
Zevanna tidak tahu harus menunggu Jayden berapa lama lagi. Segelas strawberry milkshake yang menjadi minuman keduanya telah habis. Namun, belum juga ada tanda-tanda kedatangan Jayden. Padahal, jika tidak bisa, lelaki itu bisa menghubunginya. Bukan malah membiarkannya menunggu di tengah kondisi tubuh yang sudah lelah.
Untuk kesekian kalinya, Zevanna menguap. Matanya yang semakin merah juga menjadi tanda betapa ia sangat mengantuk.
Zevanna melihat arlojinya. Sudah hampir setengah sepuluh. Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Jayden tidak akan datang. Lelaki itu sungguh tidak berperasaan. Zevanna mendengkus sebal.
Berjalan keluar, Zevanna kontan menghentikan langkah kala matanya melihat dua orang yang amat dikenalnya duduk menghadap ke jalan di bagian outdoor kafe. Senyum tipis mendadak tercipta karena sebuah ide tercetus di kepala. Zevanna berjalan mengendap-endap, berniat ingin mengagetkan. Namun, seiring langkahnya yang kian dekat, keinginan Zevanna untuk memberi kejutan perlahan lenyap karena apa yang didengarnya.
"Omong-omong tentang Zevanna, lo kayaknya sering banget ngedikte kerjaan dia. Padahal, gue lihat hasil make up-nya udah bagus," komentar Bobby.
Priscilla boleh tertawa. Tetapi, Zevanna bisa melihat jelas mata sepupunya yang menyeringai licik. "Yang lo bilang bener kok. Hasil kerjaan dia udah bagus. Bagus banget malah." Priscilla mengisap sebatang rokok yang terselip di jari tengah dan telunjuknya, yang mana membuat Zevanna membelalakkan mata.
Sejak kapan Kak Prissy ngerokok?
"Tapi sayangnya gue nggak bakal ngebiarin Zevanna percaya diri sama bakat yang dia punya."
"Alasannya?"
Kembali seringai licik Priscilla tersemat di bibir. "Lo tahu apa cita-cita dia?"
Bobby menggelengkan kepala.
"Punya jasa make up pakai nama dia sendiri. Gue nggak akan biarin itu terwujud. Karena kalau iya, apalagi sampai Zevanna bisa merekrut orang buat jadi timnya, Tante Melisa pasti pakai jasa dia. Sementara lo tahu, hampir 70% relasi yang gue dapet itu karena gue selalu bawa-bawa nama nyokapnya Zevanna yang tambah hari tambah terkenal."
Zevanna meraup oksigen banyak-banyak. Kalau saja ia mendengar dari mulut orang lain, ia mungkin memilih untuk tidak percaya. Namun, semuanya begitu jelas, baik di mata maupun telinga. "Gue nggak nyangka Kak Prissy aslinya begini," ucapnya sukses membuat dua orang yang berjarak sekitar satu setengah meter darinya menengok.
Bobby dan Priscilla sama-sama kaget. Berbanding terbalik dengan Zevanna yang telah meloloskan air mata. "Gue nggak nyangka orang yang selama ini kelihatan mendukung dan nyemangatin gue justru punya niat bikin gue hancur."
"Ze, ini ... ini ...." Priscilla tidak menemukan ide untuk menyanggah apa yang didengar Zevanna. Pun Zevanna tidak mau lagi mendengar apa yang keluar dari mulut orang yang selama ini ia percayai.
Dengan langkah terburu-buru, Zevanna meninggalkan dua orang itu dengan hati remuk redam. Tidak cukup Jayden, kini Bobby dan Priscilla juga membuatnya merasa dipermainkan. Salah apa dia? Mengapa orang-orang terdekatnya begitu tega kepadanya?
Di bawah keremangan lampu jalanan, bahu Zevanna bergetar karena tangis. Seandainya dia tidak mendengarkan Jayden. Seandainya ia tidak memberikan kesempatan pada lelaki itu untuk menjelaskan semuanya. Semua ini tidak akan terjadi. Ya, semua ini ... saat tiba-tiba saja Zevanna merasakan tubuhnya dihantam sesuatu yang sangat keras, lalu dalam sekejap tergeletak di jalanan.
Zevanna merasakan dadanya begitu sakit untuk bernapas. Lantas, orang banyak tahu-tahu mengelilinginya, termasuk Bobby dan Priscilla. Zevanna membuka mulut, ingin berucap sesuatu, tetapi kegelapan lebih dulu merenggut kesadarannya.
***
Jayden telah memberitahu Joanne tentang apa yang terjadi dengan ayah mereka. Dan kini, kakak beradik itu tengah berada di ruang rawat Hendri, menunggu pria itu siuman usai menjalani operasi kecil di bagian kaki.
Tentang bagaimana pihak rumah sakit bisa menghubunginya, suster yang bertugas memberitahu jika papanya masih sempat sadar sesudah ditabrak dan menyuruh orang mengambil dompet karena di situ ada nomor keluarganya. Senyum getir terukir samar, Jayden bingung mau bangga dengan kesiapan ayahnya atau sedih karena jika peristiwa nahas ini tidak terjadi, mungkin hingga sekarang mereka masih belum bertemu.
"Papa ...." Joanne berucap melihat kelopak mata papanya perlahan terbuka. Senyum bahagia diiringi tetesan air mata tergambar di wajah ketika sang ayah balas tersenyum kepadanya.
Jayden masih bergeming. Demi apa pun, ia malas berada di ruangan ini. Ia memandang ke arah pintu. Sepertinya menghirup udara luar akan membuat perasaannya membaik. Namun, sebelum ia bangkit berdiri, Papa lebih dulu memangilnya.
"Aku panggil dokter dulu," kata Jayden menekan tombol yang terpasang di atas ranjang pasien.
Lelaki itu terus membuang muka. Bahkan, sampai dokter datang dan memeriksa ayahnya seraya memberitahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Jayden masih enggan untuk beradu pandang.
Marah, kecewa, sakit, tapi di sisi lain kasihan.
"Terima kasih sudah datang, Jay," ucap Hendri membuat anak sulungnya dengan terpaksa menatapnya.
Jayden hanya mengangguk kecil.
"Papa jangan pergi lagi ya. Joanne kangen banget sama Papa," ungkap Joanne sambil memeluk papanya dengan hati-hati.
Hendri mengelus rambut putrinya selama beberapa saat, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian, begitu pelukannya terlepas, ia bertanya, "Besok kuliah nggak?"
"Aku sekarang lagi magang. Dan iya, besok masuk," jawab Joanne.
"Kalau gitu, Joanne pulang ya. Istirahat di rumah. Suda malam ini." Hendri menunjuk jam dinding.
Jayden mengikuti arah pandang ayahnya. Jam sembilan lewat sepuluh, dan ia baru ingat memiliki janji dengan Zevanna. Tangan Jayden refleks mengepal. Bego!
"Tapi, Pa ...." Joanne menggeleng tak mau.
"Papa benar. Ayo, pulang, Koko antar," putus Jayden yang sudah mengeluarkan kunci mobil.
"Nggak! Gue nggak mau," tolak Joanne lagi.
"Terus, besok lo mau bolos? Lo mau Tante Dini tambah ngeremehin lo?" tanya Jayden telak. "Cepet! Gue nggak punya banyak waktu."
Diiringi dengkusan, Joanne akhirnya mau pulang. Jayden sedikit lega, meski hatinya ketar-ketir setiap mengingat Zevanna. Semoga saja perempuan itu masih menunggunya.
Selepas mengantar Joanne dengan selamat, Jayden berganti membawa motor menuju kafe dekat Boutique de Charme. Keadaan kafe sudah sepi. Hanya tinggal dua orang pengunjung setibanya ia di sana, dan mereka bukan Zevanna.
Jayden terduduk lemas di kursi. Meringis pedih karena sudah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Zevanna pasti semakin membencinya.