Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Melarikan Diri



"Bangun, Ze! Jadi, nebeng Mama nggak?" seruan dibarengi ketukan pintu tanpa henti merasuk ke telinga Zevanna.


Di balik selimut tebalnya gadis itu menggeliat pelan. Keningnya berkerut kesal mendengar ibunya kembali mengomel. Ya, semalam Zevanna memang memutuskan untuk pulang ke rumah sang ibu lantaran sudah hampir tengah malam. Dia yang tadinya ingin pulang cepat nyatanya harus gagal karena Astrid mengajaknya pergi ke sebuah kafe hanya untuk melihat Leon tampil dalam acara live music.


Zevanna memang sempat menggerutu, tapi membiarkan Astrid menaiki taksi online saat jarum jam sudah menunjuk angka sembilan juga rasanya tidak tega. Jadilah, dia terdampar di kafe, menemani sepasang kawula muda bermesraan sambil menikmati orange juice. Miris sekali!


"ZEVANNA!"


Pekikan kencang ibunya sukses membuat mata Zevanna terbuka lebar. Untung saja dia tidak memiliki penyakit jantung. Bisa mati muda kalau begini caranya.


"Ze!"


"Iya, Maaaa ... satu jam lagi aku turun."


"Setengah jam!"


"Iya." Zevanna mengiakan, tapi tetap saja ia turun satu jam kemudian.


Melisa sudah memasang wajah garang sebelum putrinya sampai di meja makan. Selain kesal gara-gara susah dibangunkan, wanita itu juga marah lantaran Zevanna pulang larut malam.


"Kamu dari mana aja semalam? Jam sebelas baru pulang," cecar Melisa menyelidik.


Zevanna mengembuskan napas panjang. Tidak temannya, tidak ibunya, semuanya mengapa senang sekali memarahinya. Apa dia diciptakan untuk menjadi tempat orang membuang kekesalan?


"Zevanna! Kamu kenapa, sih? Mama bicara sama kamu."


"Aku ke kafe sama Astrid nonton live music."


"Benar?"


"Ma, aku emang kadang nakal, tapi aku jujur kalau ditanyain," ungkap Zevanna dengan wajah merengut.


"Sering bukan cuma kadang-kadang," jelas sang ibu. "Mama cuma merasa aneh aja. Kemarin 'kan kamu nginep di rumah Adrian, kenapa tiba-tiba chat Mama bilang pulang ke sini dan minta bangunin. Kamu sengaja, ya, biar nggak dimarahin papamu gara-gara pulang malam?"


Cengiran Zevanna menjadi jawaban. Sembari mengambil roti dan mengolesinya dengan selai, ia berkata, "Mama emang paling ngertiin aku."


"Iya, lah! Kalau nggak ngerti nanti kamu ragu lagi sebenarnya kamu ini anak kandung atau anak pungut."


"Maaaa ...."


Melisa tertawa renyah. Putrinya memang kerap menguji kesabarannya, tapi hal itu pula yang membuatnya makin memahami bagaimana sifat sang anak. Setiap malamnya, wanita itu juga tak pernah absen dalam mendoakan anak-anaknya agar kehidupan mereka kelak tidak seperti dirinya.


"Ma! Mama ngalamun?" Zevanna melambaikan tangannya di depan wajah sang ibu.


Melisa mengerjap-ngerjapkan matanya. "Haish! Kamu ini!"


"Lagian diem aja kayak orang mau kesurupan."


"Sembarangan!" Melisa mengibaskan tangannya di depan wajah sang anak. "Kalau sudah selesai, kita langsung berangkat. Mama ambil tas dulu," lanjutnya beranjak menuju kamarnya.


Zevanna memandangi punggung ibunya yang perlahan menjauh dengan raut sendu. Gerakan mulutnya dalam mengunyah roti juga jadi lebih pelan. "Apa yang Mama pikirin barusan? Kenapa mendadak jadi sedih?" batinnya bertanya. "Apa jangan-jangan Mama udah tahu kalau gue mantannya Jayden?" lanjutnya dengan mata melotot. Gara-gara itu, dia jadi tersedak roti. Ia tepuk-tepuk dadanya, lalu diraihnya segelas air minum yang ada di meja.


Melisa yang sudah kembali dengan tas jinjing terheran-heran melihat wajah hingga telinga putrinya memerah. "Kamu kenapa lagi, Ze?"


Wanita itu geleng-geleng kepala. "Pelan-pelan makanya kalau makan."


Batin Zevanna mengerang. Ingin rasanya ia berteriak kalau dirinya seperti ini juga karena sang ibu. Namun, apa daya, yang bisa dia lakukan hanyalah pura-pura tidak tahu dan mencari aman. Dia tidak ingin Jayden sampai tahu kalau wanita yang menjadi rekan kerja pria itu adalah ibunya.


Sepanjang perjalanan menuju butik, otak Zevanna terus-menerus berpikir bagaimana cara untuk meloloskan diri setelah pekerjaannya nanti selesai. Tidak mungkin dia mengutarakan alasan yang sama. Bisa-bisa semua orang akan curiga kepadanya.


Zevanna menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari mobil sang ibu setibanya mereka di butik. Sudah ada Priscilla, Bobby, dan Olive yang sama-sama sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Morning," sapa Zevanna.


"Morning, too," balas Bobby.


"Morning, Ze," sahut Olive.


Sementara Priscilla menanggapinya dengan dehaman. Tatapan perempuan itu begitu fokus dengan benda pipih di tangannya. Entah apa yang dilihatnya, tetapi sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Dan ketika ditanya oleh Olive, Priscilla dengan cepat menyembunyikan ponselnya. "Kepo! Udah sini gue make up-in sambil nunggu yang lain datang." Ia lantas menyimpan ponselnya di dalam tas.


Gwen dan Keynara datang tidak lama kemudian. Berpuluh-puluh menit berlalu, akhirnya Zevanna selesai memoles wajah Gwen, sedangkan Keynara kini sedang dirias oleh Priscilla. Zevanna baru mengistirahatkan tubuhnya di sofa ketika suara laki-laki yang paling ia hindari memenuhi indra pendengarannya.


"Maaf, saya sedikit terlambat. Tadi ada urusan mendadak sebentar," ucap Jayden.


"It's okay. Belum selesai make up dan ganti baju juga, kok, modelnya," balas Melisa.


"Saya langsung ke studionya, ya, Tan?"


"Silakan. Tante ke ruang make up dulu."


Jantung Zevanna berpacu lebih cepat. Dia harus segera menemukan alasan, tapi sial! Otaknya tidak bisa diajak berpikir sampai akhirnya pesan dari Astrid masuk ke ponselnya. Bibirnya menyeringai tipis. Semalam dia sudah membantu Astrid, sekarang saatnya sahabatnya itu balas budi. Dengan sekali klik, kini Zevanna sedang menelepon Astrid bersamaan dengan ibunya yang memasuki ruangan.


"Halo, Astrid. Iya, kenapa? Hah, lo sakit?" Raut wajah Zevanna dibuat panik agar semua orang yang saat ini menatapnya percaya.


Sementara di apartemennya, Astrid dibuat bingung dengan temannya yang tiba-tiba menelepon dan mengatakan dirinya sakit. "Maksud lo? Gue nggak sakit."


"Ke sana? Eum ... bisa, bisa. Bawain makanan? Oke gue on the way lima menit lagi."


"Hah? Sinting ya lo?" Astrid bersungut-sungut. Matanya menatap tidak percaya layar ponsel yang menyala setelah sambungan telepon diputuskan begitu saja.


Zevanna langsung mengemasi barang-barangnya. Dengan perasaan gugup dan senyum terpaksa, ia berkata, "Ma, Kak Prissy, aku izin pergi, ya? Astrid mendadak sakit. Kalian tahu 'kan kalau dia di Jakarta sendirian?"


"Kan ada adiknya," ujar sang ibu.


"Rere kuliah, Ma. Kasihan kalau direcoki. Kak Prissy, sorry banget hari ini gue nggak sampai selesai. Gue beneran nggak tega sama Astrid." Pandangan Zevanna beralih pada kakak sepupunya.


"Oke, nggak masalah," Priscilla mengembuskan napas pelan, "touch up doang gue bisa handle sendiri."


"Thank you, Kakakku, yang paling cantik." Senyuman lebar tersungging di bibir gadis itu. Zevanna mencium pipi ibunya sebelum meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru. Dia juga menyempatkan diri mampir ke sebuah toko kue yang jaraknya sekitar dua puluh meter dari butik mamanya. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk menyogok Astrid dan memaksa gadis itu supaya mau menampungnya selama seharian.


Setibanya di toko kue, Zevanna memfoto etalase yang menyajikan berbagai macam kue. "Mau yang mana?" tulisnya dalam keterangan.


"Red velvet sama cheesecake," balas Astrid beberapa saat kemudian.


Zevanna menggeram dalam hati. Sialan! Tahu begitu tadi dia langsung belikan saja agar Astrid tidak mencuri kesempatan di tengah kemiskinannya.