Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Anti-mainstream



Alih-alih membantu, istilah kerja rodi sepertinya lebih tepat untuk menggambarkan pekerjaan Zevanna sekarang. Ia menyopiri ke mana pun mamanya pergi. Bolak-balik toko kain untuk mencari kain yang dibutuhkan mamanya. Zevanna juga ikut setiap mamanya meeting dengan klien, yang mana hal ini membuatnya sering kali geleng-geleng kepala.


"Kenapa Mama terima? Cuma gaun anak TK juga," ucap Zevanna selepas ia dan mamanya bertemu klien yang memesan gaun untuk ulang tahun putrinya yang kelima. Kalau dihitung, klien tadi adalah orang keenam dalam minggu ini.


Seperti biasa, Melisa memutar bola mata kesal. "Jangan pernah bilang 'cuma'. Sekecil apa pun itu sangat berarti tahu. Kalau nanti anaknya suka, bisa jadi tahun depan pesan lagi sampai tahun-tahun berikutnya. Belum kalau kenalannya ada yang tertarik, Mama bisa makin banyak pelanggan. Kalau mau jadi orang sukses ya gini, Ze. Apa aja dilakuin selagi masih bisa. Kalau mau malas-malasan mending jadi pengangguran."


Bibir Zevanna makin maju. Melisa menyentilnya, membuat anak gadisnya mengaduh seraya mengusap-usapnya.


"Mama! Sakit tahu!"


"Habisnya cemberut terus. Semangat dong, Ze. Mama begini juga buat kamu."


"Buat pacar mama kali," gumam Zevanna sambil berlalu ke pintu mobil bagian pengemudi.


Omong-omong tentang pacar mamanya—yang menurut Zevanna adalah Jayden, Zevanna jadi kesal sendiri. Pasalnya, ketika membuka mata setelah malamnya ia meminta Jayden agar menemaninya tidur, lelaki itu tidak ada baik di kamarnya maupun di rumahnya. Mama bilang Jayden langsung pulang setelah mereka—Melisa dan Jayden—sarapan bersama. Jayden juga mengatakan kalau hasil foto yang telah diedit nanti akan dikirim via email begitu sudah selesai.


Lalu, seperti yang terjadi sewaktu mereka baru putus, Jayden menghilang. Entah kalau diam-diam lelaki itu dan mamanya bertemu di belakangnya. Zevanna tidak tahu.


Zevanna merutuki dirinya yang penakut. Seandainya momen listrik padam itu tidak pernah terjadi, Zevanna tidak perlu menyesal begini. Lagi pula, untuk apa Jayden menciumnya di saat lelaki itu telah memilih mamanya? Tidakkah lelaki itu hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan? Belum lagi Jayden yang memanggilnya dengan panggilan kesayangan sebelum mereka terlelap. Errrr ... kepala Zevanna mendidih setiap mengingatnya.


Setibanya di rumah, Zevanna biasanya langsung mandi, makan, dan tak lama kemudian tidur. Namun, sore menuju malam ini sepertinya agak lain melihat sahabatnya teronggok di kursi depan sambil memeluk tas lumayan besar.


"Astrid, ngapain lo di situ?" tanya Zevanna dengan tatapan aneh.


Astrid segera berdiri. Ia tersenyum rikuh sebelum berkata, "Ehm, Tante, boleh nggak aku nginep di sini sampai Senin? Air di apartemen lagi bermasalah dan tukangnya baru bisa datang Senin besok."


"Lo doang? Rere?" tanya Zevanna.


"Rere nginep di tempat teman kuliahnya. Gimana, Tante?"


"Ya, boleh dong. Mau sebulan di sini juga nggak masalah."


Bertolak belakang dengan mamanya yang justru senang, Zevanna memicingkan mata. Bisa saja, kan, Astrid memiliki niat terselubung. Mengorek-ngorek informasi tentang Jayden yang sempat berada di rumahnya, misalnya.


"Lo kenapa nggak nginep di rumah Leon aja?" tanya Zevanna sambil membersihkan wajahnya.


"Ya kali. Nggak enaklah gue sama orang tuanya," jawab Astrid yang sedang rebahan di ranjang temannya.


"Enaknya kalau cuma berdua aja ya?" Zevanna mencibir.


"Mulut lo!" sembur Astrid. "Gini-gini gue masih di jalan yang benar. Emangnya lo diam-diam tinggal satu atap," imbuhnya melempar balik serangan.


"Satu atap pala lo peyang!" Zevanna melempar kapas kotor ke arah tempat sampah dengan emosi.


"Terus apa dong?" Astrid mendudukkan tubuhnya menghadap Zevanna. "Mata gue belum siwer ya, Ze. Yang kapan hari itu jelas-jelas Jayden mantan lo!" ungkapnya menggebu-gebu.


"Ngomongnya jangan keras-keras, Nyet!" ucap Zevanna geram seraya menghampiri Astrid.


"Emang kenapa deh? Kita udah gede kali. Punya pacar ya wajarlah!"


"Bukan itu, Astrid!" Saking gemasnya Zevanna rasa-rasanya ingin mencakar wajah mulus sahabatnya.


"Terus?"


Sejenak tatapan Zevanna tertuju pada pintu kamar. Lantas, ragu menyerbu saat kembali melihat Astrid.


"Ze?"


Zevanna melengos. Ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang. "Gue nggak balikan kok sama dia. Perkara Jayden di sini itu karena ... dia pacar nyokap," katanya, lalu menutupi wajahnya dengan bantal.


"Ya bisa aja. Buktinya kejadian, kan?"


"Maksud gue, kok bisa sih Tante Melisa pacaran sama laki-laki yang udah nyakitin anaknya?" Astrid mendadak pening.


"Gue belum pernah ngenalin Jayden, jadinya nyokap nggak tahu."


Astrid manggut-manggut paham. Tetapi, tetap saja kepalanya pusing. "Lo nggak mau nyoba ngasih tahu nyokap lo?"


Gelengan kepala Zevanna menjadi jawaban. Gadis itu memeluk bantal dengan raut nelangsa. Astrid yang tidak tega segera memeluknya. "Nyokap kelihatan bahagia sama Jayden," ungkap Zevanna pilu.


"Tapi, Jayden udah jahat sama lo."


Sesak memenuhi dada karena ucapan Astrid benar adanya. Tanpa sadar, air mata Zevanna menetes. Mengingat segala tentang Jayden itu membahagiakan sekaligus menyakitkan. Zevanna tidak tahu lagi bagaimana cara menghapus nama lelaki itu dari hatinya, meski ia telah berusaha membuka diri dengan membiarkan laki-laki lain mencoba mengambil alih perasaannya.


Di rumahnya, Jayden senyum-senyum sendiri melihat foto candid Zevanna yang sedang manyun yang diunggah oleh Melisa di status WhatsApp. Masih terekam jelas dalam ingatan Jayden tentang malam saat ia menemani Zevanna tidur. Harumnya, hangat napasnya, semua yang ada pada perempuan itu membuatnya ingin terus di dekat Zevanna. Dan mungkin, membalas status mama gadis itu bisa membuat rindunya pada Zevanna sedikit terobati. Iya, sepengecut itu Jayden sampai tidak berani menghubungi Zevanna langsung.


Jayden Frery Tanjaya


Anaknya lucu, Tan


^^^Melisa Riyadi^^^


^^^Naksir ya?^^^


^^^Bilang sama anaknya langsung dong^^^


Jayden Frery Tanjaya


Hahaha ... kapan-kapan deh


^^^Melisa Riyadi^^^


^^^Ntar keduluan lho. Banyak yang naksir soalnya^^^


Jayden Frery Tanjaya


Tapi nggak ada yang lewat jalur orang dalam kayak saya, kan?


^^^Melisa Riyadi^^^


^^^Bisa saja kamu^^^


Melisa geleng-geleng kepala seraya tersenyum sesaat setelahnya. Tingkah anak muda selalu ada saja. Tapi, kalau dipikir-pikir, Jayden boleh juga. Dia anak yang baik dan pemikirannya dewasa. Cocok dengan Zevanna yang terkadang kekanak-kanakan.


"Mama kenapa senyum-senyum?" tanya Zevanna yang baru turun bersama Astrid.


"Ini barusan Jayden lucu banget. Coba deh kamu baca chat-nya." Melisa menyodorkan ponselnya, bermaksud agar Zevanna tahu jika Jayden menganggapnya lucu.


Panjang umur banget tuh anak!


Zevanna memasang tampang masam. "Males! Mending juga makan. Udah laper banget nih dari tadi," ucapnya ketus.


Menyesal Zevanna tadi nangis-nangis hingga dadanya sakit dan kerongkongannya kering. Ternyata yang ditangisi sedang haha-hihi dengan mamanya. Hidung Zevanna kembang-kempis karena amarah yang mendesak. Demi Tuhan, ia tidak rela air matanya terbuang gara-gara Jayden.


Balikin air mata gue, Jay!


Di sebelah Zevanna, Astrid hanya bisa menghela napas. Rebutan laki-laki dengan sahabat sendiri sepertinya sudah terlalu mainstream sehingga kini sahabatnya rebutan laki-laki dengan mamanya sendiri. Ck! Astrid berdecak miris.