
...GRATIS SATU PORSI DIMSUM/CHOIPAN ...
...UNTUK 25 PENGUNJUNG PERTAMA DENGAN PEMESANAN MINIMAL 3 MENU MAKANAN...
...(KHUSUS UNTUK YANG MAKAN DI TEMPAT)...
Begitu kalimat yang tertera dalam poster yang diunggah di berbagai media sosial atas nama Halcyon maupun akun pribadi milik Jayden, Joanne, dan Thomas dalam rangka dibukanya kembali restoran milik keluarga Tanjaya tersebut. Mereka juga memasang baliho besar dengan kalimat serupa di pinggir jalan—depan restoran. Karena itulah, Halcyon kini terbilang ramai. Yang mana pengunjungnya didominasi oleh teman kuliah Joanne.
"Thank you, Jo," kata Deasy—teman Joanne sejak zaman putih biru. "Jangan pakai acara tutup-tutup lagi loh, ya. Bokap nyokap katanya ntar malam mau ke sini juga. Kangen sama sup asparagus kepiting Halcyon."
"Sip, lah!" Joanne mengacungkan jempol.
Hanya keluarga dan orang yang benar-benar dekat—Zevanna adalah pengecualian—yang tahu alasan sebenarnya Halcyon tutup. Sisanya mereka mengira bahwa keluarga Tanjaya tidak lagi meneruskan usaha setelah istri dari pemiliknya meninggal dunia.
Kembali ke dapur, Joanne berinisiatif untuk mencuci piring kotor yang menumpuk. Tetapi, baru juga berdiri di depan sink, bahunya lebih dulu ditarik ke belakang.
"Mau ngapain lo?" tanya Jayden menelisik.
"Nyuci piring. Lagian, belum ada orang yang datang lagi." Joanne sadar kalau di antara dirinya, Papa, dan kakaknya, dialah yang pekerjaannya paling ringan.
"Enggak. Tugas lo 'kan di depan. Jagain kasir sama nganter makanan. Entar kalau ada maling gimana?"
Gadis itu berdecak. "Kan kelihatan dari sini." Telunjuknya mengarah pada jendela besar yang menjadi pemisah bagian dapur dan bagian depan restoran.
"Enggak, ya, enggak. Kita udah atur pembagian tugas ya, Jo."
"Tapi, Koko sama Papa udah capek banget. Sejak buka yang datang 'kan terus-terusan."
"Gue nggak capek. Masukin lo ke tempat sampah juga gue masih sanggup."
Hendri yang sedang duduk terkekeh mendengar gurauan anak sulungnya.
"Sembarangan!" Joanne meninju lengan Jayden.
"Udah sana. Tuh, tuh, ada yang datang." Jayden menelengkan kepala, mengintip siapa pengunjungnya kali ini lewat pintu. Lantas, begitu ia tahu, ia mengajukan agar dirinya saja yang melayani. Sementara Joanne bergegas ke meja kasir lantaran ada yang mau membayar.
"Aahhh, kok elo sih yang datang? Gue maunya dilayani sama Joanne. Ganti, ganti." Thomas—orang yang baru saja datang—bersama Indra dan beberapa teman sekantornya mengibaskan tangan dengan tujuan mengusir.
Alih-alih menanggapi, Jayden memilih beralih kepada Indra. "Silakan dipilih, Bang," katanya sambil menyerahkan daftar menu dan buku kecil untuk mencatat pesanan.
Indra tergelak. "Mantap, Bro. Ini gue masih dapat free choipan kan, ya?"
"Masih, Bang. Tenang aja."
"Aseek!" Indra pun menuliskan makanan yang diinginkan, lalu menanyai satu per satu temannya, kecuali Thomas yang masih memberengut.
"Anjiirrrrrrr! Gue beneran nggak dianggap," ungkap Thomas lebay saat Indra langsung menyerahkan catatan ke Jayden, alih-alih mengoper kepadanya. "Nasi goreng lapciong, Jay!" serunya sebelum temannya lenyap dari pandangan.
Di saat Jayden dan Hendri sibuk menyiapkan hidangan, seorang wanita muda memasuki restoran. Membuat Joanne segera bangkit dan menghampiri. Gadis itu menyapa diiringi senyuman ramah seraya menyerahkan daftar menu. Yang hanya dibalas dengan anggukan kecil
Cukup lama Joanne menunggu. Beberapa kali ia mengembuskan napas kesal, tanda kesabarannya mulai menipis. Namun agaknya, wanita di hadapannya sama sekali tidak menyadarinya.
Jangan-jangan nggak bisa baca. Atau bisu?
Joanne berdeham sebelum berucap, "Maaf ...."
"Sorry lama, gue cuma pengin tahu apa aja menu di resto ini."
"Hmm ...." Joanne mengangguk-angguk.
"Gue baca di depan ada free menu."
"Iya. Kalau Kakak pesan tiga menu bisa dapat dimsum atau choipan secara gratis."
"Kalau pesan enam, dapat dua porsi gratis, dong?"
Kekehan pelan bernada sumbang lolos dari bibir Joanne. Penampilan boleh trendi, tetapi urusan perut suka yang gratisan. Cuih! Ia tidak habis pikir dengan orang-orang yang memiliki gengsi setinggi langit. "Maaf nggak bisa, Kak. Pihak restoran menghitungnya per kepala, bukan dari setiap kelipatan pemesanan."
Joanne menggemeretakkan gigi-giginya. Sabar, sabar. Ia tidak boleh terbawa emosi, meski emosi terus berusaha mencuat keluar. "Yah, gimana ya, Kak? Kami jualan, bukan lagi sedekah. Kalau Kakak pengin yang gratisannya banyak, bisa cari tempat lain."
"Lo pikir gue ke sini mau minta-minta?" Suara wanita itu naik setengah oktaf dan menyita perhatian pengunjung lain, termasuk Thomas.
Lelaki itu memberi kode pada Joanne, yang hanya dibalas dengan acungan jempol. Tanda bahwa gadis itu sama sekali tak masalah.
"Saya hanya memberi saran, Kak."
Perempuan itu berdecak sinis sebelum kemudian menuliskan pesanannya. Terbilang banyak untuk satu orang. Namun, Joanne paham, bahwa pengunjung restorannya yang satu ini hanya sedang memberikan validasi bahwa ia adalah orang yang cukup mampu.
"Nyebelin banget, sih!" Cewek itu meledakkan emosinya begitu tiba di dapur.
"Kenapa?" balas Jayden seraya mengambil alih catatan pesanan yang harus dimasak.
"Yang pesan ini nyebelin!" Joanne menunjuk kertas di tangan Jayden. "Lo sendiri nanti yang nganter. Gue males! Bye!" ucapnya, kemudian berlalu dengan langkah mengentak-entak.
Jayden pikir adiknya hanya sedang sensitif karena sudah lelah. Tetapi, begitu melihat siapa orangnya, ia pun sependapat dengan Joanne.
Wanita itu yang dibilang menyebalkan itu Priscilla. Senyumannya yang tersungging lebar, entah kenapa tampak lain di mata Jayden.
"Halo, Jay. Long time no see," ucap Priscilla saat Jayden menaruh satu per satu makanannya.
"Pesanan Anda. Selamat menikmati."
Dan, tawa renyah Priscilla pun tak dapat dihindarkan. "Jangan kaku gitu dong, ah! Duduk dulu sini. Temenin aku makan."
Di belakang meja kasir, mata Joanne memicing. Anjir, Koko kenal cewek itu? Rasa-rasanya ia ingin mengambil kantong plastik di laci meja untuk menampung muntahannya.
"Saya sedang bekerja." Jayden sama sekali tidak peduli
"Masih aja belagu."
"Maksud?"
Priscilla lantas berdiri, dan dengan lantangnya ia berkata, "Niatnya ke sini mau makan. Tapi, dari tadi pelayannya judes banget. Bikin selera hilang. Sombong juga. Padahal, menunya juga terbilang biasa aja." Matanya melirik remeh makanan yang sudah tersaji.
"Priscilla!" ucap Jayden penuh penekanan.
"Iya, iya, saya bayar, kok. Tenang aja. Dua kali lipat kalau perlu. Tapi, jangan kaget ya kalau nanti restoran ini ratingnya turun drastis di internet."
"Tidak perlu. Anda tidak perlu membayar semua makanan ini." Jayden membalas dingin ejekan yang tersirat di wajah Priscilla.
"Kenapa? Takut pengunjungnya kabur?" Tangan Priscilla dilipat di dada. Seringai jahil terlukis di bibirnya.
"Daripada uang Anda digunakan untuk membayar makanan ini, lebih baik Anda pakai untuk les etika. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk setiap pengunjung di sini, tetapi Anda malah berbicara omong kosong seperti barusan." Jayden lantas menunjuk pintu keluar. "Silakan keluar. Saya hanya melayani orang yang bisa menghargai orang lain."
Diusir terang-terangan begitu, wajah Priscilla merah padam. Belum lagi tatapan semua pengunjung yang diselingi tawa mengejek. Beberapa di antaranya juga merekamnya, melihat ponsel mereka terangkat tinggi. Berang, Priscilla pun memutuskan untuk keluar.
Dalam kurun waktu beberapa jam, video marah-marah Priscilla sudah beredar di salah satu platform media sosial. Dan, perempuan itu ternyata tidak main-main tentang aksinya dalam membuat jelek nama Halcyon. Banyak akun memberikan rating bintang satu dengan alasan yang sangat mengada-ada. Menjadikan kepala Hendri pusing bukan main.
Ini baru hari pertama restoran buka, dan besok mereka masih mengadakan promo. Tetapi, karena satu orang yang bahkan tidak dikenalnya, nama baik Halcyon menjadi taruhan.
"Papa nggak usah khawatir. Masalah hari ini nggak lama pasti beres." Jayden yang baru selesai mencuci piring mendekati ayahnya.
"Kita sudah mengeluarkan modal banyak. Jangan sampai kegagalan yang dulu terulang lagi." Kekhawatiran tampak jelas di wajah pria paruh baya itu.
"Nggak akan. Pa, percaya sama aku. Semua akan baik-baik saja." Jayden meyakinkan.
Hendri menyelami mata hitam putranya. Mencari seberkas kekuatan supaya yakin bahwa semua memang akan tetap baik adanya. "Iya, Jay." Sebuah jawaban akhirnya terlontar.
Jayden tersenyum senang. "Kalau gitu, kita pulang sekarang karena besok nggak kalah ramai dari hari ini."
Hendri mengaminkan.
Sementara papanya berpamitan untuk ke kamar mandi, Jayden membuka ponselnya yang seharian ini dianggurkan. Ia ingin melihat video memalukan Priscilla sekaligus reaksi netizen. Namun, sebuah notifikasi yang berada di paling bawah membuatnya melupakan niatannya.