
Zevanna boleh tersenyum dan bilang tidak ada apa-apa, tetapi Nando adalah kakaknya. Mereka tumbuh bersama. Tinggal di atap yang sama selama belasan tahun sebelum kemudian Nando dipindahtugaskan ke kantor Singapura hingga kemudian menikah dengan Tasya.
Zevanna yang ceria dan banyak omong jelas mudah terbaca oleh Nando sekalinya gadis itu diam. Terlebih Ryuga sempat mengadu jika tantenya menangis, dan dari kejauhan Nando bisa melihat Jayden bergandengan tangan dengan perempuan yang kalau dilihat dari samping adalah Stella.Yang kemungkinan merupakan penyebab adiknya murung di sisa hari yang mereka lalui bersama.
Nando tahu hubungan seperti apa di antara Jayden dan Stella. Karena itu, sore ini selepas jam kantor, ia meminta waktu Jayden untuk berbicara empat mata dengannya di apartemen Jayden.
"Jadi, ada apa, Bang?" tanya Jayden usai mengangsurkan sekaleng bir untuk tamunya. Jujur saja ia sedikit waswas karena Nando yang duduk di depannya menampilkan raut serius.
Helaan napas panjang terdengar sebelum Nando berkata, "Gue to the point aja ya, Jay. Lo pernah pacaran sama adek gue?"
Jayden terdiam beberapa saat. "Lo tahu dari mana?"
"Nyokap cerita banyak waktu gue balik ke Jakarta."
"Terus, gimana lo bisa tahu kalau Jayden itu gue? Maksudnya, yang punya nama Jayden 'kan banyak." Raut keheranan tampak jelas di wajah oriental Jayden.
Nando tersenyum tipis. Sorot matanya memancarkan haru yang mengembalikan kenangannya bersama sang adik. "Zevanna adek gue. Gue tahu laki-laki seperti apa yang selalu berhasil mengambil hatinya. Dan buat memastikan, gue inget lo pernah cerita kalau punya restoran yang belum lama buka. Gue ajak dia ke sana." Nando menceritakan kegugupan Zevanna, mata adiknya yang jelalatan saat dengan sengaja ia memesan makanan untuk di-take away sebelum menuju rumah ayah mereka.
Kalau boleh jujur, Jayden senang mengetahui Zevanna yang salah tingkah. Namun, mengingat jika mantan pacarnya sudah memiliki kekasih baru, agaknya dia tidak boleh terlalu besar kepala. Bagaimanapun juga, Zevanna telah melabuhkan pilihannya pada Marvel. "Emang gue kayak apa sampai masuk kategori laki-laki yang diinginkan Zevanna?" tanyanya berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Bisa ngemong. Ansel, Darwin, Marvel, dan yang baru-baru ini gue tahu. Elo! Yang bikin adek gue dulu males pulang ke rumah."
"Masalah itu …." Jayden membasahi bibirnya. Ia tidak menduga jika yang menjadi kekhawatirannya —tentang ketakutannya jika sampai mendapat cap pria tidak baik—sungguh-sungguh terjadi. "Gue bukannya mau sembunyi-sembunyi. Gue bahkan sering nyuruh Zevanna pulang sekaligus nawarin diri buat nganter biar sekalian gue kenalan sama orang tua kalian, tapi selalu ditolak dengan alasan rumah nggak kondusif."
Nando manggut-manggut. Tahun itu bisa dibilang memang tahun terberat yang pernah dilalui keluarganya. "Terus apa yang bikin lo akhirnya mutusin Zevanna?" Ia kembali mencecar.
Mendahului tamunya, Jayden membuka kaleng bir dan meneguknya beberapa kali. Masa-masa sulit memang sudah lewat, tetapi untuk membahasnya bersama orang lain membuat lidahnya kelu.
"Jay?"
"Nyokap meninggal kena COVID, bokap pergi nggak tahu ke mana, Halcyon sempat bangkrut." Embusan napas berat menyusul. Jayden menyandarkan tubuhnya dengan kepala dibiarkan menengadah. "Keluarga, finansial, semuanya kacau. Ditambah gue jobless, gue minder. Gue takut nggak bisa bikin Zevanna bahagia, nggak punya waktu buat dia. Di sisi lain, gue juga nggak mau nambahin beban dia di saat gue tahu keluarganya lagi nggak baik-baik aja."
Nando menipiskan bibir. Tak menyangka beban Jayden amatlah berat. "Tapi, pernah nggak lo nyesel sama keputusan yang lo ambil?"
Jayden malah tertawa. "Bukan cuma pernah, Bang, tapi sering atau malah setiap saat kalau gue pas inget. Tapi, gue bisa apa? Zevanna udah dapat cowok yang bisa kasih dia segalanya."
"Jay, gue kasih tahu sesuatu mau gak?"
"Apa?"
"Zevanna sama Marvel udah putus."
Refleks, Jayden kembali menegakkan duduknya. "Sumpah?" Mata sipitnya mencari keyakinan di mata Nando.
Nando mengangguk-angguk sambil meraih minumannya. Jayden agaknya mesti bersabar karena Nando sepertinya sengaja membuatnya tambah penasaran dengan bersantai-santai merasai bir pemberiannya.
"Kalau abis ya udah. Gue bisa kasih lo minum lagi kali!" Jayden geram melihat Nando berkali-kali membalikkan kaleng yang bahkan sudah tidak menetes.
Pria beranak satu itu tertawa. "Gak usah! Gue sengaja bikin lo sebel, kok!"
"Kampret!"
"Heh! Sama calon kakak ipar mesti sopan."
Jayden jadi kepikiran lagi. "Serius mereka udah putus?"
Tentu saja Jayden menggeleng.
"Karena adek gue masih cinta sama mantannya."
"Mantannya? Gue?" Jayden menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan, Kiwil." Nando memutar bola mata malas. Ganteng-ganteng lemot.
"Anjing!"
"Heh!"
"Serius gue, Bang." Jayden berbalik dari ngegas jadi memelas.
"Ya, elo, lah! Kalau bukan lo ngapain gue duduk di sini." Nando berdecak. "Lo kalau serius sama adek gue, kejar dia, Jay."
"Lo waras, Bang?" tanya Jayden lagi dan lagi menyulut amarah.
"Monyeeettt!!!"
"Gini, loh, gue pernah nyakitin adek lo dan sekarang lo masih ngasih gue kesempatan?"
"Iya, gue marah, tapi tahu alasan kenapa lo sampai melakukan itu, gue paham. Gue juga pernah ada di posisi insecure. Waktu gue naksir Tasya. Dulu awal-awal di sini, gue sekantor sama dia dengan dia sebagai atasan gue." Nando mengulum senyum mengenang perjalanan asmaranya yang akhirnya membuahkan hasil manis. "Lagian kalau emang bahagianya adek gue sama lo, gue juga gak bisa ngapa-ngapain. Sejauh gue kenal lo, lo orangnya baik dan gue berharap nggak salah naruh kepercayaan sama lo.
Kalau nanti, memang ada kesempatan kalian buat bareng lagi. Tolong jangan sakitin dia lagi ya, Jay. Omongin aja kalau memang ada masalah. Zevanna kadang nggak mau kelihatan rapuh, meski udah ada di titik terendah dia. Gue ingat banget waktu bokap nyokap baru cerai. Hampir setiap malam gue telepon dia, dan dia selalu bilang nggak apa-apa. Padahal dari suaranya aja gue tahu dia habis nangis. Gue bayangin dia sendirian di rumah segede itu, tanpa ada yang bisa diajak berbagi cerita atau sekadar meluk. Gue sakit banget, tapi dengan posisi gue udah berkeluarga, gue juga nggak bisa berbuat banyak." Sesak kembali menyeruak. Nando menunduk, mengusap matanya yang basah.
"Zevanna sampai kapan di sini, Bang?"
"Aahh, sorry ya gue malah mellow," kata Nando yang dibalas anggukan. "Zevanna satu minggu di sini."
Jayden tercenung memikirkan usaha yang mesti dilakukan supaya Zevanna kembali di sisinya. Ia harus menyusun rencana. Tetapi, dari semuanya itu, yang pertama dia harus mengambil celah agar bisa berbicara berdua dengan perempuan itu.
"Tapi, Jay …."
Jayden menegakkan kepala. "Tapi apa, Bang?"
"Lo kayaknya harus meluruskan sesuatu, deh."
"Hah? Meluruskan apa?"
"Tentang apa yang sebenarnya terjadi antara lo sama Stella. Soalnya adek gue auranya langsung suram setiap ngelihat lo sama Stella gandengan. Pas di depan apart gue, terus yang di pantai kemarin. Kayaknya Zevanna mikir kalian pacaran deh."
Berbanding terbalik dengan Nando yang terlihat serius, Jayden malah senyum-senyum mengetahui kecemburuan Zevanna. "Apa—"
Ting tong!
Kedua pria yang hanya selisih dua tahun itu kontan bertukar pandang. Panjang umur sekali jika Stella yang datang. Namun, mereka salah sebab yang saat ini berdiri di depan apartemen Jayden adalah Tasya lengkap dengan raut cemasnya.
"Hon, Zevanna katanya mau balik ke Jakarta besok. Sekarang dia lagi packing barang-barangnya." Wanita itu memberitahu.
Nando dan Jayden kembali bersitatap. Belum juga mereka selesai membahas Zevanna, tapi kini yang menjadi pokok pembicaraan malah tahu-tahu mau pergi?
Apa lagi ini, Tuhan? Jayden mengerang dalam hati.