Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Kesempatan



Zevanna mengerang, merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Matanya perlahan terbuka, mengernyit, ia memalingkan muka menghindari silau yang berasal dari jendela. Terdiam cukup lama, Zevanna menerka di mana dirinya dan kenapa bisa ada di sini.


"Bangun juga lo."


Dengan tangan memijat-mijat kepala, Zevanna menoleh ke sumber suara. Ada Astrid yang berjalan menghampirinya. Penampilan gadis itu tampak fresh, berbeda dengannya yang tak menunjukkan gairah sama sekali.


"Pusing," keluh Zevanna seraya mendudukkan tubuhnya.


"Kurang banyak, sih, minumnya," sindir Astrid, lalu duduk di samping temannya yang seketika manyun. "Lo bersih-bersih dulu, deh. Abis itu gue bikinin cream soup."


"Instan?"


"Iyalah! Lo pikir gue chef restaurant yang bisa masak apa aja?" Astrid mendengkus dibarengi lirikan mata sebal. Masih untung dimasakin!


Chef restaurant?


Samar bayang-bayang semalam terlintas di kepala Zevanna. Satu nama mencuat dari dalam hatinya. Apa yang ia lihat tadi malam benar Jayden? Kerutan dalam menghiasi kening Zevanna. Ia berusaha mengingat, tetapi memorinya seakan tidak menyimpan apa pun setelah kejadian itu.


Zevanna menatap Astrid yang tentu tahu tentang apa saja yang terjadi. Namun, keraguan menggelayuti batin sebab tidak tahu kenapa ia merasa takut. Lalu, saat ia mencoba nekat, ponselnya lebih dulu berdering dengan kontak "Mama" yang menghiasi layar. Zevanna pun mengangkatnya. "Halo, Ma. Iya, aku di apartemen Astrid. Nanti sore paling. Oke. Ya. Bye."


Begitu sambungan terputus, Zevanna mengecek notifikasi yang sayangnya tidak ada, kecuali perintah agar segera mengisi ulang daya ponselnya.


"Tumben banget Kak Marvel nggak chat," batin Zevanna menunjukkan kegelisahan. Biasanya, pacarnya itu selalu mengirim pesan jauh sebelum dirinya bangun. Tetapi sekarang, ketika Zevanna bahkan baru terjaga di jam menuju makan siang, Marvel sama sekali tak ada kabar.


Tak mau membuang-buang waktu, Zevanna pun mengetikkan pesan berisi informasi bahwa dirinya baru saja bangun dan meminta Marvel menghubunginya kalau tidak sibuk. Setelahnya, Zevanna menatap Astrid yang masih bergeming di sisinya.


"Gue tunggu di meja makan." Perempuan itu meninggalkan Zevanna yang belum sempat menanyakan apa pun.


Kurang dari tiga puluh menit, Zevanna sudah dalam keadaan wangi dan kini duduk berhadapan dengan Astrid. Lagi, keraguan menyambangi Zevanna. Terlebih Astrid terlihat fokus sekali dalam memakan sup.


"Trid?" Zevanna menipiskan bibir, gamang. Astrid menegakkan kepala, menatapnya dengan dagu sedikit terangkat.


"Apa?"


"Emm ... semalam, apa terjadi sesuatu?" tanya Zevanna sambil menahan napas selama beberapa saat.


Menaruh sendok di tangannya, Astrid terdiam dengan mata menatap lekat temannya. "Kenapa lo nanya gitu?"


"G-gue ... perasaan gue nggak enak." Pikiran Zevanna semrawut mengetahui tadi, setelah mandi, pesannya belum juga dibaca Marvel. Padahal, ia tahu kekasihnya selalu on, meski di akhir pekan.


"Nggak enaknya kenapa?" Astrid mencecar. Zevanna semakin tak nyaman.


"Lo tinggal bilang aja, Trid. Jangan bikin gue tambah pusing," balasnya sedikit emosi.


"Pusing karena lo bingung sebenarnya lo cinta sama Kak Marvel atau Jayden?" tanya Astrid membungkam mulut Zevanna. "Bener, Ze, yang semalam lo lihat itu Jayden. Lo bahkan sampai nyebutin namanya di depan gue, Leon, sama Kak Marvel. Saran gue, sih, lo mending temuin Kak Marvel. Soalnya mukanya langsung nggak enak banget denger pacarnya nyebut nama mantannya."


Bel apartemen yang berbunyi menjadikan Astrid bangkit berdiri. "Itu kayaknya Leon. Gue pergi dulu, ya." Ia mengambil shoulder bag yang ditaruh sofa depan TV.


***


"Kalau abis ketemu mantan emang auranya jadi suram gitu, ya?" Duduk di stool bar yang sengaja ia tarik ke dekat kompor, Joanne mengamati kakaknya yang sedang memasak.


Jayden melirik sekilas adiknya. "Bukannya lo disuruh belanja, ya?" tanyanya sambil fokus pada capcay goreng pesanan pengunjung.


"Ko Thomas belum dateng."


"Ngerepotin orang aja."


"Orang dia yang nawarin, kok. Kan enak jadi nggak perlu nyetir. Wlek!" Lidah cewek itu terjulur mengejek.


Jayden menuangkan capcay yang sudah matang, kemudian berganti memasak nasi goreng seafood.


"Ko?"


"Hmm ...."


"Zevanna udah punya pacar baru?" Joanne mengerling menggoda saat sekali lagi Jayden sejenak menatapnya.


"Lo udah tahu!" ketus Jayden. Ketukan pisau yang digunakan untuk memotong-motong udang dan cumi bertambah kencang.


Joanne cengangas-cengenges. "Cowoknya yang sekarang lebih keren. Gue kalau jadi Zevanna juga pasti lebih milih dia daripada elo," ucapnya dengan tawa terkulum.


"Gue lagi pegang pisau loh, Jo!"


"Ya terus? Lo mau jadi psikopat dengan bunuh adek sendiri?" tanya gadis itu menantang.


"Errr ... pergi aja sana. Ganggu tahu nggak lo!" Jayden menyalakan kompor, menuang minyak untuk memulai kembali sesi memasaknya.


"Nggak mau, ah! Enak di sini godain lo." Joanne cekikikan.


"Taik!" umpat Jayden. "Untung bentar lagi gue nggak di sini."


"Iya, akhirnya gue bisa tahu rasanya jadi anak tunggal." Si bungsu memamerkan deretan gigi putihnya, tersenyum tanpa dosa.


"ANAK MONYET!"


Joanne terbahak-bahak. Ia menepuk-nepuk kepala Jayden. "Kerja yang bener ya, masak yang enak biar pengunjung nggak kabur," katanya kemudian turun dari stool bar karena chat dari Thomas yang mengatakan jika lelaki itu sudah sampai.


Gigi-gigi Jayden bergemeletuk. Sabar, sabar, punya adik mirip setan. Semalam memang benar-benar apes. Niatnya syukuran, tetapi malah bertemu mantan. Apalagi yang menyadari pertama kali adalah Joanne. Batin Jayden mengerang. Jujur saja hatinya panas melihat Zevanna bersandar kepada Marvel. Tetapi, kalau boleh percaya diri, agaknya semalam Zevanna terang-terangan menatapnya cukup lama. Apakah itu artinya dia masih memiliki kesempatan? Apakah ia masih memiliki tempat di hati gadis itu usai mengatakan alasan mereka putus?


Jayden menggelengkan kepala. Mengenyahkan pemikiran yang semestinya tidak perlu, ia segera memindahkan nasi goreng ke piring saji dan memanggil Dini—karyawan yang dulu pernah bekerja padanya—agar mengantarkan makanan ke salah satu meja.