Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Meluruskan



"Kamu mau ke mana, Ze?"


Zevanna terperanjat mendapati kakaknya tahu-tahu berdiri di belakangnya. Detik selanjutnya, ia berusaha setenang mungkin. Jangan sampai rencananya gagal karena kepayahannya dalam mengontrol diri.


"Aku mau balik ke Jakarta," jawabnya, masih dalam posisi membelakangi.


"Mendadak gini?" Nando maju beberapa langkah agar bisa membaca raut wajah sang adik.


"Aku dapat tawaran kerja bagus." Zevanna beralasan. Matanya tertuju pada kopernya yang belum juga ditutup. Tidak berani beradu pandang dengan sang kakak.


"Dari siapa?"


"Ada, lah."


"Kamu bohong, kan? Mukamu sejak pulang dari pantai kemarin nggak enak banget dilihat. Kamu nggak suka di sini? Kamu mau nginep di hotel aja?" Nando menawarkan solusi.


"Enggak gitu. Aku seneng kok di sini. Cuma aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini."


Nando menghela napas pasrah. "Oke, besok pesawatnya jam berapa?"


Kontan saja Zevanna membelalak. Semudah ini kakaknya memberi izin? Jujur, ia agak curiga. Tetapi, bukankah ini pertanda bagus? Zevanna jadi segera lepas dari pemandangan menyakitkan yang membuat hatinya berdenyut-denyut nyeri. "Jam delapan."


Nando mengangguk sekilas. Sebelum benar-benar keluar dari kamar yang ditempati Zevanna, ia menyeringai tipis. Tentu saja dia tidak akan diam. Solusi yang tadi diberikan hanyalah agar adiknya tidak curiga jika ia mengetahui tentang hubungan yang pernah terjadi antara Zevanna dan Jayden. Begitu pria itu memasuki kamarnya, ia segera menelepon penghuni unit sebelah.


***


"Kak, gue bisa sendiri." Untuk kesekian kalinya Zevanna memohon. Nando berniat untuk mengantarnya sehingga mereka harus berangkat lebih pagi supaya pria itu tidak terlambat ke kantor.


"Nggak! Seenggaknya gue tahu lo selamat sampai di bandara."


"Tapi nanti lo telat."


"Makanya berangkat sekarang biar gue nggak telat."


"Ze, nurut aja ya. Biar kita sama-sama enak." Tasya menengahi perdebatan kakak beradik di depannya.


Zevanna melengos. Tidak bisa membalas pakai urat kalau yang berbicara adalah kakak iparnya. Wanita berperangai paling halus yang pernah ditemuinya. "Ya udah deh."


Tasya tersenyum lega, lalu mengambil tas kerja suaminya dan memberikannya pada yang punya.


Karena Ryuga belum bangun, Zevanna hanya berpamitan pada Tasya. Namun, sebelum benar-benar keluar dari unit apartemennya, Nando izin sejenak untuk ke kamar mandi. Bukan untuk buang air, melainkan untuk menghubungi Jayden.


"Kalau udah sampai jangan lupa kabarin ya," ujar Tasya seraya melambaikan tangan.


Baru berjalan beberapa langkah, Nando mendadak berhenti. Ia meraba-raba celana serta kemejanya. "Hape gue kayaknya ketinggalan di toilet deh. Gue ambil bentar ya," katanya sudah berlalu.


Bertepatan dengan masuknya Nando ke apartemen, pintu di sisi kanan Zevanna tiba-tiba dibuka. Refleks ia menoleh, sesaat kemudian matanya bertemu dengan milik Jayden. Ah, Zevanna baru sadar di mana dirinya berpijak, di depan apartemen mantan pacarnya. Perempuan itu mengerang dalam hati.


"Zevanna …."


Zevanna pura-pura tuli. Ia menatap pintu apartemen Nando, berharap kakaknya segera menampakkan diri.


"Zevanna …."


"Ze …."


"Zevanna …."


"Apa, sih, manggil-manggil terus?!" Raut angkuh bercampur kesal terpatri jelas di wajah Zevanna.


"Kamu mau ke mana?"


"Bukan urusan lo!" Bola mata Zevanna bergerak tak tentu arah. Dia tidak bisa berdiam di sini terus-menerus atau Jayden akan menyadari gelagat anehnya setiap mereka berhadapan.


Zevanna berpikir akan lebih baik jika ia menyusul Nando. Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, Jayden menahan tangannya.


"Berani lo sentuh gue?!" Mata Zevanna menyorot tajam.


"Kenapa kamu ketus banget? Aku ada salah lagi?" tanya Jayden sok lugu.


Kekesalan Zevanna sudah sampai ubun-ubun. Jika ada sepatah kata lagi keluar dari mulut Jayden, ia pastikan emosinya meledak.


"Ze—"


"Diem!"


"Kamu udah nggak sama Marvel?"


Zevanna tidak berkutik. Pun amarahnya lenyap dalam sekejap. Ia menghirup oksigen dalam-dalam, menetralisir degup jantungnya yang berdetak cepat. "Tahu dari mana?"


Jayden mengarahkan tatapannya pada pintu apartemennya yang terbuka. "Masuk kalau kamu mau tahu jawabannya."


Gadia itu meragu. Tetapi, rasa penasaran yang terus mendesak membuatnya menurut. Semerbak harum oceanic menyambut, memanjakan indra penciuman. Mata Zevanna menyelia ke seluruh ruangan. Luka menganga di hatinya kembali terasa perih manakala ingatannya tertuju pada Stella yang juga memasuki tempat ini tempo hari.


Kira-kira mereka ngapain aja di sini?


"Ayo, duduk dulu," ajak Jayden menunjuk sofa di ruang tamu.


"Gak perlu! Jawab aja pertanyaan gue tadi."


"Aku rasa nggak penting. Yang penting sekarang aku tahu kamu udah sendiri." Jayden tersenyum tanpa dosa.


Emosi Zevanna kembali merangkak naik. Matanya menatap penuh dendam. "Lo sejak kapan jadi nyebelin gini? Sejak sama Stella?" Ia menggigit lidah. Sialan! Kenapa mesti keceplosan. Lihat, Jayden jadi makin melebarkan senyuman.


"Kenapa jadi Stella?" Jayden balas bertanya. Setelahnya, ponselnya berdering dan menampilkan kontak Stella. Panjang umur perempuan itu. Jayden pun mengangkatnya. Tak lupa ia menyalakan loudspeaker supaya Zevanna ikut mendengar.


"Halo."


"Halo, Jay. Gue mau make sure aja. Kita jadi sarapan bareng, kan? Takutnya lo lagi banyak kerjaan."


Diam-diam Zevanna menajamkan pendengarannya. Sementara hatinya tak sabar menanti respons Jayden.


"Sorry, Stel. Kayaknya next time aja ya. Gue emang lagi ada kerjaan dadakan," kata Jayden sambil menatap Zevanna, lalu sambungan diputuskan sepihak olehnya.


Lagi, Jayden hanya tersenyum saat Zevanna menatap nyalang dirinya. Yang mana membuat Jayden makin gemas karenanya.


"Lo gila!" ucap Zevanna tak mampu menahan makian.


"Gila karena kamu."


Plak!


"Bisa-bisanya lo batalin janji sama cewek lo, sedangkan kenyataannya lo lagi berduaan sama cewek lain di apartemen. Otak lo di mana?" Merasa gerah, Zevanna tak bisa lama-lama berdiri di tempat itu. Ia harus pergi sekarang atau dirinya akan ketinggalan pesawat. Persetan dengan kakaknya. Zevanna benar-benar tidak tahan dengan kegilaan ini.


Perempuan itu melenggangkan kaki. Namun sekali lagi, Jayden menahannya.


"Mau apa lagi?" tanya Zevanna galak seraya melepaskan tangannya dari cekalan Jayden.


"Mau kamu tahu kalau …."


"Sayangnya gue nggak mau denger!"


"Yakin?" Giliran mini ransel Zevanna yang ditahan.


"Hmm … lepasin gue."


Jayden pun menurut. Ia membiarkan Zevanna melanjutkan langkahnya. Tetapi, saat perempuan berjaket denim itu sudah sampai di depan pintu, ia berseru, "Stella sepupuku!"


Langkah Zevanna sontak terhenti. Raut kekagetan tak dapat disembunyikan. Ia ingin menuntut kejelasan lebih. Tetapi, berbalik badan hanya akan meruntuhkan harga dirinya yang sudah dipasang setinggi menara Eiffel.


Gadis itu hanya mampu memejamkan mata ketika mendengar derap langkah mendekat. Tak berselang lama, bahunya ditarik supaya posisinya berubah seratus delapan puluh derajat selaras dengan matanya yang kembali dibuka.


Jayden berdiri menjulang di hadapannya. Saking dekatnya, ujung alas kaki mereka bersentuhan. Tangan Jayden kembali terulur untuk menyelipkan rambut Zevanna kemudian meniup pelan poni tipis gadis itu. "Kenapa dipotong pendek? Bukannya dulu kamu bilang nggak suka?"


Zevanna membuang muka. Tidak mengira Jayden masih mengingatnya.


"Zevanna …."


"Hm, apa?"


"Lihat sini, dong." Jayden menangkup kedua pipi Zevanna dan membuatnya menatap ke arahnya. "Cantik." Ia tersenyum hingga deretan giginya terlihat.


Zevanna sampai harus bernapas dengan hati-hati gara-gara tingkah Jayden yang terbilang tidak biasa.


"Zevanna …."


"Hmm …."


"Kamu … balik ke Jakarta karena ada kerjaan atau karena cemburu lihat aku sama Stella?" Mata sipit lelaki itu mematri lekat mata sang gadis.


Sebelum harga dirinya jatuh hingga ke inti bumi Zevanna menurunkan tangan Jayden dari wajahnya.


"Oh, karena cemburu," ucap Jayden, " maaf ya. Stella emang suka minta bantuan aku buat nerima telepon dari cowok yang suka ngejar-ngejar dia."


"Udah?" Hanya satu kata, tapi Zevanna harus mengerahkan seluruh tenaganya.


Jayden mengangguk.


"Udah bikin malu guenya?" Air mata mengaliri kedua pipinya. Zevanna bukan hanya malu, tapi amat sangat malu sebab ini kedua kalinya ia seperti orang gila karena kesalahpahamannya.


"Hei, kenapa nangis?" Jayden segera menghapus air mata Zevanna untuk kemudian memeluknya. "Maaf …."


"Jahat!" Dalam rengkuhan Jayden, Zevanna menumpahkan tangis dan kekesalannya.


"Beneran aku minta maaf. Aku nggak bermaksud bikin kamu malu, aku cuma mau kamu nggak salah paham."


"Bohong!" Satu cubitan keras Zevanna berikan di pinggang Jayden.


Lelaki itu mengaduh kesakitan, dan saat itulah Zevanna mengurai pelukan.


"Sakittttt!"


"Rasain! Lagian, kamu tahu dari siapa semua informasi tentang aku?" Dengan mata merah dan hidung meler, Zevanna bertanya.


"Masa kamu nggak tahu." Jayden melontarkan kalimat menyebalkan.


"Tinggal sebut nama apa susahnya!!!!" Otak Zevanna sungguh tidak bisa dipakai untuk berpikir. Namun, Jayden belum juga berhenti menguji kesabarannya yang sangat terbatas.


"Nando."


"Errrrr …." Kedua tangan Zevanna mengepal. Ia berbalik badan, berniat menuju apartemen kakaknya.


"Mau ke mana?"


"Bikin perhitungan sama Kak Nando."


"Jangan! Maksudnya nanti." Jayden meralat. Kedua tangannya berada di bahu Zevanna, lalu perlahan turun untuk menggenggam tangan gadis itu dan memberikan usapan di sana.


"Kenapa?"


"Kamu belum jadi pacarku lagi," kata pria itu. "Aku mau kamu, Zevanna. Aku mau kita kayak dulu. Aku pernah salah, tapi aku janji nggak akan mengulangi. Tolong, terima aku lagi, Zevanna. Kamu nggak tahu betapa senangnya aku dengar kamu putus sama Marvel."


"Jay …."


"Iya?"


"Kalimat terakhir kamu jahat banget. Kamu sadar nggak?"


Polos, lelaki itu mengangguk. "Aku cuma nggak mau munafik."


"Dasar!" ucap Zevanna parau, matanya sudah berkaca-kaca karena kebahagiaan yang membuncah dalam dada.


"Jadi, mau nggak?"


Gadis itu hanya bisa manggut-manggut. Namun, begitu saja cukup untuk mengukir senyuman Jayden. Lelaki itu segera mendekap gadis yang selalu ia rindukan di setiap malamnya.


"I love you, Ma Chérie ."


"I love you more, Ko."


"I love you more, more, and more, Ma Chérie."


"I love you more, more, more, dan more, Ko."


"I love you more, more, more, more, and more, Ma Chérie."


"JAYDEN!" Zevanna memberengut sebal.


Pria itu malah terbahak-bahak.


...-TAMAT-...