
"Jay! Jay!" Berjalan meninggalkan Bobby dan Marvel, Priscilla menyusul Jayden yang baru saja melintas di depannya.
Air muka Jayden kaku. Sorot yang terpancar dari mata sipitnya juga muram. Dan sumpah demi apa pun, saat ini Jayden tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Ia bahkan tidak memiliki niatan kembali ke ruang rawat ayahnya. Tetapi, Priscilla bersikeras mengikutinya.
"Jay, tunggu!"
Mendengkus kesal, Jayden terpaksa berhenti dan memutar badan. "Ada apa?" tanyanya datar.
"Sorry tadi gue nggak sengaja dengar. Jujur gue kaget kalau ternyata lo pernah pacaran sama Zevanna."
"To the point bisa?" todong Jayden malas berlama-lama.
Priscilla mengerang dalam hati. Kalau saja dia tidak menaruh rasa pada Jayden, malas sekali sampai harus mengejar-ngejar begini. "Sebagai kakak sepupunya Zevanna, gue minta maaf atas sikap Zevanna yang memang sering kasar sama orang lain."
Satu alis Jayden terangkat. Heran, tapi enggan memperpanjang. "Makasih, tapi nggak perlu. Zevanna nggak salah dan gue ngerti kenapa dia begitu."
"Zevanna emang kekanak-kanakan. Maklum, dari kecil selalu dimanja. Jadi semua orang harus ngikutin maunya dia. Kalau enggak, orang lain yang dibilang nggak mau ngertiin dia." Priscilla membubuhkan senyum di akhir kalimatnya.
"Udah?"
Priscilla melebarkan mata mendengar respons Jayden tidak seperti dugaannya. Memutar otaknya, ia memikirkan cara untuk bisa mengambil hati pria di depannya. Namun, sebelum Priscilla menemukannya, Jayden lebih dulu berbicara.
"Lo ngejar-ngejar gue buat minta maaf atas nama Zevanna atau lo emang niat buat jelek-jelekin saudara lo sendiri?" Jayden geleng-geleng kepala. "You are so weird."
"Gue cuma ngasih tahu, dan berharap lo sadar kalau cewek kayak Zevanna pada akhirnya cuma bakal ngerepotin," ucap Astrid tersulut emosi.
"Gue seneng direpotin sama Zevanna karena itu artinya gue dibutuhin sama dia," balas Jayden telak. "Lo nggak usah capek-capek ngomongin hal jelek tentang Zevanna karena gue nggak akan pernah percaya." Merasa cukup, Jayden bergegas meninggalkan Priscilla.
Gadis itu melihat kepergian Jayden dengan wajah menggelap. Seumur-umur baru sekarang Priscilla dibuat malu sampai sebegininya oleh laki-laki. Terang saja ia tak terima. Pria itu harus membayar sakit hatinya atas apa yang telah diperbuat.
Dengan langkah mengentak-entak Priscilla menuju parkiran setelah barusan Bobby mengiriminya pesan. "Lo nggak jadi masuk ruangannya Zevanna?" tanyanya begitu duduk di jok samping kemudi.
"Nggak dikasih izin. Marvel aja puter balik," jawab Bobby sambil menghidupkan mesin.
"Bagus deh. Gue juga males harus akting di depan Zevanna sama nyokapnya." Priscilla tertawa angkuh. "Eh, tapi, kok Marvel bisa ke situ ya?" lanjutnya mendadak kepikiran.
"Bukannya dulu mereka deket? Anak FEB yang namanya Marvel cuma dia, kan?" tanya Bobby seraya mengingat-ingat zaman waktu kuliah. Waktu ia hanya sekadar tahu bahwa Priscilla memiliki sepupu bernama Zevanna.
Priscilla mengangguk. "Iya, tapi kayaknya udah lama banget mereka lost contact. Sekarang tahu-tahu deket lagi."
"Itu tandanya Zevanna udah move on dari Jayden." Bobby mengambil kesimpulan. "Dan lo juga jadi nggak harus bersaing sama sepupu sendiri kalau mau dapatin Jayden."
Satu jitakan dari Priscilla mendarat di kepala Bobby. "Ogah banget sama cowok sengak kayak dia," ucapnya tak acuh terhadap Bobby yang kesakitan.
"Abis ditolak lo?" tanya Bobby diiringi senyum mengejek.
"Ada sejarah gue nembak cowok?" Priscilla mendelik kesal.
"Nggak ada, sih! Cowok-cowok yang harusnya bertekuk lutut sama lo, kecuali ...," Bobby merangkul Priscilla dan menariknya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan, "gue." Ia lantas mengulum bibir sahabatnya dengan rakus, dan segaris senyum tercipta ketika Priscilla mengalungkan tangan ke lehernya seraya melesakkan lidahnya.
***
Entah harus senang atau sedih, tetapi menjadi satu-satunya orang yang tetap berada di ruangan sahabatnya—selain mama Zevanna—membuat Astrid terus-terusan dirundung rasa bersalah. Seharusnya Zevanna menyuruhnya pulang saja, maka ia jadi bisa curhat kepada pacarnya supaya keresahannya berkurang.
"Lo kenapa, Trid?" tanya Zevanna yang sejak tadi mengamati aura keruh dari wajah temannya.
"Pakai nanya!" Astrid langsung sewot. "Gue minta maaf soal Jayden. Kalau aja gue nggak bawa dia ke sini. Mungkin ...."
"Udahlah! Jangan bahas dia lagi. Bikin eneg tahu nggak!"
Astrid manggut-manggut. "Tapi, tadi lo sadar nggak sih nyuruh Kak Marvel balik lagi?" tanyanya pelan karena ada Melisa.
"Ngapain lihatin Mama kayak gitu?" Melisa menegakkan kepalanya.
Zevanna terperanjat, sedangkan Astrid memasang wajah lugu. Zevanna mulai tidak tenang ketika mamanya menaruh ponsel dan beranjak menghampirinya.
"Astrid, bisa minta tolong buat nunggu di luar sebentar? Ada hal yang mau Tante bicarakan sama Zevanna," pinta Melisa.
Astrid jelas mengangguk. Namun, tidak hanya menunggu, perempuan itu memutuskan untuk berpamitan dengan alasan banyak paket yang mesti dikirim.
Zevanna hanya bisa selepas ditinggal sahabatnya.
"Mama nggak nyangka kamu dekat sama dua laki-laki sekaligus." Melisa berdecak kecewa.
"Ini nggak seperti yang Mama pikirin." Zevanna menyangkal. Enak saja! Dia bukan perempuan gatel, meski ucapan mamanya sedikit menyentil nuraninya.
"Terus apa? Di dalam ngobrol sama mantan, di depan calon pacar nungguin."
"Ma ...."
"Apa? Nggak bisa jawab, kan?" tantang Melisa geram.
"Semua nggak bakal kayak gini kalau semalam Jayden datang," tegas Zevanna kesal terus-menerus diomeli.
"Ya udah gini deh," Melisa mengubah nada bicaranya agar lebih santai, "kamu maunya siapa?" tanyanya sambil duduk di kursi yang tadi ditempati Astrid.
Zevanna mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jujur saja, ia juga tidak begitu paham siapa yang sebenarnya dirinya inginkan. Kembali pada Jayden atau memulai apa yang belum pernah bersama Marvel. Semua terasa semakin abu-abu karena keabsenan Jayden tadi malam.
Ah, mengingat semalam, Zevanna jadi teringat siapa orang pertama yang dilihatnya ketika pintu ruang rawatnya dibuka Jayden. Priscilla. Berani-beraninya kakak sepupunya menampakkan diri di depannya setelah selama ini menusuknya dari belakang. Zevanna tidak akan membiarkan mamanya lebih percaya pada perempuan yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu. "Ma, Mama mau aku bantuin dan kelak nerusin usaha Mama, kan?"
Pertanyaan melenceng dari topik tersebut berhasil menimbulkan lipatan di dahi Melisa. "Kenapa tiba-tiba tanya gitu?"
"Aku mau, Ma. Aku bakal bantu sambil belajar buat lebih tahu banyak hal tentang fashion."
Alih-alih senang, Melisa justru khawatir karena putrinya seperti orang melantur. "Ze, kamu nggak apa-apa, kan?"
Zevanna menggeleng dengan raut datar. Yang mana membuat Melisa justru semakin kalut.
Wanita itu memeluk anak bungsunya dan bertanya, "Something happened, right? Kamu alihin pembicaraan, lalu ngomong kayak barusan?"
Senyum pedih terlukis di bibir pucat Zevanna. Pelan gadis itu mengangguk disusul lelehan air mata yang dalam sekejap jatuh mengenai lengan mamanya.
Mengurai pelukan, Melisa berganti merangkum pipi putrinya. "Ada apa? Cerita ke Mama?" lirihnya ikut sedih.
Zevanna menarik napas dan membuangnya lewat mulut. Sumpah, dikhianati sepupu rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dibandingkan diputuskan oleh Jayden. "Kak Prissy nusuk aku dari belakang. Dia diam-diam nggak suka kalau aku jadi make up artist karena merasa akan tersaingi, makanya dia sering komplain sama hasil make up-ku."
"K-kamu kata siapa?"
Zevanna tertawa hambar. "Mama pasti nggak percaya, kan? Sama! Aku juga nggak mau percaya, tapi aku denger semuanya di kafe waktu mau pulang. Itu juga yang bikin aku tambah ruwet sampai lalai sama keadaan sekitar."
"Jadi itu alasan kenapa kamu mau serius sama bisnis Mama?"
Zevanna mengangguk mantap.
Sebongkah rasa sakit menghantam hati Melisa. Kemarin atau bahkan barusan, ia senang mendengar keinginan Zevanna. Namun, mengetahui apa alasannya, tidak tahu kenapa dia justru sedih. Ia ingat betapa Zevanna selalu menggebu-gebu jika sudah membahas bedak, lipstik, perona pipi, dan segala macamnya. Wajah bahagia anaknya ketika mendapat kado ulang tahun berupa palette make up limited edition juga masih teringat jelas dalam pikirannya.
Melisa tahu anaknya berbakat. Karena itu, ia tak keberatan menggelontorkan sejumlah rupiah agar anaknya bisa mengikuti kursus make up. Belum lagi apartemen yang ia sewa supaya Zevanna tetap nyaman. Semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan senyuman anaknya karena rasa terima kasih.
Kembali merengkuh sang putri, Melisa tidak bisa menolak ataupun mengiakan. "Kamu fokus sembuh saja dulu ya, Nak. Masalah itu pikirkan nanti saja. Masih banyak waktu."
Dalam diam Zevanna mengangguk. Ia mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam, merasai setiap hangat yang mamanya salurkan. Benar kata orang, tidak ada tempat yang lebih nyaman selain pelukan seorang ibu.