Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Percuma



"Jay ... Jay ...." Hendri memanggil anak sulungnya yang tidur di sofa. "Jay ...." Sekali lagi dengan suara yang lebih keras, dan ia pun berhasil.


Jayden menggeliatkan badan. Matanya terbuka satu, menatap sang ayah. "Ada apa?" tanyanya masih setengah sadar.


"Bantu Papa ke kamar mandi."


Terdengar helaan napas panjang dari mulut Jayden. Sejenak pria itu memejamkan mata sebelum kemudian menghampiri ayahnya. "Kakinya masih sakit banget?" tanya Jayden seraya memapah Hendri.


"Lumayan," jawab Hendri dengan napas tertahan.


Jayden menunggu di depan kamar mandi dan membuka pintu di hadapannya begitu papanya mengatakan telah selesai. Lantas, dalam diam, ia kembali membantu sang ayah kembali berbaring di ranjang.


"Kamu marah sama Papa?" tanya Hendri tepat saat anaknya hendak berbalik menuju sofa.


Dengan raut datar yang setia menghiasi wajahnya, Jayden balas bertanya, "Buang-buang waktu dan habisin tenaga nggak sih, Pa, kalau mau marah sekarang?"


"Papa minta maaf, Jay," ungkap Hendri tulus. Matanya menyiratkan perasaan bersalah yang begitu dalam.


"Ya," sahut Jayden dingin. Ia berpamitan mencari sarapan sebelum papanya berbicara lebih banyak lagi. Yang mana membuatnya bisa-bisa merasa kasihan.


Ditemani secangkir kopi hitam, Jayden duduk di salah satu bangku kantin rumah sakit yang sepi. Raut wajahnya terlihat sendu usai menyalakan ponsel dan tidak ada balasan pesan dari Zevanna. Semalam, setelah mengunjungi kafe, Jayden juga berusaha menyambangi rumah gadis itu. Namun, satpam yang berjaga memberitahu jika Zevanna tidak di rumah. Pun katanya Melisa juga baru saja pergi.


Kamu ke mana?


Menyimpan kembali ponselnya, Jayden meminum setengah kopinya sebelum beranjak. Ketika menyusuri koridor menuju ruang rawat papanya, Jayden berpapasan dengan Astrid. Mereka sempat bersitatap sebelum dengan cepat Astrid memutusnya.


"Astrid, tunggu!" Jayden menghentikan langkah teman mantan kekasihnya.


Astrid berbalik menatap Jayden dengan seringai sinis. "Apa?"


"Apa lo tahu di mana Zevanna?"


"Ngapain lo tanya-tanya Zevanna?" balas Astrid enggan memberitahu. Sejatinya, kedatangannya ke sini adalah untuk menjenguk Zevanna setelah Melisa mengabarinya jika Zevanna tertabrak motor dan begitu sadar terus-terusan menangis. Melisa berharap kedatangan Astrid membuat putrinya merasa lebih baik.


"Jawab aja. Gue ada perlu sama dia."


"Gue nggak tahu!"


"Trid!"


Astrid merotasikan bola matanya malas. Kenapa pula dia harus bertemu Jayden? Bikin mood anjlok. "Kenapa lo nggak tanya sama nyokapnya aja? Lo 'kan deket sama Tante Melisa," ujarnya disusul senyum meledek.


"Apa lo juga salah satu orang yang mengira kalau gue punya hubungan khusus sama Tante Melisa?" ceplos Jayden. Mata Astrid yang sontak membelalak sudah cukup menjadi jawaban. Lelaki yang belum mengganti kemejanya sejak semalam itu tersenyum masam. "Lo salah! Zevanna salah paham tentang itu dan sekarang ada hal lain yang mesti gue lurusin sama dia. Jadi, apa lo tahu di mana Zevanna?"


Melihat betapa Jayden begitu berharap padanya, Astrid seakan merasa jadi orang jahat jika tidak memberitahu. Namun, di sisi lain, ia berpikir apakah tidak apa-apa dia membawa serta Jayden?


"Sekali ini aja, gue mohon," ungkap Jayden denga raut putus asanya.


"Gue ... sebenarnya gue ke sini mau jengukin Zevanna. Nyokapnya bilang, semalam Zevanna ketabrak motor," kata Astrid diiringi doa semoga saja keputusannya tepat.


"Ketabrak motor?"


Astrid mengangguk. "Nyokapnya juga bilang kalau setelah Zevanna sadar, dia dikit-dikit nangis. Makanya Tante Melisa nyuruh gue ke sini berharap gue bisa menghibur Zevanna. Lo ... tetep mau ikut?"


Apa Zevanna ketabrak motor sewaktu mau ke kafe? Atau, apa Zevanna ketabrak motor sesudah terlalu lama menunggunya? Jayden makin tidak karuan. "Ruangannya di mana?"


Berjalan berdampingan, keduanya menuju salah satu ruang rawat VIP. Astrid sempat melirik Jayden sebelum tangannya terulur untuk mengetuk pintu. Cukup sekali, setelahnya wajah Melisa menyambutnya. Wanita itu mengulas senyum, lantas raut kaget pun tak dapat disembunyikan melihat Jayden juga berdiri di depannya.


"Jayden? Kok bisa di sini?" tanya Melisa.


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Zevanna, Tante."


Melisa membulatkan bibir dibarengi anggukan kecil. Ia mempersilakan supaya Jayden dan Astrid masuk. Lalu, rasa penasaran yang baru saja hinggap di hatinya makin menjadi melihat ekspresi anaknya berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang awalnya sedih, kini Melisa bisa melihat wajah berang putrinya.


"Mama tadi nggak salah telepon, kan? Kenapa yang datang jadi dua orang?" sindir Zevanna.


"Benar, kok. Nggak lihat Astrid segede itu?" balas sang mama.


"Aku tadi nggak sengaja ketemu Astrid di depan," ucap Jayden bermaksud memberitahu.


Zevanna kontan memalingkan muka. "Nggak ada yang ngomong sama lo!"


Jayden menundukkan kepala. Yang mana membuat Astrid mengerti bahwa keputusannya salah. Agaknya ada sesuatu yang telah terjadi antara Zevanna dan Jayden yang tidak ia ketahui, dan seharusnya ia tidak gegabah begini.


"Sorry, Ze," ungkap Astrid merasa bersalah.


Tidak ada sahutan. Keadaan menjadi hening selama beberapa saat. Kontras dengan isi kepala masing-masing orang yang ada di ruangan serba putih tersebut.


Sebagai satu-satunya orang tua, Melisa akhirnya menghentikan keterdiaman itu dengan berucap, "Mama bisa tunggu di luar kalau memang ada yang kamu bicarakan, Ze."


"G-gue juga," timpal Astrid.


"Nggak perlu!" tegas Zevanna. "Kalaupun ada yang harus keluar dari sini itu dia!" imbuhnya dengan mata memicing tertuju pada Jayden.


"Aku minta maaf, Zevanna. Aku bisa jelasin kenapa semalam aku nggak bisa datang," ucap Jayden bersungguh-sungguh.


"Sayangnya, gue udah nggak mau dengerin. Gue juga udah nggak peduli tentang semua yang berhubungan sama lo! Udah cukup gue jadi orang bego karena dipermainkan sama orang kayak lo!" Dada Zevanna bergerak naik turun usai menumpahkan apa yang sejak semalam mengganjal di hatinya. Ia merasa jadi orang paling bodoh lantaran telah memberi Jayden kesempatan.


"Maaf ...."


Zevanna bisa melihat kepalan tangan lelaki itu gemetar. Namun, hati Zevanna sudah terlalu sakit untuk kembali bisa percaya. Luka yang ditorehkan Jayden sudah terlalu dalam, dan itu sudah amat sangat cukup.


"Kemarin papaku masuk rumah sakit—"


"Gue bilang, gue nggak mau denger! Lo ngerti kan, Jay?" teriak Zevanna membuat mamanya berjingkat. Sementara Astrid memejamkan mata dan perlahan melangkah mundur.


"Tenang, Ze. Kita bisa ngomong baik-baik," ucap Melisa seraya mendekati anaknya. Ia memegangi kedua bahu Zevanna dan memberikan usapan di sana supaya emosinya tidak meledak-ledak.


"Ngomong baik-baik sama dia?" Dengan tatapan nyalang serta air mata yang menggenang, Zevanna memandang Jayden, lalu beralih ke mamanya. "Kalau Mama mau tahu, aku sama Jayden pernah pacaran dan dia udah mutusin aku tanpa alasan yang jelas. Sekarang, dia datang lagi dan minta aku buat dengerin penjelasan dia. Tapi apa? Jayden justru nggak datang padahal Mama tahu secapek apa kita kemarin. Aku nungguin dia sampai malam sampai akhirnya aku ketabrak motor dan berujung kakiku cedera."


Dan, penjelasan Zevanna tidak hanya membuat Melisa kaget, tetapi juga tiga orang yang berdiri di luar ruangan.


"Saya sadar telah berbuat salah, tapi tolong dengerin sekali ini saja, Tan, izinin saya untuk menjelaskannya," pinta Jayden.


"Cukup, Jay! Ngapain lo jelasin ke nyokap gue? Mau cari simpati? Bener-bener ya lo!" Zevanna terkekeh mengejek, dan itu cukup membuat Jayden semakin bersalah dan rendah diri.


"Jay, bukan bermaksud mengusir, tapi baiknya sekarang kamu memang nggak di sini dulu. Nanti kalau keadaan sudah lebih baik, kamu bisa bicara lagi sama Zevanna," nasihat Melisa. "Maaf ya, Jay."


"Tante nggak salah. Saya yang seharusnya minta maaf. Maaf sudah menyakiti anak Tante." Jayden menorehkan senyum kecut. Ia baru sadar kalau dirinya tidak hanya melukai hati Zevanna, tetapi juga orang tua gadis itu. Lantas, pandangan Jayden berganti ke arah Zevanna. "Aku minta maaf, Zevanna. Maaf sudah membuat kamu celaka," katanya disusul anggukan kecil. Jayden berpamitan kepada Astrid dan Melisa dengan perih yang menyelimuti hatinya. Sakit sekali rasanya sampai-sampai ia tidak bisa menitikkan air mata. Namun, mau bagaimana, semua memang salahnya. Jayden mau tidak mau harus menerima.