Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Menuntut Jawab



Thomas Aquinas Soemantri


Jay, makan gratis yok!


^^^Jayden Frery Tanjaya^^^


^^^?^^^


Thomas Aquinas Soemantri


Udah dandan aja yang cakep, gue otw


JANGAN PAKAI KAOS!


Sontak kening Jayden dihiasi lipatan. Memang temannya mau mengajaknya makan di mana? Jangan bilang candle light dinner. Jayden bergidik, membayangkan saja sudah ngeri. Mending makan nasi Padang dibungkus.


"Makan di mana sih?" tanya Jayden yang terpaksa pakai kemeja flanel motif kotak-kotak warna merah. Soalnya tinggal itu satu-satunya kemeja yang masih licin, yang lainnya lecek belum disetrika. Tepatnya tidak ada yang mau menyetrika, termasuk Jayden sendiri.


"Tuh!" Thomas menunjuk dengan dagu kertas persegi panjang di dashboard mobilnya.


Jayden lantas mengambil dan membacanya. Sebuah undangan grand opening restoran.


"Itu sebenarnya punya sepupu gue. Temannya ada yang baru buka resto. Tapi, dia nggak bisa datang soalnya tunangannya siang tadi masuk rumah sakit," jelas Thomas. "Gue sih sebenernya mau ngajak Joanne, tapi katanya weekend ini doi nggak pulang."


Jayden mengangguk. "Dia lagi magang di kantor Om Surya, makanya gue minta dia buat bawa mobil nyokap soalnya ke mana-mana jauh." Ada helaan napas panjang sebelum ia lanjut berkata, "Omong-omong, lo kenal sama yang punya resto nggak? Ya kali datang ke acara, tapi nggak tahu tuan rumahnya."


"Kenal. Dulu gue sering main PS bareng pas dia masih SMP. Lo juga pasti tahu orangnya," balas Thomas disusul cengiran.


Jayden skeptis. Lantas, Thomas menunjuk spanduk di pinggir jalan.


"Itu loh anaknya. Mikhael Rain," ucap Thomas, "gila tuh bocah sekarang sukses banget." Ia geleng-geleng kepala, kagum sekaligus iri.


Jayden hanya membulatkan bibir. Mereka tiba di restoran tidak lama setelahnya. Keadaan sudah sangat ramai. Mungkin karena yang punya orang terkenal, pikir Jayden. Desain Bulgogi Time yang didominasi kayu dan jendela besar dengan kusen warna hitam mengingatkannya pada Halcyon.


Andai tidak bangkrut, restorannya saat ini juga pasti sedang ramai. Jayden meringis perih. Ia menarik napas panjang untuk meredam gejolak kekecewaan yang merangakak naik. Namun, perih itu malah semakin menjadi lantaran matanya tak sengaja melihat Zevanna berdiri berdampingan dengan Marvel. Lagi, kenyataan kenapa pahit sekali.


"Jay, Jay!"


Jayden terpaksa memutus tatapannya dan menoleh kepada Thomas yang ternyata sudah melotot. Mengabaikan Thomas, Jayden pun berkenalan dengan Mikha. Mereka hanya mengobrol sebentar sebab acara akan dimulai.


Selama grand opening berlangsung, Jayden tidak benar-benar memperhatikan acara, bahkan Thomas yang mengoceh di sebelahnya juga tidak didengarkannya. Tatapan lelaki itu kembali terpatri pada Zevanna yang begitu memesona.


Mungkin kalau Jayden tidak diseret Thomas agar segera duduk, Jayden masih berdiri di tempatnya melihat Zevanna masih berdiam di posisi semula.


"Lo tadi dengar 'kan yang Mikha bilang ke gue. Steven bokapnya orang Korea asli. Keluarganya punya restoran di Pulau Jeju." Thomas lagi-lagi mengoceh. "Jadi nggak sabar nyicipin rasanya. Kira-kira bakal seotentik apa ya?"


Jayden mengernyit. Bukan karena ucapan Thomas, melainkan karena Zevanna yang diajak Marvel untuk menaiki tangga. Ia sendiri baru sadar kalau restoran ini dua lantai.


Mau apa mereka?


Jayden memindai sekeliling. Masih ada beberapa meja yang kosong. Seharusnya Zevanna dan Marvel bisa duduk di sana, alih-alih menuju lantai dua. Jayden tidak mau diam saja. Ia tiba-tiba berdiri. Yang mana membuat Thomas terheran-heran.


"Lo kenapa deh?" tanya Thomas bingung.


"Toilet di sebelah mana?"


"Aahhhh ... kebelet lo! Pantes mukanya kelihatan nggak enak," kelakar Thomas. "Nggak tahu. Gue 'kan ke sini mau makan, bukan mau berak."


Ingin rasanya Jayden membenturkan vas bunga di meja ke kepala temannya. Namun, apa daya, ia harus segera membuntuti Zevanna. Bisa saja 'kan Marvel berbuat yang tidak-tidak.


Diam-diam Jayden menaiki anak tangga, dan jantungnya berdebar-debar lantaran suara seseorang menahannya.


Jayden menengok ke belakang sambil memegangi perut. Tampak seseorang membawa nampan berisi banyak makanan. "Toilet di bawah penuh. Tadi ada yang memberitahu kalau di atas juga ada toilet."


Lelaki itu, Steven, mengangguk. "Kalau begitu naik saja, nanti ada tandanya. Kebetulan saya juga mau ke atas."


"Baiklah. Anda duluan saja. Nampannya pasti berat." Jayden mempersilakan Steven melangkah lebih dulu, sedangkan ia di belakangnya.


Begitu Steven menyelesaikan pekerjaannya, Jayden keluar dari toilet dan kembali berdiri di dekat tangga karena dari posisi itu yang paling aman, tetapi tetap jelas saat mengawasi.


Perasaan Jayden mulai tidak enak saat tangan Marvel bergerak meraih tangan Zevanna. Marvel berbicara banyak yang sayangnya tidak terdengar jelas lantaran instrumen musik yang mengalun. Dada lelaki itu bergerak naik turun. Napasnya menderu dengan perasaan cemburu yang menggebu-gebu.


Zevanna tidak boleh bersama Marvel atau siapa pun itu. Tidak! Jayden menatap nyalang pria yang duduk membelakanginya. Lantas, seolah Zevanna mendengar suara hatinya, gadis itu menoleh padanya.


Mereka bertukar pandang selama beberapa saat.


"Kak," Zevanna menarik tangannya agar terlepas dari genggaman, "gue ke toilet sebentar ya." Begitu mendapat anggukan, ia pun bergegas ke toilet.


Menyadari Jayden mengikutinya, Zevanna sontak berbalik badan dan memandang mantan kekasihnya dengan mata memicing. "Ngapain lo di sini? Lo nguntit gue?"


Bukannya menjawab, Jayden justru balas bertanya, "Marvel nembak kamu?"


"It's none of your business, Mr. Tanjaya." Zevanna memalingkan wajah masamnya.


"Tolak dia."


Kembali menatap Jayden, sorot mata Zevanna makin menunjukkan ketidaksukaan. "Lo nggak berhak ngatur-ngatur gue!"


"Kamu nggak cinta sama dia. Kamu cintanya sama aku."


"Jangan sok tahu!"


"Aku nggak sok tahu," ucap Jayden masih dengan nada dan ekspresi tenangnya. "Kalau kamu cinta sama dia, malam itu seharusnya kamu nampar aku. Tapi, kenyataannya kamu balas ciumanku."


Zevanna mendadak tertawa. Namun, matanya yang berkaca-kaca cukup menjelaskan betapa hancur hatinya. Ya, ia hancur dan kecewa. "Lo bener-bener berengsek! Lo bilang cinta sama gue, terus mau lo ke manain nyokap gue?"


Mata sipit Jayden melebar. "Apa hubungannya sama mama kamu?"


"Ohh ... masih mau pura-pura bego?" Zevanna mendecih, muak dengan tampang polos Jayden.


"Aku nggak pura-pura. Aku emang nggak ngerti. Kapan hari kamu juga bilang aku lagi latihan jadi ayah tiri kamu. Bisa kamu jelasin?"


"Gue lihat, Jay! Gue lihat semuanya!" ungkap Zevanna berang. "Lo rangkul nyokap gue dan kalian masuk kamar hotel. Nggak usah tanya, orang bego juga pasti tahu apa yang kalian lakuin."


Detik berikutnya, tawa renyah Jayden mengudara. Apa mungkin selama ini Zevanna mengira dirinya pacar mama perempuan itu sehingga ia kerap mendapat tatapan tidak bersahabat? Jayden memegangi perutnya yang sakit, lalu berhenti tertawa melihat raut murka Zevanna. "Aku bisa jelasin itu," katanya mengingat pertemuan pertamanya dengan Melisa. "Waktu itu aku nggak sengaja dengar ribut-ribut. Terus pas aku samperin, aku lihat Tante Melisa adu mulut sama laki-laki. Mungkin papa kamu. Karena kaki mamamu sakit, aku nawarin buat ngantar pulang. Tapi, beliau nggak mau dan malah minta aku buat anter ke kamar hotel aja."


Tentu saja Zevanna tidak langsung percaya. Apalagi saat teringat track record Jayden yang buruk terhadapnya. Zevanna tidak akan lupa jika lelaki di hadapannya adalah orang yang sudah meninggalkannya begitu saja seakan dirinya tidak ada artinya.


"Kamu boleh tanya mama kamu kalau nggak percaya."


"Terus ... kenapa dulu tiba-tiba lo mutusin gue?" tanya Zevanna menantang. "Gue ada salah sama lo?"


Jayden seketika bungkam.


"Lo nyakitin gue, dan sekarang di saat ada orang lain yang nawarin gue kebahagiaan, lo tahu-tahu datang dan ngomong macam-macam kayak barusan? Gue nggak ngerti mau lo apa!" Zevanna mendorong bahu Jayden. Ia harus menemui Marvel karena sudah meninggalkan pria itu terlalu lama. Tetapi, Jayden menahannya.


Jayden kembali memutar tubuh Zevanna supaya menghadapnya. "Kasih aku waktu," pintanya memelas.


"Lusa, jam delapan," jawab Zevanna setelah berpikir beberapa saat. "Di kafe dekat butik Mama."


Usai Jayden mengiakan, Zevanna meninggalkan mantannya itu untuk bergegas menemui Marvel.