
Kedatangan Nando jelas membawa kebahagiaan tersendiri bagi Zevanna. Perempuan itu sampai ingin membatalkan rencananya dengan Astrid. Namun, Nando menyuruhnya supaya tetap pergi sebab dirinya mau beristirahat.
Zevanna baru pulang menjelang pukul enam sore dengan rambutnya yang kini tinggal sebahu serta poni tipis yang menutupi kening. Tampak Mama dan kakaknya sedang berbincang santai di depan TV begitu ia memasuki rumah.
"Wew, rambut baru, nih. Syukurannya dong," kelakar Nando.
Melisa tidak berkomentar, tetapi bibirnya melengkungkan senyum. Putrinya tambah cantik dengan model rambut yang sekarang.
"Gue cuma potong rambut, bukan buka salon," balas Zevanna sambil mendekat. "Tapi gue bawa ini, nih! Lo suka, kan?"
Senyum lebar Nando terukir. Hidungnya kembang kempis mencium aroma martabak telur favoritnya. "Maaciw."
"Alay banget. Malu sama umur dan anak," cibir Zevanna sudah duduk di sebelah mamanya.
"Mama mau nggak?" tawar si sulung.
Ketika mamanya mengangguk, Nando tanpa ragu menyuapinya.
"By the way, Kak Nando ada urusan apa? Kok pulang nggak ngabarin dulu?" tanya Zevanna sambil menyomot sepotong martabak.
"Biasa, urusan kantor. Besok sore temenin ke rumah Papa, yah. Mau nengokin adek gue yang baru lahir."
Zevanna menutupi mulutnya, menahan tawa sekaligus agar makanan di dalamnya tidak menyembur. "Padahal lo udah bangkotan, tapi masih punya adek bayi."
"Bangkotan gundulmu! Gagahnya aja kayak gini." Nando tidak terima. Ia lempar cabai hijau ke wajah adiknya.
Zevanna merengut kesal dan membalasnya dengan perlakuan yang sama.
"Kamu belum ada rencana nambah anak?" tanya sang mama menyudahi perkelahian anak-anaknya.
"Belum, Ma." Zevanna yang menjawab.
Nando menyengih sinis. "Yang ditanya gue. Lagian lo punya anak sama siapa? Pohon palem depan rumah?"
"Sama Nam Joo-hyuk, lah!" sahut Zevanna halu.
"Nam Joo-hyuk KW." Mamanya menimpali.
"Mama!" Zevanna kembali menekuk wajah. Sementara dua orang yang duduk bersamanya sudah tertawa.
"Katanya Mama lo lagi patah hati, tapi gue lihat nggak kayak gitu, tuh!" ujar Nando dengan kedua alis terangkat.
"Kayaknya udah mendingan setelah Mama panggil Astrid ke sini," jawab Melisa.
"Emang patah hati sama siapa, sih? Gue nggak tahu lo pacaran, tahu-tahu dah potek aja."
"Pacarannya sih sama Marvel, tapi kalau patah hatinya nggak tahu sama yang mana. Yang sebelumnya atau sama yang sekarang." Lagi-lagi Melisa yang menjawab.
Zevanna sudah mengatupkan bibirnya rapat-rapat, enggan menanggapi. Namun, tidak dengan Nando. Laki-laki itu kian bersemangat mengorek-ngorek masalah asmara adiknya.
"Emang yang sebelumnya siapa, Ma? Aku kenal nggak?"
"Nggak kenal. Mama aja baru tahu kapan hari. Jadi, waktu adikmu yang cantik ini kursus make up," Melisa berujar penuh penekanan sambil melirik Zevanna, "dia tuh punya pacar. Pantes aja jarang pulang."
Nando mengulum tawa melihat raut tertindas Zevanna. "Tapi ganteng nggak, Ma?"
"Ganteng, sih. Baik juga anaknya."
"Loh, kok Mama tahu kalau baik?"
"Aduh, ini kalau diceritain bisa sampai pagi. Coba besok kamu suruh aja Zevanna yang cerita gimana waktu dia pacaran sama Jayden."
"Jayden?" ulang Nando, ingin menegaskan. Lipatan samar menghiasi keningnya.
"Iya, namanya Jayden." Melisa membuang napas. "Mama capek. Kalau butuh sesuatu langsung ke kamar Mama aja ya, Nan."
"Iya, Ma," jawab Nando seiring dengan mamanya yang menjauh.
Zevanna sudah memasang tampang siaga. Berbeda dengan kakaknya yang melempar senyum menggoda.
"Gue mau lihat dong fotonya Jayden yang katanya mantan lo. Siapa tahu gue kenal."
"OGAH!" Zevanna bangkit berdiri dan ikut-ikutan pergi.
Nando menyandarkan tubuhnya, melengos. Jauh-jauh dari Singapura, bukannya ditemani sampai setidaknya mengantuk, ia malah ditinggalkan seorang diri.
***
"Sergio ganteng, deh, kayak Kakak Fernando." Nando mengelus pelan pelipis bayi berumur satu minggu dalam gendongannya.
"Kayak Papa yaaaa …. Enak aja kayak Kak Nando." Zevanna menyahut tidak suka.
"Lah, aku sama Papa aja gantengan—"
"Gantengan Papa! Kalau nggak percaya tanya aja Kak Lily," potong Zevanna.
"Mama, Zevanna. Kok panggilnya kakak terus." Sore ini, entah untuk ke berapa kalinya, Adrian mengingatkan anak perempuannya.
Zevanna menarik napas dan mengembuskannya pelan. "Iya, maaf. Kebiasaan, Pa."
"Makanya harus pelan-pelan diubah."
"Iya, iya."
Nando tergelak puas, membuat Sergio terkejut. Bayi itu menangis kencang hingga wajahnya merah padam. "Eh, sorry, lupa." Ia lantas memberikan Sergio kepada Lily agar ditenangkan.
Tiga puluh menit berselang, keluarga Adrian sudah duduk mengelilingi meja makan. Sergio sudah terlelap di box bayinya, dan Lily memantau lewat monitor yang dibawanya.
Ada banyak makanan di depan Zevanna—baik yang disiapkan papanya maupun yang dibawa kakaknya sebagai buah tangan. Namun, alih-alih lapar, Zevanna justru mendadak kenyang lantaran ia tahu Nando membelinya di Halcyon.
"Di sini aja, yah, kelihatannya enak deh," kata Nando beberapa jam yang lalu. Lelaki itu meminta pendapat, tapi mobil Zevanna sudah diparkir di depan Halcyon.
"Yakin?" Zevanna meringis dalam hati. Semoga saja dia tidak bertemu Jayden.
"Yakin. Feeling gue nggak pernah salah masalah tempat makan."
Dan benar, Zevanna tidak menemukan di dalam. Tetapi, bukannya bahagia, gadis itu malah kecewa.
"Zevanna …."
Ia terkesiap tatkala ibu sambungnya menyentuh lengannya.
"Kamu mikirin apa, Ze?" Sang ayah bertanya.
"Lagi patah hati, Pa." Nando mewakili keterdiaman adiknya. Zevanna langsung melotot.
"Kamu putus sama Marvel?" Adrian tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pasalnya, minggu lalu ia melihat Zevanna dan Marvel sangatlah manis.
"Kamu main api, Ze?" Adrian menaruh alat makannya. Ia tahu obrolan semacam ini tidak seharusnya dilakukan di meja makan, tapi kali ini ia tidak bisa menahannya.
"Nggak, nggak! Kak Nando apaan sih, nyebelin banget tahu nggak! Udah, ah, aku mau pulang aja." Zevanna mendorong ke belakang kursi yang didudukinya dengan amarah yang berkobar, kemudian melenggang keluar.
"Kejar, Mas!"
Sesuai ucapan istrinya, Adrian bergegas menyusul putrinya. "Zevanna, berhenti. Kamu mau ke mana?" Ia mencekal pergelangan tangan Zevanna.
Gadis itu mengempaskannya sekuat tenaga. "Aku pulang dulu, Pa."
"Nggak! Papa nggak kasih izin. Kalau kamu nggak mau pulang sama Nando, biar Papa yang antar kamu." Kembali Adrian memegangi lengan anaknya.
"Aku bisa naik taksi." Suaranya terdengar bergetar. Zevanna mengerang dalam hati. Kenapa ia tidak bisa menahan tangisnya sedikit lebih lama. Kenapa ia begitu cengeng.
"Nggak boleh. Bahaya, udah malam."
Zevanna menggeleng pelan. Ia kian menunduk saat papanya sudah berdiri di depannya. Dan, tangisan gadis itu pecah dalam pelukan sang ayah. Pelukan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.
"Kamu kenapa? Ayo, cerita. Papa pernah bilang 'kan Papa bakal selalu ada kalau anak Papa lagi ada masalah."
Sambil sesenggukan, Zevanna berkata, "Pa …."
"Iya, Papa dengerin, Nak." Adrian mengusap punggung Zevanna penuh sayang.
"Aku emang ada salah sama Kak Marvel. Aku nggak seharusnya nerima dia di saat aku tahu aku belum clear sama masa laluku."
"Terus gara-gara itu Marvel putusin kamu?"
Masih dalam pelukan ayahnya, Zevanna mengangguk-angguk.
"Tapi, kamu udah minta maaf belum?"
"Udah. Aku minta maaf karena aku nyakitin Kak Marvel dan nggak bisa balas perasaan dia."
"Marvel maafin kamu?"
Lagi, Zevanna mengangguk. Adrian melepas pelukannya. Dihapusnya air mata yang membasahi wajah anaknya. "Anak Papa cantik, sih. Jadinya banyak yang suka."
"Pa, please …." Zevanna merengut.
"Iya, iya." Adrian terkekeh sejenak, lalu dengan raut serius ia berkata, "Jadikan ini pelajaran. Ke depannya kamu harus lebih bijak lagi. Dan kalau memang bingung, kamu bisa cerita ke Papa. Biar Papa sekalian interogasi gimana laki-laki yang mau jadi pendamping hidup anak Papa. Kira-kira lolos kualifikasi apa enggak."
"Papa!"
"Papa serius, Sayang. Papa nggak mau anak Papa jatuh sama orang yang salah."
Zevanna mingkem.
"Sekarang ayo masuk. Papa mau suruh Kakak minta maaf sama kamu."
"Paaa, kayak anak kecil aja, sih. Ze 'kan udah gede."
"Di mata Papa kamu selalu kecil, Sayang. Udah nurut aja." Adrian merangkul putrinya kembali menuju ruang makan. "Kak Nando, ayo minta maaf sama adiknya."
"Idiihhh, nangis. Malu sama Sergio," ledek Nando.
"Tuh kan, Paaa …." Zevanna merajuk.
Adrian berdecak. "Fernando, ayo minta maaf. Ucapanmu tadi keterlaluan. Nggak seharusnya kamu kayak gitu."
"Iyaaa …." Nando melengos. "Zevanna, maaf ya."
"Zivinni, miif yi." Zevanna menirukan permohonan maaf yang jauh dari kata ikhlas dari mulut kakaknya.
"Astaga, udah minta maaf malah dinyinyirin." Nando memutar bola mata malas.
"Yang ikhlas dong."
"Lo pikir tadi nggak ikhlas?"
"Gak!"
Adrian geleng-geleng kepala, sedangkan istrinya hanya diam memperhatikan perseteruan kakak beradik di depannya.
"Udah, udah. Jangan ribut." Adrian menengahi. "Nando ulangi minta maafnya. Zevanna juga jawabnya yang baik."
"Hmmm," Nando mengalah, "Zevanna adikku yang paling cantik—"
"Alay, jijik, nggak mau." Zevanna menyela, menimbulkan kekehan dari ibu sambungnya.
"Okay, kali ini gue serius. Gue, Fernando Epiphany Nelwan, minta maaf karena udah bikin adek gue sedih. Dan sebagai bentuk penyesalan gue, gue tiba-tiba kepikiran buat beliin tiket pesawat PP Spore-Jakarta."
"SERIUS?" Mata Zevanna berbinar-binar.
"Iya, minggu depan kebetulan ulang tahunnya Ryuga. Mau nggak lo? Tapi uang sakunya minta Papa, ya."
Zevanna kontan melirik papanya.
"Iyaaa, nanti Papa transfer sekalian buat Ryuga juga," ucap Adrian membuatnya mendapat pelukan dari putrinya.
"Thank you Papa yang paling ganteng sedunia."
"Kok Ryuga sih, Pa? Kok bukan aku?" Nando menyuarakan protes.
"Kamu apa nggak malu, Nan? Ngalah dong sama anak. Kamu 'kan dulu udah." Adrian sungguh tak habis pikir dengan putranya.
"Ngapain malu, orang pakai baju kok malu."
Zevanna menatap ngeri kakaknya. "Udah, Pa, orgil baiknya nggak usah digubris. Mending kita makan." Ia menarik tangan papanya supaya duduk.
Dalam diam, Nando menyeringai tipis kala memandang sang adik. Zevanna boleh menang saat ini, tapi lihat saja nanti kejutan yang akan dia berikan.
.......
.......
.......
...Aku sebenarnya sedih lihat statistik cerita ini. Mau ditinggal, tapi gak tega sama kalian yang baca dan rajin komentar. Ululu .......
...Bonus foto, aku selalu bayangin mukanya Jayden kayak Nam Joo-hyuk di foto ini 👇...