
"Halo, Sayang. Maaf ya baru sempat ngabarin. Aku lagi di Bandung. Ada saudara yang meninggal. Mungkin hari Rabu baru balik Jakarta."
Taksi yang ditumpangi Zevanna baru menempuh setengah perjalanan menuju rumah kekasihnya ketika kabar itu ia dengar. Setelahnya, sambungan diputus sepihak oleh Marvel tanpa sempat Zevanna bertanya saudara siapa? Penyebab meninggalnya dan apakah keadaan Marvel baik-baik saja?
Menjelang larut malam, Zevanna mencoba untuk tetap terjaga. Siapa tahu Marvel membalas pesan yang sebelum makan malam ia kirimkan atau malah menelepon. Namun, sampai tanggal berganti, ponselnya tetap saja senyap.
Zevanna berusaha untuk berpikir positif, mencoba memaklumi. Keluarga yang sedang berduka pasti membutuhkan banyak waktu sendiri. Tetapi, sesudah tiga hari terlewati begitu saja, Marvel tak jua berinisiatif menemuinya. Lelaki itu hanya memberitahu jika sudah kembali ke ibu kota dan mungkin beberapa hari ke depan sibuk karena banyak pekerjaan yang terbengkalai.
"Kak, kamu nggak lagi menghindar dari aku, kan?" tanya Zevanna pada layar ponselnya. Ajakan makan siangnya baru saja ditolak dengan alasan Marvel sudah ada janji bersama klien papanya. Alasan yang begitu lumrah. Pun Marvel terdengar santai kala mengatakannya, seolah memang tidak pernah terjadi apa-apa di antaranya mereka. Namun , alih-alih jadi tenang, Zevanna semakin kalut dibuatnya.
"Ze, makannya cepetan, yah! Kita masih harus fitting sama model yang terakhir."
Zevanna mendesah mendengar ucapan yang digaungkan mamanya sambil lalu. Kalau saja hari-harinya tidak semelelahkan ini, ia enggan makan.
"Ze, udah belum? Stella udah dateng," seru sang mama.
"Iya, bentar. Mau ke toilet dulu!" balas Zevanna tak kalah kencang. Ia hanya menyuapkan beberapa sendok makanannya, lalu bergegas ke toilet.
Stella sedang duduk di sofa seraya memainkan ponsel ketika Zevanna muncul dengan senyum lebar. Tentu saja, ia akan didamprat mamanya jika berurusan dengan klien, tetapi wajahnya suram seperti hidupnya sekarang.
"Hai, maaf ya menunggu lama."
"Nggak kok, santai aja."
Zevanna lantas mengajak Stella menuju ruang fitting. Dalam hitungan menit, gaun pengantin semi-ballgown dengan model v-neck telah melekat indah di tubuh ramping Stella. Yang membuat gaun itu berbeda dari yang lain adalah bagian ekornya yang menjuntai indah, yang dipasang di bagian bahu, alih-alih menyatu dengan gaun itu sendiri.
"Bagian pinggangnya kemarin udah dikecilin lagi, tapi tetap nyaman, kan?" tanya Zevanna memastikan.
"Iya," Stella mengulas senyum, "jadi pengin beneran nikah pakai gaun kayak gini."
Mereka sama-sama tertawa. Perhatian keduanya teralihkan begitu mendengar dering ponsel yang ternyata milik Stella.
"Halo, gimana apart-nya? Lebih enak daripada yang mau lo sewa, kan?"
"Hmm ... next month gue ke sana, ya."
"Kok tau sih? Hahahaha. Pokoknya lo harus traktir gue pakai gaji pertama lo. Titik!"
"Ya udah, gue lagi fitting, nih. Bye. Yok. Sip!" Stella mengakhiri pembicaraannya dengan senyuman lebar.
"Pacarmu, Stell?" tanya Melisa yang belum lama masuk, alasan kenapa Stella segera memutud teleponnya.
Kembali perempuan tersenyum. "Pacar-pacaran, Tan."
"Apa lagi itu pacar-pacaran." Melisa dibuat geleng-geleng kepala.
"Ya, gitu deh, Tan. Hahaha ...."
Dan, tawa Stella pun menular kepada Melisa dan Zevanna.
***
Fitting siang tadi berjalan dengan lancar. Beban Zevanna jadi sedikit berkurang. Iya hanya sedikit mengingat masih ada hari-H dan tentu saja Marvel yang terus terbayang-bayang dalam pikirannya.
"Kak Marvel," gumam Zevanna lesu. "KAK MARVEL?" Kali ini Zevanna memekik. Mengucek mata, ia meyakinkan diri jika orang yang meminta panggilan video dengannya memanglah pacarnya. Segera gadis itu merapikan rambut dan meraba wajahnya, memastikan tidak ada kotoran di sana.
Senyuman Marvel adalah hal yang pertama Zevanna lihat begitu manjawab panggilan tersebut.
Zevanna geleng-geleng kepala. "Ng—aku cuma kaget aja."
"Gara-gara sekarang aku nggak pernah telepon ya?" ujar Marvel miris.
Zevanna jadi meringis. "Kan ... Kakak sibuk." Ia mengulum bibir bawahnya, ragu pun sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan keresahannya melihat wajah Marvel yang lelah.
"Iya, ini aku baru kelar ketemu orang."
Zevanna manggut-manggut.
"Besok juga sibuk banget. Biar lusa bisa lihat gaun hasil desainnya pacarku."
"Eh?" Zevanna terbelalak.
"Apa?" Marvel terkekeh-kekeh. "Aku sengaja begini biar bisa datang ke acara kamu."
"Acaranya Mama." Zevanna membetulkan.
"Aku yakin kamu punya andil besar."
"Sok tahu!" Zevanna membuang muka, tapi percayalah rasa hangat menjalar ke wajah karena yang diucapkan Marvel cukup benar adanya.
"Enggak ya enak aja. Aku sering lihatin status mama kamu."
"Ishhh, Mama!" Zevanna mendesis geram. Tatapannya kembali ke layar, ke wajah Marvel yang lagi-lagi memamerkan tawa.
"Aku tuh sering tahu chat mamamu kalau kita jalan. Aku selalu bilang gini, 'Tan, kita udah sampai resto. Tan, Zevanna makan ini. Tan, kita mau pulang'. Gituuuu ...."
"Masa, sih?" Zevanna menyangsikan.
"Iya, tanya sendiri kalau nggak percaya."
"Hmm ... ya, ya."
"Ya udah, Sayang. Aku jalan pulang dulu ya."
"Hati-hati, Kak. Kabarin kalau udah sampai."
"Iya, tapi, Sayang ... aku mau kasih kamu flying kiss dulu. Nanti kamu tangkap ya?"
"Oke."
Dan benar, detik berikutnya Marvel memberikan flying kiss dan Zevanna menangkapnya. Namun, alih-alih menempelkan tangannya yang terkepal di dada, Zevanna justru memakan flying kiss Marvel dan pura-pura mengunyahnya.
"Heh! Kok malah dimakan, sih?" Marvel membeliak.
"Laper." Jawaban Zevanna memecahkan tawa keduanya.
Setelah beberapa malam Zevanna lewati dengan wajah muram, malam ini sedikit banyak akhirnya gadis itu bisa tertawa senang.
.......
.......
...Tadinya mau bablas, tapi karena udah lama nggak update jadi segini aja dulu 👍...