
Sawang di langit-langit disapu. Pintu dan jendela dibersihkan hingga mengkilat. Meja dan kursi dilap, lalu ditata ulang. Dan, wajah baru Halcyon mulai benar-benar terlihat ketika poster-poster bergambar makanan yang menjadi menu di restoran tersebut satu per satu terpasang di dinding. Berkat keterampilan tangan Joanne, sepasang burung phoenix juga tampak terlukis indah menghiasi salah satu sisi. Keluarga Tanjaya tersenyum puas memandangnya.
"Udah beres. Tinggal bagian dapur, yuk!" ucap Jayden mengabaikan keringat yang mengaliri pelipis, leher, hingga punggungnya. Sebab yang ia tahu, ia ingin pekerjaannya cepat selesai.
"Istirahat dulu nggak sih?" ujar Joanne. Tangan dan bajunya masih belepotan cat. Napasnya terengah-engah, dan seolah belum lelah kakaknya langsung mengajaknya membersihkan bagian dapur yang jelas-jelas tidak sebentar.
"Iya, istirahat dulu. Lagian udah mau makan siang. Kalian mau makan apa? Kita pesan aja ya." Hendri memutuskan.
Joanne tersenyum cerah. "Pizza dong, Pa."
Jayden kontan melengos. "Dasar nggak sehat!" cibirnya melihat adiknya tidak jua berubah. Doyan banget makan junk food.
"Apa, sih! Gue 'kan udah kerja keras jadi self reward dikit boleh, lah!" Joanne membela diri.
"Alasan aja," sahut Jayden tak mau kalah.
"Diem aja bisa nggak, Ko?" Emosi Joanne tersulut gara-gara perut yang sejatinya sudah keroncongan.
"Nggak bisa. Emangnya gue bisu."
"Lo kenapa sih? Habis dari mal kemarin jadi tambah nyebelin!" Joanne makin bersungut-sungut. "Kalau nggak mau pesenin, ya udah. Gue juga udah nggak mood makan. Capek, mau balik aja!" Gadis berkucir ekor kuda itu bangkit dari kursi. Hendak berjalan ke titik di mana cat serta kuasnya berada, ia mendengkus saat sang papa memintanya untuk kembali duduk.
"Papa yang pesan, Jo, bukan Koko. Kamu mau pizza? Mau yang apa? Boleh kok sekali-kali makan junk food." Hendri kembali menjadi penengah untuk anak-anaknya. Biasanya istrinya, tetapi sekarang, sepertinya tugas itu—mau tidak mau—ia yang menjalankannya.
"Di kosan pasti sering. Kan mumpung nggak ada yang ngawasin." Belum puas, Jayden kembali menyiramkan minyak sehingga kobaran amarah dalam diri adiknya makin membara.
Bibir tipis Joanne berkedut gatal. Ingin melontarkan makian, tetapi terpaksa ditelan karena masih ingat ada ayahnya di tengah-tengah mereka.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar." Sekali lagi, Hendri menengahi. Ini baru sekali peristiwa. Ia tidak paham bagaimana istrinya selama bertahun-tahun bisa tetap sabar menghadapi anak-anak. Ah, Hendri jadi merindukan mendiang istrinya. Agaknya selepas dari sini, ia akan berkunjung ke makam. "Kalau kamu, mau makan apa, Jay?"
"Aku nggak laper." Jayden menyambar lap kotak-kotak yang sudah berubah warna jadi kecoklatan, kemudian beranjak ke dapur.
Menghela napas pasrah, perhatian Hendri tertuju lagi pada putrinya. "Masih mau pizza, kan?"
"Beneran boleh?" Ekspresi Joanne tampak tak yakin.
"Boleh, dong." Baru juga Hendri mengeluarkan ponselnya, seseorang tiba-tiba datang dengan senyuman lebarnya.
Siapa lagi jika bukan Thomas. Lelaki berkaus hitam itu segera menyalami Hendri. "Siang, Om," sapanya hangat, kemudian sebuah kernyitan timbul melihat wajah ditekuk milik Joanne. "Kenapa tuh, Om?" lirihnya menunjuk dengan dagu. Yang ditunjuk hanya memutar bola mata kesal.
"Biasalah. Gelut sama kokonya gara-gara pengin makan pizza. Kamu sudah makan, Thom? Biar Om pesenin sekalian." Hendri menawari.
"Eh, nggak, Om. Malah saya bawa ini." Thomas menaruh kantung plastik yang ditentengnya di meja. "Bikinan Mama," katanya seraya membuka satu per satu kotak berisi nasi dan pork belly.
"Wah, bikin repot saja," ungkap Hendri sungkan.
"Nggak repot, kok. Kebetulan orang rumah lagi pengin dan Mama bikin banyak. Yuk, dimakan, Om, Jo."
"Jo, ayo, Jo. Enak, nih!" Sang ayah menepuk punggung putrinya yang betah sekali merajuk.
"Omong-omong, Jayden mana?" tanya Thomas tak melihat batang hidung kawan karibnya.
"Tauk!" ketus Joanne, tetapi tangannya tanpa tahu malu memenuhi setengah kotak nasi dengan pork belly.
"Jayden ada di dapur. Kalau nggak keberatan, coba kamu aja ngobrol, Thom. Sejak Om pulang dari rumah sakit, dia kayak ngoyo sekali beraktivitas, tapi makannya sedikit. Om takut dia sakit." Hendri mengungkapkan keresahan yang mengganggu pikirannya. Ia memang diam, tetapi diamnya sambil memperhatikan orang-orang terdekatnya.
"Iya, Om. Saya akan coba."
Di dapur restoran, Jayden telah selesai mengelap meja panjang yang biasa digunakan untuk menaruh masakan yang sudah matang. Dan saat ini, lelaki itu sedang mengeluarkan piring, mangkuk, dan peralatan lainnya untuk dicuci. Namun, gerakannya terhenti saat tangannya menyentuh beberapa piring saji yang kemarin dibeli.
Ck! Semua ini gara-gara Joanne. Kalau saja adiknya tidak punya ide membeli piring baru dengan alasan piring lama sudah banyak yang retak, Jayden tentu tidak perlu bertemu Zevanna dan pacar barunya.
***
Beragam jenis sushi telah menghiasi meja. Menciptakan senyum di wajah Zevanna, membuat Marvel turut senang melihatnya. Dengan senyum tak kalah lebar, lelaki itu mengambilkan satu dan menyuapi kekasihnya.
"Enak?"
Zevanna manggut-manggut puas.
"Makan yang banyak biar makin gemes." Marvel kembali menyuapi Zevanna. Padahal, cacing di perutnya juga meminta jatah, tetapi tidak ia hiraukan.
"Biar gemes apa biar gendut?" Zevanna menyangsikan ucapan Marvel.
"Kok gitu?"
"Yeah, nanti kalau gendut 'kan jadi ada alasan buat ninggalin. Bilangnya 'kamu cewek, tapi makanmu kayak kuli'."
"Lho, kalau aku 'kan udah tahu dari lama kalau sayangku ini makannya kayak kuli. Jadi nggak ada alasan aku ninggalin cuma gara-gara makannya banyak." Marvel tertawa tanpa dosa.
"Kak Marvel!" Zevanna yang sebal memalingkan muka, menolak sushi yang disuapkan kepadanya.
"Yahhh ... ngambek." Menaruh sumpitnya, Marvel memiringkan kepala. "Bercanda, Zesayang."
Satu alis Zevanna terangkat. Zesayang? Apa, tuh? Zevanna sayang?
"Zesayang ...." Marvel memanggil dengan nada mirip anak kecil yang mengajak temannya bermain. "Zesayang, lihat sini dong. Kuberi kantong bolong. Hadiah dari Hong Kong." Ia malah bernyanyi.
"Zesayang, kalau nggak lihat sini, aku habisin sendiri, loh!"
"Jangan!" Spontan Zevanna kembali menghadap ke depan, dan detik berikutnya, bibirnya manyun mendapati senyum kemenangan terukir di bibir Marvel. "Nyebelin!"
Pria itu sempat terkekeh sebelum menyudahi sesi bercandaan dengan melempar tanya, "Kamu capek banget nggak?"
"Kenapa memang?"
"Mau minta temenin nyari lampu tidur. Lampu tidur di kamar pecah gara-gara kesenggol Bibi waktu beres-beres."
"Boleh-boleh. Sekalian aku nyari ring light, deh."
Sembari bergandengan tangan, Zevanna dan Marvel menuju sebuah store yang menjual alat elektronik hingga peralatan rumah tangga usai menghabiskan sushi.
"Kalau masih muda memang apa-apa sukanya berdua. Saya juga begitu waktu baru menikah." Seorang wanita tua menghampiri pasangan kekasih yang tengah melihat-lihat beraneka model lampu tidur.
Menengok bersamaan, sepasang kawula muda itu beradu pandang sebelum meloloskan tawa canggung.
"Kami belum menikah, Tante," ucap Marvel sopan.
"Belum berarti sebentar lagi ya," balas wanita itu menggoda.
Marvel dan Zevanna kembali bersitatap. "Doakan saja, Tan." Lagi-lagi Marvel yang menjawab.
"Pasti saya doakan. Orang kelihatan serasi banget, kok. Saya duluan ya."
Selepas kepergian wanita tadi, Marvel langsung menatap Zevanna lekat dibarengi kerlingan jahilnya. "Katanya kita serasi banget. Habis kamu ketemu Mama, langsung lamaran aja apa, ya?"
Zevanna mendaratkan telapak tangan ke wajah pacarnya dan sedikit mendorongnya. "Mulai, deh, mulaiii ...."
Tawa renyah Marvel mengisi lorong yang hanya ada mereka berdua. Hari ini, entah untuk yang ke berapa kali, ia mengacak gemas puncak kepala pacarnya. "Hehehe .... Sayang, aku ke toilet sebentar ya. Kamu lihat-lihat ring light dulu aja."
"Masih beser ternyata," kelakar Zevanna. Ia teringat hal wajib yang harus dilakukan Marvel sebelum dan sesudah nonton bioskop atau saat hendak bepergian jauh. Apalagi kalau bukan ke toilet. Dulu, ritual ini sudah menjadi rahasia umum bagi anak yang satu organisasi dengan Marvel di kampus.
Marvel merengut, wajahnya dibuat-buat imut.
"Udah sana, Kak. Nanti ngompol di sini disuruh ngepel lagi."
"Jahat!"
"Emang! Wle!" Juluran lidah Zevanna mengantar kepergian Marvel yang terburu-buru. Agaknya lelaki itu benar-benar kebelet. Zevanna tertawa seraya geleng-geleng kepala sebelum beralih ke sisi yang lain.
"Di mana sih?!" Zevanna terus celingukan. Beberapa kali kepalanya mendangak. Siapa tahu 'kan barang yang dicari ditaruh di tempat teratas. Tetapi, hingga lehernya pegal dan ia malah nyasar ke bagian peralatan dapur, matanya tak kunjung menemukan ring light yang dibutuhkannya.
Mendesah lelah, Zevanna menghentikan langkah. Matanya mengarah ke bawah, pada kakinya yang terasa nyut-nyutan. Air mukanya tampak khawatir. Bagaimana kalau kakinya kenapa-napa?
"Zevanna?"
Lipatan samar menghiasi kening sang gadis. Itu bukan suara Marvel. Karena dilanda penasaran, Zevanna pun mengangkat wajahnya. Seakan waktu berhenti berputar, Zevanna terdiam manakala matanya bertemu pandang dengan milik si mantan.
"Aku nggak nyangka kita bakalan ketemu di sini," ucap Jayden membuat Zevanna memutus kontak mata di antara mereka.
Gadis itu menyengih sinis tanpa ada niatan untuk menengok.
"Aku minta maaf sudah ingkar janji, Ze. Tapi, malam itu papaku masuk rumah sakit."
"Basi tahu nggak, Jay!" sentak Zevanna muak.
"Seenggaknya jangan benci aku sampai sebegininya kalau kamu tahu alasannya."
"Setelah semua yang lo lakukan?" Zevanna tertawa sumbang. "Lo tuh punya kaca nggak sih di rumah? Ngaca biar sadar seberapa jahatnya lo ke gue!" Ia berbalik badan, ingin meninggalkan. Namun, tertahan karena sebuah pengakuan.
"Halcyon bangkrut kalau kamu masih ingin tahu alasan kenapa aku mutusin kamu dulu. Kehidupanku berubah dan nggak munafik itu pasti berimbas ke hubungan kita kalau dilanjutin. Aku nggak mau kamu ikut susah dan kepikiran. Tapi, sepertinya keputusanku dulu salah. Seharusnya aku nggak lepasin kamu biar kamu nggak sama cowok lain."
Kelenjar air mata Zevanna dengan cepat bekerja, menciptakan genangan di kedua mata indahnya. Kenapa baru sekarang? Menatap dari balik bahu, ia bisa melihat Jayden yang masih setia memandanginya. Sorot mata lelaki itu masih sama dengan sorot yang meminta agar Zevanna menolak Marvel, agar Zevanna mau mendengarkan penjelasannya.
"Sayang, aku cariin kamu ...."
Mengerjap, Zevanna dengan cepat menghapus air mata di sudut matanya. Menampilkan segaris senyum palsu supaya kekasihnya yang baru kembali tidak curiga. "Aku belum nemu di mana ring light-nya," katanya berusaha mengalihkan perhatian.
"Oh, tadi aku lihat ada di sana." Marvel menunjuk arah yang berlawanan, tetapi matanya terus tertuju pada Jayden yang masih membatu di tempat. "Kamu habis ngobrol sama dia?" tanyanya melihat sekilas Zevanna.
"Iya." Jayden yang menjawab.
Zevanna menelan ludah. Tatapannya berubah gelisah menunggu reaksi Marvel.
"Oh, lo yang waktu itu jengukin Zevanna juga, kan? Kenalin, gue Marvel. Pacarnya Zevanna." Marvel mengulurkan tangan dibarengi senyuman lebar.
"Jayden."
Zevanna meringis dalam hati menyaksikan pacar dan mantannya berjabat tangan. Demi Tuhan, melihat keduanya baku hantam mungkin jauh lebih menenangkan daripada melihat mereka tampak akur seolah-olah tidak ada apa-apa.
Namun tunggu, bukankah Marvel dan Jayden memang tidak ada masalah sebelumnya? Sebab satu-satunya yang bermasalah di sini adalah hati Zevanna.