Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Telepon



"Kamu boleh tanya mama kamu kalau nggak percaya."


Zevanna terus kepikiran ucapan Jayden. Raut wajah lelaki itu yang tampak serius kala mengatakannya membuatnya gelisah setiap di dekat mamanya. Yang artinya hampir setiap saat mengingat 2/3 waktunya dihabiskan bersama sang mama.


Tanya nggak ya?


Zevanna melirik mamanya yang sedang sibuk makan kepiting. Kini, mereka sedang makan siang di salah satu restoran yang khusus menyajikan menu seafood. Melepas sarung tangan plastik yang dipakainya, Zevanna berpikir, mungkin setelah mamanya selesai makan saja. Namun, ketika Melisa benar-benar sudah rampung, ia tiba-tiba ragu.


"Kenapa, Ze?"


Zevanna tergagap. "Ng-nggak!" Ia geleng-geleng kepala agar lebih meyakinkan.


"Ya, sudah. Ayo balik, kita masih harus cari kain." Melisa memanggil pelayan untuk membayar.


Di balik kemudi, Zevanna terlihat tidak tenang. Malam nanti adalah waktu yang ia janjikan kepada Jayden. Jika ingin membuktikan kebenaran ungkapan mantan kekasihnya, maka sekarang adalah waktu yang tepat.


Zevanna menarik napas dan membuangnya perlahan sebelum dengan hati ketar-ketir bertanya, "Ma, menurut Mama, Jayden itu gimana?"


Melisa kontan mengernyit. "Kenapa tiba-tiba tanya tentang Jayden?"


"Pengin aja," jawab Zevanna, tanpa berani menoleh. "Dia 'kan dekat sama Mama."


"Dia udah nge-chat kamu, ya?"


"Maksudnya?"


Derai tawa Melisa memenuhi mobil. Lalu, ketika sudah berhenti, wanita itu mengingatkan putrinya tentang momen saat di mana ia meminta Zevanna membaca ruang obrolannya dengan Jayden, tetapi Zevanna menolaknya. "Dia bilang kamu lucu. Terus, pas mau tidur tiba-tiba Mama kepikiran buat kasih kontak kamu ke Jayden. Siapa tahu dia mau pedekate," jelas Melisa kembali tertawa-tawa.


"Mama jangan ngadi-ngadi, deh! Mana mungkin Jayden bilang kayak gitu." Bibir Zevanna manyun.


"Masih aja nggak percaya." Melisa mengambil ponselnya di tas, kemudian menunjukkan percakapannya dengan Jayden. "Nih, baca!"


Karena kebetulan mereka sedang di lampu merah, Zevanna mengambil alih ponsel mamanya. Ia membaca kalimat demi kalimat yang tertera dan semua benar adanya. Kontak Jayden oleh mamanya juga tidak diberi nama aneh-aneh dan tidak ada embel-embel emoji layaknya pasangan kekasih. Pun saat Zevanna diam-diam menggulir layar ke atas untuk melihat pesan yang kemarin-kemarinnya lagi, semuanya normal layaknya rekan kerja.


Jadi selama ini gue salah ....


Seketika Zevanna ingin tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Gila! Kecemburuannya, kekesalannya, makiannya, semuanya percuma. Zevanna memijit pelipisnya, lalu dengan lemas mengembalikan ponsel mamanya sebelum kembali menjalankan mobil.


***


"Ma, aku ada janji sama temen. Mama pulang sendiri nggak apa-apa, kan?" ucap Zevanna yang baru saja menutup bagasi. Ia dan mamanya baru selesai berbelanja kain. Belanjanya sebenarnya tidak terlalu lama, tetapi karena sang mama kenal dengan pemilik toko dan kebetulan anak pemiliknya baru pulang dari Jepang. Jadilah, Zevanna terpaksa ikut duduk dan membiarkan mamanya mengobrol lama.


"Teman siapa? Kok baru bilang?"


"Teman waktu dulu kursus make up. Aku juga lupa. Tadi anaknya baru aja ngingetin." Zevanna mengukur senyum samar. Kepiawaiannya dalam membuat alasan memang tidak perlu diragukan lagi.


"Janjiannya di mana? Kalau searah biar Mama antar saja sekalian."


"Ooo ... nggak, kebetulan nggak searah. Aku janjian di kafe dekat butik Mama soalnya dia ada urusan nggak jauh dari situ."


Melisa manggut-manggut. "Oke deh. Kamu hati-hati ya. Kabarin Mama kalau ada apa-apa. Pulangnya jangan malam-malam," nasihatnya sebelum keduanya berpisah usai Zevanna mengacungkan kedua ibu jarinya.


Zevanna mendesah lelah. Sepiring nasi goreng dan segelas lemon tea telah tandas, ya dia memang sengaja makan duluan karena perutnya kembali diserang rasa lapar. Meskipun begitu, yang ditunggu belum juga menampakkan wajahnya. Padahal, jam delapan sudah lewat sejak lima belas menit yang lalu.


Awas aja kalau lo ngilang lagi, Jay!


***


Sejak satu setengah jam sebelum waktu janjiannya dengan Zevanna, Jayden sebenarnya sudah siap. Hanya saja, Joanne yang tahu-tahu ada di depan rumah membuatnya harus menunda keberangkatannya.


"Kenapa lo?" tanya Jayden melihat wajah adiknya ditekuk.


Melirik sekilas kakaknya, Joanne melengos sebelum nyelonong masuk dan duduk di sofa. Jayden mengikutinya dengan duduk di sisi yang lain.


"Gue pengin pindah tempat magang," ucap Joanne bersungut-sungut.


"Ada masalah?"


Gadis yang masih memakai kemeja kerja dan rok span selutut itu mengangguk-angguk. Matanya yang tampak berkaca-kaca segera diusapnya dengan gerakan samar. "Mau pindah, Ko. Please ....."


"Masalahnya udah diobrolin emang?" tanya Jayden tak bisa langsung mengiakan. Dia tentu tidak enak hati kepada Om Surya yang sejak dulu memang baik kepadanya. Bahkan, lelaki itu pula yang terus menguatkannya setelah Mama meninggal dan Papa kabur entah ke mana. Sesekali Om Surya juga memberinya uang. Buat jajan, katanya.


"Nggak perlu diobrolin. Buang-buang waktu."


Jayden berdecak, sedikit kesal. "Mau lo pindah magang ke kutub utara juga masalah pasti ada. Satu-satunya cara biar nggak ada masalah ya diselesaikan."


"Masalahnya itu bukan di kerjaan, tapi Tante Dini nyebelin banget," sewot Joanne menyebut nama istri Om Surya.


"Kok?" Jayden terheran-heran. "Tante Dini bukannya sibuk ngurusin pet shop-nya?"


"Dia kalau jam makan siang pasti ke kantor Om Surya terus nyempetin buat nyamperin aku dan ngomong macem-macem. Kerjaannya emang udah beres, Jo? Kok, enak banget udah makan. Biarpun kamu ponakan Tante, tapi nggak boleh santai-santai loh ya. Jangan sampai ada yang keliru. Baru magang aja keliru, gimana nanti kalau beneran terjun di dunia kerja dan bla ... bla ... bla ... dan bla ... bla ... bla ...." Joanne mengacak-acak rambutnya frustrasi, lalu tatapan memohon kembali ia layangkan kepada satu-satunya saudara yang dimilikinya.


Jayden ikut prihatin. Mendengar ceritanya saja sudah kesal, apalagi Joanne yang mengalaminya. Jayden tidak mau mental Joanne tambah hancur. Sudah cukup ia melihat kerapuhan Joanne setiap mengingat Papa. Jangan ada lagi orang lain yang membuat binar hangat adiknya kian memudar. "Nanti gue coba ngomong sama Om Surya. Sekarang, lo istirahat. Kalau lapar delivery order aja, gue nggak masak."


Joanne mengangguk sambil memperhatikan kakaknya yang mulai beranjak. Ada yang aneh. Keningnya berkerut dalam hingga ia menyadari apa yang janggal. Penampilan kakaknya yang terbilang rapi. Jayden tidak pernah memakai kemeja, kecuali ada acara yang benar-benar penting. "Mau ke mana lo?" tanya Joanne tepat sebelum Jayden menutup pintu depan dari luar.


"Ada, lah!"


"Dih! Mau kencan ya? Udah punya cewek baru nih ceritanya?" Alis Joanne naik-turun menggoda.


Belum sempat menjawab, ponsel Jayden lebih dulu berdering. Ada nomor asing meneleponnya. Bukan nomor telepon seluler, melainkan telepon rumah. Karena penasaran, ia pun mengangkatnya.


"Halo, selamat malam. Dengan saudara Jayden Tanjaya?"


"Ya, benar."


"Kami dari Rumah Sakit Medika Sentra ingin memberitahu jika Bapak Hendri Tanjaya menjadi korban tabrak lari. Mohon kesediaan Anda untuk segera kemari guna mengurus administrasi agar penanganan Bapak Hendri bisa kami tindaklanjuti."


.......


...CIE YANG UDAH NUNGGU JAYDEN NGASIH PENJELASAN 🤣🤣🤣🤣...