begitu alasannya.
Malamnya, Zevanna mendapat pesan dari sang ayah berisi restu perihal hubungannya dengan Marvel. Papa dan Mama tampak bahagia akan jalinan cinta yang dijalaninya. Namun, tidak dengan Zevanna. Seiring bertambahnya hari, ia justru ragu dengan perasaannya.
Katakan Zevanna gila, tetapi kemarin ia mendatangi Halcyon usai membuka blokir akun restoran itu dan juga milik Jayden. Lantas, beberapa hari kemudian menemukan postingan tentang tanggal dibukanya kembali tempat tersebut. Zevanna tidak benar-benar datang dan masuk ke dalam, hanya melihat dari jauh sebab ia tidak ingin menimbulkan ketidaknyamanan. Kendati demikian, dari jendela besar Halcyon, sesekali ia bisa melihat Jayden yang tersenyum ramah dalam melayani pengunjung. Pemandangan yang dulu terasa biasa, tetapi kini tampak berharga.
Zevanna melipat tangannya di meja rias, lalu menelungkupkan kepalanya. Tarikan dan embusan napas panjang berkali-kali terdengar. Seharusnya ia tidak ke sana. Seharusnya ia tidak lagi peduli pada mantan kekasihnya, tetapi faktanya justru berkebalikan, menjadikan sesak yang kian menyakitkan. Zevanna tersedu sedan karena keadaan.
"Non, Den Marvel datang."
Suara Mbok Diah menyudahi tangisan Zevanna. "Suruh nunggu sebentar ya, Mbok," balasnya sedikit berseru.
Zevanna menatap pantulan wajahnya. Ada sedikit bengkak di bagian mata. Ia segera menyamarkannya dengan make up. Embusan napas lewat mulut gadis itu lakukan untuk mengurangi kecanggungan. Tak lupa, ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas, memastikan bahwa senyumannya terkesan natural.
Begitu Zevanna menginjak lantai satu, terlihat Marvel sedang mengobrol dengan mamanya. Lelaki itu lantas mendekati Zevanna yang tampak kalem dengan gaun selutut warna peach.
"Udah siap?" tanya Marvel.
Zevanna mengangguk, kemudian mengarahkan tatapannya ke mamanya. "Ma, aku pergi dulu ya."
"Iya, kalian berdua hati-hati ya. Buat Marvel, Tante titip anak Tante ya. Maaf kalau nanti ngerepotin," ungkap Melisa membuat bibir putrinya manyun.
"Iya, Tante. Saya pasti jagain Zevanna." Marvel mencuri pandang ke arah sang kekasih.
Gugup melanda batin Zevanna saat Mercedes Benz milik kekasihnya terus melesat di tengah keramaian. Kurang dari lima belas menit lagi mereka akan sampai di tempat tujuan. Zevanna meremas jemarinya yang ada di pangkuan. Lantas, Marvel yang menyadari kegelisahan gadis pujaannya melepas satu tangan dari setir untuk ia gunakan menggenggam Zevanna.
"Cemas banget kayaknya yang mau ketemu sama Mama." Lelaki itu memberi usapan di punggung tangan pacarnya.
Zevanna meneguk ludah. Menyunggingkan senyum tipis, ia menggeleng pelan. Ya, Zevanna tidak cemas akan pertemuannya dengan mama Marvel. Karena dibandingkan itu, ia lebih cemas lantaran hubungannya berkembang dengan pesat. Sesuatu yang mungkin diidam-idamkan banyak orang, tetapi justru ia sesalkan.
Zevanna mengembangkan senyum begitu memasuki rumah yang dulu beberapa kali pernah ia sambangi. Tidak ada perubahan berarti kecuali perabotnya yang diganti dengan yang lebih modern. Senyum gadis itu kian melebar ketika Marvel menggandeng tangannya mendekati seorang wanita paruh baya yang baru saja muncul. Wanita itu Rianti, wanita yang telah melahirkan Marvel ke dunia.
"Siang, Tante," sapa Zevanna seraya mengulurkan tangan.
Rianti menyambutnya hangat, kemudian memeluk Zevanna untuk beberapa saat. "Ini beneran Zevanna yang dulu sering ke sini?" Ia menatap tak percaya. "Kamu tambah cantik, Sayang. Lebih cantik dari yang di video."
Zevanna mengernyit. "Maaf, video apa ya, Tante?"
"Video make up kamu. Tante sering nonton, lho. Kadang sama Elma atau nggak Nathalie." Rianti menyebut nama anak-anak perempuannya.
Wajah Zevanna memerah. Menoleh ke Marvel, ada senyum terkulum singgah di bibirnya. Pria itu mengeratkan genggaman tangan mereka.
"Anaknya malu nih, Ma, dipuji kayak tadi."
"Kok malu? Harus percaya diri ya, Sayang." Rianti lantas mengajak Zevanna duduk, sedangkan anak laki-lakinya ia suruh untuk memanggil Elma dan Nathalie.
Bersama kakak lelaki mereka, Elma dan Nathalie turun ke lantai satu. Anak bungsu keluarga Lesmana—Elma—sontak mempercepat langkah mengetahui siapa tamu yang dimaksud kakaknya.
"Aaahhh, Kak Ze ... lama banget nggak ke sini." Kedua gadis itu berpelukan.
"Udah, udah. Kasihan Zevanna. Kamu kalau meluk suka pakai tenaga dalam." Marvel mengurai pelukan adik dan pacarnya.
"Yeuuu, bilang aja iri. Pengin 'kan kamu, Bang?" Elma melontarkan godaan. Sementara Zevanna bercipika-cipiki dengan Nathalie.
"Kayak bocah aja pakai iri segala." Marvel menyanggah. Padahal, memang iya. Dia juga mau pamer kemesraan di depan keluarganya, tetapi tidak mungkin sekarang saat statusnya baru pacaran.
"Bisa aja ngelesnya." Elma memalingkan muka, berganti mengarah ke Zevanna. "Kak Ze, aku suka nonton videonya Kakak, loh. Suka ngikutin tips sama triknya juga. Kak Ze keren banget, kapan-kapan ajarin aku dong. Ya, ya?" Mahasiswi semester lima itu setengah merengek.
"Zevanna sibuk," cetus Marvel, "minta ajarin sama Nath aja."
"Nggak mau! Kak Nath galak!"
"Ngomong apa lo?" ketus Nathalie kontan membuat Elma tiba-tiba menciut.
"Tuh, kan! Apa aku bilang!" Elma bersembunyi di balik tubuh Zevanna.
Gelak tawa pun mengudara. Siang ini, ruang tamu rumah keluarga Lesmana yang biasanya sunyi terdengar semarak karena kedatangan Zevanna.
"Kedengarannya senang banget. Ada apa, nih?" Dari arah pintu utama, Dhanu Lesmana yang baru pulang selepas bermain golf menghampiri keluarganya.
"Biasalah, Pa, anak-anak," jawab sang istri.
Dhanu mengangguk-angguk. Senyuman dibarengi lirikan penuh arti tertuju kepada anak laki-lakinya. Dhanu sengaja pulang lebih cepat sebab semalam putranya berkata akan mengenalkan seseorang.
Zevanna mendadak canggung. Menipiskan bibir, ia dengan ragu berucap ketika Dhanu kembali melihatnya, "Halo, Om. Saya Zevanna."
Pria dengan kaus polo putih itu membalas tangan Zevanna yang terulur, mengizinkan gadis itu mencium punggung tangannya. "Wajahnya kayak nggak asing, yah?"
"Memang. Dulu 'kan Zevanna sering kemari waktu masih jadi adik tingkatnya Marvel." Rianti menjelaskan.
"Dulu adik tingkat. Kalau sekarang apa? Calon tunangan? Atau calon istri?"
"Merah tuh wajahnya," seloroh Nathalie.
"Tapi, Abang nggak cocok ih mukanya merah. Udah tua soalnya," ungkap Elma kurang ajar.
"Enak aja! Baru juga 26." Marvel membela diri.
"Umur 26, muka kayak 30." Lagi-lagi Elma yang bersuara.
"Oh, gitu ya kamu. Siap-siap aja bulan depan nggak Abang kasih uang jajan tambahan." Marvel mengeluarkan ultimatum. Benar saja adiknya tidak lagi membalas. Ia tertawa puas melihat Elma menekuk wajah.
"Maaa, Abang jahat, tuh!" Si bungsu mengadu. Yang mana membuatnya malah ditertawakan oleh yang lain.
"Sudah, sudah. Kita makan siang dulu, yuk! Zevanna, cicipin masakan Tante, ya." Rianti merangkul bahu Zevanna menuju ruang makan.
"Iya, Tante. Maaf udah ngerepotin," balas Zevanna rikuh. Melihat banyaknya makanan di meja, ia menduga bahwa semua ini disiapkan karena kehadirannya.
"Nggak sama sekali. Makan yang banyak ya."
Zevanna duduk diapit oleh Marvel dan Elma. Di depannya ada Nathalie yang sesekali menawari, lalu mengambilkan berbagai menu yang ada dan menaruhnya di piringnya.
"Iiih, aku nggak mau bagian kepala. Aku 'kan sukanya ekor." Elma menyuarakan protes melihat gurami yang dimasak asam pedas hanya tinggal bagian kepala.
"Aku dapat yang ekor, nih! Mau tukeran?" Zevanna yang mendapat bagian ekor menwarkan.
"Enggak usah! Itu bagian kamu, Ze. Elma mah biarin aja. Lauk yang lain juga masih banyak." Nathalie menjauhkan piring yang Zevanna dekatkan ke arah Elma. Perempuan yang hanya beberapa bulan lebih muda dari Zevanna itu tersenyum jahil.
Elma jadi menggerutu. Perdebatan kecil antara anak perempuan di keluarga Lesmana pun tak terelakkan. Namun, alih-alih terganggu, Zevanna justru senang melihatnya. Ia jadi teringat keluarganya. Dulu, ia juga sering cekcok dengan Kak Nando jika sedang makan. Dulu ....
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Marvel. "Aku perhatiin kamu jadi agak diem."
Acara makan siang telah selesai. Keluarga Marvel sibuk dengan urusan masing-masing, sementara pria itu membawa Zevanna ke gazebo belakang yang menghadap ke kolam ikan koi.
"Aku nggak apa-apa."
"Mata kamu nggak bisa bohong. Cerita. Ada apa?"
Zevanna tersenyum getir. "Maaf, lihat keluarga Kakak, aku jadi ingat keluargaku yang dulu. Aku, Papa, Mama, sama Kak Nando. Aku kangen mereka, Kak. Tapi, aku juga sadar kalau semua udah nggak sama lagi."
Melihat air mata Zevanna menetes, Marvel segera membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. "Nangis aja kalau kamu pengin nangis."
Dan, Zevanna benar-benar menumpahkan tangisannya di bahu Marvel. Tangan pria itu yang tanpa henti mengelus kepala hingga punggungnya membuat kesedihan Zevanna berangsur-angsur memudar.
"Maaf," ucap Zevanna melihat baju Marvel basah karenanya.
Lelaki itu mengikuti arah pandang Zevanna dan tidak mempermasalahkan. "Aku ada sesuatu buat kamu," katanya seraya menghapus sisa air mata di wajah pacarnya.
"Apa?"
"Tutup mata dulu dong. Biar kayak di film-film."
Mau tak mau Zevanna pun tersenyum. Sementara gadis di depannya memejamkan mata, Marvel merogoh saku celana. Ia mengambil kotak kecil dan membukanya, lalu mengambil isinya untuk kemudian disematkan di jari manis Zevanna.
"Kak, boleh aku buka mata?"
"Ya."
Tatapan Zevanna langsung tertuju pada cincin permata yang melingkar indah di jarinya. "Kak, ini ...."
"Sebenarnya waktu di Bangkok aku sempat jalan-jalan sebentar, dan pas lihat ini, nggak tahu kenapa aku langsung keinget kamu," ungkap Marvel. "Awalnya, aku bingung mau ngasih ini kapan. Tapi, lihat keluargaku beneran welcome ke kamu, aku nggak bisa nunggu lagi. Aku mau hubungan kita lebih dari sekadar pacaran." Ia meraih tangan Zevanna di mana cincin pemberiannya berada dan mengecupnya dalam.
"Kak ...." Pandangan Zevanna buram karena air mata membayang.
"Zevanna, mungkin pada akhirnya kamu nggak tinggal dalam sebuah keluarga yang utuh, tapi kamu bisa menciptakannya sendiri. Aku, kamu, dan anak-anak kita kelak."
Zevanna menunduk, menjadikan rambut panjangnya menjuntai menutupi wajah. Bahunya bergetar karena tangis. Marvel dan keluarganya sangat baik, tetapi dengan teganya ia mengkhianati lelaki yang saat ini kembali mendekapnya.
"Ada aku. Jangan sedih ya," bisik Marvel tepat di telinga Zevanna.
Zevanna tambah tersedu-sedu mendengarnya. Maaf, Kak, maaf ....
.......
.......
.......
...Marvel baik banget nggak sih? Sepertinya aku belum pernah menciptakan orang sebaik dia dalam ceritaku sebelum-sebelumnya ...
...Bab selanjutnya sepertinya bakalan panjang, jadi updatenya lama...
...YANG BACA: EMANG PERNAH UPDATE CEPET, THOR?...
...Huehehehehe, ya pernah dong kalau udah nge-draft dari zaman megalitikum...