Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Kak Marvel?



Setibanya di rumah, Zevanna mengempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang tamu. Demi Tuhan! Hari ini adalah salah satu hari terberat di dalam hidupnya. Beberapa kali selama berpuluh-puluh menit lamanya dia menghabiskan waktunya di toilet dengan alasan sedang datang bulan agar tidak bertemu Jayden.


Rasa lelah yang mendera membuat gadis dengan tinggi semampai itu perlahan memejamkan mata. Namun, belum sampai lima menit Zevanna terlelap, terdengar pintu utama rumahnya dibuka. Sayup-sayup indra pendengarannya menangkap suara orang sedang mengobrol.


"Ze ...."


Perlahan Zevanna membuka matanya yang masih terasa berat seakan ada sebongkah batu yang menggantung di kelopak mata bagian atas. "Apa, Ma?" tanyanya sedikit mengernyit. Perasaan dia tidak salah rumah. Dia pulang ke rumah ayahnya, tapi kenapa ibunya yang muncul? Sayangnya, pertanyaan itu harus Zevanna singkirkan terlebih dahulu karena mamanya sudah bergeser agar sosok yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuh terlihat olehnya.


"Lihat, Mama bawa siapa ke sini." Melisa tersenyum cerah.


Zevanna mengerjap-ngerjapkan mata. Tidak percaya jika laki-laki yang seharian ini dia hindari justru kini sedang berdiri di depannya dengan bibir mengukir senyum tipis.


"Hai, Ze. Long time no see," sapa Jayden santai.


Zevanna hanya bisa mengangguk karena lidahnya terasa begitu kaku.


"Kaget, ya, Ze?" Melisa terlihat memaklumi, sedangkan Zevanna langsung mengalihkan pandangannya pada sang ibu. "Tadi waktu pulang bareng Jayden, Mama cerita tentang kamu dan setelah Mama kasih lihat foto kamu ternyata Jayden juga kenal. Kok, kamu nggak pernah cerita apa-apa, sih?"


"Nggak penting soalnya." Zevanna melirik Jayden dengan ekor matanya. Dari raut wajahnya, lelaki yang baru saja diminta duduk oleh Melisa itu sama sekali tidak tersinggung. Batin Zevanna menggeram. Mengapa dia tidak diciptakan sebagai orang yang bisa cepat move on?


"Ze ...." Melisa kembali memanggil. "Ada yang ingin Mama sampaikan ke kamu."


Sumpah demi nyamuk yang menggigitnya semalam, jantung Zevanna langsung berdebar kencang mendengar ucapan ibunya. Ditambah dua orang di depannya yang kini saling melempar pandang dengan ulasan senyum di bibir masing-masing membuatnya ingin menghilang dari muka bumi.


"Mama dan Jayden memiliki ketertarikan satu sama lain. Jadi, kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Mama nggak minta persetujuan kamu. Toh, selama ini kamu selalu sibuk sendiri. Mama hanya minta kamu mengerti dan menerima kalau mulai sore tadi Jayden dan Mama resmi berpacaran."


"Nggak minta persetujuan aku?" Zevanna bangkit dari duduknya. Dadanya naik turun karena kekesalan yang membelenggu hatinya. "Terus Mama anggap aku ini apa?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Mama minta maaf, Ze. Mama nggak bermaksud. Dulu waktu papa kamu mau nikah lagi juga kamu fine-fine aja, kan? Jadi, Mama sangat berharap kamu bersikap adil dengan memberikan respons yang sama atas hubungan Mama dengan Jayden." Melisa menoleh ke arah Jayden, tangan mereka lantas saling menggenggam.


Air mata Zevanna luruh. "NG-NGGAK! AKU NGGAK SETUJU." Susah payah ia meneriakkan penolakan di tengah isak tangisnya yang menyesakkan dada.


"Mama juga ingin bahagia, Ze, kayak Papa kamu, dan kamu juga bukan anak kecil lagi. Jadi, tolong dewasalah dalam menyikapi ini." Melisa meraih tas jinjingnya, lalu bangkit berdiri. "Ayo, Jay, kita pergi."


Napas Zevanna tertahan melihat Jayden yang langsung menuruti perkataan ibunya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, tanpa mengacuhkannya sama sekali. "NGGAK! SAMPAI KAPAN PUN AKU NGGAK BAKALAN SETUJU." Kembali Zevanna menyerukan penolakan.


Melisa tak acuh. Ia terus melangkahkan kakinya, membuka pintu, dan beberapa saat setelahnya terdengar suara mobil yang perlahan menjauh dari rumah.


"MA! SAMPAI MATI ZEVANNA NGGAK AKAN SETUJU. ENGGAK! ENGGAK!" teriak Zevanna kencang.


"Zevanna, bangun! Zevanna!" Lily menepuk pelan lengan Zevanna, tapi tidak berhasil. Zevanna terus meracau. Tangannya bergerak aktif seolah sedang menyingkirkan apa saja yang menghalanginya.


Adrian turun tangan dan melakukan hal yang sama dengan lebih kencang. "BANGUN, ZE! ZEVANNA!"


Zevanna baru benar-benar membuka mata saat sang ayah mengguncang bahunya. Keringatnya bercucuran di kening dan pelipis. Napasnya terengah-engah seperti orang habis lari maraton. "A-aku, aku kenapa?"


"Kamu mimpi sampai teriak-teriak. Sampai mendorong mama kamu yang niatnya mau bangunin." Adrian menjelaskan dengan sedikit emosi.


"Mas, aku nggak apa-apa. Zevanna juga 'kan nggak sadar." Lily merasa suaminya berlebihan. Dia memang sempat oleng karena tidak sengaja terkena amukan Zevanna, tapi di sisi lain ia memakluminya sebab itu tidak disengaja.


"Maaf ...." Zevanna berucap lirih. Ia menyesal. Kenapa juga pakai acara ketiduran di sofa sepulang bekerja. Jadi, begini, 'kan?


Lily menatap kasihan. Namun, untuk bertanya lebih jauh, ia merasa tidak enak karena hubungannya dengan Zevanna belum terlalu dekat. "Kamu mau mandi, Ze?" tanya wanita berbadan dua itu tatkala Zevanna beranjak.


Zevanna hanya mengangguk.


"Aku siapin air hangat mau?" Lily menawari.


Kali ini Zevanna menggeleng. "Makasih, tapi aku bisa sendiri."


Ia tuangkan beberapa tetes aromaterapi ke bak mandi yang sudah dipenuhi air hangat sebelum kemudian menceburkan diri ke dalamnya. Kepalanya menengadah menatap langit-langit, alunan musik dari ponsel yang ditaruh di tepian bak menemaninya.


"Sampai kebawa mimpi." Zevanna mendesah pelan. "Tapi, gimana kalau mimpi itu sebenarnya adalah tanda?" pikirnya mulai tak tenang.


Di saat Zevanna bergumul dengan pikirannya, ponselnya berdering dan nama "Astrid" tertera di layar. Zevanna menggeser ikon hijau, lalu menempelkannya di telinga. "Hmm?"


"Dih! Lagi bete lo?" Suara Astrid terdengar sinis di ujung telepon.


"Lo paling tahu gue pokoknya," jawab Zevanna apa adanya.


"Keluar, yuk! Udah lama, kan, kita nggak jalan bareng," ajak Astrid antusias.


"Ngeh!" Zevanna mencibir. "Gimana nggak lama lo sibuk terus sama Leon."


Terdengar suara Astrid cengengesan.


Zevanna memanyunkan bibir yang tentu saja tidak dilihat Astrid.


"Gue traktir, deh. Yuk, lah, lo mau makan di mana gue jabanin," kata Astrid jumawa.


"Satu jam lagi di restoran favorit gue." Zevanna memutuskan.


"Sip."


Sambungan terputus. Zevanna keluar dari bak mandi dengan wajah sudah sedikit lebih ceria. Usai menghabiskan berpuluh-puluh menit untuk berdandan, kini ia telah siap untuk pergi.


Ayah dan ibu sambungnya sedang makan malam ketika Zevanna turun ke lantai satu.


"Lhoh, mau pergi lagi, Ze?" tanya Adrian.


"Iya, tadi Astrid telepon terus ngajak makan." Zevanna berjalan menghampiri ayahnya, lalu mencium pipinya agar dengan mudah diperbolehkan pergi. "Pergi dulu, ya, Pa, Kak Lily."


"Kok nggak cium Mama juga?"


Zevanna memaksakan senyumannya. Harus berapa kali dia bilang kalau dirinya belum terbiasa, tapi karena tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi jadilah dia menuruti ucapan ayahnya.


Seperti biasa, Lily hanya tersenyum hangat.


"Diantar Pak Supri, ya, Ze," celetuk Adrian sebelum putrinya sampai di ambang pintu.


Zevanna kontan geleng-geleng kepala. "Nggak mau. Lagian kasihan Pak Supri nanti nunggunya lama."


"Tapi, Papa nggak tenang kalau kamu nyetir sendiri." Adrian mengungkapkan kekhawatirannya.


"Aku udah gede. Percaya aku, please. Lagi pula, hapeku aktif terus, kok." Zevanna kekeuh pada pilihannya.


Akhirnya Adrian pun hanya bisa mengangguk.


Entah sedang sial atau kena karma karena tidak menurut pada ayahnya, belum juga menempuh separuh perjalanan ban mobil Zevanna kempes.


Gadis itu merutuk dalam hati. Mengedarkan pandangannya, jantungnya langsung berdegup kencang melihat ada mobil ikut-ikutan berhenti di belakang mobilnya.


Keterkejutan tak dapat disembunyikan dari raut wajah Zevanna kala mengetahui siapa laki-laki yang baru saja keluar dari mobil dan saat ini tengah berjalan ke arahnya.


"Kak Marvel?"