
Zevanna lupa kapan rumahnya seramai pagi ini. Mungkin sebelum pandemi melanda. Ketika Nando pulang bersama anak dan istrinya. Papa dan Mama menyambutnya bahagia. Atau berbulan-bulan yang lalu saat surat gugatan cerai mendarat di tangan mamanya. Tentu saja ramai yang berbeda. Teriakan dan makian, barang pecah belah, dan emosi yang tak terkendali.
Zevanna sama sekali tidak kaget saat hari itu tiba. Tetapi, menjalaninya tanpa Jayden? Di saat ia berpikir tidak perlu risau sebab memiliki Jayden yang akan selalu setia di sampingnya, kenyataannya laki-laki itu malah meninggalkannya. Zevanna harus patah hati dua kali pada waktu yang berdekatan. Rumahnya hilang. Zevanna terombang-ambing dengan segala sakit hati yang menderanya.
Sedih setiap mengingatnya, tetapi menangisi juga percuma. Hanya buang-buang air mata. Di samping itu, bukannya pepatah bilang life must going on?
Zevanna menyesap teh kamomilnya yang tinggal hangat-hangat kuku sambil menonton orang-orang berlalu lalang.
"Enak ya kerjaan udah beres," celetuk Bobby yang sedang menggarap rambut Keynara.
Zevanna sudah menjelaskan pada Priscilla dan Bobby tentang dirinya yang harus membantu mamanya, dan mereka tentu saja tidak keberatan.
"Gimana nggak beres, lo masih ngiler aja gue udah keringetan," balas Zevanna keki.
Bobby cengar-cengir.
"Kok lo tahu Bobby tidurnya ngiler, Ze?" goda Keynara.
"Yeuuu, nggak usah mikir kejauhan," sahut Zevanna santai seraya menaruh cangkir tehnya. "Bobby tuh digelarin tikar aja merem gimana gue nggak tahu," imbuhnya meledek.
"Mirip bapak-bapak kalau ronda dong!" ucap Keynara menambah panas telinga Bobby.
"The real bapak-bapak ronda juara dua sih kalau diadu sama Bobby," jawab Zevanna makin berani.
"Hemp-hemp-hemp ...." Gwen yang sedang dirias mati-matian menahan tawa atau Priscilla akan memberengut.
"Emang nggak ada akhlak kalian!" dengkus Bobby, lantas sekuat tenaga menarik kabel catokan dari stop kontak.
Zevanna dan Keynara terbahak-bahak.
"Sorry, pas pembagian akhlak gue emang nggak datang gara-gara perutnya mules," kelakar Keynara membuat suasana kian riuh.
Ketika suasana sudah kembali tenang, datanglah Jayden yang tidak biasanya telat. Wajah Zevanna langsung masam. Kirain nggak berangkat! Eh, tapi nanti kangen dong sama Ayang sehari nggak ketemu.
"Morning, Jay. Tumben baru nongol," sapa Priscilla ramah.
Zevanna kontan memicingkan mata. Sok akrab! Dan ia makin kesal saat Jayden menanggapinya lengkap dengan senyum manis laki-laki itu.
Di tengah kekesalan Zevanna, Melisa yang sibuk mengurusi barang-barang—iya yang kemarin belum beres—muncul dengan raut panik.
Kalau jodoh emang mirip ya. Satu datang, satunya tidak lama menyusul. Mendadak gerah padahal AC sudah menyala dari tadi, Zevanna meraih kertas di sebelahnya untuk kipas-kipas.
"Aduhhh, Tante lupa. Olive 'kan masih recovery, modelnya kurang satu dan Tante belum cari penggantinya," ucap Melisa.
Sontak saja Priscilla yang masih berbasa-basi dengan Jayden berdeham-deham seraya membenahi rambutnya. "Eumm ... Tan—"
"Zevanna aja, Tan, gantinya," potong Bobby berapi-api. Saatnya balas dendam, batin pria itu. Bibirnya menyeringai tipis.
"Zevanna?" Melisa langsung melirik anaknya.
"Iya. Zevanna pernah cerita kalau dia sering ikut kontes kecantikan gitu. Pasti bisalah pose di depan kamera," jelas Bobby.
"Nggak mau! Lo apaan sih!" sungut Zevanna melempar kertas di tangannya.
"Gue bener kali," Bobby membela diri, "bantuin orang tua tuh jangan setengah-setengah, Ze. Selagi bisa, kenapa enggak?"
"Hu'um, setuju," timpal Keynara. "Kasihan juga Tante Melisa habis kena musibah sampai kerjaannya dibawa ke rumah."
"Bener kata Bobby. Mau ya, Ze? Bantu Mama," pinta Melisa.
Zevanna memandang satu per satu mereka yang juga menatapnya, kecuali Jayden. Laki-laki itu adalah pengecualian dalam hidup Zevanna. Melihat betapa mereka berharap padanya, Zevanna pun mengangguk menjadikan salah satu orang di sana membatin kesal.
Tidak butuh waktu lama bagi Zevanna untuk bersiap-siap. Ia merias sendiri wajahnya, sedangkan rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja.
Walaupun mendapat giliran terakhir, Zevanna mulai gelisah saat melihat Keynara yang menjadi orang pertama mesti berpose di depan Jayden. Aslinya sih tetap di depan kamera, tapi tahu sendiri otak Zevanna lain dari yang lain.
Menghela napas berat, Zevanna melangkah dengan sedikit cemas. Jujur saja ia gugup difoto Jayden. Padahal, dulu dia dengan percaya diri meminta lelaki itu mengambil gambarnya. Duh, dulu lagi, dulu lagi. Kapan move on-nya?
Berusaha agar terlihat sesantai mungkin, Zevanna yang sudah siap berdeham rendah dan mengangguk kecil ketika Jayden memberikan aba-aba.
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Zevanna kehabisan gaya. Jayden berjalan menghampiri, membuatnya waswas. Mau apa lelaki itu?
"Kasih senyum dikit nggak apa-apa kok. Nggak usah terlalu kaku. Rileks aja," kata Jayden diakhiri senyuman. Ia kembali ke posisinya, sedangkan Zevanna lagi-lagi mengatur napas supaya terlihat luwes.
Pemotretan akhirnya selesai menjelang sore hari. Mereka tidak langsung bubar karena Melisa sudah memesankan makan dalam rangka pembuatan katalog rampung dan semoga tidak ada kendala lagi.
"Selain fotografer, sibuk apa, Jay?" tanya Priscilla yang duduk bersebelahan dengan Jayden. "Kalau aku selain MUA kadang buka kelas make up."
"Sekarang cuma fotografer aja, sih," jawab Jayden.
"Eh, jangan bilang 'cuma' lho. Fotografer diam-diam income-nya tinggi," ungkap Priscilla.
Jayden hanya tersenyum tipis. Bangkit dari kursinya, ia yang hendak membuang sampahnya kaget lantaran Priscilla mengambil alih dari tangannya.
"Biar aku aja sekalian. Nggak tahu di mana tempatnya, kan?" kata Priscilla tertawa-tawa.
Kembali Jayden tersenyum. "Thanks," balasnya kemudian pergi ke dapur untuk mencuci tangan.
Punggung lelaki berkaus putih itu tak luput dari pandangan Zevanna yang sejatinya diam-diam memperhatikan sejak Jayden berinteraksi dengan Priscilla, mengabaikan berbagai macam selorohan yang dilontarkan Gwen, Keynara, dan Bobby. Bau-baunya kakak sepupunya itu tertarik dengan mantan pacarnya. Lihat saja, siapa yang kira-kira bakalan menang. Sepertinya seru. Zevanna menyeringai, lantas melanjutkan makannya.
Pukul lima sore, akhirnya satu per satu dari mereka berpamitan. Gwen menjadi orang pertama yang meninggalkan rumah Zevanna karena jemputannya telah datang, disusul Bobby yang sudah punya acara, lalu Keynara.
"Tante, makasih ya buat semuanya," ucap Priscilla, "Jay, balik dulu ya." Tatapannya beralih kepada Jayden. Tentu saja dengan senyuman lebarnya yang tak ketinggalan. Zevanna yang berdiri di samping mamanya jadi semakin curiga.
"Iya, hati-hati," jawab Melisa dan Jayden bersamaan.
The real soulmate! Zevanna hanya bisa meringis.
Jayden lantas berlalu untuk membereskan barang-barangnya. Ketika mau meraih tas kamera, Jayden mendadak merasakan kepalanya berputar-putar. Tubuhnya mungkin terjerembab ke lantai kalau saja tangannya tidak sigap berpegangan pada sofa. Yang mana hal itu tak lepas dari penglihatan Melisa.
"Jay, kenapa?" tanya wanita itu menghampiri.
"Nggak apa-apa, Tan, cuma pusing dikit."
"Kamu sakit?" Tanpa permisi Melisa menyentuh kening Jayden. "Eh, demam lho," ucapnya menghentikan langkah Zevanna yang mau ke kamar.
Hidung gadis itu langsung kembang kempis melihatnya. Mentang-mentang sudah pada pulang, mereka langsung mesra-mesraan.
"Malam ini kamu nginep di sini aja gimana?" tawar Melisa tak tega menyadari bahwa wajah Jayden memang tampak pucat.
Mata Zevanna kontan melotot. "Mama kok gampang banget nyuruh orang asing nginep," serunya marah.
Menoleh, Melisa menjawab, "Orang asing apa sih? Kita, kan, kenal Jayden. Jayden sakit loh. Nih, kamu pegang keningnya kalau nggak panas." Sekali lagi ia menempelkan punggung tangan di dahi Jayden.
Dada Zevanna makin bergejolak marah. "Emang Jayden mau?"
"Kalau nggak merepotkan, saya mau," kata Jayden.
"Nggak ngerepotin sama sekali," sahut Melisa. "Nanti kamu istirahat di kamar Nando, kakaknya Zevanna. Kalau butuh baju ganti juga ada. Yang di lemari itu semuanya baru karena baju lama Nando berjamur. Jadi, Tante buang dan belikan lagi. Jaga-jaga soalnya dia kadang ada kerjaan di kantor Jakarta," imbuhnya panjang lebar.
Jayden mengangguk mengucapkan terima kasih. Berbanding terbalik dengan Zevanna yang sudah kesal setengah mati. Gadis itu meninggalkan mamanya dan mantannya dengan wajah ditekuk. Biar saja mereka makin getol nempel-nempelnya!