Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Move On?



"Gue kayaknya nggak kaget kalau nanti tahu-tahu ada undangan mendarat di apart gue."


Adalah balasan Astrid pada instastory yang di-repost Zevanna dari akun milik mama Marvel. Zevanna baru membacanya setelah tubuhnya berhasil terbaring di ranjang kamarnya. Senyum kecut tercipta di bibir. Bagaimana ia mesti menjawabnya?


Pada akhirnya, Zevanna yang memilih untuk menyimpan semuanya sendiri mengetikkan balasan, "Iya. Jangan lupa siapin amplop yang tebel."


"Hahahaha! Iya, nanti gue bikin amplop dari kardus kulkas biar jadi yang paling tebel."


Zevanna membuang napas malas. "Lebay!"


"Biarin! Btw, Ze, double date seru kali, ya?"


Zevanna melongo dibuatnya. Sepanjang mengenal Astrid, ia tahu betul kalau temannya itu paling tidak suka diganggu jika ada kesempatan pergi berdua dengan pacarnya. Tetapi sekarang, Astrid tiba-tiba mengajaknya double date. "Lo kesambet apaan?"


"Sembarangan kalau ngomong. Gue cuma bingung aja mau ngapain sama Leon. Kayak semua udah dilakuin."


"Hmm ... nanti gue coba omongin dulu sama Kak Marvel deh."


"Yailah, udah pacaran manggilnya masih aja kakak. Ayang kek! Atau honey, baby, darling. Wkwkwkwk ...."


"Bacot!" Zevanna melempar ponselnya sembarangan. Meladeni Astrid tidak pernah ada ujungnya.


Gadis itu lantas merentangkan tangan. Mengembuskan napas lelah, matanya tertuju pada langit-langit kamar yang dipenuhi stiker bintang, bulan, dan benda-benda langit lainnya.


Ambilkan bulan, Bu


Ambilkan bulan, Bu


Yang slalu bersinar di langit


Di rooftop apartemen Zevanna, nyanyian diiringi petikan gitar itu dilantunkan oleh Jayden. Agaknya malam ini langit sedang bahagia sehingga mau menampakkan sinarnya.


Di langit bulan benderang


"Iiihhhh, apa sih kok lagunya kayak gitu. Emang aku anak kecil?" Gerutuan gadis yang sudah berkacak pinggang menghentikan lagu.


"Memang anak kecil." Jayden mendekat sambil memegang gitar di tangan kirinya. "Kalau udah besar nggak mungkin minta temenin karena nggak bisa tidur." Ia melontarkan cibiran dengan tampang sengaknya.


Jayden bahkan belum tiba di rumah ketika ponselnya berdering. Lantas, suara pacarnya yang sekitar setengah jam lalu masih bersamanya terdengar di ujung telepon. Meminta agar dirinya kembali supaya menemani.


"Kamu nggak ikhlas ya?" Wajah Zevanna tambah ditekuk.


"Kalau nggak ikhlas nggak mungkin putar balik, Ma Chérie." Angin malam bertiup kian kencang. Jayden menyelipkan rambut panjang Zevanna ke belakang telinga, kemudian mengikis celah yang tersisa.


Zevanna menengadahkan kepala. Memandangi wajah tampan yang menghiasi hari-harinya seraya menghidu dalam-dalam aroma oceanic dari perpotongan leher kekasihnya. "Ko, nginep di sini ya?"


Sedikit menunduk, Jayden mempertemukan matanya dengan mata Zevanna. Ini bukan pertama kali gadis yang wajahnya hanya berjarak sejengkal darinya memintanya agar bermalam. "Kamu nggak ada takut-takutnya. Aku cowok tulen, loh!"


"Terus kenapa? Koko mau apa-apain aku? Aku nggak takut!"


"Zevanna!" Jayden mendelikkan mata.


Jayden jelas terganggu dengan sentuhan fisik yang diterimanya. Karena itu, ia menurunkan tangan Zevanna yang seketika tertawa-tawa.


"Takut ya?"


"Aku belum pernah ketemu orang tuamu. Dan aku nggak mau kalau datang-datang malah bawa kabar buruk yang bikin malu keluarga. Ngerti, kan?" Jayden merengkuh tubuh Zevanna, melindunginya dari dinginnya malam. "Aku sayang kamu." Satu kecupan ia bubuhkan di puncak kepala kekasihnya.


"Aku juga sayang Koko."


"Minggu depan pulang ke rumah ya? Aku anterin sekalian ketemu orang tuamu." Jayden tidak ingin menjadi seorang pengecut yang memacari seorang gadis, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ini bukan gayanya. Namun, sepertinya hal itu belum bisa terwujud karena baru saja Zevanna menggelengkan kepala.


"Di rumah kayaknya masih 'panas'. Tadi siang aja Mama masih lampiasin emosinya ke aku lewat chat. Aku belum mau pulang, Ko. Please ...."


Disuguhi puppy eyes Zevanna, Jayden mana tega memaksa. Lelaki itu hanya bisa bersabar. "Masuk, yuk! Udaranya tambah dingin." Jayden mengurai pelukan untuk kemudian berganti merangkul bahu Zevanna.


Meringis pedih, air mata Zevanna tak henti-hentinya mengalir mengingat kenangan indahnya bersama Jayden. Sakit dan sesak. Kenapa Jayden tidak memberitahunya sejak awal? Kenapa ia tidak memiliki kesabaran lebih untuk menunggu penjelasan pria itu?


Bermaksud menghapus air matanya, Zevanna justru kembali terisak melihat cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia tidak mengerti mengapa hidupnya jadi serumit ini. Mama dan Papa bercerai, kakak sepupunya yang mengkhianatinya, mantannya yang kembali muncul, dan kesediaannya untuk menjadi pacar Marvel. Semuanya tumpang tindih mengganggu pikirannya.


***


Seorang ayah dan anak duduk bersebelahan di bawah keremangan lampu dapur restoran. Pekerjaan mereka telah selesai untuk hari ini. Tetapi merasa ada yang perlu dibicarakan, keduanya secara naluriah menunda kepulangan.


"Kamu coba saja, siapa tahu lolos." Hendri menoleh, menatap anak lelakinya.


Kemarin Jayden memberitahu papanya bahwa dirinya mendapat undangan tes online dari salah satu perusahaan di Singapura. Jika lolos, ia akan di-interview secara langsung di perusahaan tersebut. "Tapi, restoran gimana? Yang bantuin Papa siapa?" Jayden mengutarakan apa yang menjadi kebingungannya.


"Masalah itu gampang. Papa tinggal hubungi karyawan lama kita atau kalau mereka sudah punya kesibukan sendiri, kita tinggal pasang lowongan pekerjaan."


"Tapi, nanti Papa sendirian di rumah."


Sontak saja Hendri tergelak. "Jay, Jay, memang kenapa kalau sendiri? Papa bukan anak kecil. Setiap weekend 'kan adikmu pulang."


Jayden tercenung. Papanya benar, dan mungkin dengan ini dia perlahan bisa benar-benar merelakan Zevanna.


"Papa minta maaf, Jay." Tangan Hendri terulur untuk mengusap punggung putranya. "Gara-gara Papa kamu jadi gagal untuk kembali bersama Zevanna."


Senyum masam terukir di bibir Jayden. "Aku udah nggak apa-apa. Papa nggak perlu merasa bersalah terus-terusan."


"Makanya Papa minta kamu buat nyoba tes itu. Kalau diterima 'kan kamu jadi punya suasana baru. Dua atau tiga tahun di sana mungkin cukup atau kalau betah, lanjut terus ya nggak masalah. Papa mendoakan yang terbaik untuk karier kamu. Syukur-syukur di sana kamu juga ketemu jodohmu." Hendri tersenyum di penghujung kalimatnya.


"Papa ini," Jayden merengut, "baru tadi ngomongin move on, sekarang udah bahas jodoh."


"Lho, ke depannya 'kan nggak ada yang tahu." Hendri tampak bersemangat. "Lagian, Papa pengin tahu rasanya punya cucu. Penasaran gimana rasanya lihat anak yang dulu sering Papa gendong, gendong anaknya sendiri." Ia tertawa-tawa dengan pandangan mengawang.


"Haduhhhh, pulang aja yuk, Pa. Kayaknya Papa capek banget hari ini jadi ngigau duluan sebelum tidur."


"Heh, kurang ajar!" Hendri menjewer telinga Jayden hingga pemiliknya mengaduh kesakitan.