
Pameran gaun pengantin baru akan dimulai satu jam lagi, tetapi aula yang menjadi tempat berlangsungnya acara sudah dipenuhi banyak orang —baik mereka yang termasuk tamu undangan maupun mereka yang sengaja membeli tiket yang mana didominasi pasangan yang hendak menikah. Berbanding terbalik dengan bagian depan yang tampak santai karena hanya diisi orang mengobrol, di backstage kesibukan terlihat sangat kentara. Dua belas desainer beserta timnya tampak berwira-wiri demi bisa menyiapkan persembahan terbaik mereka, tak terkecuali Zevanna.
Gadis itu ditugaskan untuk merias tiga model mamanya. Ya, Zevanna bekerja seorang diri. Mamanya benar-benar tidak mau lagi berurusan dengan Priscilla, tetapi Bobby adalah pengecualian. Lelaki kembali menampakkan batang hidungnya sebagai seorang hair stylist.
"Seriusan, deh, kipasnya udah gue bawa." Zevanna membuang napas lelah. Matanya menyelia mencari kipas portabel karena pendingin ruangan seolah tidak berfungsi saking panasnya cuaca hari ini.
"Ya manaaa?" balas Bobby menuntut, "Stella udah keringetan banyak banget loh. Hati-hati make up-nya luntur."
"Jangan gitu dong lo!" Zevanna mencak-mencak. Belum juga difoto untuk portofolio, masa iya hasil riasannya rusak. Di sisi lain, ia memakai produk dan peralatan make up premium, jadi kemungkinan itu sangatlah kecil.
Setelah menit demi menit terlewati dengan mengesalkan, benda yang dicari akhirnya ketemu. "Nih, siapa coba yang naruh sini?" Lagi-lagi Zevanna marah. Kipasnya ada di dalam kotak sepatu hak tinggi yang dikenakan para model. Padahal, saat berangkat ia menaruhnya di kardus bersama air mineral.
"Meneketehe!" sahut Bobby.
"Monyet lo!" ucap Zevanna ketus. "Bang Indra kok belum datang ya?" Ia menoleh ke arah pintu.
"Bentar lagi paling."
Baru juga Nadira berkata demikian, orang yang dibicarakan betul-betul muncul. Indra datang bersama salah satu rekannya yang membuat Zevanna cukup terkejut.
"Mingkem, Ze," lirih Bobby tepat di telinga Zevanna.
Perempuan itu mendelikkan mata. "Sialan!"
Bobby terkekeh. "Abis muka lo kayak mupeng gitu. Inget udah punya Marvel."
Ah, omong-omong tentang Marvel, Zevanna jadi ingat belum sempat membuka hape sejak pekerjaannya selesai. Ia berniat menghubungi kekasihnya, tetapi orang yang tadi membuatnya kaget lebih dulu menyapa.
"Nggak nyangka gue bakal ketemu mantannya Jayden di sini. How are you, Zevanna?" Thomas mengulurkan tangan diberi senyuman ramah.
"Fine, thanks." Zevanna menarik sudut bibirnya ke atas dengan terpaksa.
"Kok nggak ditanyain balik, sih?" Thomas pura-pura merengut. "Biarpun lo udah nggak sama Jayden, kita 'kan tetep temenan."
"Bisa nggak jangan ngomongin dia? Lagian lo di sini mau kerja, bukan mau interview gue," kata Zevanna pelan, tapi penuh penekanan.
"Iya, deh, iya." Thomas mengalah. "Heran gue, lo galaknya kayak gini aja Jayden masih cinta," katanya, lalu menghampiri Indra yang barusan memanggilnya.
Zevanna menelan ludah. Sementara di dalam sana, jantungnya langsung berdegup kencang. Masih cinta? Benarkah begitu?
Pengambilan foto untuk portofolio Zevanna sudah beres. Kini, para model juga telah berkumpul karena acara akan dimulai lima belas menit lagi. Yang artinya Zevanna sudah dibebastugaskan.
"Kak, gue cabut dulu ya," kata Zevanna begitu Marvel mengirimi pesan jika sudah masuk ke venue.
"Kepentok apa lo manggil gue kakak?" Bobby, satu-satunya yang tersisa di ruangan itu menyengih sinis.
Zevanna cengengesan. "Kan mesti sopan sama yang lebih sepuh."
"Kampret! Udah kayak kakek-kakek aja gue."
Zevanna celingukan di tengah kerumunan. Dan entah kapan akan ketemu kalau saja—pada akhirnya—Marvel yang menghampirinya. Pria itu sengaja membeli dua tiket agar Zevanna bisa duduk di sebelahnya.
"Aku nggak nyangka yang datang bakalan sebanyak ini," ujar Zevanna begitu bokongnya mendarat di kursi.
Marvel menyunggingkan senyum tipis. "Aku bawa buket bunga buat mamamu, tapi masih di mobil. Nanti temenin ambil ya?"
"Iya, pasti."
Selanjutnya, Marvel menatap ke depan, mendengarkan pembawa acara yang sedang mengucapkan terima kasih atas kehadiran tamu-tamu penting dalam acara kali ini. Zevanna meliriknya. Gadis itu merasa ada sesuatu yang berbeda. Tapi apa? Zevanna masih belum menemukan jawabannya.
Marvel terlampau fokus dengan apa yang di depan matanya. Ketika parade gaun pertama berlangsung, barulah pria itu menengok dan bertanya, "Punya mamamu yang mana?"
"Nomor tiga dari belakang."
Kembali Zevanna merasa diabaikan. Marvel hanya menatapnya jika ada perlu, jika tidak lelaki itu terus melihat ke arah panggung. Marvel juga tidak menggenggam tangannya. Ya, itu! Zevanna tahu. Mereka tidak melakukan kontak fisik sejak Marvel berdiri menjulang di hadapannya.
Dari nada bicara Marvel memang terdengar biasa-biasa saja. Namun, perbedaan sikap pria berkemeja navy di sampingnya bisa Zevanna rasakan dengan jelas. Karena itu, sepanjang acara berlangsung, Zevanna terus memandangi Marvel dengan hati penuh kemelut.
Riuh tepuk tangan seakan menarik paksa Zevanna agar kembali ke kenyataan. Tergesa-gesa gadis itu bangkit berdiri dan ikut bertepuk tangan seperti orang-orang. Tak terasa acara sudah selesai.
"Ayo, ambil bunga di mobil." Marvel sedikit membungkuk supaya pacarnya bisa mendengarnya.
Zevanna hanya mengangguk. Bahkan, di tengah desakan orang-orang baik yang mau mengambil foto maupun keluar venue, Marvel tidak juga menggandengnya. Mata Zevanna jadi berkaca-kaca.
"Kak, tunggu!" seru cewek itu lantaran tertinggal beberapa langkah.
Memutar tubuhnya, gurat penyesalan tampak di wajah Marvel. "Maaf ya. Takutnya mamamu keburu sibuk lagi buat beres-beres semuanya. Takut ganggu."
Dan, satu goresan kembali menyayat hati Zevanna. Ia baru sadar sejak tadi Marvel tidak memanggilnya sayang ataupun semacamnya. Dalam diam di tengah perjalanan menuju mobil kekasihnya, Zevanna mengusap matanya yang basah.
Hingga mereka tiba di tempat parkir, Marvel sama sekali tak bersuara. Kalau begini, apa gunanya Zevanna ikut? Gadis itu memandang sedih Marvel yang baru saja mengambil buket bunga mawar berukuran besar di jok belakang.
"Something wrong, right?" ujarnya parau. Tangan Zevanna menahan lengan Marvel, menggagalkan langkah kekasihnya yang hendak kembali ke aula.
Berbalik badan, Marvel terdiam memandangi wajah Zevanna. Ada banyak hal yang tersirat lewat sorot matanya. Hal yang teramat sulit untuk ia utarakan dengan kata-kata.
"Sikapmu beda, Kak," ungkap Zevanna, "apa kamu beneran sibuk baru-baru ini? Atau kamu sedang menghindar dari aku?"
Bibir Marvel masih terkatup rapat, tetapi satu tangannya yang tidak memegang buket bunga dengan cepat menghapus air mata Zevanna.
"Aku minta maaf. Maaf sudah nyakitin kamu. Nggak seharusnya aku nyebut nama Jayden." Zevanna melanjutkan ucapannya. Tangan Marvel berpindah menyentuh bibirnya. "Aku sudah pengin bilang ini dari lama, tapi Kakak nggak pernah bisa kalau diajak ketemu."
"Kiss me." Belaian-belaian lembut Marvel berikan di bibir semerah delima milik Zevanna. "Kiss me, Zevanna."
Mengerjapkan mata, Zevanna pun tak ingin membuang-buang waktu. Ia segera berjinjit dan menaruh kedua tangannya di bahu Marvel, lalu menyesap bibir kekasihnya secara bergantian. Posisi mobil Marvel yang terparkir di paling ujung menjadikan mereka tak dilihat orang lain.
Marvel menjatuhkan buket mawar di tangannya begitu saja demi bisa memeluk pinggang Zevanna. Sedangkan tangan yang tadi memainkan bibir sang gadis sudah beralih tugas menahan tengkuk. Menghapus celah di antara mereka, dengan hati-hati Marvel membawa tubuh Zevanna bersandar di pintu mobil. "I love you, Zevanna," ucapnya disela-sela pagutan mereka. Setelahnya, Marvel melesakkan lidahnya dan membuatnya bertautan dengan milik Zevanna.